Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Jangan Tinggalkan Aku, Ya?


__ADS_3

Han Ji-Eun melangkah angkuh menuju kediaman Ratu Kim. Ia membawa seorang peramal hebat yang ramalannya selalu terbukti. "Yang Mulia! Putra Mahkota masih hidup."


Perkataan Han Ji-Eun spontan menarik ratu hingga terbelalak. "Apa katamu?!" tanya ratu tak percaya.


"Ramalan mengatakan Putra Mahkota masih hidup. Ini artinya Anda tidak boleh mengangkat Pangeran Yul menjadi raja di negeri ini." Han Ji-Eun tidak tahu, bahwa ratu sebenarnya ingin membunuh pria yang dicintainya itu. Obsesi Han Ji-Eun bukan hanya soal cinta, tapi juga soal harta dan tahta. Dia tidak ingin Ratu Kim berkuasa. Dia ingin, dialah yang bertindak sebagai penguasa.


***


Pagi itu, Ara terbangun di atas ranjang yang sama dengan Pangeran Yul. Suaminya sedang memeluknya mesra sambil tertidur. Ara membalikkan tubuhnya untuk berhadapan dengan sang suami yang masih terlelap. Dia menyentuh wajah sang suami dan tersenyum kemudian. "Bangunlah, Suamiku Sayang. Ini sudah siang. Bukankah hari ini, Anda ingin bertemu dengan Ibunda Ratu? Hari masih gelap, dan badai masih berlanjut. Apakah Anda masih ingin tidur?" Ara membelai mesra wajah itu dengan kasihnya.


Pangeran Yul tak ingin bangun. Dia malah semakin memeluk sang istri untuk tak beranjak dari tempat tidur.


***


Putra Mahkota terbangun tak mendapati sang istri dalam pelukannya. Dia meraba-raba sekeliling, tetapi Youra tak ada di tempat. Dia langsung terjaga karena merasa sendirian. Langit masih sangat gelap. Angin masih kencang brhembus hingga seluruh halaman gubuk mereka berantakan.


Youra telah selesai memasak pagi itu untuk suaminya. Dia masuk ke dalam gubuk untuk membawakan hidangan itu. Namun, yang ia temui adalah wajah cemberut Putra Mahkota. "Kenapa meninggalkan aku tidur sendirian?" Putra Mahkota yang baru saja bangun langsung saja menyuarakan kekecewaan.


Youra malah malu-malu memandanginya. Di otak nya terus saja berputar soal kejadian semalam. Malam dimana dia dan sang suami akhirnya bercinta dengan cinta. Mengulang kembali adegan dimana dia yang naik ke atas tubuh suaminya. Membuatnya sangat malu hingga terburu-buru keluar dari bilik itu.


Putra Mahkota menarik tangan Youra agar tak keluar. "Mau kemana?" Dia memeluk wanitanya, guna menahannya. "Aku ... aku harus membersihkan dapur, Suamiku."


"Mengapa bisa kau begitu cepat meninggalkan aku, sedangkan aku masih ingin berlama-lama bersamamu?" Putra Mahkota masih memeluk tubuh sang istri dari belakang.

__ADS_1


"Ss-suamiku pakailah dulu pakaian Anda. Lalu pergilah mandi. Aku telah menyiapkan air mandi untuk Anda." Youra sangat gugup karena sang suami memeluknya tanpa busana.


"Kenapa? Bukankah semalam kau juga sudah melihat dan menikmatinya?" Putra Mahkota menciumi leher Youra yang masih meninggalkan bekas yang diciptakannya semalam.


Putra Mahkota kembali memunculkan gairahnya. Sebelum itu terjadi kembali, Youra cepat-cepat keluar dari gubuk itu untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertinggal. Dia tidak sadar, caranya berjalan telah mencuri perhatian sang suami.


Putra Mahkota memakai celananya. Dia mengejar Youra yang hendak meninggalkannya. "Istriku, apakah yang aku lakukan tadi malam telah menyakitimu?" Putra Mahkota merengut manja di depannya, menaruh rasa takut telah bertindak diluar batas tanpa dia sadari.


Youra tak memandanginya, hanya terus jalan membawa beberapa tumpukan jerami. "Tidak, Suamiku."


"Lalu kenapa jalanmu terlihat begitu susah? Apa tadi malam aku keterlaluan?" Putra Mahkota menahan tangan Youra agar tak cepat beranjak. "Ha? Aha tidak. Aku hanya ... hanya ... kita melakukan itu hingga menjelang pagi. Mungkin, aku sedikit kelelahan." Youra menimpali, hingga wajahnya memerah. Soal melakukan sampai pagi itu memang benar, tetapi itu bukanlah satu-satunya alasan mengapa cara berjalannya jadi sedikit aneh.


