Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Aku Bersumpah Akan Balas Dendam


__ADS_3

Tiba-tiba, sayup-sayup terdengar langkah ramai orang-orang di sekitar danau yang sepi itu. Nana dan Youra mulai ketakutan.


“Nona, kita harus pulang sekarang, ayo. Firasatku tidak enak”.


Youra kemudian menggenggam tangan Nana erat-erat.  


Rasa bahagia, kecewa, dan rasa khawatir semuanya menyimpul lebih buruk, menjadi sebuah ketakutan.


Saat itu Nana menarik tangan Youra pulang ke arah timur menghindari suara-suara itu. Tapi, dari balik semak-semak yang mereka lewati, keluar orang-orang bersenjata dengan wajah yang tertutup.


“Tangkap!” teriak salah seorang dari mereka.


Dua gadis yang ketakutan itu, mencoba untuk tidak menyerah. Mengumpulkan semua keberanian mereka, membawa merea berlari melawan arah. Nana dengan sigap menarik tangan Youra berlari secepat mungkin.


Dadaku sesak, teringat kembali olehku, malam mengerikan, malam kematian ayah dan ibuku.


Orang-orang itu terus mengejar tak kenal lelah. Tampaknya, memang sengaja.


Tak lama, kaki lemah Youra membawa penderitaan. Youra terjatuh, terguling di atas tanah.


“Nona, apa Anda baik-baik saja? Cepat berdirilah, Anda harus selamat. Ingatlah, Tuan Muda Young sedang menunggu Anda,” Nana berusaha menguatkan Youra yang sesak.


Youra berusaha bangun, tapi ia tetap terjatuh. Kelemahan itu bukan pada kakinya. Kelemahan itu, terletak pada hatinya yang goyah. Sementara, orang-orang itu tampak masih mengejar mereka.


“Nona, bukankah Anda berjanji dengan Tuan Muda Jun? Tolong selamatlah, mungkin esok dia akan datang”.


Meski tak sanggup,


Youra yang susah payah mengimpikan semua energi, memaksa kakinya yang lemah untuk berdiri. Mereka saling berpegangan tangan. Orang-orang yang wajahnya tertutup itu sudah hampir dekat. 


.. dengan sekuat tenaga, aku berusaha bangkit.


Bahkan mereka, orang-orang yang memakai penutup wajah itu, menembakkan panah ke arah dua gadis malang itu. Untungnya panah-panah itu tidak mengenai satupun diantara mereka.


Hingga akhirnya, pelarian itu menjadi lebih buruk dari perkiraan. Salah satu anak panah itu berhasil tertancap di betis kiri Youra yang membuatnya terjatuh kesakitan.


Andai saja aku tahu,


“Ahh!!!” teriak Youra kesakitan.


Nana yang panik dengan sigap mencabut panah itu dari betis Youra. Dia merobek ujung gaunnya dan mengikatkannya di kaki Youra.


“Nona, bertahanlah!” teriak Nana khawatir.


Sementara Youra yang kesakitan terus memegang lukanya.


Dan…


Orang-orang itu sekarang sudah mengepung mereka. Mendekatlah seseorang yang tampaknya adalah ketua kelompok itu. Ia mendekat pada kedua gadis itu dan menjambak rambut mereka kuat-kuat.


Merekalah alasan mengapa kakak selalu melarangku pergi.


“Dimana Lee Young?!” bentak mereka pada kedua gadis malang itu.


Karena ketakutan, Nana menarik kepalanya dari genggaman orang itu. Darah menetes keluar dari helaian rambut Nana yang terlepas. Kepalanya benar-benar ditarik kuat oleh orang itu. Meski sangat sakit, hingga kepalanya menjadi pusing, Nana tetap berupaya lepas untuk menyelamatkan Youra. Ia menggenggam Youra dalam pelukannya.


“Tolong, lepaskan gadis ini, tangkap aku saja. Aku mohon….,” tangis Nana sambil memegang tangan orang yang menjambak rambut Youra itu.


