Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Siapa Mereka?


__ADS_3

(Lanjutan Episode Sebelumnya)


Putra Mahkota berdiri dari duduknya.


“Besok aku akan kembali menyamar ke desa,” kata Putra Mahkota memutar langkahnya menuju ranjang.


Saat Putra Mahkota menuju ranjangnya, Kasim Cho membuyarkan lamunan Jung Hyun dengan pertanyaan konyolnya.


“Hei, Jung Hyun. Apa Putra Mahkota punya kekasih di desa?” bisiknya.


Jung Hyun dengan ekspresi datarnya, terkejut dengan pertanyaan Kasim Cho.


“Apa menurutmu, dia bisa jatuh cinta?” tanya Jung Hyun seolah tak percaya.


Segera Kasim Cho menarik Jung Hyun sedikit menjauh dengan tatapan kesal dan marah.


“Apa yang kau katakan? Bagaimanapun utra Mahkota juga manusia yang punya perasaan,” bisik Kasim Cho.


“Apa kau yakin? Dia membawaku ke desa, untuk sekedar berjalan-jalan,” balas Jung Hyun.


Jung Hyun kemudian menoleh ke arah Putra Mahkota yang sedang membaca di ranjang.


“Aku tidak tahu apa tujuannya. Dia tidak mengatakan apapun padaku,” tambah Jung Hyun seolah penasaran.


Kasim Cho sedikit menjinjit ingin berbisik kecil. Mengetahui itu, Jung Hyun menundukkan sedikit tubuhnya.


“Putra Mahkota, tidak pernah memikirkan soal wanita, apalagi bersenang-senang dengan wanita. Aku tahu dia pasti berbohong pada raja soal dia bersenang-senang dengan wanita, karena itu sangat tidak mungkin. Aku takut, orang-orang akan mengira, semua rumor itu benar. Jika dia punya seorang gadis yang dia cintai, tolong pastikan wanita itu juga keturunan bangsawan, dan bujuk Putra Mahkota untuk memperkenalkannya ke istana,” bisik Kasim Cho.


Jung Hyun tertunduk sedih.


“Sayang sekali, selama di desa, kami hanya berjalan berdua, tanpa seorang gadis pun,” jawab Jung Hyun. 


Kasim Cho yang kecewa, berjalan tertunduk lesu ingin mendekati Putra Mahkota. Namun, sebelum itu, Jung Hyun menyentuh pundak Kasim Cho, hingga sang kasim berbalik kepadanya.


“Ada apa?” tanya Kasim Cho.


“Apa, setelah Putra Mahkota menikah, Putri Shin benar-benar akan dinikahkan?” tanya Jung Hyun.


Kening Kasim Cho berkerut, ia menatap Jung Hyun dekat-dekat. Tak lama kemudian, Kasim Cho tersenyum.


“Tentu saja. Aku tahu Putri Shin itu sangat cantik. Dia cerdas dan sangat ceria. Ada banyak pria yang menyukainya. Jika kau menyukainya, itu wajar. Tapi sebaiknya kau melupakannya. Istana hanya akan memilih bangsawan terbaik untuknya. Putra tunggal menteri keuangan dan perpajakan yang akan menjadi suaminya itu adalah orang yang sangat berbakat,” jawab Kasim Cho kemudian pergi meninggalkan Jung Hyun di tempat.


“Tak seharusnya, aku jatuh cinta padamu, Tuan Putri.”


Jung Hyun menundukkan wajahnya, mencoba untuk tersenyum sebisa mungkin dengan perasaan yang terluka.


** 


Sedang saat yang bersamaan, Nana duduk di depan kediamannya. Ia baru saja habis menyuapi sang paman yang sakit. Nana menatap langit yang terik oleh cahaya matahari. Perasaannya saat itu hancur tatkala ia mengingat Lee Young kembali. Sambil memegang sebuah kertas, dengan perasaan putus asa, Nana mengatur napasnya.


Sang paman dengan kakinya yang sudah tak kuat lagi untuk berjalan mencoba mendekati Nana. Sang paman ikut menatap langit seperti Nana.


