Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Bertemu Jun


__ADS_3

Pagi tak seperti biasanya. Langit tak berubah barang sedikitpun. Sangat gelap, pekatnya bahkan menjadikan pagi seperti malam. Namun, Jun tak peduli. Hujanpun dia seberangi dengan emosi.


"Apa yang kau lakukan?!" Perdana Menteri Han menarik paksa tangan Jun untuk menahan diri. Putranya saat ini dalam keadaan yang menyedihkan. Setelah mendengar pengakuan Youra soal kehamilan, Jun bahkan tak bisa tidur dan terus membayangkan sesuatu yang merobek hatinya.


"Lepaskan aku!" Jun menarik tangan itu pergi, menjauh dari sang ayah. Di bawah hujan, Jun bahkan tak gentar untuk menyusul Youra ke istananya.


PLAK!


"Apa kau sudah gila?! Apa lagi yang akan kau lakukan? Kau bisa dihukum mati jika berani mendekati istri raja negeri ini! Saat ini dia sudah menjadi ratu! Apa lagi yang bisa kau lakukan ha?!" Perdana Menteri Han menahan kerah sang anak dalam genggaman amarah.


"Sejak awal ... akulah yang memiliki Youra. Bagaimana dia bisa tidur dengan pria hina itu? Ha! Ini semua karena kau! Andai saja kau bukan ayahku, kupastikan aku sudah membunuhmu lebih awal!" balas Jun bergejolak.


"Bodoh! Kau bisa menikah dengan siapapun yang kau inginkan! Kenapa memilih istri orang lain? Ha! Ingatlah, saat ini adikmu sedang dipenjara. Apa kau juga ingin masuk penjara?! Jangan menjadi bodoh karena cinta konyolmu itu!"


"Kau tidak tahu apapun tentang cinta! Kau hanya orang tamak yang menghancurkan segalanya. Ingat Perdana Menteri Han, aku bukan putramu lagi. Jadi jangan pernah ikut campur dengan urusanku!"


Akhirnya Perdana Menteri Han kalah oleh perkataan putranya. Benar, selama ini dialah yang sudah meninggalkan putra dan istrinya. Apa boleh buat, selain melepaskan genggamannya dari kerah sang anak. Terpaku sangat lama bersama hujan setelahnya.


***


"Yang Mulia, Tuan Muda Jun -Kepala Menteri Pendidikan dan Kebudayaan- ingin menemui Anda. Ada hal yang ingin beliau sampaikan. Sangat penting."


Youra meremas gaun indahnya, saat pintu pustaka dibuka membawa langkah seseorang yang sangat dia kenal masuk. Youra duduk di belakang tirai penghalang. Menutupi wajah dan kepalanya dari pria yang bukan suaminya, sesuai aturan dan ajaran yang berlaku.


"Selamat datang, Tuan Muda Jun," sapa Youra lebih dulu. Suara gugupnya terdengar jelas.


Jun tak membuka mulut selama beberapa waktu. Di dalam sana ada Dayang Nari dan beberapa pelayan yang sedang menunggu Youra.


"Bisa kita bicara hanya berdua saja, Yang Mulia?" pinta Jun.

__ADS_1


Dayang Nari menyentuh dadanya, merasakan ada sensasi berbeda di antara keduanya. Dayang Nari takut terjadi sesuatu yang tidak-tidak jika harus meninggalkan mereka berdua. "Jangan Yang Mulia," gumamnya takut.


"Baik. Silakan tinggalkan kami berdua."


"Apa yang sudah Anda lakukan, Yang Mulia?"


"Dayang Nari, apa kau tidak mendengar perintahku? Silakan keluar dari sini," sekali lagi Youra memerintah.


"Maaf Yang Mulia, tapi ... " Belum lagi selesai Dayang Nari menolak, Youra sudah menohoknya lebih dulu dengan tatapan tajam.


Dayang Nari menatap lekat Youra, sebelum akhirnya benar-benar keluar dari sana. Tak jauh, Dayang Nari sengaja berhenti tepat di depan pintu pustaka. Ada perasaan yang tidak enak merasuki seluruh ruang kosong itu. Selepas Dayang Nari beranjak, setelahnya Jun langsung angkat bicara.


"Aku membawa beberapa laporan mengenai keputusan rapat bersama para cendekiawan. Mereka menyetujui beberapa perubahan pada kultur ekonomi." Jun menggeser tubuhnya lebih maju, duduk tepat di depan Youra. Dia lantas meletakkan dokumen itu di atas mejanya.


"Terima kasih," balas Youra.


Hening. Tak ada yang mereka bicarakan hingga detik itu. Saat Youra hendak menutup pertemuan, tiba-tiba Jun melayangkan sebuah pertanyaan yang menghancurkan seluruh kebaikan yang ada sebelumnya.


