Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Pertemuan


__ADS_3

Setelah seorang tabib keluar dari bilik Youra, Dayang Nari bergegas masuk ke dalam untuk kembali melayani majikannya. Ia segera mendekati Youra dengan raut wajah merasa bersalah.


"Maafkan hamba Yang Mulia. Hamba tidak bisa berbuat apapun untuk menolong Anda. Mengapa, Anda tak membiarkan hamba menggantikan hukuman itu untuk Anda?" tanya Dayang Nari dengan raut kecewanya.


Youra tersenyum, sambil memperbaiki posisinya, dia merebahkan tubuhnya dengan baik di atas ranjang. "Mengapa harus menghukum orang yang tidak bersalah? Kau bahkan hanya mengikuti perintahku. Kau sudah membujukku untuk kembali. Kesetiaan apa lagi yang kurang darimu?" jawab Youra menenangkan hati sang pelayan.


Dayang Nari yang tadinya hampir saja tersenyum bahagia, kini mengembalikan senyum itu jauh di dalam kepalanya. Mata itu berkaca-kaca, segera menghadap Youra penuh harap.


"Yang Mulia," panggil Dayang Nari tampak sangat tertekan. Ia duduk pelan-pelan di sebelah Youra, sambil memandangnya dengan tatapan yang sendu.


"Tidakkah, sikap Anda kepada Yang Mulia Putra Mahkota itu berlebihan?" tambah sang dayang setelah berusaha keras menahan diri untuk tidak menanyakan hal menyedihkan itu.


Pertanyaan sang dayang, membuat Youra mengernyitkan dahinya. Dia lantas duduk dan bersandar di sisi ranjang, sambil menatap sang dayang. "Apapun yang aku lakukan, itu semua tidak ada arti untuknya," jawab Youra seolah tak mengerti situasi. Bukan, Youra benar-benar tidak mengerti.


Dayang Nari meraih tangan Youra, membawanya masuk dalam genggamannya. Ia mengelus tangan itu dengan perasaan iba atau bahkan bercampur rasa bersalah.


"Yang Mulia, bagaimanapun juga, Putra Mahkota adalah suami Anda. Tidakkah Anda merasa kasihan padanya?" kembali sang dayang menunjukkan rasa simpatiknya.


"Apa yang harus membuatku merasa kasihan?" tanya Youra dengan wajah datarnya yang sama sekali tak merasa bersalah. Ia meraih buku yang ada di dekatnya, sedikit tersenyum lalu kembali menatap Dayang Nari.


"Yang Mulia, Putra Mahkota, sudah cukup tertekan. Semua orang membencinya, bahkan raja saja sering memberikannya hukuman. Apakah sebagai istrinya, Anda tidak merasa sedikit saja perlu memberikan perhatian?" tatapan Dayang Nari kini sangat mendalam. Youra memperhatikan manik mata itu dengan leluasa. Berbinar, berharap Youra menaruh empati padanya.


"Bukankah itu yang sudah sepantasnya dia dapatkan? Dia menggunakan kekuasaan sesuka hatinya. Berteriak dan memecat orang sesuka hatinya. Bukankah itu sebuah kebenaran? Kehinaan apa lagi, yang harus dipertimbangkan?" tanya Youra kembali dengan wajah menyeleneh.


Dayang Nari mendekap tangan Youra cukup kencang. Menariknya lebih dalam menuju sebuah perhatian.


"Yang Mulia, Putra Mahkota jatuh sakit setelah bertemu dengan Anda. Dalam keadaan sakit, dia bahkan datang ke tempat yang tak seharusnya dia pijak hanya untuk menghentikan hukuman Anda. Padahal, Anda sudah melanggar aturan sebagai istrinya. Maaf Yang Mulia, hamba tidak bermaksud menggurui, tetapi setiap istri di istana haruslah patuh pada aturan suaminya, jika tidak mereka bisa saja diberikan hukuman berat."


Celotehan sang dayang sama sekali tak diperhatikan Youra. Dia sibuk membolak-balik laman buku itu dengan suara ribut yang merusak keheningan.


"Ibuku adalah salah satu tabib yang pernah melayani Putra Mahkota muda. Dia sangat mengagumi Putra Mahkota muda, dan sangat menyayangi beliau. Namun, istana memecat ibuku, sehingga beliau tak lagi dapat berjumpa dengan ibuku. Sejak saat itu, Putra Mahkota jatuh sakit. Dan sepertinya, penyakit itu bertahan hingga saat ini," tambah Dayang Nari.

__ADS_1


Youra masih sibuk dengan bukunya, dia tak peduli. Apa pun yang dikatakan Dayang Nari membuatnya ingin sekali tertawa geli. Jangankan untuk mendengar kabar tentang suaminya, bahkan untuk mendengar namanya saja sudah membuatnya sangat muak.


"Kau mengatakan hal yang tidak penting seperti itu, karena dia baru saja berbuat baik padaku? Putra Mahkota yang kau puji itu, dia sedang bersandiwara di depan kita semua. Pria kejam yang tak mengenal cinta itu, menggunakan kekuasaannya untuk mencapai tujuan. Dia hanya sedang memanfaatkanku untuk melindungi posisinya," jawab Youra tak terima.


Youra membalas genggaman sang dayang. Wajahnya memancarkan kesungguhan. "Jangan khawatir soal apapun. Lakukanlah tugasmu dengan baik di istana ini," tambah Youra.


Dayang Nari meneteskan air mata. Sebelum Youra kembali membuka buku itu, Dayang Nari membuatnya tertegun. "Bagaimana, jika yang dilakukan Putra Mahkota bukanlah sandiwara?"


