
Wajah ratu memancarkan aura ketakutan. Sangat pucat dan menegangkan.
"Apa Putra Mahkota benar-benar diracuni?" tanya ratu pada salah seorang pelayan.
"Benar, Yang Mulia Ratu."
"Lalu apa yang terjadi saat ini?" tanya ratu sekali lagi.
"Istana, akan mengamankan permaisuri karena beliau adalah orang yang terakhir bersama Putra Mahkota."
Ratu mengolah seluruh isi otaknya, mencoba menempatkan segalanya pada tempatnya. Cukup lama dia melamun panjang, hingga akhirnya kedua putranya datang.
"Ibu Ratu, ini situasi yang genting. Jika Putra Mahkota tidak selamat, posisi Putra Mahkota akan jadi kosong dan itu akan berdampak buruk pada sistem pemerintahan." Pangeran Yul langsung duduk menghadap ratu, dengan kening berkeringat yang berkerut.
"Apa yang kau khawatirkan? Dia tak punya pewaris, maka posisi itu akan jatuh di tanganmu," balas ratu, kemudian meneguk minuman hangat yang terhidang.
Pangeran Hon yang mendengarnya sangat terkejut, ia mendekat dan bersimpuh pada sang ibu. "Bagaimana bisa, kalian membahas soal posisi disaat Putra Mahkota dalam keadaan seperti ini?" tanya Pangeran Hon kecewa.
"Hon, ini adalah masalah serius dan realistis. Putra Mahkota meneguk cukup banyak racun, kemungkinan untuk selamat itu sangat kecil," jawab Pangeran Yul.
"Bagaimana bisa kakak mengatakan hal sekeji itu?" bantah Pangeran Hon.
"Apa kau ini bodoh?" Pangeran Yul terus menampiknya.
"Ibu, bukankah sebagai pimpinan istana wanita, seharusnya ibu menemui permaisuri, untuk memberikan pembelaan terhadapnya? Permaisuri tidak mungkin membunuh suaminya sendiri," tambah Pangeran Hon terus menerus.
"Itu bisa saja terjadi." Jawaban Pangeran Yul menghentikan kalimat yang ingin segera dilayangkan oleh Pangeran Hon sekali lagi. Sementara ratu langsung menoleh pada putra sulungnya itu.
"Permaisuri tidak mencintai Putra Mahkota," tambah Pangeran Yul.
Pangeran Hon tak lagi tahan, sangat terkejut. Segera ia keluar dari kediaman sang ratu, memutar tubuhnya untuk bergegas mengunjungi Putra Mahkota.
***
Jun melangkah gontai masuk ke istana, membawa beberapa buku di tangannya. Namun, langkah itu terhenti begitu saja, saat mata itu tertuju pada sebuah objek yang menghapus senyum di wajahnya.
"Youra?" gumamnya tak percaya, saat melihat gadis berselendang yang sedang dibawa oleh para petugas.
Para opsir terus menggiring Youra yang tertunduk pasrah, jarak mereka sekarang sangat dekat. Youra menoleh, melirik sedikit, menyadari Jun sedang menatapnya dari kejauhan, membuat air matanya jatuh menetes. Mereka saling berpandangan, hingga akhirnya Youra memalingkan muka.
__ADS_1
Jun tertegun, ini bukan mimpi. Ada sesuatu yang buruk sedang terjadi. Wanita yang dia cintai saat ini dalam masalah besar. Jun berlari, menghampiri para pelayan yang terburu-buru berlalu. "Permisi, bisa katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa, mengapa mereka membawa permaisuri Putra Mahkota?" tanya Jun dengan wajah berpeluh, mencuat tinggi kekhawatiran nyata yang menyesakkan dadanya.
Para pelayan saling berpandangan, "Maaf Tuan Muda, kami tidak dapat memberikan info ini kepada Anda. Namun, sesuatu yang buruk telah terjadi di istana Putra Mahkota." Segera mereka kembali berlalu.
Jun menarik langkahnya untuk segera menemui sang ayah, Perdana Menteri Han. Tepat di depan istana, para menteri sedang berkumpul dan saling berdiskusi. Melihat Jun ada disana, hampir semua menteri itu terdiam.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Perdana Menteri Han sedikit berbisik, menarik tangan putranya itu sedikit menjauh.
"Apa yang terjadi disini? Mengapa mereka membawa permaisuri?" tanya Jun memaksa.
Perdana Menteri Han tertawa cekikikan. "Tampaknya gadismu itu orang yang hebat." Perdana Menteri Han, maju satu langkah untuk sedikit mendekat, "Dia benar-benar menunjukkan kebenciannya," tambahnya.
Jun berkedip beberapa kali, mencoba menelaah apa yang baru saja dikatakan sang ayah. "Apa maksudmu?" tanya Jun kebingungan.
"Permaisurinya, menjadi saksi utama, atas percobaan pembunuhan yang terjadi pada Putra Mahkota," jawab Perdana Menteri Han sangat santai.
Jun geram, ia menarik kerah sang ayah, hingga seluruh menteri terkejut olehnya. "Tidak mungkin, kau berbohong padaku, kan?" tanya Jun tak percaya.
