Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Awal Kisahku dan Jun


__ADS_3

Angin semilir berhembus lembut menemani para rakyat yang sedang bertani. Sambil menaruh harapan pada tangkai-tangkai lemah yang baru saja menjulang itu, para rakyat yang kelaparan berkumpul di bawah teduhnya langit.


“Jika kita gagal panen, ini semua adalah kutukan langit. Sudah bertahun-tahun gagal panen, semakin banyak yang meninggal kelaparan disini. Kita hanya menunggu giliran,” seorang petani membuka suara.


Orang-orang yang malang,


“Tanah yang kita olah adalah milik bangsawan, tetapi yang membayar pajak adalah rakyat yang lemah juga. Aku bahkan tidak bisa membeli beras,” tambah petani lainnya sambil menyeka keringat.


Mereka tidak bisa berbuat apapun.


“Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Sejak dulu, sistem kerajaan memang memberatkan rakyat. Sudahlah, jika ada yang mendengar ini, kita bisa di penggal".


Mereka tidak bersalah,  


Para petani itu lanjut mengerjakan pekerjaan mereka.


“Semua ini adalah kutukan yang dibawa Putra Mahkota. Apa kalian tidak mendengar rumor itu?”.


Mereka hanya tidak tahu.


Para petani kemudian saling berpandangan. Mereka berdekatan satu sama lain.


“Putra Mahkota, lahir di malam badai saat hampir dari separuh rakyat tewas. Katanya, dia terkena penyakit kulit yang mengharuskan dia memakai penutup wajah setiap saat. Banyak yang bilang, dia bahkan tidak pernah belajar, suka membantah perintah raja, tidak pernah tersenyum, hampir seluruh dayangnya dipecat dan dipenggal. Bahkan belum lama ini, ada tempelan yang kemarin ditarik oleh para pengawal istana, soal ramalan buruk yang akan menimpa negeri atas kelahirannya". 


Para petani yang mendengar itu terkejut.


“Bagaimana bisa, raja mempertahankan posisi Putra Mahkota? Bukankah dia punya dua putra yang lain? Kasihan pangeran yang lain, pasti sangat menderita. Negeri ini, tidak boleh dipimpin orang seperti itu, langit akan mengutuk kita,” tambah salah seorang petani yang lain.


Jun yang mendengar percakapan itu kemudian mendatangi mereka.


“Maaf, aku pikir sebaiknya kalian berhati-hati berbicara soal kerajaan, itu sangat sensitif,” kata Jun yang saat itu juga sedang bertani.


Tiba-tiba, beberapa orang suruhan perdana menteri datang untuk menjemput Jun yang saat itu sedang bekerja. Untuk menghilangkan kecurigaan rakyat yang tampak terkejut karena Jun dipanggil “Tuan Muda” oleh orang-orang itu, Jun segera bergegas dari tempat itu.


Para rakyat kemudian berbisik-bisik dan mulai menduga-duga tentang siapa sebenarnya Jun.


“Apa dia anggota keluarga kerajaan? Apa yang sudah kita bicarakan tadi di depannya, bagaimana ini?”.


Para warga cemas dan terkejut.


Beberapa waktu kemudian Jun tiba di rumah Perdana Menteri Han. Ia di sambut hangat di rumah sang ayah oleh seluruh bawahan dan pekerja disana. 


Saat itu, Jun menghadap sang ayah dengan penuh hormat. Ia membungkuk dan duduk bersila di depan sang ayah dengan baik.


“Aku sudah memintamu untuk tidak menjemputku. Aku sedang bekerja, dan itu sangat mengganggu,” Jun mulai berbicara.


Sang ayah tersenyum.


“Kau tidak pernah mau datang, jadi menjemputmu adalah solusi satu-satunya,” timpal sang ayah.


Jun tidak memberikan respon apapun.


“Aku sangat senang, kau datang ke istana membawa kebanggaan untukku”. 


