
Sementara itu, Lee Young dan Won Bin segera memulai atraksinya.
Won Bin dan Lee Young, kini mereka saling membungkuk hormat. Sesaat kemudian setelah mereka berdiri tegap, dengan sigap Won Bin menarik pedangnya untuk segera menyergap Young.
Aku tak akan marah pada siapapun.
Young yang menyadari itu, segera menarik pedangnya dan menangkisnya dengan cepat.
Meski harus mati karenanya.
Pemandangan itu membuat orang-orang hampir saja berteriak. Di sisi lain istana, para wanita istana dapat melihat dari jauh pemandangan itu. Putri Shin dan beberapa putri keluarga kerajaan juga penasaran dan dengan hati-hati mengintip dari celah-celah tiang dan gerbang. Mereka menutup mulut mereka dengan tangan karena terkejut agar suara teriakan mereka tak terdengar. Sementara itu, kini Won Bin dan Lee Young saling bertatapan.
Aku dan harapanku, berharap semuanya akan menjadi teman.
Dua Pedang yang Bersilang
Won Bin menarik pedang hingga tak lagi bersilang dengan pedang Young. Kini mereka berdiri kokoh dengan pedang yang erat mereka genggam masing-masing. Lee Young tak memulai apapun. Dia hanya mengikuti alur agar tak menyakiti siapapun. Namun Won Bin tanpa etika menyeka ganggang pedang Young dengan ujung pedangnya, sehingga Young hampir saja terluka. Benar saja, meski begitu, Young dengan tangannya yang kokoh, tidak terpengaruh. Ia masih dengan pedangnya. Semua orang mulai berteriak. Bersorak gembira, bertepuk tangan, seolah-olah menyaksikan sebuah pertarungan sungguhan.
Tak lama setelah itu, Won Bin menarik pedangnya ke belakang, ia tampak ambisius. Ia mengarahkan pedangnya pada dada Young yang membuat Young terkejut. Dengan cekatan Young mundur, sehingga pedang itu tidak mengenainya.
Berkali-kali Won Bin mengarahkan pedangnya pada tubuh Young. Young terus mengelak tanpa melakukan perlawanan. Ia berkali-kali menunduk, berguling dan melompat menghindari pedang itu. Kali ini, dengan cara yang berbeda, Young menjatuhkan tubuhnya dan mengarahkan pedangnya pada kaki Won Bin sehingga Won Bin melompat dan terjatuh karena keseimbangannya berkurang.
Mendengar orang-orang berteriak menyebut namanya, Won Bin yang terjatuh tersenyum sinis. Dia berdiri, berusaha mengumpulkan seluruh emosinya hingga tampak dari wajahnya yang penuh dendam. Ia menyeka keringat di dahinya dengan semangat.
Pangeran Hon tampak khawatir.
“Apa-apaan ini, seharusnya mereka tidak saling melukai,” ucapnya khawatir.
“Bukankah ini sangat seru?” balas Pangeran Yul.
Raja yang melihat itu hanya diam saja tanpa berkata apapun. Ia hanya terus memandang dua putra yang kini tampak serius bertarung. Penasehat negara yang melihat putranya itu, segera mendekati singgasana raja.
“Yang Mulia, bukankah ini sudah diluar batas? Apa sebaiknya dihentikan saja? Mereka masih muda. Sangat sulit bagi mereka mengontrol emosi. Hamba tidak mau kelalaian mereka nanti akan berdampak buruk pada pandangan rakyat diluar sana,” katanya pada raja.
“Kau khawatir pada putramu? Bukankah dia siswa militer terbaik? Sudah lama sekali, sejak putraku lahir, dia pasti tumbuh seusia putramu, aku tidak pernah melihatnya bertarung dan berpedang. Aku ingin menyaksikan ini. Setidaknya, aku terhibur meski bukan putraku yang pandai itu. Aku juga ingin melihat, seperti apa kemampuan mereka,” jelas raja.
__ADS_1
Penasehat negara, ia hanya terdiam di tempat sambil terus memperhatikan wajah sang raja yang sedang menyaksikan penampilan itu. Penasehat negara menyatukan kedua tangannya, berharap segalanya cepat berlalu dan membawa putranya kembali pulang.
Penasehat negara menoleh ke arah lapangan dengan sangat cemas.
“Putraku..," gumamnya.
**
“Apa hanya itu yang bisa dilakukan siswa terbaik?" sindir Won Bin padanya.
Young, ia menoleh pada ayahnya.
“Aku berdiri disini untuk menghibur Yang Mulia, bukan untuk membunuhmu,” jawab Young padanya.
“Cih! Kau memperoleh popularitas menggunakan ayahmu!" bentak Won Bin sembari mengacungkan pedang ke wajah Young.
Young menatap pedang Won Bin. Ia mengangkat alis kirinya. Tak lama setelah itu, ia menangkis pedang itu yang malah membuat Won Bin semakin tertantang.
Pertarungan mereka semakin seru, karena satu diantara mereka tidak terlihat lelah sedikitpun. Pertarungan yang lebih mirip ajang mempertahankan diri, memperlihatkan bagaimana Lee Young sama sekali tidak melakukan perlawanan.
