Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Siapa Pelaku Utama?


__ADS_3

Saat itu, semua orang berseru marah. Mereka melempar sumpah serapah untuk Kepala Menteri Perang dan putranya. Setelah lama menunggu, keduanya tetap berkilah dan sama sekali tidak ingin berkata jujur. Hingga akhirnya, raja memutuskan pengawal untuk menyeret Ara juga dalam kasus ini.


"Cepat, seret istri Pangeran Yu," perintah raja. Namun, belum lagi para opsir bersiap pergi, tiba-tiba Won Bin bertekuk lutut di hadapan raja.


"Tidak, tidak. Jangan seret Adikku. Dia tidak tahu apa-apa." Pernyataan Won Bin mengejutkan Kepala Menteri Perang dan seluruh orang yang dari tadi bersuara untuk membelanya. "Won Bin! Apa yang kau lakukan?!" teriak sang ayah yang sedang dikepung petugas dari kejauhan.


"Kalau begitu, ceritakan apa yang terjadi?" tanya raja. Won Bin memutar kepalanya sebentar menghadap sang ayah. "Sebelumnya, aku minta maaf kepada Ayahku yang sangat aku hormati dan yang aku sayangi." Won Bin kembali menghadap ke depan, menundukkan kepalanya.


Dia mengepal erat tangannya, mulai berbicara dengan berat hati. Sudut matanya mulai membengkak, karena air mata berkumpul disana.


"10 tahun yang lalu, saat aku masih seumuran Lee Young ... " Won Bin susah payah menahan diri. "10 tahun yang lalu, aku tidak tahu apapun ... selain cita-cita tinggiku untuk menjadi pejabat di istana ini."


"Won Bin!!" teriak Kepala Menteri Perang ingin menghentikan putranya.


"Sebelumnya, aku mohon kepada Anda, Yang Mulia. Tolong jangan seret adik perempuanku." Youra dan semua orang terkesiap. Terlihat jelas, bagaimana pemuda itu menyayangi adik perempuannya. Lee Young sangat mengerti perasaan itu, karena dia juga punya adik perempuan.


"Jika keteranganmu bukan sebuah kebohongan, aku berjanji," jawab raja.


Semua mata mulai fokus pada Won Bin setelah itu. "Aku sangat cemburu pada kesuksesan Lee Young, karena dia selalu memiliki poin yang lebih tinggi dariku," tambahnya.


"Aku sangat membencinya, layaknya aku membenci seorang musuh. Namun, aku tidak bisa mengatakan itu kepada Ayah, karena beliau dan Penasehat Negara berteman baik."


"Won Bin! Apa yang kau katakan?! Jangan bodoh!" Terus-menerus Kepala Menteri Perang mencoba menghentikan anaknya. Para menteri yang lain masih terpaku tak percaya. Lonjakan yang bertubi-tubi diungkapkan oleh fakta, ternyata sangat mengerikan. Istana benar-benar diisi oleh para pengkhianat. Won Bin tetap terus melanjutkan kata-katanya.


Won Bin tampak sangat tertekan, tetapi beliau berusaha keras menahan diri dan melanjutkan.


"Dan ternyata, aku tidak sengaja mendengar percakapan Ayahku dengan beberapa menteri. Mereka menggosipkan Penasehat Negara yang sudah tewas. Saat itulah aku baru sadar ... tidak ada satupun dari mereka yang tulus, termasuk Ayah."


Won Bin menarik napas panjang.

__ADS_1


"Saat aku tahu Lee Young masih hidup, kala melihatnya masuk ke istana diam-diam, rasanya kebahagiaanku akan segera berakhir. Dan aku ingin menyingkirkannya."


"Tapi ... aku tidak ingin membunuh. Aku hanya ingin mengalahkan. Namun, Ayah dengan tegas mengatakan semuanya akan baik-baik saja, dia akan membantuku. Aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan."


"Saat itu ... "


(Kembali ke 10 tahun yang lalu)


"Won Bin, kau tahu dia masih hidup? Raja selalu saja membanggakannya saat bertemu dengan kami sebelum Penasehat Negara tewas, bagaimana kalau raja tahu dia masih hidup? Bukankah itu menjijikkan? Beliau sangat pilih kasih," lugas Kepala Menteri Perang. Beliau menuangkan tuak ke dalam gelas kecil di hadapan putranya. "Kalau begini caranya, raja akan mengangkat dia menjadi jenderal di istana. Lalu, bagaimana denganmu?" sambung Kepala Menteri Perang.


"Dia benar-benar masih hidup? Aku sangat membenci pengecut itu. Aku tidak akan membiarkan dia mendapatkan posisi yang sangat aku impikan," jawab Won Bin mulai terpengaruh. Kepala Menteri Perang tiba-tiba saja cekikikan, sembari menyulang gelasnya pada milik putranya. "Aku akan membantumu. Aku akan membantumu mendapatkan posisi itu dengan mudah."


