Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Kau Pasti Datang


__ADS_3

Suatu hari di istana, Putra Mahkota berdiri di balkon kediamannya menatap langit yang gelap. Hari itu seharusnya Putra Mahkota melakukan pertemuan dengan para menteri, tetapi ia tak pernah datang.


“Yang Mulia Putra Mahkota, udara di luar sangat dingin. Sebaiknya Anda masuk. Hamba akan menyiapkan air hangat untuk Anda,” kata Kasim Cho membujuk Putra Mahkota.


Putra Mahkota tak peduli. Ia hanya terus menatap langit yang gelap itu tanpa henti. 


“Yang Mulia…,” tambah Kasim Cho.


“Apa hak mu memintaku untuk berhenti menatap langit?” kata Putra Mahkota.


Kasim Cho yang mendengar kalimat itu langsung mengerti dan segera pergi dari situ. Namun sebelumnya, ia mendekati tuannya dan memakaikan sang Putra Mahkota selimut hangat.


“Pangeranku…,” gumamnya rintih.


**


Sementera itu, dari istana Putri Shin seorang dayang ratu datang membawa perintah panggilan agar Putri Shin segera menemui ibunya. Dengan penuh semangat, Putri Shin pergi memenuhi panggilan itu. 


”Aku akan membujuk Ibu soal Jung Hyun,” semangat sang putri kepada para pelayannya.


Pelayannya ikut bahagia. Ia tersenyum sepanjang perjalanannya menemani Putri Shin. 


Saat tiba di istana ratu, Ratu Kim (Seol) memeluk putrinya.


“Anakku, kenapa kau jarang sekali mengunjungiku?” tanya sang ibu.


Putri Shin yang sangat bahagia itu langsung membalas pelukan sang ibu.


“Maafkan aku Ibu, belakangan aku sedang banyak latihan. Aku ingin pandai menjahit dan menyulam,” kata Putri Shin.


“Tak terasa kau sekarang sudah besar. Sebenarnya, ada yang ingin aku sampaikan padamu,” kata ratu.


“Benarkah? Aku juga, ingin menyampaikan sesuatu kepada Ibu”.


Ratu Kim melepaskan pelukannya dari tubuh sang anak.


“Saat ini, raja sedang membahas soal pernikahanmu bersama para menteri".


Kalimat Ratu Kim, malah membuat hati sang putri tertampar hebat. 


“Raja akan memilihkan calon terbaik untukmu,” tambah ratu.


Saat itu Putri Shin tak mengeluh soal apapun, tapi,


“Ibu Ratu, apa aku benar-benar harus menikah dengan pria pilihan raja?” tanya sang putri.

__ADS_1


“Ya. Suami seorang putri raja, adalah mutlak pilihan istana. Kau juga tahu, pernikahan keluarga kerajaan adalah hal yang sangat penting demi otoritas kerajaan. Tenang saja, raja pasti akan memilihkan pria terbaik di negeri ini yang cocok dan sederajat dengan kita,” jelas ibu ratu.


Putri Shin yang mendengar itu, matanya berkaca-kaca.


Sederajat katanya?


“Bagaimana, jika aku katakan, aku sudah punya pilihan?” tanyanya.


“Bagaimana bisa kau punya pilihan? Kau hanya seorang putri di istana ini. Jangan berbicara sembarangan. Kau pasti akan menyukai siapapun nanti pemuda yang terpilih. Pertanyaanmu membuat aku merasa kesal,” Ratu Kim meneguk teh hangatnya.


“Yang Mulia Ratu, sebagai putrimu, tidak bisakah kau mendengarkan aku sekali saja?". 


“Kau ingin melawan seperti Putra Mahkota? Kau ingin raja juga membencimu? Jangan membuat alasan seolah-olah kau sedang jatuh cinta karena tidak ingin menikah. Secepatnya kau akan segera menikah".


Putri Shin yang tak terima, berdiri tegak mencoba mempertahankan seluruh harapan yang telah direncanakan.


“Kalau begitu, aku akan meminta kepada raja untuk menunda pernikahanku. Aku hanya akan menikah, setelah Putra Mahkota menikah". 


Putri Shin melangkah cepat keluar dari kediaman sang ibu dengan mata yang berkaca-kaca. Sang pelayannya pun ikut bersedih karenanya.


“Antar aku menemui raja,” katanya pada para pelayan.


“Maaf Tuan Putri, saat ini, Yang Mulia sedang menuju kediaman Putra Mahkota". 


Mendengar jawaban pelayan itu, Putri Shin menjadi sangat khawatir, segera ia melangkah cepat ke istana Putra Mahkota.


**


“Dimana anak tidak tahu diri itu?!” tanya raja pada Kasim Cho.


“Yy-yang Mulia..". 


Dengan tidak sabar raja membuka pintu bilik Putra Mahkota, dan mendapati putranya yang sedang duduk bersantai meneguk teh bunga. 


“Kau, anak tidak tahu malu! Tidak bisakah kau sedikit saja membanggakanku? Berani-beraninya kau absen rapat hanya karena teh busuk ini!” bentak raja berdiri menghempaskan teko teh itu dengan pukulan tangannya. 


