
Malam itu, Youra dan Putra Mahkota berhenti di belakang sebuah batu besar yang menghadap ke sebuah kuil. Dua orang pengawal yang mengiring mereka menyiapkan tempat istirahat sesaat untuk keduanya, mengingat kondisi Putra Mahkota yang mengkhawatirkan. Wajah Putra Mahkota kembali pucat. Tak seorangpun termasuk Youra tahu bahwa saat itu, luka Putra Mahkota mengeluarkan banyak darah. Mungkin, karena mereka banyak sekali bergerak. Putra Mahkota tak mau berhenti mengawasi sang istri, karena takut terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya.
"Yang Mulia, istirahatlah terlebih dahulu disini." Youra duduk bersama suaminya di belakang batu itu, menghindari pandangan dari pengawal. Putra Mahkota berusaha keras menyembunyikan raut wajah kesakitan yang sedang menggerogoti luka di perutnya. "Istriku, apa kau baik-baik saja?" tanya Putra Mahkota sembari menyentuh wajah kecil istrinya.
"Selama Anda baik, aku akan tetap baik-baik saja Yang Mulia." Youra menyandarkan kepalanya di pundak sang suami. "Bagaimana dengan Anda, Suamiku?" tanya Youra berlemah lembut. Putra Mahkota meraih kepala sang istri, membawanya tidur di atas pangkuan hangatnya. "Asal bersamamu, aku merasa sangat baik."
Suasana yang gelap, membuat Youra tidak dapat melihat betapa pucatnya Putra Mahkota saat itu. Putra Mahkota tak bisa berbuat lebih, lantaran ada banyak pengawal yang dapat mendengarnya. Dia hanya terus menyentuh bibir Youra, menariknya dalam khayal ingin mencumbu sang istri yang sedang memejamkan mata di atas pangkuannya. Putra Mahkota sangat ingin ...
"Sabar," gumamnya meyakinkan diri.
Youra tertidur di pangkuan suaminya. Mungkin merasa sangat nyaman, mengingat perjalanan panjang yang mungkin saja membuat seorang wanita sepertinya menjadi sangat lelah. Putra Mahkota sangat senang bisa melihat wajah wanitanya dengan puas. Putra Mahkota membelai mesra rambut cantik Youra, menyelimuti dengan jubah miliknya.
Tiba-tiba sorang pengawal datang mendekat, membawakan beberapa makanan untuk mereka berdua. "Yang Mulia, ini makanan untuk Anda dan Yang Mulia Permaisuri Lee. Dan ini, sangat baik dikonsumsi oleh wanita yang sedang mengandung." Pengawal itu menyerah beberapa buah-buahan segar.
Entah kenapa, perasaan senang itu berubah hancur. Pecah meninggalkan kepingan asa yang hampir runtuh. "Mengandung? Apa maksudnya?" tanya Putra Mahkota dengan napas tersenggalnya yang mulai terdengar sakit.
"Permaisuri Lee, tidak mengatakan kepada Anda bahwa beliau sedang mengandung? Sejak Anda dinyatakan hilang, Permaisuri Lee kembali ke istana membawa pengumuman bahwa beliau sedang mengandung anak Anda." Pengawal itu polos saja menceritakannya, tak sadar bahwa Putra Mahkota sakit mendengarnya.
"Akh!" Putra Mahkota menyentuh perutnya yang terluka. "Yang Mulia, Anda baik-baik saja?" tanya sang pengawal cemas. Putra Mahkota menatap istri yang sedang terlelap di pangkuannya. "Apa semua ini hanya berpura-pura?" batinnya merasa sakit.
***
"Tuan Muda Lee Young, lelaki yang bersama Anda kemarin ... " Seorang pria yang ditugaskan Young untuk menggali informasi di sekitar istana tampak panik.
"Maksudmu, Jung Hyun?" tanya Lee Young kebingungan. Pria itu mengangguk cepat, meraih tangan Young, sebelum celingak-celinguk ke segala sisi. "Ada apa dengannya?" tanya Young mulai panik.
__ADS_1
"Dia ditangkap oleh istana, Tuan."
"Apa?!" Sontak, kalimat itu membuat Lee Young kalang kabut. Dia tak pikir panjang untuk melangkah pergi dari tempat itu secepatnya.
***
Youra terbangun dari tidurnya yang hanya beberapa saat. Aroma wangi yang menyeruak dari tubuh Putra Mahkota membuatnya sadar dia sedang berada dimana. Sayup-sayup Youra melihat wajah yang sedang menatap kosong ke depan sana. Menyandarkan tubuhnya seperti orang yang putus asa.
"Maaf Yang Mulia, aku tidak sadar telah tertidur di pangkuan Anda. Mengapa Anda tidak tidur, Yang Mulia Suamiku?" tanya Youra mendekatkan tubuhnya pada Putra Mahkota.
Putra Mahkota tak memberikan respon. Setelah Youra bangkit dan duduk, Putra Mahkota lantas berdiri, memegang perutnya. Membawanya pergi ke balik batu yang sedikit jauh dari pengawal. Di atas tempat Putra Mahkota duduk tadi, Youra dapat melihat banyak darah yang menjejak membasahinya. Lantas dia panik dan mengejar suaminya itu. "Yang Mulia, Anda kembali terluka. Jangan bergerak dulu, ayo aku bantu mengoleskan obat." Youra ikut duduk di sebelah suaminya.
