
Akhirnya, hari yang mengerikan bagi Putri Shin telah tiba. Langit mendung berubah cerah, seolah menunjukkan keindahannya, tak mau kalah dengan kesedihan Putri Shin. Ratu dengan gaun mewahnya berjalan angkuh di bawah sinar manis pagi itu, berkilau memancarkan pesonanya tersendiri.
Hentakan kakinya, berpacu dengan suara degup jantung Putri Shin yang tahu akan kedatangan sosok itu. Ratu masuk ke dalam bilik Putri Shin, mendapati sang putri sedang bermandikan air mata, membuatnya segera mendekat.
"Katakan padaku, mengapa putri kesayanganku menangis seperti ini di hari pernikahannya?" tanya ratu kepada pelayan pribadi Putri Shin. Sang pelayan tak memberikan jawaban, hanya bisa beberapa kali berkedip setelah menundukkan pandangannya.
Ratu tersenyum, segera memegang pundak putrinya yang malang. "Putriku, pernikahan di istana bukanlah sesuatu yang harus membuatmu menangis. Sudah bertahun-tahun lamanya, perjodohan dilakukan oleh istana. Lihat, orang-orang terdahulu sebelummu, mereka itu semua menikah tanpa cinta dan sekarang hidup mereka baik-baik saja. Cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya," jelas ratu.
Putri Shin mengangkat wajahnya, membalas tatapan sang ibu dengan wajah sedihnya. "Bagaimana, dengan mereka yang mati setelah menikah? Mereka yang menikah dengan para pengkhianat berakhir malang dan sia-sia," jawab Putri Shin.
Ratu tersenyum padanya, memperlihatkan betapa sangat damai dan bahagianya dia. "Ha Sun adalah pemuda yang baik. Hidupmu akan terjamin bersamanya. Dia tidak hanya berbakat, dia juga sangat kaya dan populer. Putri Shin, kau hanya butuh mengistirahatkan pikiran burukmu."
Mendengar jawaban ibunya, Putri Shin menarik dalam napasnya, menghembuskannya dengan kasar, sebelum akhirnya mengeluarkan pernyataan mengejutkan.
"Mungkin, aku akan baik-baik saja di luar sana bersama hatiku yang luka, tapi ... siapa yang menjamin adikku Putra Mahkota akan baik-baik saja di neraka ini dengan luka hatinya?"
Plak!
Pernyataan Putri Shin, langsung saja direspon ratu dengan mendaratkan tangan kanannya di wajah muram putrinya. "Anak itu bukan adikmu! Dia pria hina yang lahir dari rahim seseorang yang sudah merebut kebahagiaan kita. Berhenti memikirkan seseorang yang hina seperti dirinya. Kau, nikmati saja takdirmu dan jangan mengalihkan apapun tentang dia lagi."
Ratu memutar langkahnya untuk pergi, "Pelayan! Cepat hapus air matanya! Menangis di hari pernikahan adalah hal yang dilarang oleh langit." Dia meninggalkan kediaman Putri Shin dengan emosi yang membara.
***
__ADS_1
Langkah yang putus asa mengantar Jung Hyun sampai di depan gerbang istana Putri Shin. Sebentar saja, setidaknya dia bisa melihat kekasihnya itu untuk yang terakhir kalinya. Dengan berat hati, Jung Hyun menengadah ke atas tingginya tembok gerbang, mengintip sedikit balkon istana Putri Shin, meski itu adalah sebuah perkara yang terlarang. Sekali saja, setelahnya dia pergi dari sana untuk mengobati luka di hatinya. Namun sayang, dia tak melihat Putri Shin berdiri disana, menambah kesedihan yang tiada tara baginya.
Saat itu, saat hampir saja melangkah pergi, Jung Hyun kembali mencoba melirik ke arah istana. Saat itu, waktu seolah terhenti. Dia dan Putri Shin saling berpandangan dari jarak jauh, memutar kembali memori lama saat pertama kali Putri Shin mengintipnya dulu. Saat dimana Putri Shin pertama kali jatuh cinta padanya, semasa remaja.
Jung Hyun tersenyum padanya, sementara Putri Shin dengan air matanya berusaha keras untuk membalas senyuman itu. Hingga salah seorang dayang datang, membawa surat yang tampaknya sangat pribadi dari Jung Hyun. Cepat-cepat dia meraih surat itu dan segera membukanya.
