
Malam itu, teringat olehku, ayahku pulang dengan wajahnya yang panik. Ibuku yang sedang menyulam menjadi sangat khawatir. Sementara itu, kakakku yang baru saja tiba di rumah tidak menunjukkan reaksi apapun. Ya, dia memang orang yang sangat dingin.
Aku duduk di samping ibuku, sementara Nana sedang tidak bersama kami. Ayah yang biasanya pulang langsung duduk di dekat ibuku. Tak lama, aku mulai menyadari akan sesuatu.
Ayahku, yang biasanya selalu mengajakku berbincang, tiba-tiba memintaku untuk kembali ke kamar. Sementara saat aku hendak pergi meninggalkan mereka, aku tidak melihat kakakku ada disitu. Ya, mereka ingin berbicara berdua saja, tanpa anaknya.
Aku yang masih kecil itu, dengan polosnya mengikuti perintah ayah untuk kembali ke kamar tanpa bertanya sama sekali. Aku sangat penasaran, tetapi tidak berani mengintip. Aku mencoba pergi ke kamar kakakku, berniat ingin bertanya, tetapi, saat aku mengintip ke kamarnya, aku tidak mendapatinya ada disana. Pikirku, mungkin dia sedang mandi.
Aku masuk ke kamar kakakku, dan mendekat pada pakaian yang ia gantung dekat lemari. Entah kenapa, saat aku menyentuh baju itu, aku merasa, baju itu sedikit basah. Yang benar saja, saat aku mengangkat tanganku, baju yang kupikir basah karena air, ternyata dibasahi oleh bercak-bercak darah.
Apa mungkin, ini semua karena luka saat berlatih?
Aku mengangkat baju itu karena penasaran. Namun, saat aku mengangkatnya, aku menjatuhkan selebaran dari balik baju itu. Selebaran itu adalah selebaran yang tertempel dimana-mana. Selebaran yang menceritakan tentang keburukan Putra Mahkota. Selebaran yang seharusnya telah disita. Seleberan mengerikan itu, ada di tangan kakakku.
Aku yang tidak tahu apa-apa saat itu, hanya bisa terdiam di tempat tak berbuat apa-apa.
Tidak ada yang aku pikirkan saat itu.
Aku hanya mengembalikan selebaran itu di balik jubah kakak. Dan kembali ke kamarku tanpa curiga sedikitpun.
Di kamar, aku membuka jendela. Aku memandang langit yang penuh bintang. Aku tersenyum, seolah semua baik-baik saja.
Tanpa tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya.
**
Aku menemui takdirku di ujung pedang. Tanpa mengetahui apapun, aku yang polos ini tak bersuara sedikitpun. Saat itu, dengan kebahagiaan dan segenggam harapan yang kumiliki, aku melewati tiap-tiap pintu dalam hidupku yang kupikir baik-baik saja. Satu persatu pintu itu kubuka pelan dengan hati-hati. Aku melihat ayah dan ibuku ada di bawah sinar mentari. Mereka tersenyum jauh dari pintu itu melambai padaku, seolah mengatakan semua baik-baik saja, tetapi hatiku pedih. Saat aku membuka pintu yang lain, gelapnya awan berkabut menyelimuti bersama hujan deras yang memercikku cukup banyak, membuatku basah kuyup. Disana, tanpa sinar sedikitpun. Di balik awan hitam itu, perlahan-lahan aku melihat kakakku ada disana dengan pedangnya. Dia berdiri di bawah hujan yang sangat deras itu sendirian. Hatiku yang sudah pedih, terluka parah. Dia yang tadinya menunduk, menoleh ke arahku, dengan tatapannya yang sendu.
Aku ingin sekali menarik tangannya, membuat ia marah seperti biasanya, tetapi, dia menghilang begitu saja. Saat itu, hatiku yang luka parah menjadi remuk hancur berantakan, entah kenapa aku merasa sangat merindukannya. Saat berusaha mengejarnya, aku malah bertemu pintu baru terbuka lebar disana. Anehnya, aku melihat diriku di dalam sana. Tapi, disana tak lagi gelap. Aku yang berlumuran darah tanpa luka, menatap langit meneteskan air mata. Saat aku melihat langit di balik pintu itu, aku melihat cahaya terang yang perlahan menjauh meninggalkanku. Cahaya itu sangat terang hingga menusuk jiwaku. Saat aku kembali melihat diriku, aku melihat pedang di tanganku. Pedang itu penuh darah, seperti, aku telah menghunuskannya pada jantung seseorang.
