Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Siapa yang Akan Menikah Lebih Dahulu


__ADS_3

Youra jatuh sakit sejak kehilangan sang kakak. Dia tak pernah lagi ceria, bahkan untuk senyum sekalipun. Suatu hari, ia kembali ke tepian danau, tempat terakhir dia melihat tubuh sang kakak diseret masuk sebuah peti untuk segera dibuang. 


Youra tak lagi meneteskan air mata. Entah sudah berapa banyak air mata yang ia kumpulkan atas seluruh duka dan kesengsaraan yang menimpanya, hingga ia tak bisa lagi menangis. Ia menyeret langkahnya tanpa memandang apapun. 


Di tempat itu, ia terjatuh lemah. 


“Aku tidak seperti ayah dan ibu. Aku tidak akan meninggalkanmu”.


“Jaga dirimu baik-baik”.


“Hingga kau mengerti artinya bertahan hidup, sampai saat itu jangan pernah berharap untuk meninggalkan kaki gunung ini lagi".


“Sudah kubilang, jangan melanggar kesepakatan yang telah kita buat". 


“Keadilan hanya milik mereka yang punya nama, dan pangkat di istana".


  


Teringat kembali olehnya, kalimat-kalimat sang kakak yang tampak mencurigakan. Ia mengumpulkan puing-puing kenangan menakutkan itu, untuk mendapatkan sebuah bukti dan kesimpulan. Youra dengan sigap berdiri. Namun, saat ia berdiri, secara tidak sengaja dia mengingat sesuatu. Saat itu, saat orang-orang menyerang kakaknya, satu diantara para pembunuh itu menjatuhkan sesuatu yang mungkin tidak mereka sadari. Youra bergegas mencari benda yang terjatuh itu. Ia berharap menemukan bukti, untuk mencari dalang dibalik kematian sang kakak.


Dan benar saja, benda itu masih ada disana. Sebuah benda yang belum pernah dilihatnya sekalipun. Tampak mewah. Ada ukiran naga di atasnya. Ukiran itu, berlapis tinta emas yang pastinya sangat mahal. Di bawah ukiran itu ada tulisan sebuah nama yang tidak jelas. 


“Byeon? Hyun? Siapa ini? Kenapa tidak jelas,” gumamnya sembari mengusap-usap mencoba membaca nama yang terukir di benda itu. 


“Ini jatuh dari tangan iblis-iblis itu. Dia pasti salah satu dari mereka". Pikirnya. 


Youra segera mengemas benda itu ke dalam kantung bajunya, dan bergegas pulang setelahnya.


**


Hari itu, raja kembali melakukan pertemuan dengan para menteri mengingat banyaknya problema yang masih menjadi ancaman bagi istana. Beliau mencoba membahas upaya untuk mengembalikan stabilitas istana yang semakin memburuk akibat rumor Putra Mahkota yang sudah tersebar luas.


Semua menteri dan raja sibuk berpikir terkait upaya-upaya pemulihan nama baik Putra Mahkota, dan beberapa masalah lainnya. 


“Yang Mulia, mengingat telah tersebar pesatnya rumor buruk mengenai Putra Mahkota beberapa waktu yang lalu, bukankah sebaiknya kita segera melakukan tindakan untuk menyelesaikan semua ini, Yang Mulia?”.


“Benar Yang Mulia. Saat ini, para rakyat sangat membenci Putra Mahkota".


Raja yang mendengar itu, menyentuh kepalanya termenung. Ia bahkan tidak menunjukkan reaksi apapun selain cemas yang tergambar dari wajahnya. Melihat semua itu, Perdana Menteri Han akhirnya angkat suara.

__ADS_1


“Yang Mulia Baginda. Izinkanlah saya untuk menyampaikan pendapat saya”.


Saat itu, pandangan semua orang langsung tertuju padanya.


“Silakan". 


Perdana menteri maju satu langkah dari posisinya berdiri dan berdiri serong menghadap para menteri yang lain. 


“Mengingat masalah dan konflik ini terjadi, hampir setiap hari, rakyat dan beberapa cendekiawan berdatangan untuk melakukan permohonan menurunkan Putra Mahkota dari posisinya. Bahkan diantara mereka ada yang dengan tidak tahu malu mencaci dan berteriak di gerbang istana. Polemik ini tidak bisa kita biarkan lama-lama. Ini sangat berbahaya”.


Perdana menteri kembali menarik napas.


“Tindakan mereka ini sangat pantas dikatakan sebagai pengkhianatan. Akan tetapi, karena semua ini bersumber dari orang-orang yang belum diketahui, dari pada menunggu hasil penyeledikian oleh kepolisian istana, alangkah lebih baik kita mengatasi cara untuk mengembalikan kepercayaan rakyat terhadap Putra Mahkota".


Para menteri terbelalak, saling berpandangan. Perdana Menteri Han mengubah posisi berdirinya. Kini ia serong menghadap raja dan menunduk hormat.


“Menurutku, setelah melakukan banyak pertimbangan, bukankah sudah saatnya kita membahas persoalan mengenai pernikahan Putra mahkota lebih dulu, ketimbang mengurus pernikahan Putri Shin, Yang Mulia?”. 


Beberapa menteri yang mendengar tampak setuju, tapi beberapa diantaranya tampak tidak menyukai solusi ini.


