Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Youra, Berikan Aku Hadiah


__ADS_3

Ha Sun, suami Putri Shin datang ke istana hendak menyeret sang istri pulang ke rumah. Pemandangan epik yang mencuri seluruh perhatian berhasil menggemparkan seluruh negara. Putri raja yang dikenal berbakti dan berbudi luhur tak pernah pulang ke rumah. Duduk diam di istana menuntut sesuatu yang tidak mereka ketahui.


"Pulang kau ke sekarang juga!" Ha Sun datang untuk menjemput samg istri. Namun, Putri Shin tak juga mau beranjak dari sana. Tetap pada pendiriannya.


"Putri Shin!" Ha Sun akhirnya terpaksa menarik kasar lengan wanita yang menjadi obsesinya itu. "Jangan sampai kau mempermalukan aku dan Ibumu," bisik Ha Sun menekan. "Aku tidak akan pulang, sebelum dia membebaskan Jung Hyun." Putri Shin membalasnya dengan penekanan pula. Bahkan lebih dalam dan menusuk.


"Wanita busuk! Kau harus menggugurkan bayi itu sekarang juga." Ha Sun menekan Putri Shin sembari melirik semua orang. Tak ada yang boleh mendengarkannya. Semua orang harus menganggap bahwa mereka adalah keluarga bahagia.


"Aku tidak akan melakukannya. Aku tidak akan pernah melakukannya!" Putri Shin berdiri, menarik tangannya dari sang suami. Tertatih-tatih Putri Shin mendekat ke pintu gerbang istana Ratu Kim. "Ratu! Kalau Anda tetap tidak mau melakukannya, aku bersumpah! Istana ini yang akan menghancurkan Anda!"


Tiba-tiba tepat setelah Putri Shin mengeluarkan sumpahnya, langit seolah ikut bicara. Awan berubah mendung secara mendadak. "Yang Mulia! Aku bersumpah! Langit akan segera menghukum Anda!" Para opsir melihat wajah itu. Wajah dingin dengan seluruh sumpah itu tak lagi menangis. Dia berdiri kokoh di bawah gelapnya langit. Terus menatap tajam ke gerbang tinggi yang tak pernah terbuka untuknya.


Ha Sun yang ketakutan mendongak ke atas, memandangi betapa gelapnya langit setelahnya. Ia mendekat kepada Putri Shin, menariknya paksa untuk segera pulang. "Apa yang kau lakukan? Jangan berteriak seolah kau sedang bertengkar dengan Ibumu." Ha Sun menahan tangan Putri Shin kuat dalam genggamannya. Memaksa gadis itu mengikuti langkahnya pulang ke rumah.


"Ibu ... aku sangat membencimu."


Putri Shin akhirnya mengalah. Ia membuang muka dari gerbang istana. Menatap langit gelap yang mulai menunjukkan murka.


***


"Suamiku, apakah akan turun badai? Mengapa langit gelap sekali?" Ara berdiri di depan jendela bilik mereka, disusul Pangeran Yul yang melingkarkan tangan di perut istrinya. "Apa kau takut?" tanya Pangeran Yul.


"Tidak, Suamiku. Hanya saja, firasatku sangat buruk." Pangeran Yul melepaskan pelukannya, ia mendekati jendela itu dan mulai berkeringat. "Benar. Ini pertanda buruk."


"Apa Ibu baik-baik saja di istana? Sudah lama, aku tidak mengunjunginya."

__ADS_1


***


Saat itu, Putra Mahkota dan Youra hanya berdua di kaki gunung. Sesaat setelah Young meninggalkan mereka, Youra belum juga bangun dari tidurnya. Langit yang gelap membuat Putra Mahkota khawatir. Dia terus mengawasi sang istri yang sedang tertidur. "Lama sekali dia bangun," gerutunya.


Gemuruh yang menyambar cukup kuat, membuat Putra Mahkota terpaksa melakukan seluruh kegiatan itu sendiri. Ia menggeser seluruh kayu kering agar tak terkena hujan. Putra Mahkota hendak mengambilkan sang istri air di anak sungai yang tak jauh dari tempat mereka bersembunyi. Hanya saja, dia takut meninggalkan istrinya sendirian di gubuk itu.


Namun, mengingat kembali Youra yang terus berbicara soal mata air, membuat Putra Mahkota berkeinginan untuk mewujudkan. Beliau takut badai datang menerjang, hingga mereka tak punya persediaan air bersih.


Akhirnya, pria tampan itu memberanikan diri untuk menimba air di sungai. Membawanya sedikit demi sedikit masuk ke dalam sebuah tong besar di belakang gubuk mereka. Pikirnya, jika badai benar-benar terjadi, Youra tak perlu lagi khawatir soal air bersih.