"Berhentilah mempermalukan dirimu sendiri. Aku tidak punya sangkut pautnya dengan masalah ini," getir Perdana Menteri Han sembari melepaskan genggaman putranya.
"Aku akan menyelamatkan Youra," timpal Jun lantang.
***
"Putri Shin, Anda tidak boleh menemui Jung Hyun lagi," bujuk para pelayannya.
Putri Shin tetap berdiri di tempat itu, melotot tajam pada Jung Hyun yang sedang terpaku. Bertemu kembali dengan mantan kekasih, merobek kembali luka yang tak kunjung sembuh. Jung Hyun mengalihkan cepat pandangannya, berjalan tegap melewati Putri Shin begitu saja.
"Pengkhianat."
Perkataan Putri Shin menghentikan langkah Jung Hyun. Ia meraba-raba kesalahan apa yang telah dilakukannya.
"Kau menipu Putra Mahkota." Sekali lagi, perkataan itu menghentak jiwa Jung Hyun yang sangat terluka. Mendengar isak tangis Putri Shin membuatnya tak mampu untuk mengelak.
Putri Shin tak menoleh sama sekali, dia hanya terus menampar Jung Hyun dengan kalimat-kalimat mengerikan itu.
"Kau tidak tulus menjadi pengawal adikku." Segera Putri Shin berbalik, sedikit mendongak menatap Jung Hyun.
"Aku salah, sudah jatuh cinta pada orang yang ingin melenyapkan adikku," tambah Putri Shin.
__ADS_1
Jung Hyun hanya bisa diam saja, tak mampu berkata-kata. Dia tidak mengerti, mengapa Putri Shin mengatakan hal seperti itu.
"Semua orang di istana ini ingin dia mati. Bukankah kau juga begitu?" tanya Putri Shin menggetarkan hati Jung Hyun.
Putri Shin melangkah mendekat, tangannya mendarat di dada Jung Hyun. "Kau ingin menyingkirkannya atas perintah seseorang, tapi kau tidak pernah bisa melakukannya, kan?"
Kalimat itu terus saja melemahkan Jung Hyun. Menampar hebat seluruh rasa menyedihkan itu.
"Jung Hyun, saat ini kau sudah melihat kebenaran. Masihkah kau membohonginya?" lirih Putri Shin.
Jung Hyun ingin segera menjawabnya, hanya saja mulut itu seolah tergembok kuat.
"Jika kau merasa Putra Mahkota tidak seperti yang dikatakan orang-orang, kau harus membantunya dan berhentilah mengikuti perintah orang yang sudah membayarmu untuk menyingkirkannya. Semua orang ingin dia mati, tapi aku yakin, jauh di dalam hatimu, kau ingin melindunginya."
Jung Hyun masih disana, dengan seluruh tanda tanya di kepalanya. Putri Shin mencurigainya. Kecurigaan yang benar-benar nyata. Jung Hyun, memang ingin melenyapkan Putra Mahkota, tapi dia benar-benar tidak bisa melakukannya.
Menyadari apa yang baru saja dikatakan Putri Shin, ia terpaku pada tombak hati yang menusuk. Langkah kecil Putri Shin perlahan menjauh, meninggalkan dia dengan rasa bersalah luar biasa.
"Pengkhianat."
Kata-kata itu terus saja menggentayangi pikirannya, hingga laki-laki sekuat dirinya, menangis pilu karenanya.
**
Di dalam ruangan kecil yang tersusun dengan bambu, Youra diantar untuk menikmati hari-harinya disana, sebagai saksi yang menaikkan statusnya sebagai tersangka utama. Tanpa alas kaki, tumpukan jerami itu diinjaknya hati-hati. Dia harusnya ketakutan, tapi sama sekali tak merasa ketakutan. Duduk di antara gelapnya malam, hanya dengan satu buah sumber cahaya yang menemaninya. Bulan, bersinar sangat terang, membantunya untuk tetap tenang, setidaknya sebentar saja.
Youra menyandarkan tubuhnya di dinding kayu itu dengan rasa sakit yang luar biasa. Sesuatu yang tak dapat dia mengerti.
"Peluklah aku, sekali saja."
"Sudah lama, aku ingin sekali mati di pangkuanmu."
"Apa jika aku mati, kau akan merindukanku?"
"Jangan menjauh dari sisiku lagi!"
"Jika tidak bisa mencintaiku, bisakah sedikit saja kau mengasihani aku?"
Terbayang olehnya seluruh perkataan sang suami. Menggetarkan hatinya yang ketakutan. Dia menyentuh dadanya itu, mengepalnya keras. Meremuknya hingga sakit itu hilang, tapi tetap saja sakitnya masih tertinggal.
__ADS_1
Youra menangis keras, terisak, tersedu-sedu, sangat menyakitkan, hingga tubuhnya tumbang terbaring menyilang.
"Aku ingin membunuhnya, lantas mengapa aku tidak ingin dia mati?!" sambil menangis, Youra berteriak menyedihkan, tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Sendirian, bersama seluruh rasa bersalah yang menghantui.