Perdana menteri menuangkan teh untuk putranya.


“Bagaimana pekerjaanmu sebagai guru di biro pendidikan?”.


Jun meminum teh itu dan tersenyum pada ayahnya.


“Bukankah sudah kukatakan, aku datang ke istana demi ibuku, bukan untukmu". 


Perdana menteri yang sedang memperhatikan pakaian putranya itu tertawa mendengar jawaban sang anak.

__ADS_1


“Hahaha! Kau ini lucu sekali, sangat keras seperti ibumu. Lihatlah tampilanmu, kau ini anak seorang perdana menteri, tapi lihat, pakainmu tidak ada bedanya dengan rakyat jelata. Aku sudah memintamu untuk tinggal bersamaku, tetapi kau menolaknya. Kau malah memilih tinggal bersama ibumu yang keras kepala itu".


Perdana menteri meneguk minuman hangatnya.


“Bagaimanapun juga, kau lah yang sudah membuangku. Tapi ibu, dia bersusah payah menghidupi aku. Jadi jika aku lebih memilih bersamanya, itu bukan lagi urusanmu".


Saat itu, putri perdana menteri datang menghampiri sang ayah membawakan makanan ringan. Ia terkejut melihat kakaknya ada disana.


“Kak Jun?” sapanya.


Jun hanya tersenyum pada sang adik, secepatnya dia membuang muka. Sang adik yang kebingungan, segera pergi meninggalkan mereka.


“Lihat adikmu, dia sangat patuh padaku. Hidupnya bahagia karena itu,” sindir perdana menteri.


“Kau yakin? Oh iya, dia bukan adikku. Kami lahir dari rahim ibu yang berbeda. Dan bagiku, kau bukan lagi ayahku, jadi tidak perlu mengundangku untuk makan atau semacamnya ke rumah ini lagi. Aku tidak akan datang,” Jun tersenyum membungkuk hormat pada ayahnya.


Ia bergegas keluar dari kediaman sang ayah. Sementara itu, perdana menteri hanya terus tertawa.


“Anak yang keras kepala,” gelengnya.


**


Jun yang saat itu sedang berjalan menuju rumah sang ibu mendadak berlari karena hujan turun lebat. Namun, saat itu ia melihat seorang gadis yang dengan tenang berdiri diam di tengah derasnya hujan. 


Aku menangis di bawah derasnya hujan..


Dia berjalan perlahan menuju sang gadis, dan menyadari, bahwa gadis itu adalah Youra. Youra yang sedang menutup mata sangat terkejut.


Hatiku yang menangis merintih berteriak…


Jun datang dengan sigap menutupi kepala sang gadis dengan jubah miliknya.


Melihatnya, semua terasa ringan dan bahagia.


Aku melihat kebahagiaan semu itu di depan mata.


Jun membawa Youra berteduh di bawah sebuah gubuk tua tak berpenghuni. Youra yang terdiam hanya terus terdiam tak dapat berkutik. 


Jun mendekat padanya. Youra yang tidak memandang sama sekali seolah takut dan mundur pelan-pelan seirma dengan langkah Jun kepadanya. Jun tertawa.


“Hei, sepertinya, kita memang ditakdirkan bertemu, ya?”. 


Takdir katanya..


Youra diam saja. Sesekali ia melirik ke dalam gubuk kosong itu. Jun yang menyadari itu akhirnya mengerti alasan sikap Youra yang sangat canggung.


“Heheh. Tenanglah, aku bukan pria mesum. Cuma disini tempat terdekat untuk berteduh. Bisa-bisa aku dipukul kakakmu kalau aku sampai macam-macam”. 


Dia tahu soal aku?


Jun mendekat, mengambil jubahnya yang menutupi kepala Youra, dan memakaikannya pada tubuh Youra.


“Tetaplah hangat. Supaya tidak sakit,” Jun tersenyum. Dia memutar pandangannya pada hujan.


