
Malam itu, hukuman untuk ratu telah ditetapkan dan ditulis secara resmi di dalam sebuah kertas mewah yang lengkap dengan tanda tangan raja.
Raja berjalan menuju kediaman sang ibu untuk memastikan keadaannya.
Pintu kediaman Ibu Suri dibuka lebar untuk raja. Terlihat sang ibu sedang duduk di depan meja berisi hidangan yang telah habis dia santap. Raja menoleh pada para pelayan yang bersedih, seolah ingin tahu apa yang telah terjadi.
"Yang Mulai Ibu Suri terlalu banyak makan hingga kami tidak tahu bagaimana cara menghentikannya, Yang Mulia." Semua pelayan menaruh cemas.
Raja cepat-cepat masuk, dan duduk tepat di hadapannya.
Saat itu, Ibu Suri terus saja menggoyangkan tubuhnya. Kuku-kukunya banyak yang tanggal dan berdarah. Semalaman, dia hanya sibuk menguliti kukunya sendiri. Raja memandangi itu dengan rasa iba.
"Ibu?" panggil raja lemah lembut.
Awalnya Ibu Suri tak memandangnya sama sekali. Hanya termangu dengan wajah pucat lurus ke depan. Raja menggeser meja berisi hidangan itu dengan hati-hati.
"Ibu, apa Anda baik-baik saja?" tanya raja khawatir melihatnya. Dia menyentuh tangan sang ibu dan menatap dua bola yang sejak tadi meneteskan air mata.
"Kenapa kau kemari?" tanya Ibu Suri angkuh.
"Aku ... ."
Uhuk!
Tiba-tiba Ibu Suri terbatuk. Raja langsung merangkulnya. "Ibu ... Ibu baik-baik saja, kan?" tanya raja sekali lagi.
Uhuk!
Batuk terakhir Ibu Suri sukses membawa keluar banyak darah yang berserakan di lantai dan di atas jubah raja.
Raja terkejut melihat banyak darah yang keluar dari mulut ibunya. Raja lantas menoleh pada hidangan yang baru saja Ibu Suri makan. Meraih salah satu hidangan itu dan menciumnya. "Ini racun. Pelayan, panggil tabib!!"
"Ibu, apa yang Anda lakukan?!" teriak raja tak percaya, Ibu Suri telah mencampurkan racun ke dalam hidangannya sendiri.
__ADS_1
Ibu Suri terjatuh lemah, terbaring tepat di atas pangkuan raja. Meski terus tersedak oleh darah, meski dengan mata memerah yang mulai melemah, pelan-pelan Ibu Suri meraih wajah putra tiri yang sangat dibencinya itu.
"A-anakku ...," lirih Ibu Suri sembari tersenyum.
Raja melemah. Ini pertama kalinya Ibu Suri memanggilnya dengan cara seperti itu. Raja meraih tangan Ibu Suri yang berlumuran darah. "Iya Ibu, ini aku. Ini aku, Putra Anda."
Uhuk!
Darah itu tak berhenti keluar sama sekali. Namun, dia tampak tidak kesakitan. "Terima kasih ... te-terima kasih, sudah membiarkan saudaramu ... te-tetap hidup."
Ibu Suri nampak sangat tersenggal-senggal, napas itu sudah mulai berat untuk ditariknya masuk. "Maaf ... maafkan, a-aku. Aku lah, a-akulah yang sudah menghancurkan hidupmu."
Raja meraih tangan sang ibu, memeluk dan mencium tangan itu. "Ibu, sudahlah. Mohon jangan banyak bicara. Tunggulah tabib akan segera tiba." Terisak-isak raja menangis sedih.
"Pelayan! Mana tabibnya?!" teriak raja ketakutan.
"Hyeon, putraku ...," panggil ratu sekali lagi, dengan mata yang mulai terpejam. "Iya, Bu?"
Suara pintu didobrak bahkan tidak mampu membuyarkan rasa sedih semua orang. Pangeran Hon yang baru saja datang langsung menangis terisak-isak di sebelah tubuh ibunya. "Ibu, bertahanlah Ibu. Maafkan aku, maaf karena aku tidak pernah lagi mengunjungi Ibu. Maafkan lah kami, maafkan lah kami, Bu." Perkataan Pangeran Hon membuat semua tangis kian memecah. Para pelayan sangat sedih, karena Ibu Suri memang telah lama menanti kehadiran anak-anaknya. Namun, mereka tidak pernah sekalipun datang untuk sekedar menanyakan keadaannya.
