Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Hong Jin-Yi dan Cintanya


__ADS_3

Youra mematung di tempat, sesaat setelah Jun beranjak keluar. Sangat tahu soal keputusan terbesar yang berani dia ambil. Meski tak ada kabar tentang Putra Mahkota hingga berbulan-bulan, dia tetap meyakinkan diri untuk berdiri di singgasana menanti kedatangan sang suami kembali. Youra menatap perutnya yang mulai membesar. Tak lama lagi, Ara akan segera melahirkan. Mungkin setelah itu, Putri Shin akan segera menyusul begitu pula dengan dirinya.


Teringat kembali saat-saat masih berada dalam persembunyian. Gubuk tua yang kecil itu menjadi saksi pertama cinta mereka. Ada perasaan berkecamuk yang membuat Youra ingin kembali ke gubuk itu, berharap suaminya ada disana. Namun, sayang sekali ... seorang utusan yang dikirim Youra mengatakan gubuk itu telah hangus terbakar.


***


Malam ini, tak sama seperti biasa. Ara duduk mengelus perutnya sendiri yang mulai membesar. Dia mencoret-coret kertas untuk menghitung hari. Pelan-pelan dia pandang ke depan gerbang, tapi sampai detik itu Pangeran Yul belum juga pulang. Aneh, biasanya suaminya selalu pulang bahkan sebelum senja menyapa.


Ara berjalan mendekat pada pintu utama. "Dayangku, apa Suamiku benar-benar belum pulang?" tanya Ara. "Sampai detik ini, Pangeran Yul belum terlihat, Nyonya." Para pelayan membantu Ara kembali masuk ke bilik. Wajahnya mengerut lantaran merasakan ada kontraksi.


"Dimana dia? Aku ... aku merasa sebentar lagi akan segera melahirkan. Rasanya ada yang aneh." Ara menyandarkan tubuhnya di ujung ranjang. Keringat dingin bercucuran jatuh dari sudut keningnya.


Para pelayan saling berpandangan, sebelum akhirnya bergegas memanggil tabib terbaik untuk memeriksa keadaan Ara.


***


Di malam yang sama, Youra mendapatkan kiriman sebuah kotak berisi potongan kain pakaian yang terakhir kali Putra Mahkota kenakan.


"Dayang Nari, ini pakaian Suamiku. Aku sangat tahu, karena aku yang menjahitnya. Cepat kejar dan cari tahu siapa pengirim kotak ini!" Perintah Youra menggebu-gebu tak sabar.


Dayang Nari segera bergegas meninggalkan bilik Youra untuk memberikan perintah pada opsir utusan.


***


"Siapa orang yang sudah mengantarkan kotak kiriman kepada Ratu Lee?!" teriakan Dayang Nari menggema di tempat perkumpulan para pelayan yang beristirahat. Mereka bergidik takut lantaran Dayang Nari terlihat menyeramkan. Selepas dari masa kritisnya, Dayang Nari tampak berbeda. Ada sesuatu yang membuatnya terlihat lebih buruk dari biasanya. Ada sesuatu yang tampak ia simpan rapat-rapat.


Dayang Nari berlari ke arah pintu utama istana, tatkala terdengar derapan langkah orang bergemuruh. Saat itu, belum ada satu pejabat pun yang pulang dari istana. Mereka semua masih sibuk melakukan rapat tertutup tanpa Youra hingga malam menjelang. Namun, seluruh mata itu gusar tatkala mendengar derapan langkah ramai menuju istana.


"Apa akan terjadi perang?!" tanya salah seorang menteri terbawa kalut.


"Negeri musuh bisa saja memanfaatkan keadaan negeri tanpa raja ini untuk mengambil kesempatan," tambah yang lainnya. Perdana Menteri Han yang terlihat santai dan tenang, menyilang kedua tangannya ke belakang. Dia melangkah mendekat pada seluruh kepala menteri. "Tidak mungkin terjadi perang. Meski negeri ini dipimpin oleh ratu yang tidak berwawasan, tetapi beliau sangat handal dalam bernegosiasi." Perdana Menteri Han mencoba menenangkan para menteri yang lain.


