
Bersama rasa sakit itu, Jun pergi secepatnya dari upacara pernikahan Putra Mahkota dan Youra, kekasihnya. Tak ada satupun yang beranjak meninggalkan perayaan iu, tetapi Youra dapat melihat Jun cepat-cepat pergi dari sana. Dengan wajah sedihnya, Jun menoleh sebentar ke arah singgasana, seperti mengucapkan kalimat perpisahan jarak jauh pada Youra. Wajah sendu itu, kini bertaut, meninggalkan jejak yang menyakitkan. Tentu saja, siapa yang bisa bertahan lebih lama di acara pernikahan orang yang dicintai, sebagai tamu kehormatan.
Pergerakan Jun mencuri perhatian Pangeran Yul yang ada disana. Guru pribadi Putra Mahkota meninggalkan perayaan secepat itu, membuat Pangeran Yul mengernyitkan dahinya. Tak ada yang sedang ia pikirkan. Namun, saat mencoba untuk berpaling, tak sengaja dia menoleh pada mempelai wanita.
Dia terus memandangnya dengan seribu tanda tanya. Pengantin wanita Putra Mahkota, tak mengalihkan tatapannya pada kepergian Jun dari perayaan. Air mata itu jatuh, tepat setelah Pangeran Yul menoleh kembali padanya.
“Menarik,” gumamnya.
Pangeran Yul segera menundukkan pandangannya. Tersenyum puas setelah menemukan fakta mengejutkan. Sementara itu, Pangeran Hon dengan wajah bahagianya, menyambut baik kedatangan kakak iparnya. Dia terus saja tersenyum tak menyangka, akhirnya Putra Mahkota menikah. Setidaknya satu perintah kerajaan telah terlaksana dengan baik.
Di singgasana setelah Jun pergi, Youra masih dalam lamunannya. Pikiran itu menerawang entah kemana. Kesadaran itu kembali, setelah tahu sang suami kini sedang terus menatapnya. Orang-orang kebingungan, lantaran tatapan sang Putra Mahkota pada istrinya begitu dalam. Mereka pikir, mungkin saja Putra Mahkota sedang bersandiwara, agar orang-orang percaya dia benar-benar bisa jatuh cinta. Namun, mereka semua tak bisa tertipu. Manusia kejam seperti Putra Mahkota yang tak kenal cinta, pasti sedang menyusun sebuah rencana. Menggunakan pernikahan sebagai umpannya.
“Apa tidak berkeringat?”
Suara lembut itu, seolah menghentak dada Youra yang sedang berduel dengan rasa jijik dan bencinya. Itu suara Putra Mahkota, dia sedang berpura-pura manis padanya. Begitu, yang ada dalam pikiran Youra.
“Aa-aku…” Youra menoleh pada suaminya. Namun, sama sekali ia tidak menatapnya. Youra terus saja mencoba menahan diri, tapi sangat sulit baginya untuk terlihat biasa-biasa saja. Di depan orang-orang bersikaplah hormat, pikirnya.
“Aku tidak berkeringat, Yang Mulia,” jawabnya canggung setelah sekian detik terdiam dari balik selendang sutra mewah itu.Tak ada respon apapun lagi dari Putra Mahkota. Hal itu, membuatnya sedikit tenang.
__ADS_1
Youra mencoba melirik sedikit ke arah kerumunan orang. Itu tatapan kebencian, mereka tampak masih mengolok-olok dan berbisik buruk soal Putra Mahkota. Youra tersenyum kembali. Tatapan kebencian orang-orang untuk Putra Mahkota membuatnya sangat bahagia. Utnuk menyingkirkan sang suami, menurutnya akan lebih mudah jika orang-orang masih terus menghujatnya. Tak sengaja Youra memergoki Pangeran Yul yang sedang terus menatapnya.
Tiba-tiba awan berbuah gelap. Mendung itu datang tiba-tiba, menciptakan suara gemuruh hebat yang tiba-tiba saja menujukkan buasnya. Seluruh orang terperanjat kaget. Menyaksikan betapa seramnya suasana itu seketika. Nari sang pelayan yang punya kemampuan meramal itu menoleh ke arah langit, menyesakkan dadanya. Dia hampir saja terjatuh, tetapi menahan diri agar tak merusak upacara. Segera dia menoleh pada Youra dan Putra Mahkota, cukup lama. Hingga pandangan itu berpaling pada seluruh penghuni istana.