"Jangan minta maaf." Meski sangat lemah, Ibu Suri meraih pipi putra bungsunya. Menyeka air mata sang anak. "Hiduplah ... hi-hiduplah dengan damai." Ibu Suri menggenggam tangan raja rapat-rapat. Membawa tubuhnya lebih nyaman di pangkuan raja.
"Hyeon ...," panggil ratu.
"Iya, Bu?" terisak raja menjawabnya.
"Ibu letih sekali, bi-biarkan Ibu tidur di pangkuanmu, ya?" kata Ibu Suri sembari memejamkan matanya lebih rapat. Suaranya sudah memelan, tidak seperti tadi. Raja mengangguk, mencium tangan ibunya berkali-kali.
Hingga akhirnya,
"Ibu?"
"Ibu?!"
__ADS_1
"Ibu!"
Para tabib yang baru saja tiba hanya saling melempar pandang. "Yang Mulia, Ibu Suri ... Ibu Suri sudah tiada."
"Yang Mulia!!!!!" Seluruh pelayan mengejar tubuh sang tuan sembari bersujud. Pangeran Hon dan raja hanya bisa menangis tersedu-sedu di sudut ruangan.
Saat yang bersamaan, para pelayan memberikan secarik kertas yang dulu sempat beliau titipkan. Raja yang terisak membuka kertas itu perlahan-lahan. Air matanya pun semakin deras berjatuhan.
Yang Mulia Baek Hyeon, Putraku Sayang.
Aku tidak tahu, harus mengatakan apa lagi padamu, selain permohonan maaf karena sudah menghancurkan hidupmu yang malang. Maafkan aku, jika tindakanku suatu hari akan mengecewakan. Aku tahu, kau tidak akan menghukumku, kau tidak akan menjatuhkan hukuman mati itu untukku. Tapi karena itu, posisimu sebagai raja yang adil akan diragukan. Meski aku tidak pantas untuk mengatakannya, tapi anakku ... aku titip istana ini kepadamu. Jadilah raja yang adil dan baik. Tetaplah menjadi dirimu yang sesungguhnya. Tolong juga sampaikan maaf dariku untuk putriku, Shin. Dia sangat menderita selama ini.
Hyeon-ku, jangan banyak makan kue beras. Kau mudah masuk angin dan batuk karena serbuk kue itu tidak terlalu sehat untukmu. Maaf ... mungkin aku tidak bisa melihat cucuku, tapi ... jadilah ayah yang baik. Sayangilah semua anakmu nanti. Aku titip salam, pada istrimu. Sampaikan lah maafku kepadanya.
Salam cinta, Selir Seol.
****
"Ibuku Sayang, aku tidak pernah menyesal memiliki ibu seperti Anda, meski semua orang tahu betapa Anda sangat membenciku." Raja menatap langit yang mulai menghembuskan angin. "Karena aku percaya, cepat atau lambat Anda akan menyayangiku, tapi ternyata aku salah." Air mata raja lebih deras dari sebelumnya. "Anda telah menyayangiku sejak lama," tambahnya bergumam.
***
Saat yang bersamaan, Pangeran Yul dan Putri Shin yang sedang berada dalam perjalanan terpisah menengadah ke langit malam yang gelap. Mereka menangis menahan rasa sakit yang dari tadi menjerat perasaan mereka. Seolah tahu apa yang terjadi, meski berada dalam tempat yang berbeda ... mereka berdua terduduk lemah di bawah guyuran hujan.
Meski raga itu tak lagi ada, meski napas itu tak lagi ada, meski semuanya telah berubah menjadi tiada, tapi ... cintanya masih terasa. Cintanya masih tertinggal untuk dikenang selamanya.
"Selamat jalan, Ibu. Selamat jalan, Ibuku Sayang."
Keduanya bahkan tahu apa yang sudah langit takdirkan.
***
Ibu. Satu kata yang tidak pernah lepas dari kehidupan, yang terkadang baru mendengar saja sudah membuat air mata berjatuhan ... adalah tentang arti kehadiran seorang ibu. Seburuk apapun, sebenci apapun, dan sekuat apapun menolak ... beliau tidak pernah melupakan anak-anaknya. Dengan jerit kepalsuan dan kebahagiaan yang beliau tunjukkan ... beliau berhasil menciptakan kebahagian-kebahagiaan besar untuk anak-anaknya yang bahkan tidak tahu apa-apa. Beliau berhasil menyembunyikan semua luka di depan anak-anaknya, beliau berhasil menciptakan puing-puing kenangan bersama cinta untuk anak-anaknya. Lantas, masihkah pantas untuk membenci ... beliau yang sudah bersedia memberikan hidupnya?
__ADS_1