
Pangeran Hon yang sudah lama tidak menginjakkan kaki di istana, hari itu datang sebagai tamu kehormatan untuk rapat dan sidang yang akan segera dilangsungkan. Pangeran Hon melirik seluruh peserta dan hadirin. Tak ada satupun yang absen, tetapi dia tak melihat Pangeran Yul ada disana. Dia juga tak melihat Jun yang menjabat sebagai Kepala Menteri Pendidikan dan Kebudayaan hadir. Bahkan dia tak juga mendengar kepulangan Putri Shin yang entah kemana.
Saat itu, para pejabat dan rakyat saling berbisik. Mereka kebingungan tentang apa maksud raja sebenarnya mengumpulkan mereka semua di lapangan istana yang terbuka lebar. Saat itu, Perdana Menteri Han belum juga hadir. Padahal sebentar lagi raja akan tiba bersama permaisurinya.
"Selamat datang, Pangeran Hon. Lama tidak berjumpa dengan Anda. Bagaimana kabar Anda?" Salah satu menteri menyapa Pangeran Hon. "Baik," jawab Pangeran Hon. Dia segera menoleh kepada para menteri yang sedang berbisik. Tampaknya mereka mulai bergosip soal raja. Pangeran Hon hanya tersenyum tipis melihat itu semua.
***
Perdana Menteri Han baru saja tiba. Seperti biasa, dia memang selalu terlambat. Namun, kinerja dan kepintarannya tak terbantahkan lagi. Itulah sebabnya tak ada yang bisa marah padanya, bahkan raja sekalipun.
"Perdana menteri, mengapa perasaanku tidak enak, ya? Syukurlah Anda datang. Melihat wajah semua orang semakin membuat perasaanku tidak enak." Salah seorang menteri berbisik pada Perdana Menteri Han.
Saat itu, mata Perdana Menteri Han hanya sibuk menelusuri satu persatu pejabat yang hadir. Setiap kepala menteri akan berdiri di paling depan. Namun, dia tak melihat Jun ada disana. Sejak pertemuan terakhir dengan putranya itu, Perdana Menteri Han tak bisa tidur dengan nyaman. Sudah cukup lelah dia mencari keberadaan Jun, tetapi Jun tak diketahui ada dimana. Perdana Menteri Han bernapas lega, saat tahu Jun tidak jadi membawa kabur sang ratu. Dia hanya takut putranya yang sedang tergila-gila itu akan berbuat nekat.
"Bukankah aku adalah putramu, Ayah?"
Kalimat itu terngiang-ngiang setiap waktu. Merayapi seluruh sudut kepalanya tanpa celah sama sekali. Hatinya kalut dan gusar. Saat mata itu sibuk berkeliling, tak sengaja ia melihat raut wajah yang aneh pada Kepala Menteri Perang. Dari tadi, Kepala Menteri Perang terlihat gelisah dan terus melirik singgasana. Sama seperti yang lain, mungkin dia punya firasat aneh.
Kepala Menteri Perang tak sengaja memergoki Perdana Menteri Han yang sedang memandanginya. Segera ia membuang muka dan berpura-pura tenang. Semua orang saling melempar pandang. Kebingungan lantaran rakyat juga diizinkan untuk mengikuti persidangan.
***
Ibu Suri duduk termangu di atas ranjang dengan gaun putih. Dia tak lagi mengamuk atau berteriak. Terlihat pasrah tak bergerak. Dia makan dan minum dengan lahap tak seperti biasa. Hanya saja ... air matanya terus mengalir tiada henti dengan wajah datar.
"Dayangku ... apa anakku hadir dalam pertemuan itu?" tanya Ibu Suri dengan suara paraunya.
"Pangeran Hon datang, Yang Mulia. Namun, kami tidak melihat Pangeran Yul dan Putri Shin sejak pagi. Padahal, sebentar lagi rapat akan dimulai."
"Aku ingin melihat cucuku yang lahir kemarin, bisa kau antar aku sebentar ke kediaman Pangeran Yul?" Entah kenapa tatapan Ibu Suri sangat menyedihkan.
"Yang Mulia ... para opsir mengepung ketat kediaman Anda. Kita tidak bisa keluar dari sini."
Ibu Suri termenung. Dia segera meraih dua buah kertas wangi yang telah diikat dengan pita. "Dayangku ..."
__ADS_1
"Ya, Yang Mulia?"
"Bisa kau berjanji padaku?" tanya ratu. Pelayan itu mengernyitkan dahi, sebelum mengangguk. "Berikan lah surat ini kepada raja." Dengan tangan yang bergetar Ibu Suri mengulurkan. "Dan yang ini ... berikan pada anak-anakku yang lain," tambahnya.
Para pelayan itu merasa iba sekali, karena sudah lama anaknya tak ada satupun yang berkunjung untuk sekedar bertanya tentang keadaannya. Dan sekarang beliau sangat sulit untuk keluar karena para petugas mengawal ketat kediamannya akibat pernyataan saksi yang memberatkannya beberapa waktu yang lalu soal racun.