Youra berusaha mengumpulkan seluruh kesadaran yang telah lama tertinggal. Ia terlalu lama tidur hingga tidak sadar telah membiarkan sang suami bekerja sendirian. Youra duduk, dan menguap cukup lebar. Matanya berkelana ke seluruh isi ruangan sempit itu. Namun, pikirannya masih saja kosong. Hingga akhirnya, matanya tertuju pada seorang pria di luar sana yang sedang memegangi perutnya yang kembali berdarah, bertemankan dengan awan gelap.


"Yang Mulia?" Youra langsung tersentak, berlari keluar dari biliknya menghampiri sang suami. "Yang Mulia, Anda baik-baik saja?" Putra Mahkota terkejut melihat wanitanya sangat kusut menaruh cemas.


Youra kembali berlari ke dalam bilik, mendapati sang suami yang sedang memandangnya manja. "Anda yang melakukan semua itu sendirian?" tanya Youra. Putra Mahkota mengangguk, tersenyum bangga.


"Suamiku, harusnya Anda membangunkan aku, bukannya mengerjakan semuanya sendiri seperti itu. Bagaimana kalau Anda sakit lagi? Ayo bukalah pakaian Anda. Kita oleskan obat dan mengganti pembalutnya." Youra mengeluarkan barang-barang bawaannya, mencari obat sang suami yang telah ia bawa. Youra yang cerewet membuat suaminya senyum-senyum sendiri.


"Bukakan." Putra Mahkota menepis Youra hanya dengan satu kata perintah. Youra tertegun, menyadari kenyataan bahwa saat ini mereka hanya sedang berduaan.


"Bu-bukakan?" Youra sangat canggung karena mata tajam suaminya sedang menguasai dirinya yang malu-malu. "Jangan membuatku marah, Sayang." Putra Mahkota masih dengan sifatnya yang suka memaksa.


Youra menggeser tubuhnya lebih dekat, pelan-pelan mulai membukakan pakaian sang suami.


Bruk!

__ADS_1


Suara angin yang menghantam pintu mengejutkan Youra hingga ia memeluk suaminya. "Ma-maaf, Yang Mulia." Youra beranjak dari tempat itu, sebentar saja keluar mengambil lampu pelita untuk menerangi gelap mereka. Setelah kembali, ia menutup pintu biliknya.


"Maaf, Yang Mulia. Tempat ini berbeda jauh dengan istana. Anda pasti tidak nyamankan?" tanya Youra merasa bersalah. "Aku sengsara di semua tempat yang tidak ada Youra di sana. Dan aku bahagia di semua tempat yang ada Youra di sana. Jadi aku sangat senang sekarang. Maka jangan membuatku marah dengan mengalihkan pembicaraan seperti ini. Bukakan pakaianku." Putra Mahkota mengatakan itu tanpa raut wajah. Dia terus saja menatap Youra yang memerah.


"Si-siapa yang mengalihkan pembicaraan. Anda lucu sekali." Youra berkilah. Ia membantu suaminya membuka pakaian, tetapi enggan untuk memandangi tubuh gagah itu. "Youra, apa kau tidak suka pada tubuhku? Aku berolahraga setiap hari. Aku pandai memanah, berkuda, berpedang, dan bela diri. Apa itu kurang?"


DEG


Sebenarnya, suamiku ini bodoh atau bagaimana? Mustahil sekali aku tidak menyukainya. Apa dia tidak mengerti aku sedang malu sekali?


"Bukan begitu, Yang Mulia. Aku hanya ... "


"Sudah kuperintahkan jangan memanggilku seperti itu. Panggil aku 'Suamiku' atau 'Sayang'. Kau mengerti?"


Youra menghela napasnya karena kesal, menciptakan senyum manis di wajahnya. "Aku sangat mengerti Suamiku Sayang."


"Kalau begitu, ayo cepat buka pakaianku." Putra Mahkota kembali mengutarakan keinginannya. Tampaknya sebelum Youra benar-benar melakukan, ia tidak akan berhenti mengeluarkan perintah.


Youra akhirnya memberanikan diri membuka dan menatap lekuk otot yang menjajar indah di tubuh suaminya. Sempurna. Tak ada kata lain yang dapat menggambarkan betapa eloknya tubuh itu.


"Sayangku, kau tahu betapa mahalnya tubuh ini? Aku memberikannya kepadamu seutuhnya. Tubuhku masih suci dan tidak pernah dilihat apalagi disentuh oleh orang lain. Aku menjaga segalanya hanya untukmu. Jadi nikmatilah pemandangan ini dengan baik." Putra Mahkota kembali menggoda Youra dengan kata-katanya.


"Suamiku, Anda benar-benar sangat cerewet." Youra menarik lepas seluruh pakaian itu, hingga Putra Mahkota akhirnya bertelanjang dada.


"Youra berikan aku hadiah."

__ADS_1


__ADS_2