Mendengar suara cangkir yang berhamburan, para pelayan Putra Mahkota ikut khawatir. Putri Shin yang sudah tiba di depan kamar sang adik terdiam mendengarkan.


“Kau ini seorang pewaris tahta! Kau Putra Mahkota negeri ini! Tidak bisakah kau menghargai keputusanku?! Apa kau tidak tahu, seberapa banyak aku menghadapi penderitaan ini demi dirimu! Bisa-bisanya kau terus seperti ini untuk menghinaku!" bentak sang raja.


Putra Mahkota dengan santai lanjut meneguk teh bunga itu. Raja yang geram dengan putranya itu berusaha menahan diri, tapi egonya yang tinggi menyelimuti seluruh kemarahannya yang sudah memuncak, membuatnya menarik cangkir dari tangan sang anak dan membantingnya ke lantai, hingga pecahlah cangkir itu di hadapan Putra Mahkota.


Putra Mahkota sama sekali tidak memberikan respon apapun, ia hanya duduk dan tidak bangun sama sekali dari tempat duduknya.


“Kau tahu, kau bukan satu-satunya putraku. Kau anak bodoh, yang tidak tahu terimakasih, tidak tahu malu, dan terus-terusan mempermalukan aku, kau..”. 

__ADS_1


“Yang Mulia, kumohon ampuni Tuanku Putra Mahkota,” Kasim Cho tiba-tiba datang dan bersujud pada raja. 


Raja yang geram, dengan seluruh emosi yang berada dalam genggamannya, segera menendang Kasim Cho. Melihat itu, Putra Mahkota yang tadinya diam, tersenyum ringan, mengangkat wajahnya pelan-pelan.


“Apa aku pernah memintamu untuk menjadikanku Putra Mahkota? Bukankah kau punya anak yang lebih baik dariku?” jawab Putra Mahkota seraya mengepal tangannya erat-erat.


Mendengar jawaban lancang Putra Mahkota, raja menarik kerah Putra Mahkota. Ia menahan getaran emosi pada dirinya. Putra Mahkota sama sekali tidak melawan, ia bahkan terus menatap mata ayahnya itu tanpa ragu.


“Apa pernah kau bertanya padaku, atas seluruh keputusanmu untukku?” tambah Putra Mahkota membuat sang ayah hendak memukulnya. 


Namun secara tiba-tiba,


“Ayahanda, kumohon jangan memukulnya!” Putri Shin datang dan langsung bersimpuh di kaki raja.


“Hukum saja aku. Akulah anak ayah yang selalu melanggar aturan kerajaan. Aku diam-diam keluar istana untuk bermain, aku melanggar banyak aturan istana,” pungkas Putri Shin sambil memohon, meneteskan air mata. 


Raja yang melihat putrinya bersimpuh moncoba meredam emosinya, lantas pergi dari bilik Putra Mahkota dan meninggalkan mereka.


“Pergi dari sini. Apa kau tidak tahu, hukuman apa yang akan menimpamu jika kau menemuiku?” perintah Putra Mahkota pada Putri Shin.


Putri Shin menatap wajah adiknya yang tertutup itu iba. Perlahan-lahan dia kembali berdiri.


“Apa aku salah, mengunjungi adikku sendiri?” tanya pilu sang putri.


“Sampai kapan kau terus menjauhi aku seperti ini?” tambah sang putri.


“Apa aku memintamu untuk membantuku? Keluar dari sini, sekarang,” perintah Putra Mahkota sekali lagi.


Mendengar sang adik yang menyakiti hatinya, Putri Shin tak marah, ia malah semakin meneteskan air mata. Langkahnya pelan, maju sedikit untuk mendekat. Ia berusaha menggapai tirai tipis penutup wajah sang adik.


“Sampai kapan, kau harus bersembunyi? Apa aku tidak bisa, melihat wajah adikku sendiri?”.


“Pelayan! Bawa Putri Shin pergi dari sini!” teriak Putra Mahkota kepada para pelayannya.


Mendengar itu, Putri Shin menurunkan tangannya. 


“Aku tahu, di balik tirai itu, kau sedang menangis pilu, kan? Tapi akan aku pastikan, suatu hari nanti, kau pasti akan datang,” Putri Shin melangkah pelan bersama para pelayan. 


Namun, ia berhenti sejenak dan berbalik kembali kepada sang adik.


“Kau pasti akan datang padaku. Kau pasti datang, sebagai adikku,” Putri Shin kembali berbalik pergi membawa deraian air mata.


Putra Mahkota yang mendengar itu tidak memberikan reaksi apapun. Namun, butiran air mengalir di balik tirai penutup wajahnya deras.


Saat melihat orang-orang tertawa ceria, seolah-olah mereka adalah yang paling bahagia di muka bumi ini, mereka menarik tangan mereka sendiri dan menggenggam erat tawa itu baik-baik. Memandangnya, seolah-olah dia yang paling beruntung. Namun, apa kamu pernah tahu, saat kamu tidak menoleh padanya, mungkin saja ada air mata yang lebih deras daripada derita mu sendiri.

__ADS_1


Dia yang pandai berpura-pura luka, dan dia yang hanya terus pura-pura bahagia, semuanya terlihat baik-baik saja, di hadapan kamu dan aku yang hatinya buta.


__ADS_2