
**
Nana datang menghampiri Jun dan Youra sambil membawa semangkuk air hangat.
”Nona, maafkan aku,” lirih Nana sambil merendam handuk kecil ke dalam air hangat itu.
“Seharusnya, aku tidak membiarkanmu bekerja di pasar,” tambah Nana bersedih sambil memeras handuk kecil itu.
Nana duduk tepat di sebelah Youra dan mulai mengompres pipi kanan Youra yang bengkak. Youra tersenyum, menghapus air matanya.
“Tidak, ini bukan salahmu. Aku baik-baik saja,” Youra tersenyum pada Nana sambil memegang pundaknya.
Saat itu, Jun yang berdiri cukup jauh, mendekati mereka.
“Ternyata, yang membuatmu berhenti menangis adalah Nana, bukannya aku,” kata Jun.
Youra meliriknya. Saat itu, wajah Jun yang kecewa tampak menggemaskan.
“Tidak, bukan begitu. Kak Jun sangat membantuku,” jawab Youra padanya.
Mendengar jawaban itu, Jun lantas menoleh pada Youra.
“Benarkah?” tanya Jun.
Youra tersenyum sambil memegang kain kompres di pipinya.
“Terimakasih, sudah membantuku,” kata Youra.
Seketika itu, Jun yang mendengar ucapan terimakasih dari Youra, jadi tersenyum sumringah.
“Kau sudah tidak marah padaku?” tanyanya sambil duduk manis di sebelah Youra.
Nana yang menyaksikan hal itu, tersenyum.
“Nona, aku permisi dulu,” bisiknya pada Youra.
Setelah itu, mereka hanya tinggal berdua saja di kebun. Hal itu membuat keduanya menjadi sangat canggung. Youra terus menutup pipi kanannya dengan tangan.
Jun tersenyum melihat tingkahnya yang canggung dan gugup.
“Mau kutunjukkan suatu tempat?” tanya Jun sambil menatap langit.
Youra melirik ke arah pemuda yang menawan hatinya itu sedikit. Jun kemudian berdiri membersihkan bajunya dan mengulurkan tangannya pada Youra.
“Ayo,” ajaknya.
Youra mengabaikan tangan Jun, tetapi dengan sigap berdiri semangat.
“Kalau Kak Jun memaksa, baiklah,” jawab Youra sok jual mahal.
Jun yang sangat mengerti, tersenyum sendiri. Akhirnya, mereka berjalan ke sebuah galeri lukisan yang ada di pasar.
Saat itu, Jun dan Youra sedang melihat-lihat banyak lukisan disana. Jun yang sangat menyukai seni sibuk berbincang dengan pemilik galeri yang juga merupakan keluarga seorang bangsawan kelas menengah. Mereka berbincang seputar lukisan dan warna.
Sementara, Youra sibuk berkeliling ke seluruh bagian galeri. Hingga saat itu, matanya secara tak sengaja melihat sebuah lukisan tandu berkuda yang di iring oleh orang-orang berpakaian khusus. Youra yang terus menatap lukisan itu terdiam.
Jun yang sedang berbincang dengan sang pemilik galeri, melihat Youra yang tampak tertegun akan sebuah lukisan. Jun pun menghampirinya.
“Kau suka lukisan ini? Aku akan membelikannya untuk..”.
“Tidak,” jawab Youra cepat.
Jun kemudian memandang lukisan itu, dan menoleh balik ke arah Youra.
“Siapa yang melukis ini?” tanya Youra.
__ADS_1
Sesuatu yang sangat tak terduga.
Jun yang kebingungan bertanya pada pemilik galeri.
“Maaf Pak, jika aku boleh tahu, siapa yang melukis lukisan ini?” tanya Jun.
Sang pemilik galeri mendekat.
“Oh yang ini? Lukisan ini dilukis oleh salah seorang pejabat di istana,” jawabnya.
Yang membuat hatiku hancur berkekeping-keping.
Youra yang mendengar jawaban itu secara cepat menoleh pada sang pemilik kedai.
