
Sejak saat itu, Youra selalu bertemu Jun tanpa sepengetahuan kakaknya untuk belajar. Mereka selalu bertemu tak jauh dari kaki gunung.
“Kau tidak bersama Nana. Jadi, boleh aku yang mengantarmu pulang?” tawar Jun pada Youra yang sangat canggung.
“Kakak tidak mengizinkanku bertemu dengan siapapun, apalagi memberitahu orang lain tentang tempat tinggal kami sekarang,” tolak Youra.
“Kita tidak baik terlalu jauh dari daerahmu tinggal. Kakakmu pasti punya maksud baik untuk semua itu. Sepertinya jauh dari tempat tinggal adalah perkara yang buruk. Ah, ini,” Jun memberikan sebuah buku kepada Youra.
“Kita bertemu dua hari lagi di sungai kehidupan yang dekat dengan kaki gunung. Belajar disana akan jauh lebih aman untukmu. Jangan lupa dibaca. Itu buku sastra terbaik yang pernah aku baca".
Youra mengambil buku itu dengan senang hati.
“Terimakasih Guru Jun,” Youra pergi meninggalkan Jun dan berlari pulang.
**
Pada saat yang bersamaan, di istana, Putri Shin duduk termenung di atas ranjangnya dengan penuh kecemasan. Ia tidak pernah keluar sekalipun dan hanya terus-menerus bersedih. Sementara itu, istana sibuk mengurus perjodohan Putri Shin dengan putra tunggal menteri keuangan dan perpajakan.
Mengetahui kabar putrinya yang tidak pernah keluar kamarnya, ratu bersama para pelayannya mengunjungi kediaman sang anak membawakan makanan kesukaannya. Ia masuk menerobos tanpa persetujuan putrinya.
“Bangun dan makanlah".
Seorang pelayan ratu meletakkan nampan berisi jamuan makan siang untuk sang putri. Namun, Putri Shin tidak bangkit dari tidurnya sama sekali. Karena cemas, sang ibu mendekat dan membantu putrinya duduk.
Ratu mengambil sesendok nasi dan berusaha menyuapi sang anak.
“Ini, makanlah sedikit".
Putri Shin yang matanya bengkak karena menangis sepanjang malam membuat sang ibu bingung.
“Apa yang terjadi pada putriku yang cantik dan ceria?”.
Putri Shin menyambut suapan ibunya dengan air mata. Sang ibu yang melihat putrinya bersedih jadi ikut menangis.
“Sudah lama, aku tidak menyuapimu makan. Tolong hargai ibumu yang sekarang ada di depanmu ini”.
Putri Shin yang mulutnya penuh nasi terisak menahan tangisnya.
“Ibu, aku tidak ingin menikah, aku mohon,” sang anak tiba-tiba saja memohon.
Ratu yang tadinya tersenyum, menjadi marah. Ia melepaskan pelukannya pada sang anak dan berdiri karena emosi meninggalkan rasa sakit di hatinya.
“Apa kau sudah gila? Apa kau tidak ingat bagaimana perjuanganku selama ini untuk kalian?!” teriak ibunya padanya.
Putri Shin semakin menangis. Karena geram ratu mencampakkan mangkuk nasi itu dari tangannya dan hendak pergi. Tapi,
“Apa Ibu benar-benar melakukan semua ini untuk anak Ibu? Ibu tidak melakukan apapun untuk anak Ibu. Ibu melakukan ini sebagai ratu, bukan sebagai ibu".
Ratu yang terhenti melanjutkan perjalanannya meninggalkan kediaman sang anak. Saat itu, ternyata Pangeran Yul ingin mengunjungi sang kakak. Namun, ia melihat ibunya yang penuh emosi keluar dari kediaman putri dengan air mata.
Segera setelah itu Pangeran Yul menemui kakaknya.
__ADS_1
“Tuan Putri, Pangeran Yul ada disini,” lapor dayangnnya.
Dengan sigap Putri Shin menghapus air matanya.
“Biarkan dia masuk,” perintahnya.
Pangeran Yul masuk dan berpura-pura tidak mengetahui apapun. Ia menyapa sang kakak dengan baik dan hormat.
“Kakak, bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali, aku tidak mengunjungimu". Pangeran Yul tersenyum manis tampak senang bertemu sang kakak.
“Tentu saja, aku baik. Kakakmu ini, orang yang sangat ceria, apa kau lupa? Bagaimana kabarmu?”.
Pangeran Yul kembali tersenyum.
“Tentu saja, semakin baik setelah berjumpa dengan kakak,” jawab sang adik.
Putri Shin tersenyum ramah, mendekati adiknya.
“Tak terasa, sekarang adik-adikku sudah dewasa”.
Putri Shin menyentuh pundak adiknya dan memukulnya pelan.
Pertemuan hari itu, membuat hati Putri Shin sedikit gembira.
“Kakak, aku telah mendengar soal perjodohanmu dengan putra seorang menteri. Aku mengenal pemuda itu, dia sangat baik, dan berbakat. Dia juga tampan. Aku yakin, kakak akan menyukainya".