"Kalau begitu istirahatlah, Sayangku. Maafkan aku karena tidak bisa menahan diri. Jika aku menyakitimu dengan caraku, katakan saja. Tapi jangan mendiami aku seperti ini." Putra Mahkota terus saja bersuara, tetapi Youra tetap saja berjalan meninggalkannya. Meninggalkan sang suami yang direnggut rasa bersalah.


***


"Suamiku, maaf karena Anda harus memakan makanan tidak layak ini selama kita tinggal di sini." Youra mengambilkan nasi dan sayuran yang telah ia masak tadi. Putra Mahkota terus memandanginya.


Hening. Tak ada suara selain keheningan yang menemani pasangan suami istri itu saat makan. Youra tak lahap seperti sebelumnya. "Lee Youra, kau menyesal telah melakukannya bersamaku?"


Uhuk!


Youra batuk hingga tak sengaja memuntahkan makanan itu dari mulutnya. Putra Mahkota sangat khawatir. Dia mengambilkan minum, dan membantu sang istri untuk menelannya. "Sayang, kau baik-baik saja kan?" Putra Mahkota menyapu sisa-sisa nasi yang masih menempel di mulut Youra. Dia juga membersihkan gaun Youra yang kotor. Dia menatap lekat wanitanya, sebelum melanjutkan kata-katanya. "Lee Youra, maafkan aku." Putra Mahkota malah merasa bersalah karenanya.

__ADS_1


Youra memandangi wajah yang telah membuatnya sangat tergila-gila itu. "Mana mungkin aku menyesal, Suamiku. Aku hanya malu, karena ... " Belum selesai Youra berbicara Putra Mahkota lantas memeluknya.


"Syukurlah. Jangan malu kepadaku. Aku ini suamimu. Kau bisa melakukan apa saja bersamaku, tanpa harus malu. Jangan mengabaikan aku seperti tadi lagi ya, Sayang? Aku takut kau malah semakin membenciku karenanya." Erat sekali tubuh hangat itu mendekapnya. Membuat Youra menangis haru karenanya. "Suamiku, aku sangat beruntung memiliki Anda. Aku sangat mencintai Anda. Jangan tinggalkan aku, ya?"


Ini pertama kalinya, Youra mengatakan hal semanis itu pada suaminya. "Aku tidak akan meninggalkanmu. Sudah kukatakan sejak lama, kita hanya akan berpisah jika aku mati. Lee Youra adalah wanitaku satu-satunya." Memang sangat menyenangkan dipeluk orang yang kita cintai di tengah hembusan angin yang cukup kencang. Hangatnya begitu terasa, hingga merasuk ke dalam jiwa.


***


Lee Young akhirnya sampai juga di desa Timur. Nana dan pamannya, adalah orang yang pertama kali ia kunjungi setelah dia tiba disana.


Nana yang sudah lama memendam cintanya, hanya bisa terus berpura-pura tidak memiliki perasaan karena perbedaan status diantara keduanya yang tidak mungkin dia dapatkan. Lee Young adalah seorang bangsawan kelas atas, dengan wajah tampan yang terkenal sejak lama. Sedangkan Nana, dia hanya seorang pelayan dari kasta terendah yang dilarang keras jatuh cinta pada tuannya. Dia biasa saja, dan tidak ada apa-apanya. Begitu pikirnya.


"Selamat datang, Tuan Muda." Pamannya Nana menyapa kedatangan Lee Young yang datang untuk tinggal sementara bersama mereka. Nana tidak tahu kedatangan sang pujaan hati, baru saja keluar dari kediaman membawa beberapa buah-buahan. Wajah Young yang tersenyum ramah kepadanya, membuatnya terbelalak hingga ia tersandung oleh gaunnya sendiri.


"Ah!"


Young langsung mengejar gadis itu, membantunya untuk berdiri. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Young. "Ha?" Nana terbelalak karena pria pujaannya kini sedang menyentuh tangannya. "Ah iya, aku baik, Tuan Muda. Aku baik." Nana sangat canggung. Jantungnya berdebar kencang. Wajahnya memerah, tetapi tangannya berkeringat dingin. Sang paman tahu, pasti saat ini ponakannya itu merasa sangat bahagia.


"Syukurlah. Lain kali, ikutlah denganku untuk membeli pakaian yang sesuai ukuranmu. Tidak perlu memakai pakaian sisa orang lain lagi hingga akhirnya terus tersandung. Warna apa yang kau sukai?" tanya Young sekali lagi. "Aku suka ... "


"Aku suka Anda, Tuan Muda."


"Aku suka warna biru, Tuan Muda," jawab Nana malu-malu. "Benarkah? Wah kita menyukai warna yang sama." Young tersenyum pada Nana.

__ADS_1


"Andai saja, Anda juga punya perasaan yang sama ... aku akan jadi wanita paling beruntung di dunia."


"Kalau begitu, mari bergabung. Aku baru saja membawakan beberapa makanan. Ayo." Young akhirnya menyantap hidangan makan siang itu bertiga dengan Nana dan pamannya.


__ADS_2