Ternyata,
“Lukisan itu, siapa orang-orang yang mengangkat tandu itu? Maksudku, kenapa pakaian mereka semua sama?” tanya Youra.
Pembunuh ayah dan ibu,
Sang pemilik galeri tersenyum.
“Kau tidak tahu? Mereka semua adalah pekerja istana. Para pengawal dan pengangkat tandu istana”.
.. pembunuh ayah dan ibu ada di istana.
**
Youra yang mendengar jawaban pemilik galeri hampir saja terjatuh, tetapi Jun dengan sigap menahan tubuhnya.
“Kau baik-baik saja?” tanya Jun.
Youra yang dadanya sesak menarik dalam napasnya.
Jun yang selalu kebingungan, mengangguk pelan.
“Baiklah, aku akan mengantarmu,” jawab Jun.
Di perjalanan, Jun terus memandang wajah Youra yang tampak sangat shock. Jun berusaha untuk mengerti dengan situasi dan memalingkan pandangannya ke jalanan.
“Youra?” panggil Jun tanpa memandang wajah wanita itu.
“Ya?” Youra yang berusaha mengatur napasnya, mencoba bersikap santai.
Jun yang pandangannya masih ke jalanan tersenyum.
“Jika ada sesuatu yang menganggumu, kau bisa menceritakannya padaku. Aku pasti akan membantumu,” Jun tampak kecewa.
Spontan Youra langsung menatap wajah pujaan hatinya itu. Ia melihat wajah kecewa Jun tergambar jelas dari caranya bicara, meski sang pemuda terus tersenyum padanya.
“Maafkan aku, sebenarnya, aku berusaha mengubur seluruh ingatan ini dari kepalaku,” jawab Youra.
Jun segera menoleh pada Youra dan menahan tangannya agar berhenti berjalan.
“Apa maksudmu?” tanya Jun.
Youra menarik napasnya kembali dalam-dalam.
“Sebenarnya, malam itu..”.
Youra terdiam tampak menahan tangisnya. Jun yang melihat itu menjadi merasa bersalah.
“Jika kau tidak bisa menceritakannya, tidak apa-apa,” jawab Jun agar Youra kembali tenang.
Namun, sambil mengepalkan tangannya, Youra membalas tatapan Jun. Menatapnya lekat, dengan tetesan air mata.
__ADS_1
“Aku ingin balas dendam,” jawab Youra.
Jun terdiam kebingungan. Kalimat sang kekasih, membuatnya terkejut.
“Apa maksudmu?” tanya Jun.
“Aku melihat, salah seorang pemunuh yang menyusup ke rumahku,” tambah Youra sambil mencoba menahan suara tangisnya.
Namun apalah daya, meski tanpa ekspresi apapun, air mata itu mengalir begitu saja di pipinya.
“Salah satu dari mereka, menggunakan pakaian yang sama seperti yang ada pada lukisan itu”
Jun yang mendengar jawaban Youra memperhatikan sekeliling. Memastikan tidak ada seorangpun yang saat itu mengikuti mereka. Jun mendekat pada Youra.
“Apa?” tanya Jun terkejut.
Youra yang air matanya masih terus mengalir, tersenyum kecil sambil mengepal erat tangannya.
“Salah satu pembunuh ayah dan ibuku, adalah orang yang bekerja untuk istana,” jawabnya.
”Youra, kau…”.
Belum lagi selesai Jun berkata, dengan segera Youra menampiknya.
“Sekarang baru aku mengerti, mengapa dulu ibu dan ayah tidak ingin kakak masuk istana,” tambah Youra putus asa.
“Ada seseorang yang ingin menghancurkan kami disana”.
Mendengar perkataan Youra, Jun berusaha menenangkannya.
“Youra, jika memang ada yang berusaha menghancurkan keluargamu, mereka juga pasti mencarimu, dan memastikanmu apa kau sudah mati atau masih tetap hidup. Mungkin saja, orang-orang yang datang malam itu, memang kelompok perampok. Bisa jadi, salah satu pekerja istana juga bagian dari kelompok itu,” kata Jun.
Youra mencoba mengerti apa yang terjadi, ia berusaha menarik napasnya dan membuangnya pelan-pelan.
