
Mendengar kabar sang suami jatuh sakit, tak ada satu getaran pun yang menggerakkan hati Youra untuk berkunjung. Benci bukanlah sesuatu yang dapat dilawan dengan mudah. Menjadi istri calon penguasa negeri harus diperankannya dengan baik, setidaknya di depan banyak orang. Namun, dendam yang sudah mengantarkannya masuk ke istana membuatnya tak mampu untuk terus berpura-pura lemah dan bodoh. Kenyatannya, bukanlah iba atau perhatian yang muncul setelah mendapat kabar sang suami jatuh sakit, Youra malah merasa sangat senang dan bahagia. Baginya, kematian bahkan belum cukup untuk membalaskan segala penderitaan yang sudah dia alami.
**
“Yang Mulia, bisakah Anda mengunjungi kediaman Putra Mahkota sebentar saja?” tanya Kasim Cho sesaat setelah tiba di kediaman Youra. Dengan napas tersenggal-senggal, Kasim Cho yang tampaknya kelelahan, segera bersimpuh tepat di depan Youra yang saat itu hanya sibuk menulis sastra.
“Yang Mulia?” panggil Kasim Cho sekali lagi. Seolah angin, Youra sama sekali tak memperdulikan pelayan setia sang suami yang kini sedang bersimpuh di hadapannya. Dengan santainya, Youra meletakkan kuas cantik itu di sisi bukunya, segera mengangkat wajah.
“Kenapa aku harus mengunjunginya?” tanya Youra menatap lekat. Kasim Cho sangat tekejut, jawaban angkuh itu sangat menohok hingga ia tak dapat berkata-kata. Dengan kesabaran penuh, Kasim Cho merendahkan diri dengan penuh hormat di hadapan Youra.
“Yang Mulia Putra Mahkota saat ini sedang sakit. Bisakah Anda mengunjunginya?” tanya Kasim Cho sekali lagi. Wajah penuh harap itu kini tampil leluasa di hadapan Youra, menimbulkan sedikit simpatik baginya. Youra menoleh kepada seluruh pelayan yang ada di dalam kediamannya. Seluruh wajah itu, benar-benar membuatnya muak.
“Apakah ada perintah untuk mengunjunginya?” tanya Youra setelah kembali menoleh pada Kasim Cho. Kasim Cho menundukkan wajahnya, benar-benar sangat kecewa.
“Yang Mulia, sebagai istrinya, bukankah sebaiknya Anda menjenguk suami Anda yang sedang sakit?” tanya Kasim Cho penuh hormat. Youra tersenyum, mengangkat tubuhnya untuk segera berdiri. Para pelayan ikut memutar tubuh, berpikir bahwa Youra akan bergegas menuju kediaman sang suami.
Youra terus saja melangkah, hingga berdiri tepat di belakang pintu biliknya. Dengan segaris senyum tulus yang tampak begitu bersinar, Youra membuka pintu bilik itu.
“Bukankah saat ini aku sedang menerima hukumanku? Aku sedang dikurung di kediamanku, dan sekarang kalian memintaku untuk mengunjunginya, bukankah itu sangat aneh?” Youra terus saja mengelak. Setiap kali para pelayan membujuknya untuk mengunjungi Putra Mahkota, Youra selalu berdalih tentang hukumannya.
Sangat putus asa, para pelayan itu pergi meninggalkan kediaman Youra dengan wajah kecewa mereka. Sebelum keluar dari bilik Youra, Kasim Cho menghentikan langkah terakhir itu untuk segera berbalik memandang Youra. “Yang Mulia, atas perintah Putra Mahkota, pintu kediaman Yang Mulia Putra Mahkota selalu terbuka untuk Anda,” kata Kasim Cho.
Youra tak peduli, dia segera melangkah balik menuju meja kecilnya. Mengeluarkan sebuah surat dan kembali menulisnya. Kasim Cho hanya bisa terus memandang. Tak lama, pandangan itu berubah curiga, melihat bagaimana Youra memperlakukan surat itu dengan sangat istimewa. Kertas mewah, dengan tinta emas yang menempel itu segera dia ikat dengan pita. Dengan perasaan sedih itu, akhirnya Kasim Cho pergi dari bilik Youra.
