
Tetesan air mata menemani langkah Youra berjalan kembali menuju kediamannya. Menjadi salah satu dari 3 besar kandidat istri Putra Mahkota, membuatnya sangat tidak percaya terhadap apa yang terjadi. Ujian terakhir yang akan melibatkan dirinya, membuatnya putus asa mengingat keadilan tak berada dipihaknya. Namun, ia tertegun kembali, mengulang segala memori tentang Jun di kepalanya.
Kak Jun, aku harus bagaimana?
Dia bingung harus memulai darimana. Haruskah dia menceritakan segalanya pada Jun kekasihnya, atau tidak, membuat harapannya kandas. Tak usah, lebih baik tak usah diceritakan, dia bisa saja kabur dari ujian terakhir itu, pikirnya.
Youra memutar rutenya menuju kediaman Jun, memandangnya dari jauh, sebelum akhirnya Nyonya Han melihatnya.
“Putriku, kemana saja, kenapa kau baru datang sekarang?” sapa Nyonya Han ramah.
Youra, matanya sibuk menjelajahi seluruh tempat di kediaman Jun, tetapi sang kekasih tak ada disana, membuatnya merasa bersalah.
“Ibu, dimana Kak Jun?” tanya Youra pada Nyonya Han.
Entah kenapa, rasanya sangat sakit.
Nyonya Han tersenyum ringan, ia mengusap kepala Youra dengan kasih sayang. Pelan-pelan Nyonya Han melangkah pergi, dan kembali setelah mengambilkan beberapa potong semangka segar.
“Dia memetikkan buah ini sebelum berangkat kerja. Sudah rindu padanya, ya?” goda Nyonya Han membuat Youra tersipu malu.
Aku sangat merindukannya.
“Kenapa kau tidak pernah datang kemari? Jun sudah sangat merindukanmu. Dia berusaha menahan diri untuk tidak menganggumu. Dia terus saja bersedih, takut kau tinggalkan, katanya”.
Perkataan Nyonya Han menyentak dada Youra hebat. Kalimat itu, seolah mengusik pikirannya. Saat ini, nasibnya berada di ujung pedang. Kehadirannya sebagai kandidat istri Putra Mahkota membuat rasa bersalahnya pada Jun semakin besar. Dengan keras, Youra berusaha untuk terlihat baik-baik saja, setidaknya di hadapan Nyonya Han. Tak lama, setelah banyak berbincang, Jun pulang dengan wajah murungnya.
“Ibu, aku pulang”.
Jun meletakkan beberapa buah di atas papan di halaman rumahnya. Wajah murungnya tampak imut dan lucu, membuat Youra yang mengintip tersenyum senang.
“Tidak ingin makan dulu?” tanya sang ibu, meletakkan beberapa lauk di atas meja.
Jun menggeleng pelan, dia segera membuka jubahnya dan hendak tidur tanpa makan terlebih dahulu.
“Yakin tidak mau makan masakan calon istrimu? Youra yang sudah memasak semua ini, masa kau tidak mau?”.
Mendengarnya, Jun berlari cepat keluar dari biliknya, hampir saja terpeleset.
“Apa? Youra tadi kesini, Bu?” tanyanya dengan wajah penuh harap.
Youra keluar dari persembunyiannya, membawa semangkuk sup masakan terbaiknya. Jun berbalik, menoleh pada sumber suara langkah kecil itu. Youra tersenyum padanya, membunuh seluruh keluh kesah Jun yang hampir saja mengaduk isi otaknya.
“Youra..”. Panggil Jun, khas dengan suara beratnya yang lembut.
Youra meletakkan semangkuk sup itu, mengambil jubah Jun yang tergeletak dan segera mendekapnya di dada.
“Kak Jun makanlah dulu, baru kemudian tidur, ya?”.