“Kakak benar juga. Tapi entah kenapa, aku merasa, ini bukan hanya sekedar perampokan. Kenapa, sampai saat ini, aku tidak pernah mendengar, istana sudah menemukan para perampok itu. Kenapa mereka semua diam saja?” tanya Youra.
Jun tersenyum dan menundukkan sedikit tubuhnya di hadapan Youra.
“Kau pernah dengar soal Putra Mahkota? Saat ini, rumor buruk Putra Mahkota kembali diangkat dan sedang hangat-hangatnya. Ada banyak yang membuat petisi untuk menurunkan Putra Mahkota dari tahtanya. Aku rasa, mungkin istana mengurus hal itu terlebih dahulu, baru kemudian mengangkat kembali kasus ini. Aku yakin, kau pasti sangat mengerti,” jelas Jun.
“Kenapa mereka tidak langsung saja menurunkan Putra Mahkota? Kenapa harus menunda segalanya? Kan sudah jelas, betapa buruknya dia, kenapa mereka semua menahannya tetap bertahta? Apa semua karena dia anak raja? Apa keadilan hanya milik mereka yang ada di atas seperti kata kakakku? Apa karena Putra Mahkota adalah anak kesayangan raja sehingga raja ngotot mempertahankannya? Sedangkan ayahku pejabat bertahun-tahun yang setia pada negara, dibunuh oleh orang tak dikenal, mereka dengan mudah mengabaikan segalanya dan menikmati hidup mereka? Apa keadilan seperti itu?”.
“Youra pelankan suaramu,” Jun sibuk memperhatikan ssekeliling menenangkan Youra agar tak seorangpun yang mendengarnya.
“Jika sudah banyak yang bersaksi betapa buruknya dia, seharusnya raja dengan sigap mengambil keputusan. Apa kakak tidak melihat ada berapa banyak penderitaan di negeri ini? Lihat, ada banyak yang menderita. Sedangkan raja tidak juga menurunkan putranya dan hanya terus tarik ulur selama bertahun-tahun dan hanya sibuk memikirkan ini. Jika raja saja tak bisa bersikap adil, bagaimana dengan putranya yang sudah buruk citranya itu? Kenapa hanya aku yang..”
“Youra aku bilang tenang!” Jun sedikit berteriak hingga akhirnya Youra terdiam.
“Itu tidak semudah yang kau pikirkan. Ada banyak pertimbangan yang harus dilakukan oleh raja,” Jun mencoba menjelaskan.
“Tenanglah, aku yakin semua akan berjalan dengan baik. Bersabarlah sedikit. Jangan sampai kesedihanmu, membuatmu menjadi seperti ini,” tambah Jun.
“Entah kenapa, aku tidak ingin bertemu satu orangpun yang berhubungan dengan istana,” jawab Youra sambil menangis lirih.
Mendengar itu, Jun jadi tertunduk sedih. Itu semua karena dia sadar, Youra tak mengetahui apapun tentangnya.
**
Jun, sang pemuda yang membuat Youra terpikat, selalu bersikap baik padanya. Tidak hanya pintar, Jun juga terkenal sangat bijaksana dan menyenangkan. Dia mudah tersenyum dan ramah pada semua orang. Jun juga sangat dihormati dan dihargai dimanapun dia berada. Semua orang segan padanya.
Jun punya wajah yang lembut dan kharismatik. Ia sangat berwiba dan sangat tampak kepintarannya. Dalam kisah ini, Jun dan Youra selalu bertemu dan akhirnya mereka berdua jatuh cinta. Jun tahu Youra mencintainya, tetapi Youra belum yakin terhadap perasaaan Jun padanya. Sampai saat itu, semua berjalan baik-baik saja.
Ada satu hal yang menjadi masalah. Youra tiba-tiba menjadi benci pada orang-orang istana. Sedangkan ia tak pernah tahu, bahwa pria yang dia cintai itu, sebenarnya adalah putra seorang perdana menteri, yakni putra dari seseorang yang paling disegani dan dihormati oleh seluruh lapisan masyarakat.
**
__ADS_1