
Malam telah tiba. Langit tak menunjukkan lagi keindahan. Badai masih berlanjut, begitu juga dengan dingin yang menepis. Tak ada bintang, apalagi kilapan cahaya bulan. Wajah-wajah sedih dari sang pecinta menyeruak, menghiasi malam mengerikan itu menjadi lebih menakutkan. Namun, semua itu tak berlaku pada Youra yang baru saja dibalut cinta. Baginya setiap hari sama indahnya sejak jatuh cinta pada suaminya.
Malam itu Youra menyembunyikan wajahnya saat menyelinap masuk ke dalam bilik mereka, karena sang suami sedang berganti pakaian di sudut gubuk gelap itu tanpa pelita.
"Aku menghukummu." Kalimat itu terus saja menghantui pikirannya yang tak lagi suci. Sudah mengerti betapa indahnya malam saat bersama sang kekasih. Dia bergidik ngeri. Tawa genit berupaya ia tahan sedari tadi.
Youra merapikan bilik mereka sebelum meletakkan beberapa kudapan malam untuk Putra Mahkota yang tidak menyadari kehadirannya. Ia tata rapi semuanya hingga tersaji cantik pelan-pelan. Jangan sampai bersuara. Jika terdengar, bisa-bisa Putra Mahkota datang menerkamnya.
"Akh!"
Youra terkunci. Air mata yang datangnya entah dari mana tiba-tiba saja tertarik jatuh lebih cepat dari ritme napasnya.
Putra Mahkota sedang kesakitan. Dia menggenggam luka itu dengan tangannya, menyumpal darah itu dengan segulung kain perca. Dia tak pernah perlihatkan wajah kesakitan di depan istrinya. Youra juga tak pernah melihat luka itu mengeluarkan darah lagi. Semuanya terlihat baik-baik saja, bahkan saat dia mengganti pembalutnya luka itu terlihat kian membaik.
Ada yang aneh. Mungkin itu satu-satunya alasan mengapa Putra Mahkota terkadang bersembunyi di dalam gelap. Ada perasaan menyesal yang merayapi Youra, karena sudah menolak banyak perintah Putra Mahkota.
Youra pelan-pelan keluar dari bilik gubuk. Tungkainya kian melemah. Bayang-bayang kelam yang memutar seluruh isi kepala dan perasaannya menyapu bersih seluruh pikiran baik. Dia tidak tahu, luka itu masih terikat pada racun mematikan yang bisa membunuh suaminya kapan saja.
***
Youra membawa sebuah pelita masuk ke dalam bilik. Dia meletakkan pelita itu di atas kenap kecil yang berisi kudapan untuk sang suami.
"Ini ikan yang tadi kita tangkap, kan?" Putra Mahkota membuka malam dengan wajah cerahnya. Youra memberikan senyum termanisnya. "Iya, ini ikan yang tadi Anda tangkap untuk kita tadi."
Setelah mengambilkan nasi, Youra meletakkan sepotong ikan di atas piring suaminya. Putra Mahkota sangat semangat meraih piring yang baru saja permaisurinya hidangkan. Dia mulai menyuap sedikit demi sedikit. Dia mengunyah dengan nyaman.
Youra terus memandanginya. Sadar akan sesuatu hal yang sudah pasti terjadi. Putra Mahkota tidak pernah benar-benar menyukai masakan itu. Dia tersenyum dan lahap karena itu masakan Youra. Bukan karena dia menyukainya.
"Suamiku, Anda menyukainya?" tanya Youra. "Sangat. Sangat suka." Youra melihat itu di mata suaminya. Hatinya terpukul dan sangat sedih. Menyesal karena baru saja menyadari.
__ADS_1
"Maafkan aku." Sebuah kalimat diikuti suara isakan membuat Putra Mahkota menyudahi makan malamnya. Youra melepas seluruh rasa menyesalnya hingga menangis tersedu-sedu. Air matanya yang entah sejak kapan jatuh menbasahi gaunnya. Tak sedikitpun dia menyentuh makanan.
Putra Mahkota menggeser meja kecil itu menjauh terburu-buru. Meraih Youra masuk dalam hangat tubuhnya. "Ada apa? Ada apa Permaisuriku?" tanya Putra Mahkota sangat khawatir.
Youra memeluk suaminya. "Aku sudah menipu Anda." Youra malah semakin sesenggukan. Putra Mahkota merapatkan pelukannya. "Tidak apa-apa. Jangan menangis." Youra bahkan belum mengatakan apapun, tapi sang pemilik cinta yang besar itu sudah menghapus air matanya.
"Aku hanya ingin membuat Anda lelah. Aku berusaha menolak Anda lagi." Youra meremas pelukan itu cukup lama. "Apa karena itu, Anda berbohong padaku?" Youra kesusahan karena rongga napas yang mulai dipenuhi tumpukan air.