“Dayang Nari, tolong minta seorang pelayan untuk mengantarkan surat ini pada Nana dan paman.” Sambil menyerahkan sebuah surat kepada Dayang Nari, Youra berdiri merapikan gaunnya.
“Yang Mulia, apakah Anda benar-benar tidak akan mengunjungi Putra Mahkota?” tanya Dayang Nari, dengan wajah seriusnya.
“Memangnya, apa itu begitu perlu dilakukan? Bukankah tabib sudah mengatakan dia akan baik-baik saja?” balas Youra.
Mendengar jawaban itu, Dayang Nari dengan mata berkaca-kaca terpaku di tempat. Entah kenapa, rasanya sangat menyakitkan.
__ADS_1
“Ternyata, Anda benar-benar menginginkan kematian Putra Mahkota, Yang Mulia..” batin sang dayang.
**
Kasim Cho membawa langkah tanpa asa itu kembali menuju kediaman Putra Mahkota. Tertunduk lesu, seolah tak memiliki apapun, selain harapan hampa yang telah dibawanya. Tentang kedatangan Youra yang dinanti-nati olehnya, ternyata sama sekali tak terwujud.
Setelah membuka pintu bilik Putra Mahkota, wajah murungnya berubah ceria. Mendapati sang tuan sedang duduk bersandar di atas ranjang adalah kebahagiaan tiada dua baginya. Segera dia berlari mendekati Putra Mahkota yang duduk tanpa penutup wajah itu, untuk menyandarkan rasa bahagia.
“Yang Mulia…” panggilnya bernada, sangat antusias.
Putra mahkota menoleh pelan, ia membawa tubuhnya untuk duduk lebih tegap. Namun, Kasim Cho segera mengejar dan membantu Putra Mahkota untuk kembali berbaring.
“Yang Mulia, istirahatlah dulu yang cukup.” Pinta Kasim Cho mengiba. Putra Mahkota terpaksa menurut, lalu memegang pundak sang pelayan.
“Apa ada pelayan wanita yang masuk ke dalam bilikku selama aku sakit?” tanya Putra Mahkota. Kasim Cho menggeleng pelan, tersenyum sangat senang.
“Tentu saja tidak ada Yang Mulia. Hamba sangat tahu, Anda tidak mengizinkan seorang wanita pun masuk ke dalam bilik Anda,” jawab Kasim Cho mantap.
Putra Mahkota memperbaiki posisinya berbaring. “Apa dia mengunjungiku?” tanya Putra Mahkota.
“Aku tahu, dia tidak akan datang,” jawab Putra Mahkota memutar posisi tidurnya memunggungi sang pelayan.
“Pergilah, aku akan istirahat,” tambah Putra Mahkota sekali lagi. Kasim Cho segera menarik langkahnya untuk meninggalkan Putra Mahkota, tetapi ia tak dapat beranjak begitu saja.
“Kasihan sekali Anda Yang Mulia,” batin Kasim Cho saat membantu Putra Mahkota memakai selimutnya.
“Yang Mulia, apa Anda ingin memerintahkan agar istri Anda datang berkunjung?” tanya Kasim Cho pelan, takut merusak suasana hati Putra Mahkota.
Putra Mahkota membalikkan tubuhnya. Dia meletakkan lengannya di atas kepala. “Tidak perlu. Aku tidak membutuhkan wanita lancang itu. Lagipula, dia tak akan datang.”
Setelahnya, Kasim Cho pergi meninggalkan bilik Putra Mahkota membawa seluruh perasaan iba itu menyingkir.
__ADS_1
**
Raja memanggil Pangeran Yul untuk segera menemuinya. Tanpa pikir panjang, Pangeran Yul yang saat itu sedang membaca bergegas meninggalkan kediamannya untuk segera bertemu dengan sang ayah. Perasaan gembira itu tergambar dari langkahnya yang penuh semangat, terus saja berjalan cepat.
