
Raja yang putus asa melemah hingga terhenyak di singgasana. Dia tak mengatakan sepatah katapun lagi setelahnya. Youra bergegas mendekati sang suami, merungkul pundaknya. "Yang Mulia?" lirih Youra menyebrangi lautan luka dalam yang sudah menggores ribuan sayatan di hati sang suami. "Pengawal, bawa Putri Shin menuju kediaman lamanya," perintah Youra.
"Baik, Yang Mulia." Segera para pengawal membawa Putri Shin beranjak dari sana. Putri Shin yang merasa bersalah, pasrah saja saat dibawa pergi dari sana. "Yang Mulia, jika Anda tidak mampu melanjutkan ... kita bisa menghentikan sidang ini sekarang juga." Youra berupaya keras menahan isak tangisnya agar raja tak semakin terluka.
Raja mengepal tangannya hingga bergetar. Sayup-sayup di kepalanya kembali terulang seluruh kisah antara dia dan Putri Shin.
Dulu, saat tak ada seorangpun yang mengunjungi Putra Mahkota yang kini sudah memimpin tahta, Putri Shin adalah satu-satunya yang datang ke istana sang adik. Dia menyisirkan rambut Putra Mahkota kecil sambil tertawa karena sisirnya tak sengaja patah. Orang pertama yang membawanya kabur keluar dari kediaman, orang pertama yang menarik tangannya bermain ayunan di bawah batang pohon sakura yang menua. Orang pertama yang membawanya bersembunyi dari ratu saat ratu murka.
Setiap kali ratu meyuapinya dan Pangeran Yul makan, Putri Shin adalah orang yang terus saja meminta ratu untuk menyuapkan Putra Mahkota juga. Bagaimana bisa, gadis yang terkenal ceria dan tak pernah punya masalah itu menderita karena dosa? Tak ada seorangpun yang menyangka, seorang putri negeri yang terkenal suci adalah orang yang sudah menyembunyikan kematian ratu asli.
Semua itu dia lakukan dengan terpaksa, lantaran takut kehilangan salah satu dari orang-orang terkasih.
***
Sebelum Putri Shin dibawa pergi jauh dari lapangan, dia menengandah ke langit. Lantas kembali berbalik pada raja yang sudah cukup tertekan. "Yang Mulia, mohon jangan tutup dulu sidang Anda."
Sekali lagi perkataan Putri Shin membanting imajinasi orang-orang untuk semakin mengutuknya.
"Hei! Bawah pengkhianat itu pergi dari sini!!!"
"Iya! Bawa pengkhianat itu pergi!!!"
Semua orang meneriaki Putri Shin dan melemparinya dengan apa-apa saja yang mereka temukan. Tak jarang dari mereka bahkan dengan tega melemparinya dengan kerikil.
Para petugas menyeret paksa Putri Shin yang tampaknya masih ingin menyampaikan sesuatu. Jung Hyun tak terima perlakuan rakyat kepadanya, dia tak tahan lagi hingga akhirnya berusaha mengejar dan melindungi Putri Shin. Tapi tiba-tiba langkahnya dihentikan oleh raja yang turun dengan arogan melewatinya. Raja berjalan cepat, memegang pundaknya. Saat itu seluruh petugas yang membawa Putri Shin langsung menyingkirkan tangan mereka dan bersujud pada raja.
__ADS_1
"Apa yang ingin Kakak sampaikan?" tanya raja masih bermurah hati. Meski kenyataan menyakitkan baru saja menamparnya, beliau tetap berlemah lembut seperti biasa pada Putri Shin walaupun hatinya sangat terluka.
Dengan wajah penuh lebam, Putri Shin memegang kedua lengan adiknya dengan tangan kosong. Wajah suci yang dulu sangat menyayanginya mendongak menatap sang adik.
"Di langit ... di langit ada suara." Putri Shin menyeka air mata adiknya. "Jangan menangisi aku. Ada seseorang yang sedang berjuang dengan rasa sakitnya yang jauh lebih buruk dari itu di langit," tambah Putri Shin. Raja ikut mendongak menatap langit.
Angin kian memburuk, memorak-porandakan bendera-bendera yang dipasang di istana. Ini bahkan lebih buruk dari badai-badai sebelumnya. Baru saja beberapa waktu yang lalu badai seolah mereda, kini langit seolah kembali marah.
"Singkirkan tanga kotormu dari raja, Pengkhianat!"