Youra melepaskan pelukannya. Dia menghapus air mata untuk menenangkan diri. Setelahnya, dia menarik kerah baju suaminya. "Anda bilang lukanya sudah sembuh, padahal Anda masih kesakitan! Anda mengerjakan banyak pekerjaan berat, kenapa tidak pernah bilang kalau masih sakit?!"
Youra sangat marah. "Aku sengaja mengajak Anda menangkap ikan agar Anda kelelahan! Aku selalu jahat pada Anda!"
"Aku sudah ... "
"Hm?" Putra Mahkota menyumpal bibir ranum yang dari tadi sibuk memarahi. Youra tak dapat menopang tubuhnya hingga terkulai pasrah di bawah sana. Sekali lagi, gubuk tua itu menjadi saksi cinta mereka yang kian bersemi.
Di malam yang dingin dan mengerikan, Putra Mahkota dan Youra sekali lagi memadu kasih. Tangan Putra Mahkota menjelajahi seluruh sisi yang bisa disentuhnya. Hal itu terus terjadi, hingga akhirnya mereka benar-benar melakukan apa yang harusnya dilakukan pasangan suami istri sekali lagi.
***
Dia terus saja membayangkan gelap malam indah yang rasanya baru saja dia nikmati bersama Jung Hyun. Pemuda yang membuatnya tergila-gila itu sangat pandai memperlakukannya hangat di atas tempat tidur, hingga dia lupa siapa dia. Lupa bahwa takdir sudah mengantarkannya menjadi istri pria lain.
Sesuatu yang menyakitkan baginya bukan hanya tentang kenyataan. Perlakuan Jung Hyun yang terlihat jijik padanya pada saat bertemu di rumah tahanan membuatnya membenci dirinya sendiri.
"Perasaanku kepada Anda sudah berakhir sejak lama."
"Apapun yang terjadi pada kita setelah Anda menikah, semua itu hanya sebuah kesalahan."
Perkataan itu terus saja menghantam keras jantungnya. Dia kesakitan sendiri karena kebodohan.
__ADS_1
Memang benar, selama ini dia lah yang sudah mengganggu Jung Hyun. Padahal, Jung Hyun berkali-kali menolak kedatangannya. Namun, malam itu dia memberanikan diri di hadapan pemudanya. Menyentuh setiap sudut tubuh pemuda itu dengan hasrat yang tak dapat lagi ditahannya. Dia menggoda Jung Hyun untuk menyentuhnya. Benar, dia lah yang memulai. Dia membuat pemudanya kesusahan.
Tiba-tiba air mata itu berhenti mengalir.
"Dia tidak mencintaiku ... aku hanya menyusahkan hidupnya."
Putri Shin duduk dari tidurnya. Dia meraba-raba sesuatu di balik bantal. Sebuah belati dengan kerincing cantik yang terikat di ujung gagang.
Dia menarik belati itu keluar dari tempatnya bersarang. Menatap belati itu kosong sebelum menjejaki belati tajam itu di pergelangan tangannya yang sudah penuh luka akibat penyiksaan yang Ha Sun berikan belakangan ini, hingga darah menyucur deras keluar dari sana.
"Tuan Putri!" Dayang pribadinya menemukan Putri Shin tak lagi sadarkan diri. Bersimbahan darah terbaring di atas ranjang.
Mereka berteriak. Menangis keras di tengah malam yang menyedihkan. "Tidak ... panggilkan tabib! Cepat panggil tabib! Cepat!"
Dayang pribadinya berlari kencang menuju istana tanpa alas kaki karena panik.
***
Jung Hyun hanya terpaku di sudut ruang tanpa cahaya. Dia tak bisa tidur setelah apa yang dia lakukan. Dia sangat sadar apa yang sudah dia katakan pada Putri Shin pasti telah menyakiti perasaannya.
Tiba-tiba teriakan di tengah malam menyapa kesendiriannya. Jung Hyun mendengar suara itu. Dia mendekat pada pintu sel yang menjeratnya karena seperti mendengar nama seseorang telah disebutkan.
"Ada apa?!" teriak Jung Hyun kepada salah seorang opsir yang berjaga. Wajah mereka semua panik dan tegang.
"Aku tanya ada apa?!" Jung Hyun memaksa.
"Bukan urusanmu!" Mereka enggan menjawab dan malah kembali menyebut sebuah nama yang menusuk jantungnya.
Jung Hyun menarik kerah seorang opsir dari celah sel, memerangkap opsir itu dalam sikut yang menekuk. "Aku sudah berusaha bersikap baik kepadamu. Katakan padaku, sebelum kupatahkan lehermu," paksa Jung Hyun.
__ADS_1
"Pu-putri Shin ... Putri Shin bunuh diri."
"Apa?"