Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Kehidupan Raja dan Youra


__ADS_3

"Anda tidak boleh menyesali apapun, Suamiku. Anda sudah melakukan yang terbaik," ucap Youra menenangkan suaminya yang tampak sangat bersedih. Youra dan raja saling berpelukan sebelum beliau beranjak dari kediaman.


Setelahnya, raja dan Pangeran Hon berangkat mengantar jenazah Ibu Suri menuju tempat peristirahatan terakhir beliau. Youra selaku pemimpin istana wanita memimpin hari mengharukan itu dengan melantunkan doa bersama para wanita lainnya di istana.


Takdir yang telah lama terputus seakan kembali menyatu. Rakyat dan beberapa pejabat menangis haru saat memberikan penghormatan terakhir untuk Ibu Suri di bawah guyuran gerimis menyedihkan yang mengakhiri badai.


***


Jauh di sebuah dermaga ujung kota, seorang wanita tengah menggendong bayi cantiknya bersama sebuah payung yang melindungi mereka dari gerimis. Angin herhembus cukup kencang di tepian laut. Wanita itu menitikkan air mata setelah matanya selesai menyisiri tepian dermaga. Tak melihat apa yang dia cari, membuat suara tangisnya keluar. Dia tertunduk pasrah memandangi wajah putri kecilnya yang malang dalam gendongan.


"Ara."


Baru saja hendak pergi, wanita itu langsung berbalik badan setelah mendengar seseorang menyebut namanya.


Ara, wanita yang menggendong bayinya itu langsung mendekat pada sang suami. Memukul dada suaminya sembari menangis. "Kenapa Anda tega sekali meninggalkan aku dan putri kita?"


"Ara, apa ... apa kau masih ingin bersamaku?" tanya Pangeran Yul.


Tanpa berpikir panjang, Ara langsung memeluknya. "Aku akan terus bersama Anda. Bawalah aku pergi bersama Anda," isaknya di pelukan sang suami.


Pangeran Yul yang tadinya tidak percaya diri menghadap sang istri setelah apa yang dia lakukan selama ini, akhirnya tersenyum senang. Mereka memutuskan untuk pergi bersama, meninggalkan tanah kelahiran mereka. Hidup bertiga bersama putri mereka tercinta.


***


Dalam beberapa bulan, raja berhasil mengembalikan kestabilan negara dengan cepat. Bahkan beliau berhasil memperbaiki infrastruktur yang telah lama rusak dalam waktu yang singkat.


Hal yang pertama dilakukan raja setelah keadaan membaik adalah mengganti dan merombak ulang posisi dan jabatan untuk para menteri dan pejabat. Raja memperhatikan beberapa pejabat yang dianggap lalai dan tidak mampu mengemban tugas dengan tanggung jawab, dan mengangkat orang-orang baru yang dianggap mampu menjadi pemimpin yang bertanggung jawab. Tidak hanya itu, raja juga mengubah jabatan beberapa menteri.


Adapun beberapa perubahan struktur dan jabatan yang raja lakukan antara lain; Sekretaris Negara, diangkat menjadi Kepala Penasehat Negara (posisi yang pernah dijabat oleh ayah Youra) yang merupakan pangkat tertinggi pada masa kerajaan negeri saat itu. Mengganti Kepala Menteri Personalia yang bertugas untuk melakukan pengangkatan dan pencabutan gelar dengan orang lain yang dianggap mumpuni. Dan beberapa jabatan lainnya yang berhasil raja rombak seperti memberhentikan Pangeran Hon dari posisinya sebagai seorang gubernur karena sebenarnya, seorang pangeran tidak boleh memiliki jabatan. Pangeran hanya bertugas sebagai pendamping setia raja, dan beliau berhak mendapatkan tunjangan karena beliau putra kandung mendiang raja. Beliau boleh bekerja, dalam bidang diluar politik misalnya membangun sekolah atau rumah sakit.


Sementara itu, posisi untuk Sekretaris Negara, Kepala Menteri Perang, Kepala Menteri Keuangan dan Perpajakan, dan Perdana Menteri saat itu masih dalam pertimbangan besar.


***


Beberapa tahun kemudian.


"Ayah!" teriakan pangeran kecil memecah keheningan pagi hingga semua pelayan tertawa, melihat Youra mengejar putranya yang berlari menuju istana sang suami sambil membawa semangkuk nasi.


"Wah ... pangeran kecil sangat tampan. Mirip sekali dengan Yang Mulia." Seluruh pelayan berdecak kagum melihat pangeran kecil yang memang mirip dengan ayahnya.


***


"Ayah!" Pangeran kecil itu langsung berlabuh, duduk di pangkuan Yang Mulia Raja sesaat setelah pintu bilik raja dibuka.


"Ada apa, Putraku Sayang?" tanya raja sembari merapikan topi pangeran kecil yang sedikit miring.


BRAK!