Deg


Deg


Youra membatu. Matanya membulat ke lain arah. Perkataan sang dayang menghempaskan seluruh rencana buruknya. Setelah berulang kali menahan diri, Youra akhirnya tertawa lepas.


Lelaki hina itu sudah membunuh kakakku.


"Hahaha! Tidak mungkin, tidak mungkin. Dia tidak mengenalku, lalu berbuat baik kepadaku? Konyol sekali. Dia menikah denganku, untuk melindungi dirinya. Jangan terpengaruh padanya, kau akan menjadi bodoh karenanya. Sudahlah, aku rasa pembicaraan ini hampir saja membuatku muntah."


Dayang Nari segera bangkit dari duduknya, memandang Youra sebelum akhirnya beranjak dari sana. Ia menoleh sekali lagi, dengan wajah muram penuh tekanan. Tampak sangat ketakutan.


"Kebencian. Ini kebencian yang nyata."


**


Belum lagi matahari menunjukkan pesonanya, Kepala Menteri Perang bersama istri dan putrinya Ara sudah tiba di istana, memenuhi panggilan raja. Mereka digiring para pelayan raja untuk segera bertemu di ruang pribadi Yang Mulia.


Tangannya dingin, benar-benar canggung. Jantung itu berdetak kencang, bahkan suaranya seirama dengan langkah kaki mereka yang berjalan cepat. Secara terhormat tempat itu dibuka. Sebuah ruangan mewah yang selalu digunakan raja, menjadi saksi perjumpaan mereka.


"Suatu kebanggaan bagi kami, bisa berjumpa dengan Anda, Yang Mulia," sapa Kepala Menteri Perang bersamaan dengan istri dan putrinya. Mereka membungkukkan tubuh mereka, memberi salam penuh hormat. Raja tersenyum, pandangannya langsung saja tertuju pada Ara yang saat itu terus menunduk.


"Apakah ini calon menantuku?" tanya raja bangga. Kepala Menteri Perang dan istrinya saling berpandangan, sangat antusias. "Benar Yang Mulia, ini putriku Ara," jawab Kepala Menteri Perang ramah. Raja mengangguk kecil, melihat Ara yang malu-malu mengangkat wajahnya.

__ADS_1


"Kau sangat beruntung menjadi istri putraku, Pangeran Yul. Dia adalah anak berbakti dan sangat penurut. Dia cerdas dan berbakat. Akan sangat memancing karunia dari langit, pernikahan dua orang berbudi seperti kalian."


kreeek..


Pintu berderit, disertai oleh sambutan hangat bersamanya. Perbincangan mereka terhenti, menghasilkan keheningan menyepi.


"Selamat datang Tuanku, Pangeran Yul," hormat para penjaga pintu, seolah menepuk jantung Ara yang berdebar hebat.


"Selamat datang, Putraku," sapa raja riang, menyambut kedatangan Pangeran Yul yang baru saja tiba.


Ara meremas gaunnya, perasaan senang itu bercampur canggung. Jantungnya berdebar semakin tak menentu. Dia keringatan, bercucuran dari tubuh yang kedinginan.


"Terima kasih, Ayahanda."


Suara jantan Pangeran Yul mengobrak-abrik darah yang mengalir di tubuh Ara. Sangat malu, untuk menatap wajah calon suaminya.


Pangeran Yul duduk di belakang tirai tipis yang telah disediakan. Aturan istana, melarang pertemuan pasangan yang belum menikah untuk melakukan kontak mata.


"Selamat datang, Pangeran Yul," sapa Kepala Menteri Perang dan istrinya bersemangat. Pangeran Yul tersenyum pada mereka, meninggalkan kesan baik yang tak dapat dilupakan.


"Putraku, Yul. Gadis yang saat ini sedang menundukkan wajahnya di balik tirai itu adalah calon istrimu. Bagaimana? Bukankah dia gadis yang anggun dan cantik?" tanya raja memandang Ara yang hanya bisa tertunduk malu.


Pangeran Yul menoleh padanya, beberapa waktu, cukup lama. Tak berbicara sama sekali, membiarkan raja dan orang tua Ara berbincang soal perjodohan mereka. Ara menyadari situasi, saat ini Pangeran Yul sedang menatapnya. Keberanian itu, dipakainya bangkit untuk sedikit saja memandang wajah calon suaminya. Hingga akhirnya Ara mengangkat wajahnya, menghadirkan senyum dari sudut bibirnya.


Ara tersenyum, sedikit malu-malu. Memandang wajah calon suaminya dengan perasaan bahagia yang membuatnya hampir saja tak sadarkan diri. Memikirkan hal-hal baik yang telah menantinya, menimbulkan kepercayaan diri baginya untuk melupakan mendiang Lee Young secepatnya. Ya, sebentar lagi dia akan menikah dengan seorang pangeran. Pemuda yang akan menjadi suaminya adalah pria berbudi luhur, dan berwajah tampan. Apa lagi, yang harus dia takuti dan pikirkan.


Bangunlah rumah tangga yang baik dan harmonis. Miliki beberapa anak dan hidup damai dengan melupakan masa lalu. Seluruh susunan rencana itu telah dikemasnya dengan baik.


Namun, semua pemikiran itu menjadi hancur berkeping-keping. Saat mata mereka bertemu, Pangeran Yul tak tersenyum padanya sama sekali. Bahkan untuk membalas senyum Ara sama sekali tak terpikir olehnya. Ia hanya menatap Ara sebentar, kemudian membuang pandangan itu secepat kilat.


Tunggu, jangan khawatir. Pikirnya, mungkin saja Pangeran Yul sangat canggung. Tetaplah tersenyum dan terlihat cantiklah di depannya. Itu saja dulu.

__ADS_1


__ADS_2