
"Istri?"
Nana mendongak. Matanya jeli memperhatikan wajah itu. Wajah pria yang telah lama disimpannya. Nana menenangkan diri. Ini semua hanya ilusi. Apa yang dikatakan Tuan Muda Young, semua itu hanyalah sebuah kebohongan. Pada kenyataannya mereka memang sedang menyamar.
"Nana ... sadarlah. Kalian hanya sedang menyamar. Tuan Muda tidak akan pernah menjadi milikmu."
"Apa kalian sudah memiliki anak?" tanya wanita pemilik kios sembari mengemas satu persatu gaun yang dibeli.
Entah kenapa pertanyaan wanita pemilik kios yang satu ini membuat Nana menjadi sesak. Jangan mimpi terlalu tinggi, itu yang terus Nana benamkan di dalam dirinya.
"Secepatnya. Secepatnya kami akan memiliki anak." Mimpi itu kian melambung. Semakin tinggi waktu demi waktu. Perkataan Young membuat Nana menggigit bibirnya sendiri. Ketiadaan yang memang sangat sakit untuk dikenang, adakah tentang perasaan yang memang bertepuk sebelah tangan.
"Semoga kalian memiliki banyak anak. Putra yang setampan ayahnya, dan putri yang secantik ibunya." Wantia pemilik kios memberikan bingkisan berisi 6 pasang gaun mewah.
"Terimakasih, Nyonya." Young meraih bingkisan itu segera. "Sering-seringlah kemari. Bawa juga anak kalian nanti, ya? Aku akan menjahitkan baju istimewa untuk mereka." Wanita pemilik kios yang sangat ramah. Saking ramahnya, Nana bahkan tak bisa mengelak sedikitpun.
"Tentu. Kami akan kembali lagi bersama anak-anak kami. Kami pamit dulu, Nyonya."
SET
Young menggenggam tangan Nana yang dingin, membawanya keluar dari kios. Nana terperangah. Mata itu langsung berlabuh pada objek yang telah lama ingin dia sentuh. Hari ini, dia benar-benar berpegangan tangan dengan majikannya.
Saat langkah mereka sudah menjauh, Nana langsung menarik tangannya dari genggaman Young. "Terimakasih atas kebaikan Anda, Tuan Muda." Nana membungkukkan setengah tubuhnya sangat lama.
"Tidak ada kata lain yang bisa aku sampaikan. Selain rasa terimakasih yang tiada henti untuknya. Tuan Muda Young, cinta pertamaku ... dia lah orang yang telah memberikan sebuah nama padaku. Orang yang membuatku hidup lebih layak. Orang pertama yang memperlakukanku layaknya manusia, saat tiada satupun yang menganggapku ada."
"Tanganmu berkeringat, tetapi dingin sekali. Apa kau sedang sakit?" tanya Young serius.
"Dia juga ... yang telah mengajarkan aku tentang cinta. Dia ... yang tak akan mungkin kugapai."
"Ma-maaf, Tuan Muda. Aku ... aku baik-baik saja." Nana gelagapan, segera menundukkan pandangan.
"Setelah seluruh kebaikan yang telah dia lakukan padaku selama ini ...
Young tersenyum kepadanya. "Baguslah. Itu artinya kita masih bisa jalan-jalan. Mau kutunjukkan tempat persembunyianku?" tanya Young, bersemangat berjalan di depannya.
.... apakah terlalu rakus, memimpikan hatinya juga?"
__ADS_1
"Baik, Tuan Muda." Nana berjalan di belakang tubuh gagah Young. Dia tersenyum sendiri dalam khayalnya yang tinggi.
***
Seorang tabib keluar dari ruang tempat dimana Putri Shin terbaring. "Bagaimana, bagaimana keadaan Kakakku?" tanya Pangeran Hon.
"Saat ini, Putri Shin belum menunjukkan reaksi. Tapi luka di tangan beliau cukup serius untuk segera ditangani, Yang Mulia Pangeran. Untung saja, janin di dalam perut Putri Shin tidak apa-apa."
"Ja-janin?" Pangeran Hon berjalan sempoyongan ke arah para dayang. "Dimana suaminya?" tanya Pangeran Hon sedikit parau.
"Hamba tidak tahu, Yang Mulia Pangeran. Sejak Putri Shin di antar ke istana, Tuan Muda Ha Sun tak terlihat lagi." Salah seorang dayang memberikan keterangan.
Pangeran Hon celingak-celinguk, memperhatikan keadaan sekeliling. "Jangan pernah antar kakakku lagi pada suaminya. Kau mengerti?" bisik Pangeran Hon membuat para dayang terkejut. Tampaknya, putra bungsu raja itu mengetahui sesuatu.
***
Langit tak pernah berubah. Tetap hitam dan gelap seperti biasa. Pelan-pelan Youra membuka mata. Dia merasa ada sesuatu yang mengikat tubuhnya.
Putra Mahkota masih tidur, melingkarkan tangan di perut sang permaisuri. Youra mengintip sedikit ke dalam sana. Tak ada sehelai benangpun diantara mereka berdua.