Mimpi itu terus berulang, meninggalkan sakit dalam jiwaku. Aku yang polos dan tidak tahu apa-apa saat itu, hanya merintih ketakutan. Pintu terakhir yang membuatku ingin mati saja, meninggalkan luka yang begitu dalam bahkan hingga aku terjaga.
**
Saat itu, masih teringat olehku, aku dan keluargaku tertawa bersama di halaman rumah.
“Hari ini, kita berangkat bertiga,” kata Tuan Lee pada anak-anaknya.
Youra dengan semangat menarik tangan ayah dan kakaknya.
__ADS_1
“Ibu aku berangkat ya,” ceria Youra.
Sang ibu mendekat, sedikit menundukkan tubuhnya lalu memeluk dan mencium putrinypa.
“Hati-hati ya. Young jagalah adikmu".
Seperti biasa, Nyonya Eri selalu berpesan pada Young untuk memperhatikan adiknya.
Sementara Tuan Lee mencium dahi sang istri.
“Aku berangkat dulu. Oh iya, malam ini aku akan pulang lebih awal. Aku mau makan sup ayam buatanmu,” pinta Tuan Lee.
“Sup ayam lagi? Baiklah,” jawab Nyonya Eri semangat sambil merapikan jubah sang suami.
Young yang melihat itu berusaha membuang senyum kecilnya. Youra tak terima, ia menarik tangan sang kakak dan memeluknya paksa.
“Ayoo! Tersenyumlah kau manusia beku!" teriak Youra yang sedang memeluk paksa sang kakak.
Young hanya diam saja.
“Youra! Tidak sopan seperti itu berbicara kepada kakakmu,” kata Nyonya Eri.
“Aku tidak meminta mereka menyukaiku,” jawab Young singkat sambil melepaskan pelukan sang adik.
“Iss, sok sekali!”.
Mendengar adiknya marah, Young memaksa dirinya untuk tidak tersenyum, tapi akhirnya dia kalah. Karena Young tersenyum, mereka pun jadi tertawa.
Saat itu, Nana hanya melihat dari jauh sambil memegang jubah Young. Dia tersenyum bahagia melihat keluarga disana. Anehnya, dengan deraian air mata.
“Ayo kemarilah,” Nyonya Eri menarik tangan Nana dan memeluknya.
“Bagiku, kau adalah putriku juga. Jadi, jangan pernah sungkan untuk berkumpul bersama kami,” kata Nyonya Eri beriringan dengan senyum mereka semua.
Mendengar itu semua, Nana menitikkan air mata dan memeluk Nyonya Eri. Ia menangis tersedu-sedu. Sesekali, ia menghapus air matanya.
Saat itu, pertama kalinya aku sadar,
“Apa itu yang kau bawa?" tanya Tuan Lee pada Nana.
__ADS_1
Nana, dia mencintai kakakku.
“Ah iya, ini. Ini, ini jubah Tuan Muda, Tuan”.
Aku melihat itu dengan jelas, dari matanya.
Youra diam-diam tersenyum kecil. Tak lama setelah itu, dia beranjak pergi bersama ayah dan kakaknya.
Saat itu, Youra tertawa bahagia. Ia berpamitan pada sang ibu dan melangkah pergi.
Andai saja aku tahu,
Youra menoleh balik ke belakang melambaikan tangannya pada sang ibu.
Hari itu…
Mereka bertiga lanjut berjalan bersama hingga sampai pada biro pendidikan.
“Masuklah, Ayah harus ke istana tepat waktu. Young, kau antarlah adikmu dulu,” kata Tuan Lee pada putranya.
“Baik Ayah,” jawab Young.
Sebelum melangkah pergi, Tuan Lee mengusap rambut putri kecilnya. Dia melangkah pergi setelah sesekali memandang wajah anak-anaknya. Sangat aneh, membuat Youra merasa tak biasa. Setelah melangkah cukup jauh, tak berapa lama, Youra kembali memanggil ayahnya.
“Ayah!!!" teriak Youra.
Anda saja aku sadar,
Sang ayah pun menoleh balik ke belakang.
“Bawakan aku roti gandum ya?" pinta Youra dari kejauhan.
“Tentu,” sang ayah tersenyum, mengangguk setuju, dan lanjut berjalan.
Itu adalah hari terakhirku, melihat wajah mereka.
Young segera menarik tangan sang adik dan mengantarnya ke biro pendidikan.
Hari terakhir bagiku, tersenyum dan tertawa.
__ADS_1
**