Tawa kecil sang ayah membuat Won Bin keheranan. "Ayah ... Anda tidak memikirkan hal yang aneh-aneh, kan?" Sambil mengernyitkan dahi, Won Bin terlihat kebingungan.


"Duduklah dengan tenang, dan nikmatilah hidupmu setelah ini."


(Kembali pada persidangan)


"Itulah yang terjadi. Tapi ... lambat laun aku mengetahui semua kejahatan itu, dan aku ... aku malah sangat bahagia. Aku menutupi aib itu dan terus saja tertawa," tambah Won Bin.


Mendengar semua pernyataan itu, ditambah banyak bukti yang tertera ... akhirnya Kepala Menteri Perang terpojok. "Bagaimana Kepala Menteri Perang? Apa kau masih ingin berkilah? Apa kau ingin berbantah-bantahan dengan putramu? Apa perlu, aku panggilkan salah seorang utusan yang kau suruh untuk membunuh Lee Young?" tanya raja.


Kepala Menteri Perang lantas sedikit maju, merangkak di hadapan raja. "Yang Mulia, semua itu tidak terjadi atas keinginanku. Ada orang lain yang sudah merencanakan itu semua. Bukan hanya aku! Bukan hanya aku yang terlibat! Aku hanya sebagian kecil dari mereka!" teriak Kepala Menteri Perang mulai panik.


"Apa maksudmu?" tanya Jung Hyun.


"Seseorang telah memegang kuasa selama bertahun-tahun, dan aku hanya sebagian kecil dari mereka. Aku tidak tahu apa-apa. Mereka mengajakku bekerja sama untuk membunuh Lee Young, dan kebetulan aku tidak menyukainya dan ingin putraku naik pangkat. Jadi aku memanfaatkan keadaan itu. Aku bukan satu-satunya yang bersalah, Yang Mulia."


"Huuuu!!!!" teriakan para penonton persidangan menguasai langit yang gelap. Tak ada satupun dari mereka yang mempercayai ucapan Kepala Menteri Perang.

__ADS_1


"Kalau bersalah, akui saja! Jangan menyeret orang lain!" Sambung-menyambung teriakan itu menghujani Kepala Menteri Perang.


Kepala Menteri Perang mengusap kedua telapak tangannya seraya memohon. "Aku bersumpah atas nama langit, Yang Mulia!!!" sanggahnya cepat.


"Kalau begitu, katakan padaku ... siapa dalangnya!" Raja mulai tersulut geram.


Kepala Menteri Perang sangat bergetar. Dia ketakutan dan mencoba untuk menoleh balik ke belakang. Dipandanginya satu persatu pejabat yang hadir, sebelum akhirnya berhenti menangis takut.


"Dia ... "


Saat itu semua orang saling melempar kecurigaan. Satu sama lain saling menuduh dan menjatuhkan. Perdana Menteri Han diam saja di tengah keributan.


"Dia ... dia adalah beberapa kepala menteri dan ... dan Perdana Menteri Han sebagai pemimpin kelompok itu, Yang Mulia!"


Perdana Menteri Han yang terkejut lantas terperanjat mendengar kalimat Kepala Menteri Perang. "Apa kata Anda?" tanya Perdana Menteri Han menolak.


"Yang Mulia itu tidaklah benar! Kepala Menteri Perang itu memang sangat membenci Perdana Menteri Han! Dia pasti memfitnah Perdana Menteri Han karena dia ingin menyingkirkannya sejak lama!"


"Benar, Yang Mulia! Sejak lama, beliau sangat membenci Perdana Menteri Han, dan bahkan beliau selalu menghina perdana menteri!"


"Ya! Setiap kali bertemu mereka selalu berdebat! Bagaimana bisa mereka menjadi sekutu jika selalu bertengkar seperti itu! Itu hanya tipuan dari Kepala Menteri Perang!"


Seluruh suara yang keluar adalah untuk membela Perdana Menteri Han. Bahkan rakyat yang tidak tahu apa-apa pun ikut menyoraki Kepala Menteri Perang.


"Apa itu benar, Perdana Menteri Han? Anda benar-benar tidak terlibat apapun?" tanya raja was-was.


Perdana Menteri Han santai saja, dia membungkukkan tubuhnya dengan hormat. Senyum cerah di wajahnya semakin meyakinkan bahwa dia adalah seorang menteri yang berwawasan tinggi dan punya loyalitas hebat untuk negara. Selain karena beliau salah satu senior yang sudah sangat lama menjabat, beliau juga asli keturunan istana yang terkenal sangat berwibawa dan ditakuti.


"Hamba rasa ... hamba tidak perlu mengeluarkan pembelaan, Yang Mulia. Karena Anda dapat menilai semuanya dari ucapan para menteri. Selama ini, mereka tidak pernah menghormatiku. Namun aku sangat terkejut, saat mereka semua tiba-tiba membelaku dengan mengeluarkan fakta-fakta dan kebenaran," jawab Perdana Menteri Han.

__ADS_1


__ADS_2