"Baik. Baik, Yang Mulia."
***
Angin yang berhembus kencang menciptakan melodi lebih epik dari biasanya. Semuanya terasa aneh, bahkan desiran pasir pun terlihat berbeda. Tak lama setelah asik berduel dengan rasa penasaran dan ketakutan, seluruh orang terdiam sesaat setelah Jung Hyun memasuki lapangan utama itu.
"Kenapa pengkhianat itu dibebaskan?" Mereka kebingungan, melihat Jung Hyun bebas dengan mudah. Setelah itu, Kasim Cho pun datang membawa beberapa kertas di atas sebuah nampan mewah menuju singgasana.
"Apa-apaan ini?!"
Saat itu, Jung Hyun berjalan dengan gagah dan berdiri di tengah dengan wajah risaunya. Dia menggali napas lebih dalam sebelum berteriak.
Satu!
Tiga!
"Berikan hormat kalian pada Yang Mulia Raja dan Ratu negeri ini!"
KRIEETT!
Deritan pintu utama istana dibuka menggema hingga ke langit yang hitam. Mereka mendongak ke langit yang tidak bersahabat.
"Tundukkan wajah kalian!"
Mereka yang terkejut cepat-cepat membungkukkan tubuh serentak, tatkala derapan langkah ramai mendekat masuk melalui tengah pintu.
"Selamat datang, Yang Mulia Raja dan Ratu!" Serentak seluruh pejabat dan rakyat bersujud pada raja dan ratu yang menapaki kakinya di atas karpet merah yang terbentang panjang menuju singgasana. Raja tidak lagi menggunakan penutup wajahnya, dan Youra yang menggandeng tangan sang suami datang dengan kepala dan wajah yang ditutupi selendang sutra.
__ADS_1
Semua orang tak terkecuali berbinar kagum. Wajah tampan yang selama ini mereka hina bisa dilihat jelas orang semua orang, hingga tungkai mereka melemah.
Youra menggenggam lengan sang suami dengan rasa takut luar biasa. Sangat waspada dia berjalan di tengah-tengah. Raja meraih tangan mungil istrinya, hal itu membuat Youra sedikit kuat dari sebelumnya.
Setelah raja dan ratu duduk di singgasana, barulah semua orang kembali berdiri, tetapi tetap takut menegakkan kepala.
"Tegakkan lah kepala kalian, aku tidak melarangnya." Suara raja yang sangat jantan, membuat semua orang langsung menengadah mengintip singgasana.
"Waahh!" Tak ada kata yang mengungkapkan kekaguman selain itu.
Saat itu, Perdana Menteri Han melirik ke tempat kosong tak berisi. Tak ada Jun sama sekali dimanapun, bahkan Pangeran Yul tidak ada.
"Ada apa ini?" gumamnya heran.
Raja berdiri dari duduknya, berjalan menuju anak tangga pertama. Berdiri beliau disana dengan gagah. Segera Kasim Cho mendekat, menyerahkan seluruh kertas itu dihadapkan sang pemilik tahta.
"Hari ini, aku mengumpulkan kalian semua ... untuk meluruskan sesuatu yang telah lama bengkok dan patah." Perkataan raja menyipitkan mata semua orang. Sangat hening, hingga suara jantung yang berdebar pun sangat terdengar.
"Rapat terbuka ini aku namakan 'Sidang Penentuan' dengan seluruh rakyat memiliki hak untuk mengajukan penolakan," kata raja.
"Apa?! Bagaimana bisa membawa rakyat dalam sidang?!"
"Sudah! Kita lihat saja!" Para pejabat hanya bisa menahan diri, lantaran para petugas keamanan berdiri di setiap sela.
Raja membuka sebuah kertas, dan mulai membacanya. "Dengan ini aku sampaikan, bahwa pengawal pribadiku Jung Hyun ... beserta pelayan pribadi yang sudah menemaniku selama lebih dari 20 tahun ... mutlak dibebaskan!"
"Yang Mulia, bagaimana bisa mereka dengan mudah dibebaskan atas seluruh tuduhan dan bukti-bukti kuat yang memberatkan?!" teriakan para menteri saling melempar penolakan.
Raja tak memperdulikan protes yang dilayangkan untuknya. Dia terus saja membuka satu persatu kertas yang telah ia bawa. "Untuk meluruskan semua ini, maka hari ini secara resmi aku mengundang seluruh saksi atas beberapa kejahatan yang selama ini ditutupi!"
Raja menuruni satu lagi anak tangga. "Kejahatan ini berkaitan dengan penyalahgunaan jabatan, serta kasus korupsi dan suap yang berhasil ditemukan melalui bukti-bukti akurat yang tidak dapat lagi terbantah. Juga beberapa kasus lainnya yang berkaitan sejak 15 tahun yang lalu, dan ... "
Raja memandangi seluruh hadirin, sebelum melanjutkan. "Dan pelaku yang terlibat dalam pembunuhan berencana yang dilakukan terhadap Lee Young, putra sulung mendiang Penasehat Negara!"
__ADS_1
Deg... Deg...