__ADS_1
Suara lembut Youra mengalun pelan membuat jantung Jun berdegup kencang. Jatuh cinta, memang seindah ini, pikirnya. Tanpa pikir panjang, Jun segera duduk di samping mejanya. Youra mengambilkan nasi dan lauk untuknya. Senyuman manis Youra menambah kelezatan makanan yang terhidang, membuat Jun sangat bahagia.
Sebelum menikmati makanannya, Jun menatap Youra kembali.
“Sudah tidak lagi merajukkah, sayangku?” tanya Jun.
“Sa.. sayang?” Youra tersipu malu, mengintip Nyonya Han yang tersenyum genit, mencoba menggodanya.
Jun tersenyum mengangguk pelan, mengelus kepala kekasihnya itu dengan cinta. Dengan semangat, Jun memakan hidangan di hadapannya dengan lahap. Youra terus memperhatikan wajah kekasihnya itu, tanpa disadari oleh Jun. Lambat laun, wajah cerah itu berubah urung. Tampak sangat sedih, membuahkan genangan air di pelupuk matanya. Sangat sakit, entah kenapa.
“Kak Jun?” panggil Youra.
“Hm?” jawab Jun yang mulutnya masih penuh.
Youra tersenyum, menyentuh pipi sang kekasih yang membulat. Jun terkejut, akhirnya dia tersenyum senang, menggapai tangan Youra, dan memaksanya tetap tinggal disana.
“Ada apa?” tanya Jun.
Youra sangat sesak, kesedihan itu membuatnya tak kuasa.
“Kak Jun, aku hanya mencintaimu, apapun yang terjadi. Kau tahu itu kan?”.
Air mata mengalir bebas di pipi Youra, menimbulkan kepanikan pada Jun yang langsung menghentikan makannya.
“Ada apa? Kenapa kau menangis?”.
“Aku tahu. Aku juga sangat mencintaimu, begitu selamanya,” jawab pemuda itu.
Sudah sangat keras, Youra yang terus berseteru dengan hatinya untuk tak meluap-luap, akhirnya kalah. Ia yang tak lagi kuasa segera menangis keras, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Jun meraih tubuh Youra, membawanya dekat dengan dekapannya.
”Ayo kita menikah, aku sudah mendapat pekerjaan yang jauh lebih layak dari hanya sekedar guru di biro pendidikan,” tambah Jun yang sedang mendekapnya.
Youra masih saja terus menangis, menutupi wajah imutnya dengan tangan. Dia benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Saat ini, dia adalah calon istri Putra Mahkota, mencoba kabur adalah jalan terbaik yang harus ditempuhnya jika ingin menikah dengan Jun. Namun, itu akan merusak nama baik keluarganya.
“Aku hanya ingin lebih lama bersama Kak Jun disini”.
“Sangat merindukanku ya?” ledek Jun padanya.
Entah bertemu lagi atau tidak, yang pasti aku sangat mencintaimu. Aku benar-benar sangat mencintaimu.
**
Burung pagi saling bernyanyi, berkicau menemani langkah Youra yang sembab sudah matanya. Semalaman, ia tak tidur sama sekali, berpacu dengan egonya sambil hanya terus menangis. Di dalam tandu yang menjemputnya, Youra meremuk gaun indahnya, dia benar-benar sangat terluka. Ia menyandarkan tubuhnya pada sisi tandu dan tertunduk pasrah. Demi nama baik keluarganya, dia terpaksa datang untuk mengikuti seleksi terakhir ini.
Perasaan berkecamuk menemani langkah Youra. Masih dengan harapan dan taktik yang sama, bertindak bodoh adalah jalan satu-satunya. Dengan begitu, dia tak akan terpilih menjadi menantu istana.
__ADS_1
“Berikan hormat kalian pada Yang Mulia Ratu dan Ibu Suri,” perintah kepala dayang.
