
Sore itu, Ara menyiapkan makanan untuk Pangeran Yul, suaminya. Sangat bersemangat mendengar deritan gerbang muka kediamannya. Ara melaju ke depan, hendak menyambut kedatangan suaminya. Namun, langkah itu terhenti saat melihat orang-orang bertubuh besar masuk begitu saja. Cepat-cepat Ara menutupi wajah dan kepalanya agar orang lain tak melihatnya hingga dia terjatuh.
"Wah wah, jadi ini dia istri Pangeran Yul? Cantik sekali, luar biasa. Hai Nona, apa suamimu ada di rumah?" Orang-orang itu menggapai Ara, ingin menyentuhnya.
"Jangan sentuh aku! Aku wanita bersuami!" Ara menggenggam perutnya yang mulai membesar.
Orang-orang bertubuh besar itu saling melempar pandangan. Setelahnya mereka tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Aku tidak menyangka Pangeran Yul terus saja meninggalkan istri secantik ini sendirian di rumah. Dan lebih memilih meniduri banyak wanita di rumah bordil. Dia benar-benar tidak takut istrinya diculik orang."
Mendengarnya, hati Ara sangat hancur dan remuk. Dia tahu semua itu, tapi tetap memilih mencintai dan bertahan.
Orang-orang itu melangkah mendekat. Namun, Ara lekas mengusir mereka. "Adalah larangan, mendatangi kediaman seorang wanita bersuami tanpa meminta izin dari suaminya."
"Hai Nona Cantik, mengapa Anda sangat patuh pada lelaki bodoh dan tamak itu? Apa Nona tidak tahu, dia sudah menjual Nona? Suami Nona itu, dia menjadikan Nona barang taruhan di atas meja judi. Justru sekarang kami datang untuk meminta izin membawa Nona pergi dari sini."
Dentuman keras terasa sedang memukulnya. Hatinya terlalu sakit, hingga perutnya ikut menjadi sakit. Betapa tidak berharganya dia bagi Pangeran Yul. "Ah.." Ara menyentuh perutnya, sepertinya kesakitan. Orang-orang itu keheranan, mereka lantas meraih tangan Ara untuk membantunya. Tiba-tiba,
"Singkirkan tangan kalian dari istriku!" Pangeran Yul pulang tepat waktu. Pangeran Yul mendekap istrinya di dekatnya. "Apa yang kalian lakukan di kediamanku?" tanya Pangeran Yul. "Tentu saja menjemput istri Anda yang sangat cantik ini." Mendengarnya, Ara melepaskan tangan Pangeran Yul dari tubuhnya. Dia berlari masuk ke kediaman.
"Jangan sampai aku membunuh kalian! Pergi dari sini!" Pangeran Yul membentak.
"Hei Pangeran Yul! Bukankah Anda yang sudah menukar semuanya dengan istri Anda?! Jangan bilang Anda ingin mengingkarinya!" balas mereka.
"Kurang ajar! Jangan berani meminta istriku! Aku akan membayar semuanya, 10 kali lipat!" Kembali Pangeran Yul mengingatkan.
"Kami sudah tidak mau. Kami ingin wanita itu menjadi milik kami!"
Tiba-tiba ...
__ADS_1
"Akh!" Pangeran Yul memukul salah satu dari mereka tanpa ampun, berkali-kali hingga hampir saja tewas. Pangeran Yul sangat emosi. Tak lama para pengawal istana datang, hingga semua mereka berhamburan pergi. Secepatnya Pangeran Yul berlari masuk ke kediaman.
Dan ...
Mendapati Ara hendak meneguk racun, membuatnya sangat khawatir. "Apa yang kau lakukan?!" Pangeran Yul mencampakkan racun itu jauh-jauh secepat kilat. "Lepaskan aku!" Ara memberontak menangis saat tubuhnya dipeluk Pangeran Yul. "Lepaskan!"
