Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Jun dan Putra Mahkota


__ADS_3

Di luar sana, para dayang yang berjaga sibuk bergosip dan saling menyebar informasi. Kabar kedatangan Youra dan Pangeran Hon jadi bahan pembicaraan yang lucu bagi para pelayan yang bertugas. Tak sengaja, Jun yang kala itu sedang melangkah gontai menuju istana mendengar percakapan para dayang.


"Bukankah itu sangat romantis? Pagi sekali Putri Mahkota sudah datang ke kediaman Putra Mahkota. Aku juga bisa melihat Pangeran Hon disana. Wah benar-benar sangat tampan."


Jun memutar langkahnya untuk tak mendengarkan, tetapi semakin dia menghindar semua pembicaraan itu semakin jelas dan terasa. Jun melangkah cepat menuju istana Putra Mahkota, menggali informasi lewat seorang penjaga. "Maaf, apa Yang Mulia ada di dalam?" tanya Jun pada salah seorang opsir.


"Maaf Tuan Muda, saat ini Putra Mahkota tidak bisa diganggu, beliau sedang bersama permaisurinya."


"Kurang ajar!"


Mendengar kenyataan itu, Jun merasa ada yang membelenggu jiwanya yang hampir hilang. Panah itu terasa menembus jantungnya hingga sakitnya luar biasa. Dia mengepal tangannya kuat hingga tubuhnya bergetar. "Sejak kapan?" tanya Jun.


"Sudah sejak tadi, Tuan."


Mendengarnya, Jun hampir gelap mata. Ingin sekali masuk, menerobos kediaman Putra Mahkota dan membunuhnya hari itu juga. Dia tak mampu berpikir jernih. Dua orang yang sudah menikah, sedang bersama di dalam bilik berduaan saja, apa tidak mungkin bagi mereka untuk melakukan hal yang lebih intim lagi. Jun tak bisa mengolah pikiran itu. Sebagai seorang pria, dia tahu apa yang akan terjadi jika mereka dibiarkan berlama-lama.


"Katakan pada Putra Mahkota, ada yang ingin aku bicarakan. Ini penting," tambah Jun mengalihkan.


***


Di dalam sana, Youra tersipu. Malu sekali rasanya mengingat kejadian tadi, saat sang suami mengecup mesra bibir indahnya. Anehnya, tubuhnya terkunci. Tak bisa menolak atau memberontak. Jantung Youra menunjukkan reaksi yang luar biasa. Terus saja berdetak kencang.


"Jangan memalingkan wajah dari suamimu lagi." Suara itu terdengar memelas manja. Youra tak habis pikir, ternyata Putra Mahkota yang gagah sangat lembut dan terlihat seperti bayi di depan wanita yang dicintainya.


Bagaimana aku tidak memalingkan wajah, jika terus diperhatikan seperti ini?


Kasim Cho datang membawakan hidangan pagi. Tak sengaja melihat adegan mesra itu sekilas. Putra Mahkota sedang memandangi wajah cantik sang istri yang sedang membersihkan darah di wajahnya. "Ma-maaf, maaf Yang Mulia. Ini, sarapan pagi untuk Anda." Kasim Cho sangat senang melihatnya, setidaknya bisa melihat Putra Mahkota diperlakukan manis. Cepat-cepat Kasim Cho segera keluar, tetapi..


"Kasim Cho." Panggilan Youra menghentikan langkah terburu-buru Kasim Cho. "Ya, Yang Mulia?"


Youra beranjak dari ranjang, melepaskan pandangan Putra Mahkota dari wajahnya. Wajah Putra Mahkota berubah menjadi begitu sedih, dia terus menundukkan matanya setelah Youra beranjak mendekati Kasim Cho. Sangat jelas raut kekecewaan itu di mata sang suami, tetapi Youra tampaknya tetap tak peduli atau mungkin tidak mengerti.


Kasim Cho melihat Youra mendekat, melirik Putra Mahkota pelan-pelan. Di atas ranjang itu, Putra Mahkota mematung kecewa. "Maaf Yang Mulia, adakah yang bisa aku bantu?" tanya Kasim Cho berusaha menahan kepergian Youra.