"Hei Perdana Menteri Han! Anda kira Anda siapa bisa tahu soal tidak akan terjadi perang? Ha?! Sikap Anda yang selalu santai dan sok suci itu yang membuat semua orang menjadi bodoh! Bagaimana kalau benar-benar pemberontak datang mengepung istana?! Apa Anda yang akan bertanggung jawab?!" Kepala Menteri Perang berteriak hebat di tengah-tengah para menteri yang lain. Seperti biasa, terus saja menyudutkan Perdana Menteri Han.


Semua orang langsung menoleh pada dua orang yang selalu saja berselisih sejak bertahun-tahun lamanya itu. Mereka berdua selalu berhasil mengubah atmosfer ruangan menjadi lebih suram dan dingin.

__ADS_1


Perdana Menteri Han memberikan senyuman terbaiknya sebagai jawaban. Dia berjalan mendekat, lantas menepuk pundak Kepala Menteri Perang. "Sebagai Kepala Menteri Perang, kurasa kau benar-benar sangat pintar."


Kreeet!


Suara pintu aula rapat para menteri dibuka lebar oleh seorang opsir. Mereka langsung berbondong-bondong keluar dari ruangan untuk memeriksa apa yang terjadi.


Suara itu terdengar sangat dekat dengan pintu utama istana. Terdengar juga suara para rakyat yang sibuk berkerumun. Tampaknya diluar sana ramai. Ibu Suri yang sedang kalut, tampak lebih menyedihkan dari sebelumnya. "Dia datang! Dia datang!"


Para pelayan hanya bisa menatap iba sang tuan yang sudah mulai tidak waras.


***


Youra keluar dari biliknya membawa perutnya pelan-pelan. Dengan pakaian resminya sebagai ratu, Youra tampak sangat anggun meski sedang ketakutan.


"Berikan hormat kalian pada Yang Mulia Ratu Lee!"


Segera para menteri berbaris rapi, membuka dua jalan di tengah untuk Youra yang hendak mendekat pada pintu utama istana. Mereka membungkuk cukup lama, hingga akhirnya Youra berteriak. "Apa yang terjadi?!" tanya Youra panik.


Seorang opsir berlari pada Youra dari tengah gerbang istana. "Yang Mulia, seseorang dengan kelompok yang sangat ramai datang ingin bertemu dengan Anda."


"Tapi ... mereka bilang, mereka adalah orang yang sudah mengirimkan kotak berisi potongan kain yang baru saja mereka kirimkan." Penjelasan sang opsir membuat Youra akhirnya memutuskan untuk membiarkan opsir membuka gerbang utama istana.


"Apa yang dia lakukan?!"


"Yang Mulia, Anda tidak boleh membuka gerbang pada saat mengkhawatirkan seperti ini!"


"Yang Mulia, mohon jangan lakukan itu, Yang Mulia!" Serentak mereka bersuara agar Youra mengurungkan niatnya.


Youra membawa rasa cemas itu masuk ke dalam genggamannya, saat para opisr membukakan gerbang mewah dan besar itu bersama-sama.


Semua orang yang ada di sana, termasuk Youra dan para pelayan terperanjat hingga mata mereka melotot tajam. Memperlihatkan seorang pria paruh baya yang sangat mereka kenal, turun dari sebuah tandu menghadap Youra sebelum membungkukkan tubuhnya.


"Sekretaris Negara?!" Mereka terkesiap, lantaran tak pernah menyangka sang sekretaris yang tampaknya selama ini adem-adem saja, datang di malam hari bersama seluruh tentaranya.


"Apa dia pengkhianat yang selama ini ada di antara kita?!" Tumpang tindih suara itu menggelora. Youra masih terus menatap sang sekretaris, sembari mengelus-elus perutnya karena risau.

__ADS_1


"Yang Mulia, izinkan lah putri hamba menghadap Anda." Perkataan pertama Sekretaris Negara berhasil mencuri perhatian banyak orang.


"Putri? Dia membawa putrinya juga untuk menyerang istana?" bisik para menteri terkejut.


Saat itu, para opsir dan prajurit istana sudah bersiap-siap dengan panah dan pedang mereka, jika terjadi penyerangan secara mendadak. Namun, semua pedang itu kembali ditarik saat seorang wanita yang terkenal paling cantik dan paling berbudi di negeri itu turun dari tandu mewahnya.