Youra yang kesakitan tampak pucat dan tak kuat lagi memberontak. 

__ADS_1


Karena tak ada jawaban, mereka yang geram menendangi mereka. Satu diantara mereka mengarahkan pedang tajam ke leher Youra.


“Kau adik Lee Young?” tanya mereka pada Youra.


“Tidak, tidak,” Nana menangis memohon di kaki orang itu.


Merasa terganggu oleh Nana, mereka menendang Nana untuk menyingkirkannya.


Mereka berbalik pada Youra, sesaat setelah menyiksa Nana.


“Pakaian ini, sudah pasti kau adiknya. Kita dapat dua target sekaligus. Katakan padaku, dimana kakakmu?!” amuk mereka sambil terus menempelkan pedang di leher Youra.


Youra yang saat itu ketakutan mengingat kembali perintah sang kakak dan menyesal telah melanggarnya. Tak lama Youra yang menangis ketakutan, berhenti dan menundukkan wajahnya. Anehnya, dia malah tertawa terbahak-bahak, membuat mereka heran ketakutan.


“Aku tidak kenal siapa yang kalian maksud. Jika aku kenal, aku juga tidak akan mengatakan apapun pada iblis-iblis terkutuk seperti kalian!” jawab Youra sambil berteriak kemudian menggigit tangan orang tersebut.


Sementara Nana yang diam-diam menyematkan ranting kayu di tangannya menghunuskan ranting itu di pundak salah satu mereka. Nana yang lepas, menarik tangan Youra dan membawanya terjun ke jurang yang rendah, yang dekat dari situ. 


“Nona, apa Anda baik-baik saja?” tanya Nana khawatir setelah berhasil mendarat.


Luka di kaki Youra terus saja mengeluarkan darah. Ia tampak tak lagi kesakitan. Semuanya berubah, menjadi kebencian dan dendam.


Sementara, orang-orang itu masih mencari mereka.


Youra mengangguk, memberi kode, bahwa dia baik-baik saja. Tak lama saat mereka berdiri, seseorang datang menghampiri.


Young berdiri disana, menarik mundur tubuh kedua gadis itu.


“Kakak,” Youra memeluk kakaknya menangis.


Young melepaskan pelukan itu segera.


“Nana tetaplah bersembunyi disini. Setelah itu, tolong bawa Youra pergi dari sini sejauh mungkin,” pintanya sambil memegang tangan Nana.


Tanpa menjawab apapun, Young hendak pergi menuju orang-orang yang sibuk berpencar mencari dua gadis itu.


Youra menarik tangan kakaknya.


“Kakak, jangan pergi. Bersembunyilah bersamaku disini,” pinta Youra menangis lirih.


Young yang merasa iba kemudian memeluk sang adik erat-erat.


“Ingat, aku ini pendekar terbaik di negeri ini. Aku akan kembali setelah menyingkirkan mereka. Jika tidak, mereka akan terus mencari kita. Tetap lah disini, jangan membuat keributan”.


Young kemudian bergegas ke arah mereka. Meninggalkan sang adik dengan rasa tidak ikhlasnya.


“Aku yang kau cari!!!”.


Young berdiri jauh disana dengan pedang di tangannya. 


**


Saat itu, Young berdiri sendirian, melawan puluhan orang bersenjata. Beberapa diantara mereka memakai pedang, dan beberapa lagi dengan panah. Setiap gerakan, Young dengan baik dapat menghindar. Satupun tak ada yang mengenainya.


Andai saja aku tahu…


Youra yang melihat itu dengan Nana, merintih ketakutan. Keduanya, sama khawatirnya. Youra terus menangis, sementara Nana memeluk Youra menahan tangisnya.


“Nona, tenanglah. Tuan Muda pasti akan selamat,” Nana mencoba menenangkan Youra, padahal hatinya sangat kalut dan terluka.

