
Young akhirnya tiba di sebuah lokasi yang tidak jauh dari desa. Tak ada siapapun yang terlihat disana selain sebuah kedai kecil tua.
Young bertolak pinggang, memejamkan mata seraya menghirup napas segar yang berasal dari pegunungan. "Disini aku bersembunyi, selama bertahun-tahun. Rasanya ... itu baru saja terjadi kemarin. Aku sudah kehilangan banyak momen berharga dalam hidupku."
Nana terbias. Pandang matanya melekat pada Young yang sedang terpejam. Nana terperangah, tersenyum memandang eloknya karisma Young yang menawan. "Anda tidak kehilangan banyak momen, Tuan. Momen lah yang telah kehilangan Anda." Ucapan itu melayang begitu saja tak sadarkan diri.
Young melongok pada Nana. "Kenapa kau masih mau mengabdi pada keluargaku sampai saat ini? Padahal, kau masih bisa mencari majikan baru yang dapat memberikan kehidupan yang lebih layak untukmu."
Karena aku telah bersumpah, aku akan membalas jasa yang telah kalian berikan kepadaku.
"Maaf, Tuan. Aku sangat menyayangi Nona Youra."
Dan Anda, Tuan.
"Aku tidak bisa meninggalkannya."
Bahkan jika harus tercipta sebagai tameng yang melindungi Anda dari hunusan pedang, aku tidak akan meninggalkan Anda. Aku akan berdiri di depannya.
Setelah batinnya sibuk berdialog, Nana terkejut saat Young tiba-tiba berdiri dekat sekali di depannya. "Mungkin sebentar lagi aku akan menikah. Saat itu, kau tidak mungkin bekerja lagi denganku." Young tersenyum padanya, sebelum melanjutkan. "Aku akan menebusmu, sehingga kau tak perlu lagi menjadi budak siapapun. Carilah tempat yang layak untuk kau tinggali, dan menikahlah."
Ucapan Young yang seharusnya menyenangkan, malah membuat Nana menjadi kesakitan. Entah kenapa, meteor seolah jatuh menimpa tubuhnya. Nana mengepal keras gaun indah itu dalam genggaman. Mencoba merakit sedikit demi sedikit hati yang telah lama berantakan.
Nana masih saja mengamati wajah yang sedang tersenyum, lantas air matanya meleleh jatuh tanpa raut apapun.
"Ke-kenapa?" tanya Young tercengang. Nana langsung bersujud di kaki sang tuan. "Tuan Muda, tolong jangan pecat aku. Jika pekerjaanku kurang baik, aku akan memperbaikinya. Tolong jangan pecat aku. Aku sudah berjanji pada diriku, akan selalu mengabdi untuk keluarga, Tuan. Aku mohon ..."
Nana mengusap-usap kedua tangannya, memohon dengan deraian air mata. Young cekatan membantunya berdiri, sembari memegang kedua pundak gadis malang itu. "Nana ... kau juga manusia, kau berhak hidup bebas dan punya keluarga. Kesetiaanmu kepada keluargaku, sudah sangat membantu kami." Young mengelus salah satu pundak Nana.
Dia dingin dan beku. Dia mahal dan tak bisa disentuh. Dia tinggi dan jauh. Dia ... harapan hampa yang tak mungkin diraih. Young memang seperti itu. Namun, sekarang dia jauh lebih hangat. Dia sering tersenyum. Dia jauh lebih banyak bicara. Sayangnya, setelah semua itu berubah, Nana harus dihadapkan pada kenyataan pahit yang ada.
__ADS_1
"Kak Young!"
Suara seorang gadis mengejutkan mereka berdua. Seorang wanita cantik keluar dari kedai tua, menjatuhkan barang bawaannya dan langsung berlari menuju Young dan Nana.
Sangat akrab. Mereka berdua terlihat sangat akrab. Gadis muda itu menggenggam lengan Young dengan manja. "Kak Young kapan tiba? Kenapa tidak bilang padaku kalau mau datang?"
Pakaian gadis itu sangat cantik. Jelas, dia seorang bangsawan. Air mata Nana seolah jatuh ke dalam. Melihat bagaimana dua orang itu saling melempar senyum.
Young menoleh pada Nana, tampak rautnya jauh lebih menyedihkan dari sebelumnya. Dia menundukkan wajah sangat lama. "Oh iya Nana ... ini Ran, dia yang sudah merawatku saat sakit." Young memperkenalkan gadis ceria itu kepada Nana yang telah patah.
"Dia Nana?" tanya Ran melotot pada Young. Young mengangguk. "Hai Nana, aku Ran." Ran mengulurkan tangan indahnya.
