
Suatu hari, Ratu Kim menggoyangkan kaki di atas singgasana. Wajahnya yang sembab, mata memerah, dengan urat-urat yang menonjol parah sangat mendukung suasana menjadi lebih genting lagi. Seorang dayang berlari mendekat, membisikkan sesuatu yang membuat Ratu Kim tiba-tiba saja tertawa, membingungkan.
"Putraku Pangeran Yul akan segera tiba!" teriaknya dari atas singgasana. Para menteri dan seluruh pejabat istana dikumpulkan di halaman muka istana utama. Diselimuti oleh langit mendung yang memorak-porandakan pertemuan mengerikan. Para menteri saling melempar senyum, sementara sekretaris negara hanya bisa memandang takut.
Perdana Menteri Han datang sangat terlambat. Dia menjadi pusat perhatian, kala langkah gontainya dibawa masuk lewat gerbang utama. Ratu Kim hanya terus memandanginya, tak menegur sapa sama sekali. "Aku telah memutuskan, akan mengangkat putra Kepala Menteri Perang-Won Bin-menjadi jenderal bintang tiga di istana ini!"
"Apa?!" semua orang terbelalak kala kalimat berapi-api itu membara hebat. Semua mata tertuju pada Kepala Menteri Perang yang sedang mengangguk kecil tersenyum bangga.
"Bagaimana bisa Ratu Kim mengangkat seorang pejabat tanpa musyawarah?!" Bertubi-tubi suara itu melayang. Keributan yang terjadi malah membuat Ratu Kim tertawa terbahak-bahak.
***
Berita tentang sang kakak diangkat oleh istana, membuat Ara mengepal erat tangannya. Pangeran Yul yang baru saja berpamitan ke istana membuat Ara menjadi ketakutan. "Apa jangan-jangan ..." Ara melangkah cepat menuju bilik mereka. Membongkar seluruh barang-barang suaminya untuk mendapatkan petunjuk. Ayah, ibu, dan kakaknya adalah seorang pengkhianat. Dia tidak bisa membiarkan suaminya ikut berkhianat pada Putra Mahkota.
***
"Ssst! Tuan," panggil seseorang membangunkan Jung Hyun dari tidurnya.
"Aku pelayan pribadi Pangeran Hon," sambung seseorang itu.
Jung Hyun menyipitkan matanya. Mendekatkan diri ke tepi pintu sel penjara. "Kasim San? Kenapa kau ada disini?" tanya Jung Hyun mencuat cemas.
"Tuan, bisa Anda jawab satu pertanyaanku dengan jujur?" bisik sang pelayan. Jung Hyun mengangguk. "Ada apa?" tanyanya mulai kalut.
"Apa Putra Mahkota masih hidup?" tanya sang pelayan. Jung Hyun terlihat enggan menjawabnya, lantaran takut Pangeran Hon adalah bagian dari pengkhianat. Namun, sang pelayan berhasil meyakinkan Jung Hyun.
"Jika benar Putra Mahkota masih hidup, itu artinya mereka sudah menangkap beliau."
"Apa?!" Jung Hyun terbelalak. "Apa yang terjadi?!" tanyanya antusias.
__ADS_1
Pelayan itu menelaah segala sudut tempat itu agar tak didengar oleh siapapun. Matanya berlabuh pada Kasim Cho yang sedang terlelap sebelum kembali melanjutkan. "Ada seseorang yang menculik Putra Mahkota. Orang-orang itu berusaha membunuh Ratu Lee. Saat ini, beliau sedang bersama kami. Dan ... "
"Dan apa?" tanya Jung Hyun sesak. "Dan istana telah menangkap Tuan Muda Young."
Semuanya sangat hancur. Putra Mahkota diculik, Youra dalam ancaman, dan sekarang Lee Young telah tertangkap oleh istana. Jung Hyun dan Kasim Cho dipenjara. Saat ini tiada satupun yang bisa menyelamatkan mereka, selain Pangeran Hon yang memberanikan diri menjerumuskan hidupnya di ujung pedang. "Pangeran Hon, berada dipihak Anda."
***
Pintu gerbang utama istana dibuka lebar. Para pengawal berbaris rapi menyambut kedatangan seseorang yang sangat istimewa.
"Berikan hormat kalian pada Yang Mulia Pangeran Yul!" teriak opsir penjaga pintu.
Para menteri saling melempar mata, sebelum akhirnya membungkukkan setengah tubuh mereka.
Entah kenapa, raut wajah Pangeran Yul sama sekali tak menunjukkan keramahan. Dia tak tersenyum, dan tak pula terlihat senang. Dia bahkan melangkah ragu-ragu menuju ratu, meski akhirnya langkah itu sampai ke atas sana.