"Berhentilah menangis Putri Shin. Aku akan baik-baik saja, maka hiduplah dengan baik. Berhentilah memikirkanku dan segeralah memulai hidup baru. Aku harap, Anda tetap ceria seperti biasanya. Tak ada lagi yang bisa aku katakan, selain jagalah diri Anda dengan baik. Bagiku, Anda tetaplah Areum, gadis yang kucintai".
Putri Shin kembali menoleh keluar sana setelah membaca surat itu, tak lagi mendapati Jung Hyun berdiri disana. Itu surat perpisahan darinya, surat akhir yang tak mungkin lagi bisa dibalas oleh Putri Shin. Yang tersisa hanyalah kenangan. Selebihnya, tinggal sebuah harapan dan cara untuk menjalani masa depan.
***
Tak perlu berlama-lama, akhirnya Putri Shin secara resmi dipersunting oleh pemuda bangsawan bernama Ha Sun, putra tunggal Kepala Menteri Keuangan dan Perpajakan.
Putri Shin diantar oleh para pelayanannya menuju kediaman baru yang terletak di luar istana, yakni di rumah suaminya.
Dengan tubuh yang mulai kurus, wajah sembab yang pucat, dan jejak air mata yang berbekas di pipinya, Putri Shin duduk berbalutkan gaun pengantin di atas ranjang. Perasaan putus asa itu membuatnya ingin sekali berteriak dan beranjak dari sana. Harapan soal menikah dengan Jung Hyun kini hanya tinggal sebuah kenangan.
Tak lama, setelah asik bercengkrama dengan rasa sakit dan air mata, bunyi langkah seseorang menghentikan isak tangis itu. Jantungnya berdegup sangat kencang. Itu pasti langkah seseorang yang semestinya dia kenal. Benar, hari sudah malam, siapa lagi kalau bukan Ha Sun, suaminya.
Pintu bilik itu dibuka oleh pelayannya, menghadirkan seorang pria yang bersiap masuk untuk bermalam dengannya.
Deg Deg ...
__ADS_1
Setelah pemuda itu masuk, tak lagi terdengar apapun di luar sana. Semuanya tampak menjauh, memberikan waktu untuk mereka berdua.
"Selamat malam, Putri Shin," sapa pemuda itu padanya.
Tidak seperti Youra, Putri Shin berlaku manis pada suaminya, meski dia tidak menyukai pria itu. "Selamat malam, Tuan Muda Ha Sun."
Keheningan menjadi teman bagi mereka berdua, membawa kebersamaan itu menjadi lebih dingin dan beku. Hingga akhirnya, Ha Sun tertawa menggelitik. "Hahaha, Putri Shin, apa Anda takut padaku?" tanyanya, setelah melihat wajah pucat Putri Shin.
Putri Shin lantas menoleh pada suaminya, melihat bagaimana pemuda itu tertawa geli di dalam kamar mereka. "Ada apa, Tuan?" tanya Putri Shin ragu-ragu.
Ha Sun berhenti tertawa, "Aku sangat bangga pada diriku, karena bisa menikahi seorang putri raja. Bukankah itu hebat?"
Ha Sun melangkah, mengambil bantal yang ada di atas ranjang. "Gantilah pakaianmu dan tidurlah. Anda pasti kelelahan setelah seharian memakai pakaian berat itu."
Ha Sun meletakkan bantal itu di bawah ranjang, segera merebahkan tubuhnya. Putri Shin kebingungan, pemuda itu tak memaksa untuk tidur bersamanya. Dia malah dengan santai bertindak biasa saja.
"Tuan, Anda benar-benar tidak apa-apa, jika kita tidak tidur di atas ranjang yang sama?" tanya Putri Shin padanya.
Pemuda itu lantas duduk dengan semangat. "Anda ingin aku tidur bersama Anda?" tanyanya dengan nada yang lebih bersemangat.
Putri Shin terdiam. Dia hanya bertanya saja, bukan karena ingin tidur dengan lelaki yang tidak dicintainya itu.
Melihat Putri Shin yang terpaku, Ha Sun kembali berbaring. "Karena itu tidak akan terjadi, maka janganlah bertanya sesuatu yang membangkitkan naluriku sebagai pria," ledek Ha Sun.
__ADS_1
Melihat tingkah Ha Sun yang ramah dan baik padanya, rasa sakit yang parah itu setidaknya reda sedikit. Mengingat Ha Sun adalah putra dari salah seorang menteri yang membenci Putra Mahkota membuat Putri Shin berpikir buruk soal suami dan rencana busuk kelompok pendukung di istana. Namun, tampaknya semua pemikiran itu salah. Pemuda yang dia kira tak berbudi itu, rupanya bersikap baik dan ramah padanya.
***