Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Pemuda Tak Bertanggung Jawab


__ADS_3

Jalan panjang yang berliku. Siapa yang akan tahu, sampai mana nantinya jalan itu akan berakhir. Jalan itu penuh beling, batu, dan kerikil. Kau atau aku, kita melewati jalan yang sama tanpa tahu siapa yang akan tetap berdiri kokoh. Antara kita berdua, atau kita berdua, mungkin saja beralaskan kaki yang lembut dan berbulu. Tapi, yang punya jalan dengan taman bunga sekelilingnya, hanya dia, yang ikhlas dan tabah meski tanpa alas kaki seperti kau atau aku.


...----------------...


Suatu hari di istana, seorang kasim memberikan informasi soal hasil rapat raja bersama para menteri. Belum ada keputusan apapun dari raja, tetapi soal rencana pernikahan Putra Mahkota telah sampai ke istana Putra Mahkota. Putra Mahkota yang mendapat kabar ini, tampak sangat tidak setuju.


“Aku tidak akan menikah dengan wanita pilihan istana”. 


Putra Mahkota segera melepas jubah mewahnya. 


“Cepat, carikan aku pakaian biasa. Aku ingin melakukan penyamaran ke desa. Aku sungguh muak disini,” tiba-tiba Putra Mahkota meminta  Kasim Cho untuk menyiapkan penyamarannya.  


“Yang Mulia, hamba memohon dengan sangat-sangat, tolong jangan membahayakan diri Anda. Tetaplah disini, hamba takut raja akan murka,” Kasim Cho memohon pada Putra Mahkota.


“Jung Hyun, masuk!” perintah Putra Mahkota dari dalam biliknya.


Kasim Cho hanya bisa terus melihat hal itu dengan cemas.


Jung Hyun masuk dan dengan gagah berdiri menunduk hormat padanya di depan pintu biliknya.


“Siap, Yang Mulia,” kata Jung Hyun yang sudah siap mengenakan pakaian biasa. 


Putra Mahkota tersenyum pada Kasim Cho. 


“Raja tidak akan mengetahui apapun, karena aku punya pelayan yang setia kan?” puji Putra Mahkota sambil menepuk pundak kasim setianya itu.


Namun, Kasim Cho tampak tidak tenang. Sesekali sang kasim melirik-lirik Jung Hyun. Putra Mahkota yang menyadari itu, mendekati sang kasim.


“Kau mencurigainya? Aku juga, tetapi aku tidak peduli,” kata Putra Mahkota yang sedang dipakaikan pakaian oleh para kasim dengan santai.


Sesaat kemudian, Putra Mahkota berjalan hati-hati keluar istana bersama Jung Hyun dan akhirnya mereka tiba di desa. Putra Mahkota ingin membuka penutup wajahnya, tetapi Jung Hyun segera menghentikannya.


“Maaf Yang Mulia, kumohon jangan lakukan itu,” kata Jung Hyun sambil memalingkan wajahnya.


Putra Mahkota terdiam, hanya terus memandang sang pengawal. Dia memutusjan untuk tidak jadi membuka penutup wajahnya. Kemudian, dua pemuda bertubuh tinggi dan gagah itu melanjutkan perjalanan mereka menuju pasar.


“Yang Mulia, mengapa secara tiba-tiba Anda mengajakku untuk pergi ke desa?” tanya Jung Hyun padanya.


Putra Mahkota tersenyum di balik penutup wajahnya itu.


“Apa aku harus memberitahukan segalanya padamu?”. 


Mendengar jawaban Putra Mahkota, Jung Hyun tertunduk takut. Melihat wajah takut sang pengawal, Putra Mahkota malah tertawa.


”Aku tidak pernah keluar istana sejak kecil. Ternyata disini lebih baik daripada di istana,”  tambah Putra Mahkota dengan mata yang sibuk berkelana.

__ADS_1


Jung Hyun terdiam, dia hanya terus memandang wajah Putra Mahkota penasaran.


“Berhentilah memandangku, dan tunjukkan padaku apa saja yang ada di pasar ini,” perintah Putra Mahkota sambil melangkah berjalan menyusuri pasar lebih dalam. 


Jung Hyun yang terkejut, tak menyangka Putra Mahkota menyadari, dia yang sibuk memandangnya.


“Baik, Yang Mulia”.


Selama berjalan di pasar, Jung Hyun tak dapat memalingkan pandangannya dari wajah Putra Mahkota yang tertutup itu. Dan saat yang bersamaan, dari jauh Jung Hyun melihat beberapa pengawal istana sedang berlarian. 


“Yang Mulia,” panik Jung Hyun memanggil Putra Mahkota. Mengusik lamunannya.


“Kita harus segera pergi dari sini. Istana sepertinya telah mengetahui kepergian Anda dari kediaman. Kita harus segera kembali,” bisik Jung Hyun pada Putra Mahkota. 


Mereka berdua memutar langkah mereka ke sisi utara pasar yang cukup ramai. Disana, hampir seluruh mata tertuju pada mereka. Hingga akhirnya,


“Disana! Itu Putra Mahkota!” teriak salah seorang opsir yang secara tidak sengaja memergoki mereka di pasar.


Jung Hyun dan Putra Mahkota sangat panik. Warga yang mendengar teriakan opsir saling berpandangan.


Mereka berdua yang menjadi target, menyusun strategi, hingga akhirnya berlari kencang.


“Yang Mulia, kita harus berpencar,” pinta Jung Hyun di tengah pelarian mereka. 