Putra Mahkota menarik tangannya lepas dari genggaman Youra, membuat gadis itu kebingungan. "Yang Mulia ada apa ... "
Putra Mahkota tiba-tiba saja memerangkap Youra di antara kedua lengannya yang kokoh, memojokkan Youra hingga gadis itu tak bisa menghindar. Wajah itu sedang marah. Entah kenapa, Youra tidak tahu. Dia hanya bisa menitikkan air mata karena khawatir soal kesehatan suaminya.
"Lee Youra, kenapa kau tidak membiarkan aku mati saja?" Putra Mahkota sangat marah. "Suamiku, apa yang sudah terjadi?"
"Katakan padaku, siapa yang sudah menghamilimu? Kau bahkan tidak pernah membiarkan aku menyentuhmu!" Di antara kemarahan itu, Putra Mahkota masih menitikkan air mata.
"Lee Youra ... " Suara Putra Mahkota berubah mengecil, dia sangat frustasi. "Tolong biarkan aku mati saja, aku tidak sanggup lagi." Suara Putra Mahkota menggambarkan betapa kecewanya dia.
Youra yang terpaku, mendekatkan tubuhnya pada sang suami yang sangat dicintainya. Tanpa menjawab apapun, Youra berhasil menenangkan suaminya dengan ciuman manis yang dia berikan.
__ADS_1
"Yang Mulia Suamiku, tidak ada seorangpun yang boleh menyentuhku, selain Anda." Youra membelai mesra suaminya.
Putra Mahkota terkunci pada ujung napas mereka yang saling bertabrakan. "Aku hanya mencintai Anda. Selamanya, hanya Anda." Youra masih dengan tangan manjanya yang membelai mesra. Benar-benar berhasil menenangkan suaminya.
"Aku tidak akan mengkhianati Anda lagi. Aku sangat mencintai Anda." Youra kembali mencium mesra suaminya yang sedang bersedih.
"Aku hanya akan mengandung anak Anda." Youra memanjakan Putra Mahkota dalam pelukannya.
Putra Mahkota menarik tubuh Youra lebih menempel, memainkan insting liarnya untuk pertama kali. "Lalu anak siapa yang ... "
"Aku hanya bersandiwara, agar dapat menyelamatkan Suamiku tersayang." Youra melingkarkan tangannya di leher suaminya, meremas rambut belakang Putra Mahkota. "Karena aku tidak mengandung, mengapa Anda tidak benar-benar membuatku hamil?"
"Lee Youra ... " Napas panjang itu terdengar sedang melawan keras gejolak hasratnya yang membara.
"Jangan menggodaku, aku tidak tahan," sambung Putra Mahkota. Youra mencubit hidung suaminya "Apa salah, jika aku menggoda Suamiku sendiri?" Youra malah memanaskan imajinasi itu lebih dalam. Putra Mahkota menarik tubuh Youra berlawanan arah.
"Sayang, ini di tengah hutan. Jangan membuatku menginginkannya." Lembut sekali. Suara itu berbisik mesra di pundak kiri Youra. Youra merasakan ada sentuhan basah di ujung jarinya. Benar, perut Putra Mahkota masih mengeluarkan darah. Youra segera melepaskan diri dari ikatan nafsu yang sudah berada di ubun-ubun suaminya.
"Suamiku, aku harus mengobati luka Anda." Youra beranjak dari tempat itu, mengambil beberapa herbal untuk mengobati luka suaminya. Sebentar saja, dia sudah tidak sabar untuk kembali bermanja dengan Putra Mahkota.
"Yang Mulia, kita harus mengganti pembalut lukanya. Biar aku membantunya." Youra mendengar napas berat yang terus saja keluar dari hidung suaminya. Dia melirik pada wajah yang menaruh harapan besar. Membuat dia yang bersedih jadi tertawa kecil. Dia sangat mengerti maksud tatapan itu. "Sabar Suamiku Sayang. Ada banyak orang disini. Maafkan aku." Youra benar-benar menunjukkan cintanya.
Putra Mahkota yang tadinya tidak percaya, merasa tubuhnya telah terobati semuanya. Selama ini, yang dia inginkan hanya cinta dari sang permaisuri. Dan harapan itu tampaknya telah terwujud.
"Istriku, kau tega sekali. Menggodaku, lalu memintaku untuk menunggu." Suara itu sangat manja. Putra Mahkota akhirnya menyandarkan kepalanya kembali ke dada Youra yang berdesir gugup. "Tidurlah dahulu Suamiku. Kita akan berangkat lagi nanti." Youra membelai mesra kepala suaminya.
__ADS_1
Aku melihatnya dengan jelas, dia sangat mencintaiku. Mengapa aku bodoh sekali selama ini? Aku merasa rugi telah membuang waktu yang berlalu. Andai saja lebih cepat, mungkin saja aku bisa membahagiakannya dengan memberikan seorang putra.