"Selamat datang, Putraku. Mana surat pemindahan kekuasaan yang telah kau tandatangani?" Ratu tersenyum senang pada putranya yang kini menatapnya dengan keraguan.
"Yul, cepat berikan padaku. Kenapa kau diam saja?" tanya Ratu Kim kebingungan melihat putranya tak bertindak tajam seperti biasa.
"Suamiku, tidak bisakah sekali saja Anda memikirkan aku?"
Kalimat itu terngiang-ngiang di kepala Pangeran Yul. Entah kenapa, tangannya berat sekali untuk menyerahkan dokumen itu. Pangeran Yul menarik panjang napasnya, sebelum akhirnya memberikan kertas itu kepada ratu.
Ratu tersenyum, "Bagus." Seringai tipis ratu membuat Pangeran Yul mengernyitkan dahi. "Ibu, masihkah Anda memikirkan soal ini saat Putri Shin dalam keadaan sekarat?"
Pertanyaan Pangeran Yul mematahkan sudut senyum di wajah ratu. "Apa kau sudah gila? Ha?! Ini adalah kesempatan kita satu-satunya. Kau lupa pada kesepakatan kita?" Ratu Kim menatap wajah putranya heran.
Saat itu, interaksi aneh ibu dan anak itu terlihat oleh para menteri dari kejauhan. Muncul seluruh tanda tanya di otak mereka, soal apa yang sedang mereka bincangkan. Wajah keduanya tampak sangat tertekan.
__ADS_1
Pangeran Yul diam saja. Ratu Kim akhirnya membiarkan Pangeran Yul terpaku di tempat. Dia berjalan menuruni anak tangga singgasananya. Langkah itu membuat semua yang ada di dalam sana terdiam. Sangat hening, tak terdengar suara apapun juga selain gertakan sepatu yang menapaki jalan panjang yang terbentang lebar di tengah-tengah.
Di atas singgasana, Pangeran Yul masih dengan kepalan tangan penuh ketakutan. Sementara, ratu mulai membentang kertas persetujuan yang akan segera dia umumkan.
Ratu Kim tersenyum manis, sebelum mengatur kewibawaannya untuk mengumumkan keputusan yang telah lama dia nanti. Dia mulai bersuara.
"Dengan ini, aku sampaikan ... aku akan mengangkat putraku, Pangeran Yul sebagai ra ..."
"Berhenti!"
Seseorang menghentikan ratu. Semua orang terbelalak kaget saat melihat ke arah gerbang yang dibuka lebar. Mata mereka seolah hampir copot saking terkejutnya.
Dua orang pelayan yang sangat mereka kenal membantu para opsir melebarkan jalan di tengah para menteri.
"Yang Mulia, Anda tidak bisa mengangkat Pangeran Yul sebagai raja." Orang itu berteriak penuh hormat di hadapan ratu. "Siapa kau yang berani menghentikanku ha?!" teriak ratu penuh amarah.
"Wah ... "
Tiba-tiba suara menjadi riuh penuh keributan. Tatkala sosok mengejutkan muncul dari tengah. "Pangeran Hon?" Ratu Kim tak menyangka. Putra yang selama ini tak pernah datang bahkan saat dia memanggilnya, hari itu datang membawa langkah penuh penolakan.
"Anda tidak bisa mengangkat Pangeran Yul menjadi raja. Karena Yang Mulia Ratu Lee masih ada." Tepat setelah Pangeran Hon bersuara, para pelayan mengiring langkah Youra masuk menghadap ratu. Saat itulah, mata mereka lebih membola dari biasanya. Rasa terkejut yang jauh lebih buruk dari biasanya.
Langkah Youra berderap lantang. Dia membusungkan dadanya tanpa memberikan penghormatan. Berjalan ke arah ratu dengan gaya yang elegan, lengkap dengan pakaian mewah yang tergantung rapi di tubuhnya.
"Pengawal, tangkap pengkhianat ini!" teriak ratu diikuti perintah. Namun, tiba-tiba Pangeran Hon memutar tubuhnya menghadap seluruh menteri. Berdiri di depan Youra sembari menghentikan langkah para pengawal yang hendak menangkap Youra.
"Apa yang akan dilakukan anak durhaka itu?" kaget ratu kepada para dayangnya.
"Akulah ... akulah yang sudah menyembunyikan Ratu Lee selama ini! Semua itu aku lakukan, karena seseorang mengincar nyawanya! Jika kalian ingin menangkapnya, itu artinya kalian juga harus menangkapku!" Sangat lantang Pangeran Hon memberikan pembelaan.
__ADS_1
"Apa yang telah dilakukan anak gila itu?!" Ratu sampai sesak napas melihat keputusan hebat Pangeran Hon yang akan membahayakan nyawanya sendiri. Sementara itu, Pangeran Yul tak mampu berkedip melihat keberanian adiknya.