"Aku tidak memiliki harga apapun di mata Anda! Bahkan juga tidak bayi ini! Tolong biarkan aku membawa anak kita mati saja." Terus saja Ara memberontak ingin bunuh diri. Setiap hari, dia terus saja menangis karena tingkah suaminya. Namun, Pangeran Yul tidak membiarkannya.
Entah kenapa, Pangeran Yul tak ingin melepaskan pelukan itu cukup lama. Ada sesuatu yang membuatnya sangat nyaman. "Aku tidak akan memberikanmu kepada siapapun."
***
"Mengapa diam saja? Peluklah aku." Sekali lagi Putra Mahkota memelas. "Ya-yang Mu, Yang Mulia, aku ... "
Terlalu lama menunggu, Putra Mahkota menarik paksa Youra naik ke atas pangkuannya. Dia memeluk Youra lebih dahulu, menyandarkan kepalanya sedikit meringkuk di dada Youra yang berisi. Putra Mahkota bahkan sangat kuat untuk mengangkat tubuhnya naik, padahal masih sedang sakit parah. Youra membalas pelukan itu, membelai suaminya dengan kasih sayang. Sekali lagi, mereka menjalin kasih dengan waktu yang singkat. Putra Mahkota benar-benar sangat bergairah, dia terus saja membawa wajah cantik permaisurinya untuk menjelajahi lebih. Jari-jari indah Putra Mahkota merayapi bibir istrinya yang ranum. Dia benar-benar menginginkan wanitanya. Tak sadar, baju Youra jadi berantakan. Melorot hingga memperlihatkan pundaknya yang indah. Putra Mahkota menjejaki bibirnya di setiap sudut pundak Youra sampai ke dada. Setelahnya, dia membawa wajah cantik itu masuk dalam pesonanya. Bibir pucatnya memerah, berpetualang di bibir Youra, wanita yang sangat dicintainya. Sangat lama, pelan-pelan mulai memainkan lidahnya. Seorang suami, yang sudah lama merindukan istrinya.
"Ah ... "
Putra Mahkota kesakitan. Luka itu pasti membuatnya ngilu. Youra menukar posisinya. Mengiring Putra Mahkota ikut berbaring. "Suamiku, Anda nakal sekali. Tahanlah dulu, ya. Aku juga harus memasak. Kakakku sedang ada disini." Youra mendaratkan ciuman ke segala sisi wajah suaminya. Setelahnya dia menutupi tubuh suaminya dengan selimut. "Aku harus menyiapkan makanan dulu. Anda belum pernah makan masakan istri Anda kan?" Dia tersenyum, membelai mesra wajah itu. Putra Mahkota sebenarnya tidak mau ditinggalkan, tetapi Youra berhasil menenangkannya.
***
Youra merapikan rambut dan gaunnya yang kusut sebelum keluar. Di depan sana para pengawal gubuk saling berpandang cemas. Youra curiga, terburu-buru mendekatinya. Sebelum itu, dia menutupi kepalanya. "Apa yang terjadi?" tanya Youra pada kakaknya. "Ratu sedang memperluas pencariannya. Kau dan Putra Mahkota harus bersembunyi sampai Putra Mahkota pulih. Kami akan terus memantau. Sampai saat ini belum ada kabar dari Dayang Nari atau Kasim Cho. Semoga mereka berdua baik-baik saja."
Youra bergidik takut mendengar keluh kesah kakaknya. Benar sekali, dua orang paling berjasa di istana saat ini sedang terperangkap bersama para iblis yang haus dan tamak.
"Youra, tolong jangan beritahu apapun dulu pada Putra Mahkota. Rasa sakit Putra Mahkota tidak akan sembuh sebelum menemukan obatnya. Jadi kita tidak boleh menambahkan beban pikiran baginya. Oh iya, racun itu bisa membunuhnya tiba-tiba. Jagalah suamimu baik-baik. Aku akan memantau semuanya dari luar. Seseorang bisa saja mengirim sihir kepadanya. Atau membawa penyusup masuk kemari."
__ADS_1
Youra sangat takut kehilangan suaminya. Nyawa Putra Mahkota benar-benar dalam keadaan yang terancam. Bahkan setelah dia jauh dari istanapun, hidupnya selalu terancam.