"Hong Jin-Yi?" lirih Youra terbelalak saat langkah anggun itu berjalan ke arahnya. Saat itu, tak ada seorangpun yang mampu berkedip. Para rakyat ikut berdecak kagum kepada gadis populer itu.


Jin-Yi membungkukkan tubuhnya. "Yang Mulia, izinkan aku berbicara kepada Anda ... layaknya seorang teman," pintanya.


Youra memandang para menteri dan seluruh orang yang dapat menyaksikan momen epik itu. Kemudian ia melabuhkan matanya kembali pada Jin-Yi. "Baiklah," jawab Youra.


Jin-Yi kembali menegakkan tubuhnya. Dia menarik napas sebelum mulai berbicara. Youra kebingungan. Dia menoleh pada Sekretaris Negara yang sedang tertunduk berderaian air mata.


"Aku jatuh cinta di usiaku yang masih sangat muda. Sepuluh tahun, hingga detik ini aku masih mencintai orang yang sama." Jin-Yi berhenti sejenak, menelan rasa sesaknya sebelum melanjutkan. "Aku tidak pernah membenci siapapun seumur hidupku, hingga akhirnya aku bertemu dengan Han Ji-Eun yang menyedihkan," sambung Hong Jin-Yi.


"Aku sangat membenci wanita itu karena dia sangat tamak dan curang." Jin-Yi melangkah mendekat pada Youra. "Lalu aku bertemu dengan Anda. Hingga aku bertekad untuk membenci Anda lebih dalam dari kebencianku kepada Selir Han. Namun, aku tidak mengerti kenapa aku tidak bisa membenci Anda, padahal aku sangat ingin."


"Anda, sudah merebut cinta yang telah lama aku pupuk dengan baik. Anda ... mengambil cintaku dengan cara yang buruk. Selama bertahun-tahun, Anda terus mengabaikan pria yang sangat kucintai. Apa Anda mengerti, seperti apa rasa inginku untuk membenci Anda?" Hong Jin-Yi yang tersedu-sedu menggali lebih banyak rasa penasaran para menteri. Dia sangat sesak saat berbicara seperti itu. "Aku bukan Han Ji-Eun yang tamak dan egois. Aku ... aku hanya ingin cintaku hidup bahagia, meski bukan bersamaku." Hong Jin-Yi mulai menunjukkan raut menyedihkan yang terdalam.


"Sekarang ... aku sudah berhasil membenci Anda. Aku sangat membenci Anda, Yang Mulia." Terisak parah Hong Jin-Yi membuat pengakuan di hadapan banyak orang.


"Boleh aku minta satu hal kepada Anda?" tanya Hong Jin-Yi menaruh harapan besar. Youra masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Hong Jin-Yi menggenggam tangan Youra dalam kepiluan. "Setelah ini ... setelah ini tolong kirim aku pergi jauh dari negeri ini." Youra menatap mata elok rupawan itu dengan air mata yang berderaian. "Apa maksudmu?"


"Aku ingin pergi jauh dari sini, untuk mengobati luka di hatiku. Kumohon tolong, aku ..."


Youra lantas memeluk erat Hong Jin-Yi. Mereka menangis bersama hingga banyak pelayan yang ikut menitikkan air mata.


Hong Jin-Yi melepaskan pelukan Youra, lalu menyeka air mata sang ratu dengan tangan indahnya. "Aku ... aku menitipkan cintaku, kepada Anda." Jin-Yi menggenggam tangan Youra dengan kedua tangannya. Youra menatap mata gadis itu terheran-heran. Hong Jin-Yi menepi dari tempatnya berdiri.


Perkataan Hong Jin-Yi diikuti dengan gerakan para prajurit Sekretaris Negara yang memapah sebuah tandu masuk ke istana. Seluruh menteri, pejabat, bahkan rakyat terbelalak tak menyangka melihat siapa yang turun dari sana.


"Berikan hormat kalian, kepada ... Yang Mulia Raja Baek Hyeon! Tundukkan wajah kalian!"


Hong Jin-Yi berjalan mundur, membiarkan Youra menatap kedatangan seorang pria yang turun tanpa penutup wajah itu dari kejauhan. Saat itu, semua orang menundukkan wajahnya. Terkagum-kagum karena ini yang pertama kalinya.

__ADS_1


"Yang Mulia ..."


__ADS_2