Saat yang bersamaan, Won Bin mengarahkan ujung pedangnya. Secara tak terduga, untuk pertama kalinya, Young mengangkat tinggi pedangnya, dan menangkis pedang Won Bin membuat tangannya terhentak hingga Won Bin jatuh dengan pedangnya.
Melihat pemandangan itu, orang-orang terdengar meneriaki nama Lee Young. Kini Won Bin tampak kesakitan. Ia terus memegang pergelangan tangannya. Sementara itu, raja yang terkejut tampak lebih fokus. Ia sepertinya sangat menikmati atraksi yang ia pikir hanya penampilan biasa.
Penasehat negara memandang wajah sang raja.
“Yang Mulia, mengapa, mengapa anda seperti ini..,” gumam penasehat negara itu merintih sedih.
Sementara itu, melihat sang putra tampak terluka, kepala menteri perang tampak tidak terima, ia memandang tajam ke arah penasehat negara. Kemudian ia berdiri dari tempatnya duduk dan berteriak dari kejauhan, membuat semua orang termasuk Young dan Won Bin terdiam.
“Yang Mulia! Bukankah Anda mengatakan ini hanya sebuah pertunjukan? Lihat pemuda tidak beretika itu, ia melukai pergelangan tangan putraku! Tolong hentikan ini Yang Mulia..,” pintanya pada raja sambil membungkuk hormat.
Raja yang mendengar itu, ia tampak bersemangat, dan enggan menghentikannya.
Sementara itu, Pangeran Hon yang tidak suka melihatnya cepat-cepat berlari ke arah raja.
__ADS_1
“Yang Mulia Ayahanda, tolong hentikan pertunjukan ini. Ayahanda juga harus melakukan pengujian akademik pada pemuda lain,” kata Pangeran Hon pada ayahnya, mencoba menarik sedikit simpatik raja.
“Tenanglah Putraku. Saat ini, mereka sudah memulai pengujiannya,” jawab raja.
Tiba-tiba,
Won Bin yang tadi terjatuh, kini berdiri merapikan jubah mewahnya. Ia berjalan cepat, tiba-tiba berlari menyerang Young dan melesatkan pedang tepat di lengan kanan Young. Hingga lengan itu tampak mengeluarkan darah. Raja yang melihat itu langsung berdiri dari singgasananya. Saat raja hendak menghentikan pertunjukan itu, Young yang tadi tertunduk jatuh dengan lengan yang terluka kembali berdiri dengan sigap, membuat Raja menghentikan niatnya.
Demi ibuku..
Kini Young memegang pedang itu dengan tangan kirinya. Ia mulai maju tapi tidak mengayunkan pedangnya. Won Bin yang melihat itu tertawa keras.
“Seorang pecundang mencoba mencari perhatian raja, agar kau terlihat kuat?” ledek Won Bin.
“Bukankah sekarang kita satu sama?" sinisnya pada Young.
Young sambil memegang tangannya yang terluka memandang ayahnya.
Demi ayahku…
Saat bersamaan Young yang lengah tidak sadar Won Bin segera melesatkan pedangnya, sedikit terlambat menangkis serangan itu, hingga ia terjatuh dan kini pedang itu terlepas dari tangannya. Orang-orang menjadi sangat bersemangat.
Young yang terjatuh itu, tiba-tiba saja tersenyum.
Demi adikku…
Kini, mata tajam sang pemilik wajah tampan itu menatap dengan tatapan yang sangat menakutkan. Senyuman yang lebih mirip seringai mematikan itu membuat orang-orang merinding takut. Young tidak berdiri, dan hanya terus memandang Won Bin.
Demi keluargaku, haruskah aku membunuh manusia bodoh ini?
Young berdiri tanpa pedangnya. Tak lama setelah itu, dia berlari dan menendang betis Won Bin. Won Bin yang terjatuh mencoba bangkit kembali, mengumpulkan seluruh tenaga yang tersisa untuk berdiri dan dengan brutal berlari cepat membawa pedang untuk melukai Young lagi. Young menghindar. Dengan seni bela diri yang ia miliki ia melompat tinggi dan mengelabui Won Bin, hingga Won Bin tidak sadar kini Young memegang lengan pemuda ambisius itu, dan memutar lengannya ke belakang. Won Bin tampak tidak terima. Tapi, ia bahkan tidak punya tenaga untuk melepaskan penahanan yang dilakukan Young. Young kembali memutar tubuh Won Bin hingga pemuda itu tersungkur di lapangan.
Dari tatapannya, Won Bin seakan tidak menyerah, semakin lama dia semakin tidak dapat menerimanya. Ia berancang-ancang melukai Young lebih.
Namun, saat hendak melakukan aksinya, seorang pemuda tiba-tiba saja angkat suara, menghentikan semua pertarungan, dan membuat orang-orang menoleh padanya.
__ADS_1
“Yang Mulia! Pertarungan ini tidak dapat dilanjutkan!".