__ADS_1


Youra terus menggigit tangannya. Mereka takut terjadi sesuatu yang buruk dengan Young. 


Sementara itu, Young terus melawan orang-orang itu, hingga satu diantara panah yang diarahkan padanya berhasil mengenai pahanya. 


“Tidak, kakakku. Kumohon,” Youra berusaha melangkah mengejar sang kakak sambil menangis.


“Nona, hentikan! Tetaplah disini,” Nana memeluk Youra menahannya untuk tidak gegabah.


“Aku harus membantu kakakku. Nana, dia sendirian disana…,” Youra yang menangis membekap mulutnya. Ia sangat lemah dan terluka. 


“Nona, tenanglah!”.


Sementara itu Young yang pahanya terluka tetap berusaha melawan mereka semampunya. Tampaknya, luka itu tak ada apa-apanya bagi Young. Ia masih berdiri tegap tampak tak terjadi apa-apa. Hingga akhirnya, dengan sekali tebas, Young berhasil membunuh dan mengalahkan mereka semua. 


Youra dan Nana yang melihat itu tampak sangat bahagia. Young kemudian berdiri dan menoleh ke arah Nana dan Youra. Ia tersenyum dari jauh, setelah itu merapikan jubahnya. Kemudian dengan gagah melangkah ke arah kedua gadis itu, tapi..


Andai saja aku tahu, 


Sebuah panah yang entah darimana datangnya, tertancap menembus dada Young, tepat di jantungnya.


… itu terakhir kalinya aku melihat kakakku.


Youra yang tadinya tersenyum terpaku lesu, membatu merasa dunia sudah runtuh. Dia yang tak lagi kuasa segera pingsan dan rubuh ke tanah. 


Harusnya, aku menarik cepat tangannya bersamaku.


Nana yang melihat itu di depan matanya, terdiam di tempat dengan deraian air mata tak berkedip.


Darah segar keluar dari tubuh Young yang tampak oleng dan tak lama terjatuh lemah. Mulutnya tampak mengeluarkan darah. Panah itu, benar-benar mengenai jantungnya.


“Tidak, kakakku…” suara pelan Youra yang tak mampu berkata-kata. Ia mencoba mengumpulkan seluruh tenaganya untuk bangkit.


Aku menyesal atas kebodohanku...


“Kakak!!!!!” teriak Youra sambil berusaha berdiri mendekati tubuh sang kakak. 


Dengan sigap Nana menarik Youra kembali, dan membekap mulut Youra.


“Nona, tenanglah,” Nana yang lemah berusaha kuat demi tuannya.


Tak lama, datanglah orang-orang berseragam mendekati tubuh Young, yang mungkin sudah tak bernyawa. 


“Bagaimana?” tanya salah seorang dari mereka.


Nana terus membekap mulutnya dan mulut Youra agar suara tangis mereka tak terdengar.


“Dia sudah tewas,” jawab yang lainnya setelah memeriksa tubuh Young.


Nana dan Youra yang mendengar itu, semakin berusaha menahan diri dari tangis dan kelemahan. Harapan soal keselamatan, lenyap dan hancur begitu saja.


Mendengar itu Youra tampak sangat kesakitan.


“Ayo, kita buang jasadnya,” perintah ketua mereka.


Orang-orang itu, tanpa rasa berdosa, segera menyeret tubuh Young yang sudah tak bernyawa.  


Dari sudut lain, pamannya Nana datang mengendap-endap dari belakang Youra dan Nana. Ia langsung membekap kedua mulut gadis itu.


“Tenanglah, jangan sampai mereka mendengarnya. Tuan Muda, pasti ingin kalian tetap hidup".

__ADS_1


Youra yang sudah tidak tahan, akhirnya benar-benar pingsan di tempat. 


Sejak saat itu aku bersumpah, untuk segera mencari dalang dibalik kematian keluargaku, dan membalas mereka dengan cara paling menyakitkan di muka bumi ini. 


__ADS_2