Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Sudah Sampai


__ADS_3

Masih kokoh tangan Putra Mahkota menggendong istrinya, tak menunjukkan lelah sama sekali. Lee Young berdiri di belakang mereka, hanya bisa memandang sendu pasangan menyedihkan itu. "Youra, kenapa kau diam saja?" Putra Mahkota bingung lantaran sang istri tidak lagi bersuara dan tidak lagi mengganggunya.


"Youra?" sekali lagi Putra Mahkota memanggil. Dagu Youra masih bersandar pada pundak wangi Putra Mahkota, dengan tangan yang masih menyilang disana. "Yang Mulia, tampaknya dia tertidur." Young memeriksa sang adik yang terlelap.


"Yang Mulia, bagaimana kalau kita bergantian? Biar aku yang menggendongnya sekarang." Young menunjukkan rasa simpatinya saat melihat wajah Putra Mahkota mulai memucat. "Tidak, tidak usah. Aku senang seperti ini."


Tiba-tiba,


"Akh ... " Putra Mahkota hampir saja tumbang. "Yang Mulia!" Kaget Young menahan tubuh sang pewaris tahta. Young berusaha mengambil Youra dari punggung Putra Mahkota. Mereka berhenti sejenak di sebuah gubuk tak berpenghuni yang sudah hancur. Hanya sekedar beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan panjang mereka.


Young membantu Putra Mahkota menurunkan Youra dan membaringkannya di atas tumpukan kayu. Gadis kelelahan itu, bahkan tidak bangun meski banyak bergerak. Setelahnya, Young langsung mendekat pada Putra Mahkota. Putra Mahkota menyandarkan tubuhnya pada sisa-sisa tiang yang masih kokoh. Ia membuka bajunya yang mulai basah. Darah menyucur deras, keluar dari luka dalam di perutnya.


"Yang Mulia, tidak seharusnya Anda menggendong adikku. Anda tidak boleh banyak bergerak, apalagi mengangkat beban seperti itu." Young sangat menyesali perbuatan Putra Mahkota yang bersikeras menggendong adiknya. Putra Mahkota memejamkan mata, menghela napas beratnya yang terlihat sangat kesakitan.


"Yang Mulia, apakah tidak seharusnya ... Anda mengatakan tentang kondisi Anda yang sebenarnya kepada Youra?" Young meletakkan seluruh harapan itu. Menyentuh pundak Putra Mahkota karena iba. "Anda tidak bisa terus berpura-pura sehat, Yang Mulia. Anda harus banyak istirahat supaya bisa cepat sembuh."


"Apa kau yakin, aku akan sembuh?" Jawaban Putra Mahkota malah menghancurkan perasaan Young. "Yang Mulia, Anda tidak boleh putus asa. Anda pasti akan sembuh. Anda tidak mungkin meninggalkan adikku disaat dia sedang tergila-gila pada Anda, kan?"


Putra Mahkota menoleh pada wanitanya yang sedang terlelap. "Apakah itu benar? Aku takut, dia seperti itu ... hanya karena kasihan kepadaku."


"Yang Mulia, Youra bukan perempuan seperti itu. Dia sangat menyayangi Anda. Bahkan dia memaksa kami untuk membawanya kemari. Dia berbohong pada publik bahwa dia sedang mengandung putra Anda, tak peduli apa yang akan terjadi jika dia ketahuan berbohong. Dia masih berharap, akan benar-benar mengandung putra Anda. Apa Anda tega, meninggalkan dia di saat dia jatuh cinta kepada Anda seperti ini?" Young berusaha membangkitkan semangat Putra Mahkota, meski dia sendiri tahu betapa berbahayanya racun itu.


"Dulu, saat bersama Guru Jun, dia tidak pernah seperti itu." Young kembali menambahkan, seolah tahu apa yang ada dipikiran Putra Mahkota.