“Perdana Menteri Han, Putri Shin adalah anak pertama di kerajaan ini. Untuk itu, pernikahan Tuan Putri haruslah lebih di utamakan. Beliau sudah menunda pernikahan ini cukup lama. Harusnya beberapa tahun yang lalu, beliau sudah menikah, barulah kita membahas pernikahan Putra Mahkota,” bantah seorang menteri.


Mendengar pernyataan salah seorang menteri seperti ini, beberapa menteri yang lain akhirnya menyetujui.


“Benar Yang Mulia. Hamba sangat setuju. Kita terlalu larut untuk membenahi sikap dan sifat Putra Mahkota, yang maaf, masih sangat jauh dari harapan. Tapi, dengan pernikahan beliau, saya rasa ini mampu mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadapnya. Salah satu isi rumor mengatakan, beliau tidak akan pernah patuh terhadap aturan istana. Menikahnya beliau nanti, dapat dipastikan membantah setidaknya satu spekulasi,” salah satu menteri yang setuju pada perdana menteri ikut menambahkan argumen.  


“Yang Mulia, Putri Shin sudah mengundur pernikahan ini cukup lama. Ini semua tidak dapat ditunda lagi,” bantah yang lainnya. 


Raja yang saat itu sedang kalut, akhirnya berteriak membuat seluruh mereka terdiam.


“Diam!” teriak raja.


”Aku rasa, perdana menteri benar. Tapi, aku perlu waktu untuk memikirkan keputusan ini lebih dalam,” raja akhirnya menyudahi pertemuan hari itu.


Melihat raja seperti itu, beberapa menteri memandang perdana menteri sinis. 


“Lihat, orang-orang seperti penasehat negara dan perdana menteri memanglah pejabat kesayangan raja. Beliau hanya mendengarkan perkataan mereka tanpa memikirkan banyak pertimbangan,” kata menteri keuangan dan perpajakan kepada para menteri yang lain dengan lantang.


Perdana menteri yang geram akhirnya mendatanginya.

__ADS_1


“Kau kecewa karena posisimu sebagai besan istana tertunda? Apapun yang aku utarakan kepada raja adalah cara satu-satunya untuk membersihkan nama Putra Mahkota, dan juga nama kita semua. Pernikahan Putri Shin akan tetap dilaksanakan, tetapi pernikahan Putra Mahkota adalah hal yang harus diutamakan saat ini. Putri Shin sudah menunda pernikahannya bertahun-tahun karena suatu alasan dapat diterima. Namun, pernikahan Putra Mahkota adalah yang lebih penting dan lebih berbahaya, yang artinya jauh hari sudah harus dibicarakan. Sementara, ini sudah masanya beliau menikah, bukan soal Putri Shin lagi".


Bantah perdana menteri kemudian pergi meninggalkan gerombolan menteri yang lain. Sementara itu, mereka yang setuju pada perdana menteri hanya bisa saling tersenyum dan menyepelekan mereka.  


Sekretaris negara yang bertugas untuk meninjau hasil pertemuan hanya bisa termenung memikirkan argumen-argumen yang saling bertolak belakang itu.


**


Suatu hari di kaki gunung, Nana dan pamannya duduk di bangku kayu depan gubuknya. Ia tak berhenti menangis dan terus saja terisak. Ia bahkan tidak tidur atau makan dengan baik. Karena itu, sang paman memegang kokoh pundaknya. Sang paman merasa kasihan pada Nana yang terus berpura-pura tegar di depan Youra agar Youra tetap kuat dan tabah. Padahal, kondisi Nana juga sangat mengkhawatirkan.


Sang paman membuatkan Nana ramuan herbal untuk membantunya pulih.


“Minumlah ini. Nona Youra mungkin sebentar lagi akan pulang. Jangan sampai dia melihat semua ini. Ini akan membuatnya semakin terluka,” sambil memberikan secangkir herbal, sang paman berusaha menenangkan Nana.


Nana menatap pamannya dengan mata yang sendu.


“Kenapa, bukan aku saja yang mati?” ucapnya putus asa.


Sang paman kemudian mengelus rambut keponakannya itu.


“Dulu, ibumu selalu berdoa di siang dan malam agar umurmu panjang. Apa kau tidak kasihan padanya?” sang paman mencoba menenangkan.


Dengan tangan yang gemetaran, Nana kemudian dipeluk pamannya.


“Paman, aku sangat sedih,” ucapnya lirih.


“Nana ingatlah satu hal, Tuan Muda Lee Young paasti ingin kau tetap hidup dan sehat untuk menjaga adiknya, bukankah begitu?” tanya sang paman.


Mendengar itu, Nana kemudian melepas pelukan sang paman.


“Terimakasih, sudah menjaga adikku".


Perkataan Young yang terasa baru saja dikatakan itu, kembali teringat di benaknya. Melihat Nana berhenti menangis, sang paman menghapus air matanya.


“Sudah, jangan menangis. Minumlah ini, dan tetaplah kuat,” bujuk sang paman.


Nana yang terdiam, tertunduk pasrah mengambil minuman itu.


“Tuan Muda Lee Young, tidak masalah Anda tidak mengetahui perasaanku sampai kapanpun. Kumohon, kembalilah. Meski Anda diciptakan sebagai orang yang akan membunuhku dengan 100 pedang, asal bisa melihat Anda sekali lagi, akanku terima". 

__ADS_1


Akhirnya, ia meneguk minuman itu dengan berlinangan air mata.


__ADS_2