Youra yang canggung, melirik wajah Jun.


Kenapa, jantungku?


Jun yang sadar sedang dipandangi membalas pandangan itu.


“Ada apa? Apa ada sesuatu di wajahku?”.


Selain keindahan, aku tak melihat apapun juga.

__ADS_1


Youra mengalihkan pandangannya pada langit yang mendung. Pelan-pelan ia mengangkat gaunnya hendak meninggalkan Jun, tetapi langkahnya terhenti karena petir yang cukup besar membuatnya terkejut.


Jun tertawa terkekeh.


“Duduklah sebentar sambil menunggu hujan reda".


Jun membersihkan ubin gubuk itu agar Youra duduk. Youra yang canggung, lantas duduk di sebelah Jun. 


Keheningan yang mereka lewati gugur setelah Youra mulai bertanya.


“Darimana Tuan Madu tahu, aku putri penasehat negara?” tanya Youra.


Jun terpaku, mengedipkan matanya sesekali, lalu menoleh padanya. Ia tampak bingung harus menjawab apa.


“Aku adalah guru di biro pendidikan yang sama denganmu, tentu saja aku tahu".


Youra yang mendengar jawaban Jun tampak kecewa.


“Kalau aku boleh tahu, kenapa kau dan kakakmu harus bersembunyi?” tanya Jun.


“Kakakku, dia memintaku untuk tidak ke desa lagi. Tolong, jangan katakan ini pada siapapun ya Tuan Muda,” pinta Youra.


Jun tersenyum.


“Tidak akan, kalau kau menjawab pertanyaanku dengan jujur,” jawab Jun.


Youra yang saat itu enggan berbicara, menjadi terbuka melihat senyum Jun kepadanya.


“Ayah dan ibuku tewas dibunuh oleh orang-orang bertopeng. Kakak memintaku untuk tidak kembali ke desa karena dia takut ada yang mengincar kami karena aku membuat kami hampir saja tertangkap waktu itu,” jawab Youra.


“Kakak, dia berbuat sesukanya. Dia keluar sesukanya. Tapi, dia mengikatku dan tidak mengizinkan aku bermain jauh dari tempat kami tinggal sekarang,” tambah Youra yang tertunduk sedih.


“Kau ke desa, karena merindukan ayah dan ibumu?” tanya Jun.


Youra yang mendengar itu wajahnya bersedih, tetapi ia berusaha tegar.


“Ya. Aku sangat merindukan mereka,” jawab Youra.


“Apakah itu alasannya kau bermain hujan?” tanya Jun kembali.


“Maaf Tuan Muda, aku rasa itu bukan urusanmu. Aku, aku bermain hujan karena ingin. Aku sangat kesal pada kakakku,” bantah Youra.


Jun menatapnya, bergeser sedikit menghadap wajahnya. Youra tampak hampir hilang kesadaran, jantungnya berdebar kencang, membuatnya tak sabar untuk segera pergi.


“Maaf Tuan Muda, aku pikir hujan sudah reda, aku pamit dulu,” Youra cepat-cepat bergegas meninggalkan Jun, karena canggung.


Namun, saat hendak melangkah pergi, dia akhirnya berhenti. Berbalik memandang Jun sekali lagi.


Sebenarnya, aku tak ingin cepat-cepat berlalu, tetapi, karena aku tidak ingin terlihat buruk di matanya, aku harus pergi secepatnya.


“Terimakasih Tuan Muda".


Namun, tetap saja. Aku berbalik lagi padanya.


Jun memberikan tangan kanannya kepada Youra. Mengulurnya, berharap Youra membalasnya.


“Jangan panggil aku Tuan Muda lagi. Aku Jun, aku hanya rakyat biasa. Siapa namamu?”.


Saat itulah,


“Youra,” balasnya menyambut tangan Jun senang hati.


Kisah cintaku dan Jun, mulai bicara.

__ADS_1


__ADS_2