Saat itu Jung Hyun berlari ke barat, sementara Putra Mahkota berlari ke arah timur.


Aku memimpikan keindahan yang rupanya semu. 


Youra dengan semangat mengangkat kendi-kendi itu tanpa mengeluh sedikitpun. 


Aku pikir, penderitaanku sudah cukup sampai disini,


Sementara itu, saat yang bersamaan, Putra Mahkota yang sedang menyelamatkan penyamarannya, kini sedang berlari melaju cepat sambil sesekali memandang balik ke belakang. Hingga akhirnya, sangat tidak terduga, 


BRUKK!!


… ternyata, aku baru saja akan memulainya.


Putra Mahkota menabrak Youra, hingga Youra bersama seluruh kendi-kendi itu terjatuh menciptakan keributan yang menggema.


Mereka bertemu, untuk pertama kalinya. Putra Mahkota dengan sigap memperbaiki penutup wajahnya yang hampir saja terbuka. 


Saat itu, rasanya waktu seakan terhenti.


Kini, seluruh mata sedang tertuju pada mereka berdua. Rasanya sangat aneh, karena saat itu adalah musim semi, pertemuan itu terasa sangat dramatis.

__ADS_1


Awal pertemuan, yang sangat tidak menyenangkan.


Youra yang melihat seluruh kendinya jatuh menjadi lemas merasa tidak percaya. Lantaran, ia tidak punya uang jika harus menggantinya. 


Putra Mahkota hanya terdiam sambil merapikan bajunya yang basah. Setelah selesai merapikan bajunya, ia memandang Youra yang menahan tangis amarah sedang mengutip puing-puing kendi itu.


Namun, sesaat setelahnya, Putra Mahkota lanjut berlari begitu saja. Dia pergi tanpa sepatah kata apapun. Jangankan merasa bersalah dan berniat menggantinya, Putra Mahkota bahkan tidak mengucapkan maaf sama sekali. Hal ini membuat Youra yang tidak terima akhirnya berteriak.


“Hei Tuan Muda! Kembali! Kau harus mengganti semua ini!” teriak Youra sekeras mungkin pada Putra Mahkota sambil ikut mengejarnya. Namun, putra mahkota tidak peduli.


Semua orang saat itu sedang memandang, gadis yang berlari dengan pakaian yang basah itu.


“Hei! Dasar kau! Dasar pemuda tidak bertanggung jawab! Kembali kau!!!!” teriak Youra dengan napas tersenggal-senggal karena sedang menangis kesal.


Youra berhenti di tengah jalan dan melempar puing-puing kendi yang dikutipnya itu ke jalanan.  


Youra tidak tahu, pemuda yang sedang ia teriaki itu adalah seorang Putra Mahkota, pewaris tahta yang sah. Dan menurut aturan kerajaan, adalah suatu pelanggaran besar bagi seseorang yang berteriak padanya, berbicara kasar, membicarakan keburukan, bahkan hukuman juga akan berlaku bagi siapa saja yang berani menyentuhnya, sengaja atau tidak sengaja.


“Dasar orang yang tidak bertanggung jawab! Dia menabrak orang lain tanpa mengucapkan maaf dan pergi begitu saja. Padahal dari pakaian saja sudah jelas dia pasti putra bangsawan,” gerutu Youra menangis kesal, tidak peduli jika saat itu orang-orang sedang menatapnya heran.


...----------------...


Ia berjalan ke kedai dengan langkah gontainya yang putus asa. 


“Anak si*lan! Darimana saja kau, kenapa lama sekali?! Mana kendi-kendimu?!” ternyata pemilik kedai datang dan menunggunya.


Youra terdiam di tempat tak menjawab apapun. Sesaat kemudian, ia mengangkat kepalanya yang dari tadi tertunduk lemas.


“Aku sudah memecahkan semuanya,” jawabnya spontan. 


“Apa? Apa katamu?!” sang pemilik kedai yang dikenal sebagai rentenir kejam itu, bergetar marah.


”Aku bilang aku sudah memecahkan semuanya,” tegas Youra.  


Mendengar jawaban Youra, pemilik kedai sangat marah dan hendak memukulnya, tetapi Nana datang dan langsung berlutut di kaki sang pemilik kedai tersebut.


“Tuan, aku mohon maafkan saudariku. Dia tidak bersalah. Akulah yang sudah menjatuhkan seluruh kendi itu,” mohon Nana di kaki sang pemilik kedai. 


Pemilik kedai itu, bukannya kasihan, tapi malah menendang Nana hingga ia tertelentang ke belakang. Youra yang menyaksikan hal itu tampak tidak menerima.


“Nana, berdiri. Jangan korbankan dirimu lagi untuk kesalahan yang aku lakukan,” perintah Youra pada Nana.


Youra yang sebenarnya adalah anak seorang penasehat negara, seorang putri bangsawan, hari itu untuk pertama kalinya bersimpuh di kaki seorang rentenir pemilik kedai makan yang seharusnya menghormatinya.


“Tuan, aku minta maaf. Seorang pemuda yang tak bermoral, menabrakku hingga seluruh kendi itu terjatuh tanpa mengucapkan maaf sedikitpun. Mohon, beri aku waktu untuk mengganti seluruh kendi itu,” mohon Youra di kaki sang pemilik kedai dengan percaya diri.

__ADS_1


“Nona, apa yang Anda lakukan?” gumam Nana khawatir. 


__ADS_2