Sangat lama Nana menatap tangan itu, hingga akhirnya dia menyambutnya dengan ramah. "Senang bertemu dengan Anda, Nona." Nana membungkukkan setengah tubuhnya. Dia menggenggam tangan itu dengan kedua tangannya. "Terimakasih sudah merawat Tuan Muda dengan baik, Nona."
"Tidak perlu berterimakasih. Ayo masuk, kita makan sama-sama. Biar aku ceritakan lebih banyak tentang Kak Young saat dia masih hilang ingatan. Dia ini dingin dan mulutnya sangat tajam. Untung saja sekarang sudah tidak, berkat ajaranku. Bukankah begitu?" Sikut Ran menyenggol Young.
"Benarkah seperti itu? Aku rasa tidak." Young menanggapi semua dengan baik.
***
Ratu sempoyongan berjalan menemui Putri Shin yang sedang dalam masa perawatan. Terombang-ambing napas itu di tenggorokan. Rasa seolah tercekat makin membumbung, kala kenyataan berhasil menghancurkan raganya yang rindu.
"Apa dia akan sehat?" tanya Ratu Kim sedikit sesenggukan.
"Saat ini ... beliau masih lemah, Yang Mulia."
"Apa dia benar-benar mengandung?" tanya Ratu Kim ragu-ragu. Berharap semua itu tidak pernah terjadi.
"Benar, Yang Mulia. Putri Shin sedang mengandung."
__ADS_1
Jawaban tabib melemahkan seluruh sendi. Ratu Kim hampir saja tumbang, hingga para pelayan gesit menahannya. "Yang Mulia, tenangkanlah pikiran Anda terlebih dahulu."
"Mana ... dimana suaminya?" tanya Ratu Kim mulai memperlihatkan cemas.
"Tuan Ha Sun tak pernah terlihat sejak Putri Shin diantar ke istana, Yang Mulia." Dayang pribadi Putri Shin bersuara.
Ratu lantas menarik cepat pundak dayang itu menatap matanya. "Katakan padaku, apa benar ... bukan Ha Sun?" Mata Ratu Kim melotot tajam, mengerikan untuk tidak segera dijawab. Dayang pribadi Putri Shin yang ketakutan hanya bisa mengangguk cepat.
"Bagaimana ... bagaimana bisa kau membiarkannya?! Kurang ajar?!" Ratu berteriak tiba-tiba dengan tubuhnya yang lemah. Dia bahkan menampar dayang tak berdosa itu berkali-kali.
Dayang pribadi Putri Shin terhempas ke lantai. Ratu menginjak tangan dayang malang itu dengan sepatunya. Mencapit dagu sang dayang dengan tangannya hingga terluka. "Cari suaminya, dan suruh dia bawa Putri Shin pulang. Jika kau tidak melakukannya, kupastikan kau mati sebelum menginjak istana. Kau mengerti?"
Melihat ratu yang memperlakukan dayang pribadi Putri Shin sangat kasar, seorang tabib mendekat padanya. "Maaf Yang Mulia, tapi Pangeran Hon mengeluarkan perintah untuk tidak membiarkan Putri Shin kembali pada suaminya."
"Apa?! Sekarang siapa yang lebih berkuasa?! Aku adalah pemilik tahta ini! Anak pelawan seperti Pangeran Hon itu tidak pantas mengeluarkan perintah seenaknya!" Ratu sangat sesak hingga suaranya terdengar putus-putus.
"Cepat cari suaminya!"
Mereka yang diselimuti ketakutan akhirnya berlari berhamburan keluar dari istana untuk mencari Ha Sun.
***
Pangeran Yul sedang duduk di dalam kediamannya. Dia memandangi sebuah kertas yang terpampang lebar di atas meja. Kertas kehormatan dengan wangi yang menyeruak itu dituliskan dengan tinta emas. Tak hanya itu, tepat di sebelah kertas itu ada sebuah cap dengan lambang naga berwarna emas.
Ini keputusan yang sulit. Pilihan berat yang menanggung resiko besar untuk berikutnya.
"TAHTA" adalah sesuatu yang telah lama dia inginkan. Namun, saat kertas itu benar-benar ada di depannya, entah kenapa dia menjadi ragu untuk segera tanda tangan. Tangannya sangat berat untuk melabuhkan cap kenegaraan itu di bawah sana.
Matanya merayap ke atas ranjang. Sang istri sedang tertidur pulas memegang perutnya yang mulai membesar.
__ADS_1
Ara ... maaf karena aku tidak bisa lagi menyia-nyiakan kesempatan ini.