__ADS_1


Putra Mahkota menoleh, mengisyaratkan betapa senangnya dia mendengar kenyataan. "Kau benar. Aku tidak ingin dia dimiliki oleh orang lain."


***


Kedua pemuda itu kembali melanjutkan perjalanan. Sementara Youra setengah sadar kembali digendong oleh suaminya.


"Lee Young, sebenarnya aku menaruh curiga pada orang lain. Bukan kepada Ratu Kim." Sambil berjalan, kedua pemuda itu mulai berbincang soal fakta. Mereka berhenti, dan saling berpandangan. "Apa maksud Anda ... adalah Perdana Menteri Han, Yang Mulia?" Young menampik.


Putra Mahkota mengangguk. "Sudah lama, aku tidak menyukai Perdana Menteri Han. Bukan hanya dia, tapi semua menteri kecuali Menteri Aparatur dan Sekretaris Negara. Mereka seperti raja. Mereka mengatur Ayahku selama bertahun-tahun. Dan Ayah selalu saja mengikuti keinginan mereka. Apa lagi, sejak kematian Ayahmu. Semuanya jadi berubah." Putra Mahkota mulai mengeluarkan seluruh pemikiran-pemikirannya yang kusut.


"Yang Mulia, ada hal yang sebenarnya ingin aku sampaikan sejak lama." Young memandangi adiknya yang terlelap sebelum kembali melanjutkan. "Ada yang aneh, saat adikku ingin bertemu dengan Guru Jun." Young terus melirik Youra, takut sang adik mendengar perbincangan mereka.


"Yang aneh pada Guru Jun?" Putra Mahkota mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu?" tambahnya. "Guru Jun menjanjikan pertemuan pada adikku, tapi dia tidak datang sama sekali. Bahkan juga tidak mengirimkan surat pada Youra. Di hari yang sama, seseorang menembakkan panah kepadaku. Yang aku pikirkan, apa alasan Guru Jun tidak hadir hari itu? Padahal aku tahu jelas dia sangat menyukai adikku." Young berusaha mengimbangi pikirannya yang mulai terarah lebar.


"Maksudmu ... Guru Jun adalah kunci kejahatan? Saksi satu-satunya?" Putra Mahkota meyakinkan. Young mengangguk, seolah menyetujui pertanyaan itu.


Perbincangan serius mereka berakhir hening. Tak sadar pikiran berkecamuk itu mengantarkan mereka sampai pada tempat tujuan. Sebuah gubuk tua, yang masih layak untuk ditinggali. Tempat dimana Young dan Youra pernah bersembunyi.


Putra Mahkota meletakkan Youra diatas sebuah jerami yang menumpuk di beranda. Lalu masuk ke dalam untuk merapikan alas tidur dan menyapu bersih lantainya. Bersama Young, beliau memeriksa tiap sudut gubuk yang masih sangat layak itu.


***


Gubuk tua itu akhirnya sudah dirapikan. Di dalam sana ada banyak gaun-gaun lama Youra yang tidak sempat dia bawa ke desa. Terkemas baik dalam sebuah lemari tua kecil. Tak hanya itu, masih tersisa banyak kayu-kayu kering yang dulu sering mereka sisihkan untuk membuat perapian di samping gubuknya. Putra Mahkota keluar mendekati Youra dan menggendongnya masuk ke dalam bilik. Sebelum keluar menyusul Young, ia mengecup dahi wanita kesayangannya itu terlebih dahulu.

__ADS_1


Di luar sana, Young sedang duduk menghadap puncak gunung. Meratapi nasib menyedihkan yang membuatnya enggan untuk tertawa. Putra Mahkota duduk di sebelahnya, ikut meratapi takdir yang tak sejalan. "Lee Young, Aku rasa tempat ini sangat terawat. Apa ada orang lain selain kalian yang tinggal disini setelahnya?" tanya Putra Mahkota.