Di dalam kediaman sang ayah, Pangeran Yul disambut hangat dan penuh cinta.
“Senang bisa bertemu dengan Anda, Ayahanda,” sapa Pangeran Yul dengan wajah bahagianya.
“Putraku, sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan padamu.” Raja membuka pembicaraan itu dengan menuangkan teh ke dalam cangkir putranya.
Pangeran Yul terus saja tersenyum ramah, seperti biasa memperlihatkan betapa patuh dan hormatnya dia pada raja.
“Aku akan mendengarkannya, Ayahanda,” balas Pangeran Yul.
“Aku akan segera menikahkanmu.”
Perkataan sang ayah yang sangat mengejutkan, hampir saja membuat Pangeran Yul berhenti tersenyum. Saat sudut senyum itu mulai hilang, segera dia mengembalikan keramahan itu secepatnya.
“Bukankah, Putri Shin yang akan menikah?” tanya Pangeran Yul dengan suara lembutnya penuh hormat.
Raja menghela napas dengan kasar, meraih pundak putranya itu dengan segera. “Setelah Putri Shin menikah, istana akan segera menikahkanmu dengan putri kepala menteri perang. Saat ini, kita benar-benar membutuhkan dukungan eksternal. Putri kepala menteri perang adalah gadis pintar dan berbudi luhur. Selain cantik dan pintar, apalagi yang akan kau butuhkan?” tanya raja tersenyum sambil menepuk pundak putranya.
Pangeran Yul terus saja tersenyum, tak tampak sedikitpun raut kecewa atau penolakan di wajahnya. Benar-benar dikenal sebagai anak yang berbakti.
“Tentu saja, aku akan menerimanya, Ayahanda. Gadis yang Ayahanda pilihkan, pastilah yang terbaik untukku,” jawab Pangeran Yul berbesar hati.
Raja tersenyum, sangat senang mendengar betapa patuhnya putranya yang satu ini. Pangeran Yul memang tidak pernah sekalipun membantah raja. Dia tekenal sangat berbakti dan taat terhadap aturan istana. Tidak sekalipun dia menolak tawaran atau membantah perintah ayahnya. Hampir seluruh penghuni istana menyukainya. Tidak hanya terkenal baik dan sopan, Pangeran Yul juga dikenal ramah, tidak seperti Putra Mahkota yang terhina.
Setelah sekian lama berbincang manis dengan ayahnya, Pangeran Yul akhirnya beranjak dari kediaman raja. Membawa kembali seluruh senyum manis itu pergi bersamanya. Tapi, siapa yang tahu soal kebenaran?
Dengan senyum itu, Pangeran Yul terus melangkah hingga sampai di depan gerbang istana raja. Dia berhenti sejenak sebelum akhirnya benar-benar keluar dari sana. Pangeran Yul mengepal tangannya hingga tubuhnya bergetar. Senyum manis itu terhapus seketika, menyisakan getaran kebencian di sudut matanya. Ia berbalik menghadap istana raja. Memandang tajam ke arah pintu bilik sang ayah.
__ADS_1
“Menikah dengan putri kepala menteri perang katanya? Mengapa aku tidak dinikahkan dengan Hong Jin-Yi putri sekretaris negara saja? Cih! Pilih kasih! Putra Mahkota bisa menikah dengan wanita pilihannya sendiri, mengapa aku tidak bisa? Orang tua itu hanya menganggap aku sampah di istana ini! Lihat saja, kepada putra yang mana dia akan mengemis nanti!”
Pangeran Yul mengatur napasnya, menciptakan kembali senyuman palsu itu di wajahnya. Terlihatlah ramah dan mengagumkan, sehingga orang tidak akan tahu seberapa dalam kepalsuan itu. Sehingga tidak ada yang tahu, seberapa dalam kebencian itu.