Putri Shin yang tadinya tersenyum kembali menunjukkan wajah yang sedih. Melihat itu, Pangeran Yul menyadari bahwa sang kakak tampak tidak menyukainya.
Karena Putri Shin tahu raja tidak akan myentujuinya, ia menjadi semakin bersedih.
“Dia tidak akan mendengarkanku,” keluh sang putri.
“Apa raja juga akan menolak permintaan gadis yang sudah dewasa?” Pangeran Yul berusaha menyenangkan hati sang kakak.
Putri Shin terdiam.
Hari itu, semua berjalan dengan baik. Kehadiran Pangeran Yul membuat Putri Shin merasa sedikit tenang.
**
Siang itu juga, Putra Mahkota bersama Jung Hyun berada di lapangan.
“Putra Mahkota, apa tidak sebaiknya Anda istirahat dulu. Ini sudah siang, Anda harus makan siang,” Jung Hyun membujuk Putra Mahkota yang dari pagi hanya sibuk di lapangan memperhatikan para prajut sedang latihan.
“Pelayan,” panggil Putra Mahkota pada pelayannya.
“Bawakan dua hidangan untukku,” perintahnya yang dengan sigap dilakukan oleh para dayang.
Tak lama setelah itu, hidangan itu tiba.
“Kau lihat itu? Aku dengan mudahnya bisa mendapatkan semua itu dalam sekejap. Makanlah hidangan itu untukku".
__ADS_1
“Tapi, aku tidak pantas..”.
“Apa kau tidak dengar dari orang-orang? Aku tidak suka jika perintahku dibantah,” bantah cepat Putra Mahkota. Membuat Jung Hyun ketakutan.
Jung Hyun yang takut akan murkanya Lutra Mahkota, mulai menyantap makanan itu pelan-pelan.
“Tunggu,” kata putra mahkota.
Putra Mahkota kemudian menyingkirkan makanan itu.
“Hanya satu sendok untuk satu hidangan saat kau menyantap makanan Putra Mahkota. Kau tahu kenapa?” tanya Putra Mahkota.
Jung Hyun terdiam.
“Ada banyak orang yang berusaha menyingkirkanku. Menjadi pengawal Putra Mahkota, berarti ada banyak yang harus kau korbankan. Termasuk nyawamu".
Putra Mahkota mengambil busur dan melepaskan anak panahnya. Hebatnya, anak panah itu tepat mengenai sasaran. Melihatnya, Jung Hyun memandang Putra Mahkota ketakutan.
“Aku tidak tahu kau bekerja untuk siapa, tetapi aku pastikan kau akan tunduk padaku,” ucap Putra Mahkota yang kemudian pergi meninggalkan Jung Hyun disana.
Sesaat setelah Putra Mahkota pergi, langit tampak berubah gelap di ikuti suara gemuruh yang bersahut-sahutan. Pikirnya, itu adalah pertanda buruk.
Saat itu, Jung Hyun hanya bisa terdiam di tempat.
Sementara itu, Pangeran Yul yang masih berjalan di istana, tak sengaja melihat Jung Hyun terdiam memandangi langit. Ia mendekati pemuda itu.
“Sangat menyenangkan bukan, menjadi pengawal Putra Mahkota?”.p
Sapaan Pangeran Yul membuat Jung Hyun terkejut.
“Selamat datang pangeran,” bungkuknya hormat.
Pangeran Yul duduk di dekat Jung Hyun berdiri.
“Kau tidak penasaran dengan wajahnya? Kau berdiri di dekatnya hampir setiap hari, apa itu sangat menyenangkan?”.
Jung Hyun hanya berkedip beberapa kali. Namun, dengan tegas ia menjawab pertanyaan sang pangeran.
“Sebagai pengawalnya, aku merasa sangat nyaman bersama Putra Mahkota. Aku menghormati seluruh keputusannya. Tentang wajah yang selalu dia tutupi, sepertinya aku bukanlah orang pertama yang akan terbiasa. Jika tidak ada yang lain, aku permisi dulu, Yang Mulia Pangeran".
Pangeran Yul tertawa mendengar jawaban Jung Hyun.
“Aku dengar kau adalah temannya Lee Young. Mendengar kabar kematian keluarganya, apa menurutmu dia masih hidup?”
Jung Hyun yang hendak pergi malah berhenti dan kembali berbalik.
“Semoga saja".
Jung Hyun kembali membungkuk dan pergi meninggalkan Pangeran Yul.
Sangat tidak dimengerti, tentang takdir dan kehidupan yang tumpang tindih. Berjalan di atas takdir seperti menerjang roda yang berputar hebat tanpa henti. Terpeleset jatuh saat sedang berlari adalah pasti. Tapi yang tetap berdiri, setelah jatuh berkali-kali, hanya mereka yang punya semangat untuk hidup di dunia ini dengan empati yang tinggi.
__ADS_1
Lantas, bagaimana, jika empati yang selama ini dinanti, rupanya karma yang mulai menghampiri?