"Benar, Yang Mulia. Seorang gadis bersama pamannya. Dia dulu tinggal bersama kami. Nana, pelayan pribadi Youra yang Anda perintahkan untuk bersembunyi. Dan juga, pernah ada pasangan suami istri yang hidup bahagia disini bersama 3 orang anaknya."


"Dia, gadis yang bernama Nana itu benar-benar merawat gubuk ini dengan baik. Dimana dia dan pamannya sekarang?" Sekali lagi Putra Mahkota bertanya.


"Dia mengungsi ke desa Timur untuk mencuri informasi, Yang Mulia. Dialah yang sudah membantuku memperoleh informasi untuk dikirim kepada Anda," jawab Young.


Putra Mahkota menyentuh pundak Lee Young, tersenyum kepadanya. "Terimakasih ... Kakak Ipar." Lee Young membalasnya dengan senyuman pula. Memperlihatkan betapa beruntungnya dia telah menjadi keluarga.


"Yang Mulia, karena kita sudah sampai, aku rasa ... sudah waktunya aku kembali ke desa. Kita tidak bisa bertiga disini. Mereka akan mencurigai aku yang tiba-tiba saja tidak bekerja. Tempat ini tidak akan dijangkau oleh mereka. Jika memang terjangkau, mereka tidak akan memeriksa karena mereka mengira tempat ini memang dihuni oleh pasangan suami istri sejak lama. Orang-orang disini, belum pernah melihat wajah Youra. Dan juga, tidak ada yang tahu dengan wajah Anda. Mereka tidak akan menaruh curiga sama sekali. Dan mengira kalian memang tinggal disini. Maafkan hamba, karena harus membuat Anda menyamar di tempat sekecil ini, Yang Mulia."


"Aku lebih menyukai hidup di sini, daripada hidup di istana." Putra Mahkota tampak bersemangat karena akan menjalani kehidupan sementara di tengah hutan. Baginya tidak masalah, asal Youra ada bersamanya.


"Aku titip Adikku, Yang Mulia. Jagalah diri Anda baik-baik. Aku akan kembali secepatnya setelah tugas yang Anda berikan selesai. Nanti, para pengawal akan memantau dari seberang sana. Langkah awal untuk mencegah pengawal istana menyentuh kaki gunung. Setelah aku periksa, tidak ada warga yang tinggal disini. Mereka memilih tinggal di dekat desa. Dulu, memang ada beberapa keluarga yang tinggal disini, tetapi tampaknya mereka telah pindah."


Young berdiri menunjuk sisi lain kaki gunung. "Di bawah sana ada mata air, Yang Mulia. Anda bisa mandi dan minum dengan air yang ada disana. Maaf karena Anda harus menjalani semua ini tanpa seorang pelayan." Entah kenapa, perkataan Young mengubah raut bahagia Putra Mahkota menjadi urung.


"Yang Mulia ... jika Anda membutuhkan pelayan, Anda bisa memanggil satu orang pelayan untuk melayani Anda dan istri Anda." Young tercengang melihat perubahan raut wajah itu.


"Tidak, bukan begitu. Aku hanya ingat pada Kasim Cho. Dia pasti sudah merindukan aku sekarang." Putra Mahkota tersenyum tipis, saat wajah pelayan setianya terukir di dalam sana.


Baik Putra Mahkota atau Lee Young, keduanya tak tahu bahwa pelayan kesayangan Putra Mahkota itu akan segera dihukum mati karena telah dituding sebagai pengkhianat oleh istana.

__ADS_1


"Yang Mulia, Kasim Cho pasti akan sabar menunggu Anda. Kurasa, dia akan baik-baik saja di istana. Sekarang, nikmatilah masa berduaan dengan Youra sebelum aku kembali. Tidak akan ada yang mengganggu kalian berdua. Bukankah, Anda sudah lama menginginkannya?" Young berusaha menghibur Putra Mahkota. Putra Mahkota menundukkan wajahnya yang merona. Dia benar-benar sangat senang. Hanya berdua, begitu pikirnya.


__ADS_2