__ADS_1


Youra mendobrak pintu bilik sang suami dengan amarah. Dia menghempaskan semangkuk nasi di atas kenap sebelah ranjang raja. Dia lantas bertolak pinggang menatap pangeran kecil yang bersembunyi di belakang tubuh ayahnya.


"Yang Mulia, kenapa Anda memberikan dia coklat sebanyak itu? Dia makan coklat saja sepanjang hari dan tidak mau makan nasi." Youra duduk di sebelah suaminya dengan kesal, menatap putranya yang menggemaskan.


"Yang Myung, keluar dari sana atau Ibu akan menghukummu," panggil Youra.


Raja hanya terus tersenyum menatap sang istri yang sedang marah-marah. Youra yang masih tersulut amarah itu tak lagi bisa menahan diri. Dia berusaha untuk menarik pangeran kecil keluar dari belakang tubuh ayahnya, tetapi raja malah menghalangi.


"Sayangku." Raja menyentuh tangan sang istri dan menciumnya. "Kenapa hanya Yang Myung yang disuapkan makan, kenapa aku tidak?" tambah raja dengan wajah seriusnya.


"Yang Mulia, aku sedang tidak bercanda. Minggirlah, supaya aku bisa memberikan pelajaran pada anak Anda yang nakal itu."


Perkataan Youra membuat raja menjadi murung. "Istriku, aku tidak pernah bercanda." Wajah serius raja yang menggemaskan membuat amarah Youra mereda. "Mengapa sejak melahirkan, hanya putra kita yang terus diperhatikan? Kenapa tidak memperhatikan suamimu juga?" keluh raja sekali lagi.


Youra tidak memperdulikan perkataan raja dan langsung menarik tangan pangeran kecil. "Yang Myung, berikan semua coklat yang kau sembunyikan itu pada Ibu. Jangan membuat Ibu semakin marah," ancaman Youra pada putranya.


Pangeran kecil ragu-ragu memberikan coklat itu, dia masih bergelantungan pada ayahnya. "Lihat kelakuan anak Anda. Dia jadi nakal karena Anda terlalu memanjakan." Youra tak berhenti berdumel kesal, lantaran Pangeran Yang Myung sulit sekali disuruh makan.


"Ibu, jangan marah-marah pada Ayah." Pangeran kecil memeluk ayahnya, bergelantungan di leher raja. Wajah raja tampak murung dan kecewa. Dia terus menatap Youra. "Se-sebenarnya ... Paman yang sudah memberikan coklat itu, bukan Ayah. Jangan marah pada Ayah lagi ya, Bu? Nanti Ayah sakit," rengek si kecil memeluk ayahnya lebih erat.


"Paman Young yang selama ini memberikanmu coklat?" tanya Youra menahan kesal. Pangeran kecil mengangguk cepat.


"Kak Young!" kesal Youra.


Raja menggendong pelan pangeran kecil, membawa putranya itu duduk di pangkuan. "Anakku, Ayah tidak apa-apa. Ibumu memang tidak sayang lagi pada Ayah. Ibu mungkin mau Ayah sakit." Raja malah membuat Youra semakin kesal.


Pangeran kecil tidak terima. Dia menangis memeluk leher ayahnya. "Tidak boleh!" Pangeran kecil menangis tersedu-sedu.


"Kenapa Ayah tidak dicium juga?" protes pangeran kecil. Youra menatap pemuda tampan yang sedang cemberut itu. Wajah Youra memerah karena malu. "Ah, hahaha. Ibu ... Ibu cium Ayah nanti saja. Kau makanlah dulu, ya?" jawab Youra.


Pangeran kecil melepaskan pelukannya dari leher sang ayah. Masih duduk di pangkuan sang ayah, dia mengangguk dan mengusap air matanya dengan punggung tangannya yang mungil. Akhirnya, Youra bisa menyuapkan makan putranya.


Hening, tak ada suara. Saat itu raja masih terus memandangi Youra. Sementara itu pangeran kecil turun dari ranjang menyusuri sudut bilik raja.


"Youra, kau membuat hatiku terluka." Raja memalingkan wajah dari Youra karena sudah mengabaikannya. Baru saja Youra ingin membujuk beliau, tiba-tiba pertanyaan polos putranya memecah suasana.


Pangeran kecil menatap dua lukisan wanita yang berjejer rapi di dinding. Dia menunjuk foto itu sambil tertawa polos.


"Ayah punya dua Ibu, apa aku juga punya dua Ibu?"


"HUSSSH!!!" sanggah Youra cepat, mengagetkan putranya yang polos hingga anak malang itu terperanjat. "Jangan bicara sembarangan. Ibumu hanya satu, hanya Ibu satu-satunya," tambah Youra menekan. Raja mulai tersenyum melihat sang istri yang belakangan sering marah-marah.


"Yang Myung, sini tinggal satu lagi." Youra mengulurkan sendok suapan terakhir untuk putranya.


Selang beberapa lama kemudian,


"Yang Mulia, Pangeran Hon ada di sini. Beliau meminta izin untuk bertemu dengan Yang Mulia Pangeran Yang Myung." Salah seorang pelayan memberikan laporan dari luar.