__ADS_1


Youra semakin mendekat, meraih hidangan pagi yang Kasim Cho bawakan. "Bisa bawakan aku air jahe hangat?" tanya Youra sembari membawa hidangan itu menjauh. Sudut tawa kembali terukir di wajah Kasim Cho. Tampaknya Youra masih betah untuk berlama-lama bersama suaminya, terlihat dari langkahnya yang kembali mendekati Putra Mahkota.


Youra kembali duduk di atas ranjang itu, meletakkan hidangan di atas kenap sebelah ranjang suaminya. Putra Mahkota yang tadinya tertunduk sedih, mengangkat wajahnya terkesiap. Sangat bersemangat, terus saja menatap wajah sang istri yang sedang berbincang dengan Kasim Cho.


"Suamiku harus segera pulih. Sebagai calon pemimpin negeri yang akan selalu sibuk, dia tak boleh sakit terlalu lama," tambah Youra sembari mengambil beberapa lauk.


Kasim Cho tersenyum lebar, "Baik. Siap laksanakan, Yang Mulia." Segera Kasim Cho bergegas melaksanakan perintah.


"Apa yang baru saja kau katakan?" tanya Putra Mahkota yang merasa tak percaya. Youra kebingungan, tidak tahu apa maksud suaminya.


Dia duduk di sebelah Putra Mahkota, memberikan semangkuk nasi dan lauk. "Makanlah, supaya Anda bisa segera pulih."


Putra Mahkota tak meraih mangkuk itu, dia terus menatap Youra. "Ini pertama kalinya, kau memanggil aku dengan sebutan "suamiku" seperti tadi."


Youra terperanjat, dia baru menyadari ucapan yang keluar dari mulutnya tadi. Berusaha untuk tidak menanggapi. Terus saja menyodorkan semangkuk nasi itu. "Aku tidak mau makan, sebelum kau yang menyuapkannya." Putra Mahkota semakin melonjak manja.


"Anda masih punya tangan untuk makan, kenapa tidak makan sendiri?" balas Youra dengan nada yang sedikit kasar. Raut wajah Putra Mahkota kembali memudarkan kebahagiaan.


"Lee Youra, kenapa kau begitu kejam?" balas Putra Mahkota kecewa. Putra Mahkota menggeser kenap itu menjauh, sebelum kembali berbicara. "Baru beberapa waktu yang lalu kau membuatku ingin tetap hidup. Tapi sekarang kau malah membuatku ingin mati kembali. Mengapa kau sekejam itu?" Kali ini nada Putra Mahkota sangat jantan, menunjukkan betapa seriusnya dia terluka.


Youra menghela napas, mengambil semangkuk nasi itu terburu-buru. "Yang Mulia, Anda ini sangat menyebalkan," gerutu Youra di depan suaminya. Akhirnya kalah, Youra hendak menyuapi suaminya, tetapi tak lama Kasim Cho kembali sekaligus membawa berita penting.


"Yang Mulia, Guru Jun ingin berjumpa dengan Anda. Beliau mengatakan ini persoalan menyangkut kebijakan penting yang telah Anda sepakati dan harus segera dibicarakan."


Kak Jun?


Youra terpelongo, mencoba untuk menyadarkan dirinya yang hampir saja terlena. Dia terburu-buru meletakkan kembali semangkuk nasi itu. Merapikan rambut dan gaunnya dengan hati-hati. "Maaf Yang Mulia, aku rasa lebih baik Anda menemui beliau. Aku hari ini harus melakukan pemeriksaan di istana wanita utama bersama ratu. Mohon undur diri."


Putra Mahkota ingin menghentikan langkah itu, tetapi tampaknya Youra berusaha keras untuk pergi. Setelah membungkukkan tubuhnya, Youra beranjak dan keluar terburu-buru. Dayang Nari terkejut melihat Youra mendadak keluar menerobos pintu. Langkah Youra terhenti di depan gerbang istana suaminya. Jun sedang berdiri disana, membungkukkan tubuhnya untuk memberikan salam hormat pada Youra. "Senang bertemu Anda disini, Yang Mulia Putri Mahkota."