***
Youra sedang memasak. Sederhana saja, tapi dia membuatnya dengan cinta dan semangat. Sayup-sayup keadaan sang suami membuatnya tak sabar cepat kembali ke dalam gubuk.
Setelah selesai, Youra menghidangkan semua makanan itu di halaman kediaman persembunyian mereka. "Makanlah dulu sebelum bekerja. Ini sudah malam, kalian berhati-hatilah." Youra meletakkan satu bersatu hidangan itu di hadapan Lee Young dan Jung Hyun. Setelahnya dia kembali ke belakang untuk mengambil beberapa hidangan lain.
Saat itu, Putra Mahkota berjalan keluar dari biliknya. Tertatih-tatih, memaksakan diri untuk ikut bergabung. Jung Hyun dan Lee Young mengejar sang pewaris tahta, "Yang Mulia, mengapa Anda keluar?" tanya Jung Hyun sangat khawatir. "Aku ingin makan masakan istriku."
Mereka membantu Putra Mahkota duduk bersama. "Yang Mulia, tidak seharusnya Anda duduk disini. Mari kita kembali ke dalam kamar." Silih berganti mereka membujuk.
Putra Mahkota tak peduli, dia asik tersenyum melihat hidangan di atas meja kecil itu. "Dimana permaisuriku? Apa ini, permaisuriku yang memasak semuanya?" tanya Putra Mahkota sembari meraih sebuah cemilan.
"Ya, Yang Mulia. Adikku, memang sangat pandai memasak. Saat ini, beliau sedang mengambilnya hidangan untuk Anda." Lee Young menanggapi pertanyaan Putra Mahkota sangat bersemangat, lantaran sang pewaris tahta tersenyum bahagia. Ini pertama kalinya, Putra Mahkota merasa bahagia. Pertama kali pula bagi Jung Hyun, melihat wajah bahagia itu pada Putra Mahkota. Mereka semua sangat iba melihatnya, mengingat bagaimana penderitaan itu telah lama membuatnya sakit.
Putra Mahkota hendak memakan cemilan itu, tetapi tiba-tiba Youra berteriak. "Tidak, Jangan!" Youra berlari sembari membawa satu meja penuh berisi hidangan khusus untuk suaminya. Ketiga pria itu langsung menoleh padanya. Youra meletakkan meja itu, lantas menarik cepat cemilan yang hampir saja ditelan oleh suaminya. "Kenapa kalian membiarkan Suamiku memakan ini?! Suamiku tidak boleh memakan umbi-umbian!" Youra terlihat sangat panik, tak peduli semua orang sedang memandanginya.
Youra mendekat pada suaminya, cepat-cepat memberikannya teh herbal. "Suamiku, minumlah cepat ini." Muka panik Youra terlihat sangat lucu. Putra Mahkota sangat bahagia karenanya. Youra jelas, sangat takut kehilangan Putra Mahkota.
Sementara, Young berusaha keras menahan tawa. Putra Mahkota terus saja memandangi Youra yang sedang membersihkan bajunya dari serpihan-serpihan cemilan itu. Youra tak henti-hentinya menunjukkan raut cemasnya.
"Lee Youra." Panggilan Putra Mahkota berhasil membangunkan Youra dari rasa takutnya yang berlebihan. "Kemarilah mendekat kepadaku," tambah sang suami. Youra hampir saja menangis, tetapi Young malah tertawa karenanya.
"Hei, Yang Mulia belum memakan apapun. Maaf Yang Mulia, dia memang sangat cengeng," ujar Young meledek.
Gumpalan air mata itu membuat Youra sedikit malu atas tindakan berlebihannya. Dia melempar cemilan itu ke kakaknya sangat kesal. Putra Mahkota akhirnya ikut tertawa meski sedikit sekali, dia meraih pipi Youra dan mencubitnya mesra.
__ADS_1
"Permaisuriku, ayo kembali ke kamar. Aku ingin makan hanya berdua hersamamu."