Ketiga kandidat itu membungkuk hormat, membawa pesonanya sendiri. Hong Jin-Yi putri tunggal sekretaris negara yang sangat cantik, menggunakan gaun indah milik ibunya. Gaun itu berwarna merah muda berkilau, mempercantik penampilannya. Han Ji-Eun, wanita cantik yang merupakan putri kesayangan Perdana Menteri Han, adalah adik tiri Jun. Dengan gaun biru muda bercorak yang melekat pada tubuhnya, wibawanya mencuat tinggi dengan wajah khas juteknya yang tampak angkuh tapi elegan itu.
Youra berdiri di sebelah kiri Jin-Yi dengan pakaian biasa, bukan sutra, bukan pula pakaian berkilau, benar-benar tampak tanpa persiapan. Pakaian itu hanya katun biasa, yang sering dipakainya untuk berangkat ke pasar, membuat Ibu Suri terus memandangnya.
“Segera perkenalkan diri,” kata kepala dayang.
Satu persatu, kandidat maju satu langkah ke depan.
“Aku Han Ji-Eun, putri Perdana Menteri Han”.
Youra langsung bangun dari hormatnya memandang Ji-Eun lekat.
Adiknya Kak Jun?
Tak lama setelah itu, Hong Jin-Yi maju satu langkah, membungkuk hormat dengan senyum cantiknya.
“Aku Hong Jin-Yi, putri tunggal sekretaris negara, sahabat masa kecil Putra Mahkota”.
Disini, aku bukan apa-apa. Jika aku pemenangnya, keadilan benar-benar tidak ada di negeri ini.
“Aku Lee Youra, putri mendiang penasehat negara, Tuan Lee Tae Hwon”.
Aku berharap ini terakhir kalinya aku ke istana.
**
Di istana para menteri dihebohkan kabar tentang putri penasehat negara yang masih hidup. Mereka sangat terkejut, mengetahui bahwa Youra berhasil masuk dalam 3 besar kandidat calon istri Putra Mahkota. Mereka berkali-kali mencoba menyadarkan diri, barangkali semua ini hanya mimpi. Mereka berharap, putri penasehat negara itu tidak terpilih, tapi..
Manusia licik itu, dengan sengaja memaksaku untuk menjadi istrinya. Kekuasaan yang ada di tangannya, membuatnya sangat berkuasa untuk memaksa gadis lemah sepertiku tunduk pada perintah gilanya.
“Lee Youra, putri mendiang penasehat negara adalah wanita terpilih menjadi calon Putri Mahkota negeri ini,” seorang opsir membacakan hasil keputusan ratu dan Ibu Suri.
Para menteri, tak dapat berkata apa-apa. Mereka sangat terkejut, lantaran gosip itu benar. Wajah terkejut itu, bersatu membentuk sebuah dilema yang bersarang, karena mereka tidak setuju.
**
(Kembali di kediaman ratu)
Han Ji-Eun melotot tajam pada Youra, tampak tak terima setelah mendengar hasil keputusan ratu. Youra terjatuh lemah di tempat tak percaya. Ia tidak menjawab pertanyaan itu dengan sungguh-sungguh dan sengaja membodohi diri untuk segera hengkang dari sana. Tapi takdir sama sekali tidak berpihak padanya.
Youra meremas gaunnya erat-erat, dengan tangan yang sudah bergetar. Matanya melotot tajam tak terarah. Tentang harapan dan keinginan yang sudah disusunnya hancur berantakan. Impian dan cita-cita yang telah ditatanya runtuh dan lenyap tak bersisa. Dia tak bisa kabur, istana akan menjatuhkan hukuman padanya.
Tidak hanya menghancurkan kebahagiaanku, dia juga merenggut cinta dan hidupku.
Youra terus saja menitikkan air mata tak terima, kemenangan ini adalah kekalahan baginya. Sumpah serapah yang melekat pada jiwanya, terus saja diucapkannya untuk Putra Mahkota.
__ADS_1
Tunggu saja, pembalasan atas dendamku yang jauh lebih menyakitkan, Putra Mahkota yang hina.