
Ratu terkulai lemah di dalam kediaman, mencoba bersikap tenang dan anggun seperti biasanya. Sambil meraih porselin cantik dengan tangannya, ia bersandar pada dipan mengatur napasnya.
“Gadis itu…”.
Ratu berusaha menahan diri. Seluruh amarah yang sudah menggumpal, rasa tidak percaya, dan kenyataan saling tumpang tindih. Menyesatkan, hingga ia ragu untuk membuat keputusan. Tentang gadis yang baru saja dia lihat, memutar kembali memori lama di kepalanya. Penasehat negara dan seluruh keluarganya sudah tewas, semua orang tahu tentang itu. Lantas, berdirinya Youra di hadapannya, bukan sebuah kebohongan. Kenyataan itu, membuatnya ketakutan.
“Gadis itu, dia benar-benar putri mendiang penasehat negara yang sudah tewas?” tanya ratu sekali lagi.
“Benar Yang Mulia. Gadis itu, putri mendiang penasehat negara, bernama Lee Youra”.
Tubuh ratu menjadi lemah. Manik matanya menunjukkan kekhawatirannya. Rasa tidak percaya itu merasuki dirinya, memaksanya untuk menerima kenyataan yang ada. Putri penasehat negara, yang dikira tewas, masih hidup dan bahkan menjadi salah satu kandidat istri untuk Putra Mahkota.
Ratu mendadak kaget. Tertegun dalam diam beberapa saat, mencoba memikirkan situasi.
“Dia benar-benar masih hidup. Aa-apa dia, apa dia gadis yang diinginkan Putra Mahkota?” tanya ratu kembali.
“Benar Yang Mulia,” jawab sang pelayan.
Melihat raut wajah ratu yang tampak sangat tertekan, sang pelayan mendekat mencoba memberikan pandangannya terhadap apa yang akan terjadi setelahnya.
“Yang Mulia, putri penasehat negara itu sangat tertutup. Ia menjalani kehidupan yang menyedihkan di lembah gunung selama bertahun-tahun sendirian. Seluruh keluarganya memang tewas malam itu juga. Saat ini, ia kembali ke desa, tinggal bersama mantan pekerja rumah tangganya”.
Sang pelayan mendekat, membuka sebuah kertas, di atas kanvas putih itu ada garis-garis tinta hitam yang tersusun rapi. Tampaknya berisi informasi.
“Yang Mulia Ratu, keputusan raja sudah bulat. Gadis itu, harus terpilih menjadi istri Putra Mahkota,” tambah sang pelayan.
“Tidak, dia harusnya menikah dengan Han Ji-Eun. Gadis yang berasal dari keluargaku. Anggota keluarga kerajaan,” bantah ratu.
__ADS_1
Sang pelayan menatap ratu dengan pandangan yang sendu.
“Yang Mulia,” panggil sang pelayan dengan nada rendahnya yang penuh hormat.
“Tunggu”.
Ratu berdiri, merapikan gaun indahnya dengan hati-hati. Dia berjalan beberapa langkah hingga sampai pada balkon kediamannya. Menatap lurus ke depan, dengan mata bulatnya yang tampak penuh dendam.
“Putra Mahkota, kenapa dia tiba-tiba meminta gadis itu? Dia pasti membuat rencana busuk dan mencuci otak ayahnya yang bodoh itu. Dia menikahi gadis itu, untuk memuluskan rencananya. Dia tidak kenal apapun selain kebencian. Apalagi soal cinta, dia tidak mungkin menikahi gadis biasa itu karena jatuh cinta. Dia hanya mencari pelarian, agar tidak dinikahkan dengan Han Ji-Eun, gadis pilihanku! Dia sengaja menipuku!! Anak kurang ajar itu keterlaluan!”.
Ratu berteriak kencang, menghasilkan keributan yang mengkhawatirkan seluruh pelayannya.
“Yang Mulia, menikahkan Putra Mahkota dengan gadis itu juga ide yang bagus. Gadis itu, bukan wanita terpelajar yang punya pamor. Dia tidak akan mengerti tentang politik dan urusan istana. Anggap saja, dia cuma istri pajangan. Tidak akan ada yang berubah setelah mereka menikah. Anda bisa menyingkirkan dia secepatnya. Lagipula, gadis itu bisa bermanfaat untuk kita Yang Mulia. Gadis itu hanya gadis bodoh yang tidak tahu apa-apa, bukankah itu sangat berguna?” sang pelayan mencoba menenangkan ratu yang kalut.
Perkataan sang pelayan, menciptakan senyum ringan di sudut bibir ratu. Perlahan-lahan ia menata kembali rencananya yang sudah sejak lama dia susun. Menempatkan putranya, Pangeran Yul di atas tahta, adalah keinginannya satu-satunya.