Deg.. Deg..


Youra hampir saja terhenyak, tetapi dengan sigap Dayang Nari membantunya untuk tetap kuat. Dengan jelas Youra melihat Jun sedang marah. Nada Jun tak lembut seperti biasanya. Mereka saling melirik satu sama lain, tetapi Youra segera memalingkan wajah. "Bagaimana pagi Anda yang indah, Yang Mulia?" tanya Jun menampar ketakutan bagi seluruh pelayan. Dalam adat dan tradisi, dilarang keras bagi pemuda lain untuk berbicara dengan wanita milik penguasa istana. Namun, karena hati yang terlanjur pedih, Jun tak tahan untuk terus menyindir rasa sakit itu. Mereka berselisih, meninggalkan luka di hati masing-masing.

__ADS_1


***


Jun masuk ke dalam kediaman Putra Mahkota. Pemandangan yang dia lihat membuatnya sangat terluka. Putra Mahkota menggunakan jubah mandi saja, membuatnya berpikir buruk. "Selamat datang, Guru Jun," sapa Putra Mahkota berusaha keras menahan kesedihannya karena ditinggal Youra pergi.


"Terkutuklah kau pemimpin hina. Cepatlah mati sebelum langit menghukummu."


Jun terlalu lama terpaku di tempat. Sangat jelas dia sedang bergulat dengan emosinya yang menyulut. Jun mengepal tangannya, lantas mengangkat wajah.


"Yang Mulia, propaganda ekonomi mengacu pada titik balik kebudayaan yang sudah kita jaga. Aku ingin Anda memberikan izin untukku mengolah kekayaan adat Desa Barat. Berikan aku, hak sepenuhnya."


Putra Mahkota tercengang. Jun terlihat sangat lantang dan memaksa meminta Putra Mahkota memberikan hak penuh untuknya mengolah saham Desa Barat. Sangat aneh, ini pertama kalinya Jun meminta hak yang begitu berlebihan.


"Apa ini alasannya Anda terburu-buru menemuiku?" tanya Putra Mahkota. Jun tersenyum, menunjukkan kekuatan hatinya yang mulai rapuh.


"Aku mendengar gosip tentang Anda di sekitar istana. Calon pemimpin negeri, masih pagi sudah bercumbu dengan istri padahal negeri dalam keadaan darurat." Sangat lantang dan berani. Perkataan Jun terbilang sangat tidak sopan dan penuh emosi.


Putra Mahkota mengernyitkan dahi, belum lagi membantah, Jun sudah kembali meneruskan. "Itu perkataan penghuni istana, Yang Mulia. Hamba kemari untuk memberitahu Anda, agar berita ini tidak tersebar kepada rakyat," kilah Jun bersama senyum palsunya.


Putra Mahkota berusaha sabar dan tenang, merapikan serpihan hati yang sudah hancur untuk kembali hidup. "Mereka tidak tahu apa-apa. Jangan terlalu memikirkan hal itu."


Jun tertawa kecil, "Tentu saja aku tahu Anda tidak seperti itu, Yang Mulia. Namun, apa menurut Anda mereka percaya?"


"Tentu saja aku tahu, karena istrimu mencintaiku, Putra Mahkota!"


Jun berdiri, segera undur diri dari kediaman Putra Mahkota. Saat langkah itu hampir saja sampai ke pintu bilik sang pewaris tahta, Putra Mahkota ikut berdiri setelahnya.


"Aku tahu semua orang membenciku. Mereka ingin aku pergi dan mati secepatnya, termasuk Anda, Guru Jun." Perkataan Putra Mahkota memberhentikan langkah Jun yang sakit hati.


"Namun aku tetap akan hidup, jika istriku menginginkannya."


Mendengar perkataan Putra Mahkota, Jun mengepal tangannya sangat kuat, lebih bergetar dan sakit hati lagi. Dia membalikkan tubuhnya dan tertawa. "Hahah, aku tidak seperti mereka, Yang Mulia. Aku ingin Anda menjadi pemimpin negeri ini suatu hari nanti."


"Baru kemudian mati di tangan istrimu sendiri."

__ADS_1


__ADS_2