“Kau merindukannya?” tanya sang paman membangunkan Nana dari lamunannya.


“Paman?” kejutnya.


Sang paman menyentuh pundak Nana dengan kedua tangannya.


“Kasihan sekali dirimu, Nak,” kata sang paman yang hampir menangis sambil melihat kertas yang Nana pegang.

__ADS_1


Nana tampaknya ingin melukis wajah Young, tetapi ia tidak kuasa.


Nana yang sudah bersusah payah menahan tangis itu, berusaha tersenyum di depan sang paman. Tapi, air matanya tak dapat sembunyi. Butiran bening itu langsung saja mengalir dari sorot matanya yang tampak sangat terluka.


Sang paman memegang kedua tangan Nana dengan kedua tangannya.


“Andai saja aku menolongnya, pasti saat ini Tuan Muda yang akan tinggal bersama Nona Youra,” tangis Nana pecah.


Sang paman pun ikut menangis bersamanya.


“Paman, katakan padaku seperti apa wajahnya? Luka hatiku membuatku tak mampu mengingatnya,” tangis Nana menjadi-jadi saat sang paman ikut menangis bersamanya.


Nana berkali-kali menyapu air mata dan hidungnya, tapi derasnya tak kunjung usai.


Sang paman mengambil kertas yang Nana pegang, dan membantunya melukis wajah Young.


“Tuan Muda Young, punya garis dagu yang tajam dan indah,” sang paman mulai menggoreskan tinta di atas kertas itu.


“Hidung mancung, dan sorot mata yang tajam dan indah,” garis itu ia tarik ke atas membentuk sebuah wajah.


“Alis dan bulu mata yang tebal, dengan bibir berisi yang kemerah-merahan. Dia punya senyum yang luar biasa indah”. 


“Tuan Muda Young, punya kulit terang yang indah,” tambah sang paman yang masih terus menggores kertas itu dengan tinta.


“Saat aku membukakan jubahnya, aku melihat tubuh gagahnya yang juga indah, dengan rambut lurus yang sangat indah”.


Sang paman menoleh ke arah Nana, dan mengelus kepala keponakannya yang tak berhenti terisak.


“Dia jarang tersenyum, mungkin karena dia tahu senyumnya sangat mematikan. Bahkan, membuat ponakanku ini jatuh cinta”.


Sang paman kembali memegang kedua pundak Nana.


“Menangislah sepuasnya, sebelum Nona Youra tiba. Jangan menambah luka hatinya lagi, dia sudah sangat menderita,” sang paman menghapus air mata Nana dan memeluknya.


“Paman,” bisik Nana yang berhenti terisak.


“Siapa mereka?” tambah Nana, membuat sang paman melepaskan pelukannya.


Orang itu mendekat kepada mereka.


“Apa kau orang yang bekerja untuk keluarga Tuan Lee?” tanya salah satu diantara mereka.


Nana dan pamannya saling berpandangan satu sama lain.


“Tidak,” jawab Nana gugup.


Orang-orang itu memeriksa sekeliling memastikan tak ada orang di sekitar mereka.


“Apa kau pernah melihat kedua anak Tuan Lee?” tanya orang itu memelankan suaranya.


Nana terdiam tak dapat berkata-kata, tetapi dengan sigap sang paman membantunya.


“Bukankah, mereka semua sudah tewas?” tanya sang paman berpura-pura tidak tahu.


Mendengar jawaban paman dan Nana, orang-orang itu dengan cekatan berlari meninggalkan tempat itu tanpa mengatakan apapun selain sekedar bertanya. Setelah mereka cukup jauh, sang paman berbalik menoleh ke arah Nana.


“Cepat cari Nona Youra,” perintah sang paman, membuat Nana segera berlari menemui Youra.


**

__ADS_1


Youra dan Jun sedang duduk di atas sebuah kursi di kebun tempat Jun biasa bekerja.


“Kenapa Kak Jun masih bekerja disini? Bukankah Kak Jun sudah menjadi guru di biro pendidikan?” tanya Youra sambil mengayunkan kakinya.