Di istana Putra Mahkota, Kasim Cho tersenyum leluasa sangat bahagia. Sambil menyiapkan air pemandian untuk Putra Mahkota, dia menyentuh air itu dan menaburkan wewangian. Setelahnya, ia berjalan mundur tidak sabar menunggu kedatangan tuannya.
Putra Mahkota masuk ke ruangan pemandian itu, segera melepas seluruh pakaian atasnya. Kasim Cho bergegas mengambil pakaian itu dan menaruhnya di atas kayu susun. Putra Mahkota masuk ke dalam bak pemandian itu, merendam setengah tubuhnya yang gagah. Dia menyandarkan kepalanya di sisi bak pemandian, meminta Kasim Cho untuk memijatnya. Dengan senang hati, sang pelayan datang bergegas untuk menjalankan perintah tuannya, tetapi langkahnya terhenti setelah Putra Mahkota membuka penutup wajahnya, menampilkan seluruh garis wajah itu di depan Kasim Cho yang terdiam di tempat, menikmati pemandangan itu.
“Kasim Cho, kenapa lama sekali?”.
Putra Mahkota sudah menutup matanya, tapi Kasim Cho belum juga mendekat, kesadarannya seolah melayang. Karena sang kasim tak juga bergerak, Putra Mahkota mengangkat kepalanya, membalikkan tubuhnya setelah itu, lalu menatap balik sang pelayan.
Kasim Cho masih disana, berdiri memegang jubah mewahnya, terpelongo dengan mata seolah tampak hampir saja copot. Melihatnya, Putra Mahkota kebingungan. Ia menyipitkan mata berusaha menelusuri tatapan sang kasim yang terus saja terdiam.
“Kasim Cho?” panggilnya berusaha menyadarkan jiwa Kasim Cho yang mungkin saja sudah terbang.
__ADS_1
Karena tidak sabar, Putra Mahkota keluar dari bak pemandian itu, bertelanjang dada. Dengan tubuh yang basah, ia mendekati sang pelayan karena kebingungan. Namun, saat ia sudah hampir saja dekat dengan Kasim Cho, sang pelayan yang tampak sudah hilang kesadaran itu, kini benar-benar pingsan di tempat. Putra Mahkota spontan mengejarnya, menahan tubuh sang kasim yang roboh.
“Kasim Cho? Kau baik-baik saja? Cepat panggil tabib!” teriak Putra Mahkota dari dalam biliknya sangat khawatir.
Ia menggotong sang pelayan ke atas ranjangnya. Membaringkan sang pelayan lalu cepat-cepat memakai kembali penutup wajah dan pakaiannya.
Para tabib berlarian terburu-buru setelah mendapat panggilan dari Putra Mahkota. Orang-orang saling berpandangan cemas. Saat berlari menuju istana Putra Mahkota, para menteri yang sedang lewat dibuat terkejut oleh pemandangan yang mereka lihat.
“Apa yang terjadi? Mengapa ada tabib berlari menuju istana Putra Mahkota?”.
Kabar ini, sampai ke telinga raja, membuatnya sangat khawatir. Segera raja meninggalkan kediamannya, bergegas panik menuju kediaman Putra Mahkota. Ia mendobrak saja pintu utama istana Putra Mahkota tanpa izin dari putranya itu.
Melangkah cepat ia mendekat menuju bilik putranya, melihat ada banyak perawat berdiri di luar kamarnya, membuatnya tak sabar untuk segera memeriksa.
“Apa yang terjadi?!” teriak raja khawatir.
Raja mendapati putranya sedang duduk manis dengan kancing baju setengah terbuka. Putranya sedang bersandar dengan wajah yang sudah tertutup kain, menemani sang kasim yang terbaring lemah.
Raja menarik napasnya dalam, segera ia meninggalkan kediaman putranya itu, karena semua tampaknya baik-baik saja.
Putra Mahkota tak memberikan respon apapun, ia kembali menoleh pada pelayan setianya itu.
“Apa yang terjadi padanya?” tanya Putra Mahkota cemas.
Tabib itu mengangkat seluruh peralatan medisnya, membersihkan sisa-sisa pengobatan yang dilakukannya. Ia menoleh pada Putra Mahkota dan tersenyum ramah.
“Dia baik-baik saja Yang Mulia. Dia pingsan, karena mungkin saja terkejut setelah melihat atau menyaksikan sesuatu yang di luar dugaannya. Sebentar lagi dia akan segera sadar”.
__ADS_1
Tabib itu merapikan pakaiannya, membungkuk hormat segera meninggalkan bilik Putra Mahkota. Putra Mahkota yang kebingungan terus saja mengelabui keadaan. Ia bahkan tidak mengerti apa yang membuat Kasim Cho pingsan. Tak lama, Putra Mahkota tersenyum ringan, dia baru menyadari, bahwa Kasim Cho baru saja melihat seluruh wajahnya tanpa sehelai benang.