__ADS_1


Pangeran kecil yang sangat akrab dengan paman-pamannya itu melonjak gembira. Dia berlari cepat meninggalkan ayah dan ibunya. "Yang Myung! Pelan-pelan jangan berlari," teriak Youra. Para pelayan pun mengikuti langkah putra kecil istana itu dengan riang pula.


Di dalam bilik raja, Youra merasa sangat canggung di hadapan suaminya setelah selesai marah-marah. Dia menatap raja yang sedang tersenyum kepadanya. "Kenapa Anda tersenyum seperti itu?" tanya Youra dengan wajahnya yang memerah.


"Kenapa Istriku ini galak sekali?" tanya raja mendekatkan tubuhnya pada Youra, seraya merapikan rambut Youra yang berantakan. Sentuhan lembut raja berhasil menenangkan Youra. "Mendekatlah," perintah raja.


Youra masih saja malu untuk mendekat. "Lee Youra ... ." Belum selesai raja berbicara, Youra lantas duduk di pangkuan suaminya dan memeluknya. "Maafkan aku," ucapnya sembari memeluk erat. Raja membalas pelukan itu, dan melabuhkan kepalanya di atas pundak sang istri. "Jangan mengabaikan aku. Meski kita sudah memiliki anak, tetaplah berlaku manis seperti sebelumnya kepadaku," pinta raja dengan manja.


"Hmm, soal yang dikatakan putra kita tadi ... bagaimana menurut Anda?" tanya Youra. Raja yang masih mencium mesra pundak istrinya, mengencangkan pelukannya. "Apa kau ingin aku punya istri lagi?"


"Tidak!"


"Aw!" Youra mencubit pinggang suaminya.


"Aku bertanya seperti itu bukan karena aku menginginkannya!" Youra ikut mengencangkan pelukannya.


Raja masih sama seperti dulu, terlebih semakin romantis dan semakin perhatian hari demi hari.


Raja masih mencumbu mesra istrinya. "Aku sangat mencintaimu. Bahkan jika kau berhenti mencintaiku, aku lebih memilih mati daripada harus menikahi wanita lain."


"Aku tidak akan pernah berhenti mencintai Anda." Youra melepaskan pelukannya. Sekarang mereka saling berhadapan mesra. Tangan Youra melingkar di leher sang suami, seraya menatapnya. "Kita bahkan sulit bertemu karena aturan istana. Aku harap Anda tetap terus mencintaiku," sambung Youra.


"Aku tersiksa karena sangat merindukanmu. Aku mohon datanglah tiap malam ke kamarku. Jangan pedulikan aturan istana. Aku bisa sakit karena terlalu lama tidak melihatmu dan tidak merasakan sentuhanmu." Raja menatap serius permaisurinya. Youra tersenyum pada raja, kembali memeluknya mesra. "Hmm, aku sangat mencintai Anda. Sangat mencintai Anda." Youra mencium seluruh wajah suaminya dengan manja.


"Youra, ayo kita membuat beberapa bayi lagi."


Uhuk!!!


Youra lantas terbatuk karena tak percaya setelah mendengar kata-kata raja yang terkesan sangat frontal.


"Yang Mulia, suara Anda terlalu besar untuk mengatakan itu di pagi hari." Youra panik, takut para pelayan yang berjaga di luar mendengarnya.


Wajah raja tampak kebingungan. "Aku ingin punya anak lagi. Kenapa aku harus memelankan suara?" Wajah datar raja membuat Youra menjadi gemas dan langsung mendorong tubuh suaminya hingga terbaring di atas ranjang. "Jangan sampai aku yang memangsa Anda lebih dahulu." Youra tersenyum genit, duduk di atas tubuh suaminya yang pasrah di bawah.


"Youra, aku menginginkan itu." Raja dengan wajah tampannya malah benar-benar menaruh harap agar Youra segera melakukannya.


Tiba-tiba,


"Ibu, kenapa menghimpit Ayah?" Pangeran kecil tak sengaja memergoki Youra sedang duduk di atas tubuh suaminya dengan paha yang tersingkap.


Youra cepat-cepat menurunkan gaunnya, lantas ia turun dari tubuh raja. "Kenapa turun?" tanya raja menahan Youra untuk beranjak dari ranjang. Dia malah memeluk Youra dari belakang. Youra menjadi kesal dengan pertanyaan itu. Tentu saja sangat memalukan baginya.


"Ayah akan memberikanmu seorang adik. Yang Myung mau berapa adik?" tanya raja pada putranya.


Wajah pangeran kecil berubah ceria. Dia berlari mendekati ibu dan ayahnya. "Benarkah?" Mata binarnya memancarkan harapan penuh. "Yang Myung mau 10 adik," jawabnya lugu.


"Jawaban yang bagus," spontan raja.

__ADS_1


"Enak saja!" tolak Youra membuat raja tertawa.


***


__ADS_2