“Siapa yang menghukum siapa, kumohon langit berhentilah ikut bicara.” Nari terus saja memandang langit dengan kalut yang menghantui jiwanya. Dia kembali menoleh ke arah Youra, yang sedang tertunduk dengan penuh keanggunan.
Hari itu, perayaan terus saja dilanjutkan di tengah-tengah kegelapan. Para rakyat berbondong-bondong kembali kerumahnya, berpikir mungkin saja badai datang tiba-tiba.
“Benar-benar kutukan. Putra Mahkota benar-benar memmbawa kutukan. Bahkan di hari pernikahannya, langit berubah segelap ini,” ujar mereka bersahut-sahutan.
**
“Ini pertanda buruk. Apa yang sedang Nona rencanakan, Paman?” Nana menangis ketakutan, di bawah langit yang penuh kegelapan.
“Pertanda apa ini?” dengan seluruh pikiran buruk itu, orang-orang merinding ketakutan karenanya.
**
Hanya sebentar bersanding bersama, perayaan itu berakhir dengan lancar dan khidmat. Malam pun tiba, Youra yang sudah diantar ke kediamannya sejak tadi siang untuk istirahat, kini duduk termenung bersama seluruh pikiran buruknya.
__ADS_1
“Yang Mulia, malam ini adalah malam pertama Anda. Yang Mulia Putra Mahkota akan segera datang setelah bulan memperlihatkan wujudnya tepat di atas gunung.”
Para pelayan membantu Youra berganti pakaian. Gaun malam yang indah. Sutra putih tipis dan lembut itu membuat Youra tidak nyaman. Ada belahan panjang di samping gaun itu, hingga betisnya mungkin saja dapat dilihat dengan mudah. Bagaimana bisa dia memakai pakaian yang cukup terbuka, di depan lelaki yang tidak dicintainya itu. Namun, apa boleh buat. Demi dendam itu, ikuti saja seluruh permainan ini untuk sementara, setidaknya di depan orang lain.
Sementara itu, Putra Mahkota sedang berendam di dalam bak pemandiannya. Mencoba lebih lama, untuk semakin memperwangi tubuhnya. Tak lama, setelah asik memainkan bunga-bunga wangi itu, Putra Mahkota keluar dari dalam air, segera memakai piyama malam untuk bersiap-siap menemui sang istri. Karena Putra Mahkota sedang tidak memakai penutup wajah, Jung Hyun sang pengawal, dan Kasim Cho pelayan setianya, terus saja menundukkan pandangan.
Putra Mahkota melangkah kecil ke atas ranjangnya. Ia menyandarkan tubuhnya di atas tumpukan bantalan. Meraba-meraba dadanya, entah kenapa jantung itu terus saja berdetak lebih kencang dari biasanya.
“Menurutmu, apa yang harus aku lakukan sebagai seorang pria?” tanya Putra Mahkota, membuat Kasim Cho dan Jung Hyun lantas saling berpandangan.
“Maa-maaf Yang Mulia?” tanya sang pelayan ragu-ragu.
Putra Mahkota menggeser sedikit tubuhnya, setelahnya dia duduk menekuk kedua lututnya.
“Apakah itu tidak terlalu terburu-buru?” tambah Putra Mahkota kembali.
Jung Hyun langsung saja tersedak dengan ludahnya sendiri. Dia batuk-batuk tak henti. Entah kenapa pertanyaan Putra Mahkota terdengar aneh, atau bahkan menjadi sangat lucu dan entahlah.
“Yang Mulia, karena Anda adalah suaminya, bukankah semua keputusan itu ada di tangan Anda?” jawaban Kasim Cho semakin membuat Jung Hyun terbelalak. Jung Hyun coba bangun kembali, menyadarkan dirinya secepat mungkin. Bagaimanapun juga, Putra Mahkota adalah seorang pria dewasa. Apalagi, saat ini dia sudah punya seorang istri. Dia punya hak untuk melakukan apa saja.
__ADS_1
“Tentu saja, aku menginginkannya,” balas Putra Mahkota mantap. Dengan semangat Putra Mahkota segera berdiri. Dia merapikan pakaiannya itu dengan baik. Para pelayan berdatangan, memakaikan jubah mewah kehormatan yang harus dia gunakan. Itu artinya, Putra Mahkota akan segera menyusul istrinya di kediaman sang istri.