"Kurasa, tidak ada yang harus kita bicarakan lagi." Youra hendak berdiri meninggalkan ruangan, dengan wajah yang ditutup.


"Anda mencintainya?" tanya Jun lebih berani menyambar Youra.


"Tuan Muda Jun, aku rasa ini sudah sangat keterlaluan." Youra menepis seluruh pertanyaan itu dengan rasa tidak nyaman.


Jun yang sudah disarangi rasa cemburu, tak bisa lagi menahan diri. Kelancangannya membuatnya menarik Youra ke sisinya. "Jawab pertanyaanku, mengapa kau tidak membalas suratku lagi?"


"Kak Jun!"


"Youra kau tidak boleh jatuh cinta pada orang yang sudah menghancurkan hidupmu," sanggah Jun cepat, sangat tidak sopan menahan Youra terlalu dekat dengan tubuhnya.

__ADS_1


"Kak Jun! Jangan menyentuhku!" Youra memaksa lepas.


"Dia sudah mati, apa kau tahu itu?" Kembali Jun menambahkan api di ruang yang seharusnya sejuk itu.


"Tidak. Dia masih hidup. Aku sangat yakin," balas Youra sembari melangkah cepat ke arah pintu.


"Youra, kau benar-benar jatuh cinta padanya? Apa kau lupa kau datang ke sini untuk apa? Saat ini dia sudah tidak ada. Semua urusan istana bukan lagi tanggung jawabmu. Kita bisa pergi dari sini, dan memulai semuanya dari awal. Kau tidak perlu berbohong untuk melindungi tahta. Apa kau tidak tahu hukuman apa yang menimpamu jika mereka tahu kau sudah berbohong kepada semua orang? Mereka akan tahu kau tidak hamil cepat atau lambat," sekali lagi Jun meyakinkan.


Jun kembali melangkah mendekati Youra yang saat itu terhenti di depan pintu. "Youra, ini kesempatan kita pergi dari sini."


Youra mengangkat wajahnya yang tertunduk. Dia berbalik menghadap Jun. Membuka wajahnya yang tertutup. "Aku tidak ingin ikut dengan pembohong seperti Anda."


DEG


Jun terpaku, saat sebuah kata menyakitkan keluar dari mulut wanita yang dicintainya.


"Pembohong."


"Apa maksudmu?" tanya Jun gelagapan.


Langit-langit tampak menimpa. Begitu berat bagi pertemuan menyakitkan itu. Ada noda-noda darah yang melekat pada luka lama yang kini kembali terbuka.


"Bisa aku tanya satu hal pada Anda?" tanya Youra. Youra menarik dalam napasnya, sangat lama. Seperti seseorang yang sedang menahan hujan menumpahi pipinya. "Kemana Anda saat Anda berjanji akan melamarku? Bisa Anda menjawabnya?" Pertanyaan itu seperti pukulan maut. Menghantam dada Jun sangat keras. Pertanyaan tepat yang seharusnya tidak ditanyakan pada hati yang terluka.


"Jadi karena itu, sekarang kau marah padaku?" kembali Jun menimpali. "Jika memang karena itu, aku rasa kau sangat salah paham," sambungnya.


"Tidak. Aku tidak salah paham. Kalau Anda tidak bisa menjawabnya, coba jawab pertanyaan yang satu ini. Sejak kapan Anda tahu, bahwa Putra Mahkota bukan orang yang membunuh kakakku?" Youra berjalan mendekat tepat di hadapan Jun.


"Sejak kapan Anda tahu, Putra Mahkota bukan pemimpin yang buruk? Mengapa Anda membiarkan semua orang menghinanya? Apa lagi yang Anda sembunyikan dariku? Mengapa Anda tidak pernah mengatakan kepadaku, bahwa Putra Mahkota tidak bersalah?! Coba katakan padaku, selain pangkat dan permaisurinya, apalagi yang Putra Mahkota telah berikan kepada Anda? Katakan kepadaku, bagaimana bisa orang secerdas dan sebijaksana Anda bisa menipu banyak orang? Apa aku salah, jika aku juga bisa menipu banyak orang seperti Anda? Jadi aku harap, tolong jangan bahas ini lagi." Youra kembali memutar tubuhnya untuk beranjak dari sana. Meninggalkan Jun dengan luapan emosi yang hampir saja membunuhnya. Tak terasa air mata mengalir dari kedua pasangan mata itu. Baik Jun maupun Youra, keduanya sama sedihnya. Bedanya, kali ini bukan lagi soal yang sama.

__ADS_1


Youra melangkah pergi, sedang Jun mematung di tempat. Mengepal kedua tangannya. Membawa seluruh penyesalan itu masuk ke sana. Sudah lama, dia memang menyembunyikan banyak hal soal istana. Bahkan hal terdalam yang seharusnya tidak dia sembunyikan.


***


__ADS_2