"Huft ... " Youra menghela napas panjang. Pemandangan luar biasa itu terpampang nyata sekali lagi saat dia membalikkan kepalanya ke arah sang suami.
Pelan-pelan Youra melepaskan pelukan sang suami yang melingkar di perutnya. Perlahan-lahan menjauh untuk segera melakukan pekerjaan khas seorang istri.
Youra meraih bajunya yang berserakan di lantai. Saat tubuh itu hendak beranjak, tiba-tiba sepasang tangan menyilang dari perutnya. "Mau kemana?" Putra Mahkota memangku wajahnya di pundak telanjang Youra. Dia mengecup pundak itu dengan wajah sembab. Mata Putra Mahkota di pagi hari selalu sipit sebelah. Namun dilihat dari sudut manapun, sang pemilik tahta itu tetap terlihat tampan.
"Aku ... aku harus menjemur pakaian kita, Yang Mulia." Entah kenapa, sesering apapun dia bertemu dengan suaminya, dia tetap canggung dan malu. Merasa tidak percaya diri saat berada di dekat sang suami.
Youra menggeser tubuh yang masih berbalut selimut, memakai gaunnya terburu-buru tanpa memandang ke belakang. Wajah Putra Mahkota berubah urung. Tidak terima permaisurinya beranjak cepat.
"Aku tidak mengizinkanmu keluar."
Suara lelaki itu membuat langkah Youra terhenti di depan pintu. Pelan-pelan dia membalikkan badannya untuk memeriksa. Putra Mahkota menatapnya tajam. Entah kenapa wajah sembab bangun tidur itu terlihat menggemaskan.
Youra berjalan cepat ke arah suaminya.
Muah!
__ADS_1
Youra mencium pipi tampan itu lalu berlari keluar gubuk malu-malu. Berhasil. Putra Mahkota akhirnya diam. Gampang sekali membujuk prianya untuk tidak memberengut.
***
Youra keluar menutup wajahnya. Dia tersenyum ringan sembari memukul kepalanya sendiri. Sangat malu rasanya bertindak agresif di depan pria itu, tapi dia tidak bisa menahan diri.
Youra pergi ke belakang, mengambil tumpukan kain basah yang telah dicucinya semalam. Tak ada matahari pagi itu, tapi dia tetap menjemur pakaian mereka, mengingat keterbatasan pakaian yang mereka bawa.
Semuanya berjalan lancar sampai saat itu. Youra masih senyum-senyum sendiri, sembari melirik sedikit ke arah gubuk. Ternyata Putra Mahkota sedang berdiri disana memandanginya sambil tersenyum. Youra sangat canggung sampai-sampai pakaian yang hendak dijemurnya tak menyentuh tali jemuran.
Tenang, Youra. Jangan bertingkah konyol di depan suamimu karena gembira.
Tiba-tiba, disaat rasa bahagia itu makin tumbuh, sesuatu yang melintas di atas sana membuat Youra ketakutan.
"Tidak!"
Youra berlari ke arah Putra Mahkota, mendorong tubuh itu hingga dia terjatuh di atas tubuh suaminya.
SET!
Sebuah anak panah menembus bayangan Putra Mahkota. Menempel pada tiang gubuk mereka. Jelas, ini percobaan pembunuhan.
Ada seseorang di hutan ini. Putra Mahkota berdiri, mencabut anak panah dan memandanginya. Mata setajam elang itu menelusuri tiap jejak hutan yang menyimpan banyak rahasia.
"Ini panah beracun," batin Putra Mahkota.
Youra yang masih dalam masa penyesalannya, merasa sangat takut kehilangan suaminya. Dia tidak mau kehilangan lagi. Sudah cukup teguran itu membuatnya hampir mati.
"Yang Mulia, apa ini?" tanya Youra ketakutan, menggenggam erat lengan suaminya. Putra Mahkota merapikan rambut sang permaisuri, bersikap tenang seolah tak ada yang terjadi. "Sepertinya, ada sekelompok orang yang sedang berburu." Terpaksa berbohong, agar Youra tidak panik.
Putra Mahkota mengambil kain yang hendak di jemur Youra. Namun, matanya masih terus waspada. "Aku akan membantumu mengerjakan semua pekerjaan ini. Setelah itu, masuklah ke dalam gubuk. Ini perintah."
Putra Mahkota mengusap kepala istrinya. Dia merapikan rambut indah Youra. "Jangan takut, ya Sayang. Selama ada aku disini, semuanya akan baik-baik saja."
"Aku takut terjadi sesuatu yang buruk kepada Anda. Perasaanku tidak enak." Youra menitikkan air mata di hadapan suaminya.
Putra Mahkota menyeka air mata itu, tersenyum kemudian. "Selama kau mencintaiku, selama itu tidak akan ada hal buruk yang terjadi padaku." Putra Mahkota mengecup lama dahi permaisurinya.
__ADS_1
"Tapi ... jika itu benar-benar pemburu, apa hutan ini begitu gelap hingga dia tidak melihat Anda tadi berdiri disini? Yang Mulia ... apa kita harus pergi dari sini?"