Tak peduli orang berteriak apa, raja dan Putri Shin masih berdiri berhadapan. Putri Shin lekas menatap Youra yang sedang tertegun dalam diam jauh disana. Tak selang berapa lama, Putri Shin berjalan mundur. Angin semakin kencang, petir pun kian meronta. Langit tampak tak peduli tentang berapa banyak mereka yang sedang berlindung dibawahnya. Para rakyat dan pejabat saling berbisik hingga lapangan terdengar seperti sarang lebah. Suara keributan yang saling tumpang tindih menciptakan keributan yang luar biasa.
Beberapa diantara mereka saling menodong satu sama lain, bahkan tak sedikit sampai bertengkar. Perdana Menteri Han melirik ke arah Kepala Menteri Perang, orang yang sudah menuduhnya. Saat itu Kepala Menteri Perang dan Won Bin bertekuk lutut di pinggir singgasan sembari diikat. Sementara Ha Sun masih dicekal para pengawal, tertunduk di atas tanah.
Lee Young yang berdiri di antara para menteri bersama membantu Pangeran Hon berdiri. Langit terus saja mengeluarkan kilatan yang jauh lebih mengerikan. Para rakyat enggan pulang karena penasaran tentang apa yang terjadi.
Youra yang sedang duduk di singgasana, ikut berdiri. Awan yang menghitam, menggelapkan sosok yang sedang berjalan disana. Tidak, sosok itu sedang berlari.
"Dayang Nari?"
Dayang Nari melewati singgasana. Dia berdiri di depannya, diantara raja dan ratu yang sedang terperangah. Wajahnya sangat tenang, dengan senyum teduh lagi menenangkan. Sayangnya, dia sangat pucat dan kelihatan berbeda dari biasa. Itu tak hanya terjadi hari ini, itu terjadi selama beberapa waktu belakangan ini.
Dayang Nari membungkukkan tubuhnya cukup lama ke semua orang, karena dia hanyalah seorang pelayan. "Yang Mulia, izinkanlah hamba memberikan kesaksian."
"Apa lagi ini?!" Semua orang berteriak penasaran. Setelah bertubi-tubi ditimpa kenyataan, kali ini takdir malang semakin mendekat. Semua itu terlihat, karena ketika Dayang Nari menghentakkan langkahnya di tengah lapangan, petir yang dari tadi menggelegar semakin menjadi-jadi. Namun, hujan tak juga turun, seolah memberikan pertanda bahwa negeri itu belum lepas dari kenyataan pahit.
__ADS_1
Raja segera berjalan naik ke singgasana. Duduk di sebelah Youra lantas memeluk istrinya. Karena tahu Dayang Nari adalah pelayan pribadi sang istri, raja yang risau mendekap Youra yang mulai cemas. "Istriku, kau menyetujuinya?" tanya raja. Youra menatap sang suami yang juga sedang ketakutan. Dia meraup segala emosi dengan satu kali hembusan napas panjang.
"Silakan," jawab Youra.
Dayang Nari mengangkat kepalanya. "Terimakasih."
Saat itu, aku tak pernah membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dayang Nari melangkah mundur, sangat jauh dari singgasana dengan wajah yang tertunduk senyum.
Dia tersenyum di depan semua orang, tapi aku bisa merasakan sakit yang amat dalam disana.
Dayang Nari melepas Binyeo (tusuk rambut sebagai tanda pelayan dengan pangkat tertinggi di istana) yang menunjukkan betapa terhormatnya dia sebagai pelayan pribadi seorang ratu.
Dia terlihat aneh belakangan ini. Dan entah kenapa ... semuanya terasa menyakitkan, meski dia belum bersuara.
Dayang Nari meletakkan Binyeo itu dengan hati-hati di bawah kakinya.
Dia ...
Dayang Nari mengangkat wajahnya. Dadanya terlihat naik turun meski wajahnya tak memperlihatkan kekhawatiran.
Dayangku ...
"Lebih dari dua puluh tahun yang lalu, raja yang sangat dicintai oleh rakyatnya, raja yang memberikan keturunan-keturunan hebat, membunuh seorang peramal terkenal dengan tangannya sendiri tetapi tidak merasa bersalah sama sekali."
__ADS_1
Dayang yang aku kenal sebagai putri seorang tabib, dia ...
"Dan aku adalah putrinya. Aku seorang peramal yang menyamar sebagai pelayan di istana terkutuk ini," sambungnya.