Jun menoleh pada Youra dan tersenyum.


“Aku sangat menyukai alam,” Jun kembali menoleh ke kebun itu.


“Lihat orang-orang disana, aku hanya ingin membantu mereka,” tambah Jun.


Mendengar jawaban Jun, Youra memandang haru Jun, seolah menambah kuat cintanya. Jun, lelaki baik yang rela bekerja di kebun, ternyata memberikan upahnya kepada para pekerja disana.


Orang-orang itu, tubuh mereka kurus dan pakaian mereka sangat lusuh. Mereka duduk bersama setelah bekerja menikmati teriknya matahari yang menusuk kulit mereka. Tanpa alas kaki, mereka berjalan dan masih bisa tersenyum.


Orang-orang itu, kelaparan tetapi tidak pernah mengeluh. Anak-anaknya datang menemani dan saling tertawa menciptakan melodi baru yang membuat genangan air terbentuk di pelupuk mata Youra. Itu pertama kalinya dia memperhatikan mereka dalam-dalam. 


“Di dunia ini, saat kita merasa bahwa kitalah yang paling menderita, ada orang-orang disana yang jauh lebih menderita,” kata Jun.


“Mereka menikmati penderitaan, karena tak punya pilihan,” tambah Jun.


“Mereka membenci raja, karena menganggap raja tak pernah memikirkan mereka. Tapi kita tidak tahu, entah penderitaan apa yang sedang raja rasakan”.


Youra terus menatap wajah Jun haru selama Jun berbicara. Tak lama, rasa haru itu berubah tawa saat Jun tiba-tiba saja tertawa.


“Kenapa kau terus menatapku? Apa aku ini sangat tampan?” tanya Jun mengalihkan suasana.


Youra yang tadinya ingin menangis, menjadi kesal.


“Dasar, siapa yang bilang?” balas Youra.


“Kalau tidak, mengapa ada gadis secantik dirimu, yang selalu memper...," perkataan Jun terputus lantaran Youra membekap mulutnya.


“Iiih, Kak Jun cerewet sekali,” kesal Youra sambil mencubit lengan Jun.


Jun tertawa terbahak-bahak, sehingga Youra pun ikut tertawa. 


Saat bersama Jun, seolah seluruh kesedihan itu terhapus dan hilang begitu saja. Ada banyak tawa dan kebahagiaan yang dia ciptakan. Jun sangat ceria, dan selalu berhasil membuatku tertawa. 


Tak lama kemudian, Nana datang, tampak sangat panik.


“Nona,” panggil Nana dengan napas yang tersenggal-senggal.


Youra dan Jun yang melihat itu menjadi risau.


“Ada apa?” tanya Youra khawatir.


“Ada gerombolan orang, yang mengenaliku. Mereka sepertinya mencari Anda dan Tuan Muda Young,” kata Nana dengan wajahnya yang sangat khawatir.


Jun dengan sigap menoleh ke seluruh sisi.


“Kalau begitu, kita harus pergi dari sini. Ikutlah ke rumahku untuk beberapa saat,” kata Jun was-was.


Mereka akhirnya dengan segera berangkat menuju kediaman Jun. 


Di kediamannya, Nyonya Han menyambut mereka dengan suka cita. Youra duduk tampak sangat khawatir.


“Ada apa ini?” tanya Nyonya Han kebingungan. 


Jun mencoba menjelaskannya, hingga Nyonya Han akhirnya meminta Youra dan Nana untuk masuk ke rumah. Namun, saat hendak masuk ke rumah, Nana melihat seseorang berpakaian hitam dengan wajah yang ditutupi kain hitam sedang memandang mereka dari jauh.

__ADS_1


Jun yang menyadari tatapan Nana menoleh ke arah tatapan itu, dan benar saja ada seseorang yang berdiri disana sedang memandangi mereka. Orang itu segera kabur saat Jun hendak mengejarnya. Mereka kini dalam keadaaan yang mengkhawatirkan.


Youra dan Nana akhirnya memutuskan untuk bersembunyi di rumah Jun selama beberapa hari.


__ADS_2