
(Kediaman Putra Mahkota)
“Gawat! Putra Mahkota tidak ada di kediamannya,” teriak salah seorang pelayan pada para penjaga kamar Putra Mahkota. Mereka semua berhamburan lantaran khawatir yang tak terbendung lagi.
“Putra Mahkota kabur lagi?” tanya para pelayan pada Kasim Cho yang tampak sangat gelisah.
Para pelayan Putra Mahkota berlari, secepatnya mencari cara untuk menemukan tuan mereka. Mereka semua sibuk memeriksa istana Putra Mahkota, memastikan tiap sudut istananya tidak ada yang terlewatkan.
Para opsir penjaga istana pribadi Putra Mahkota bergegas sigap mencari keberadaan Putra Mahkota.
“Bagaimana ini? Raja bisa membunuh kita kalau tahu Putra Mahkota kabur lagi,” kata salah seorang kasim pada Kasim Cho.
Mereka memperluas pencarian hingga ke istana raja, meninggalkan Kasim Cho yang sedang berjongkok putus asa.
”Kalian menyebarlah! Aku akan mencari Putra Mahkota sendiri di sebelah sana,” kata Kasim Cho kepada para pengawal mencoba bangkit kembali tergesa-gesa.
**
Sementara itu di sisi lain,
“Apa kalian melihat seorang nona muda di sekitar sini? Dia bilang dia ingin melihat para pemuda. Ciri-cirinya, dia sangat cantik. Oh iya, dia menutup wajahnya dengan selendang sutera. Matanya sangat indah. Apa kalian melihatnya?” tanya seorang pelayan pada warga yang berdiam diri di depan gerbang istana.
“Aku merasa melihat banyak gadis cantik di sekitar sini,” jawab warga itu.
“Tidak. Dia benar-benar sangat cantik. Begini, dia lebih cantik daripada putri manapun. Gadis paling cantik,” jelas pelayan itu pada warga disana sangat yakin.
“Mungkin saja masuk ke dalam. Ada banyak gadis yang diam-diam masuk ke istana,” jawab warga itu.
“Aduh bagaimana ini,” gumam sang pelayan khawatir.
**
Bunga yang Indah
Dalam ceritaku yang berliku, aku sekuat tenaga menggenggam tanganku. Aku berjalan dan melewati tembok-tembok cahaya yang akan runtuh. Saat itu, dengan luka yang pedih, biar kuberitahu padamu satu sosok lain dalam kisahku.
Sementara itu, nona muda yang sedang dicari pelayannya itu, sedang berkeliling di sekitar istana tanpa rasa takut. Ia bermaksud untuk masuk dan melihat para pemuda dari dekat. Jin-Yi namanya. Jin-Yi adalah putri tunggal sekretaris negara yang merupakan satu dari lima orang paling berpengaruh di istana.
Hong Jin-Yi, dia, bunga yang paling indah. Di kemudian hari akan tumbuh dan mekar menjadi sosok tercantik di negeriku.
Tidak hanya itu, sang ayah juga merupakan seorang konglomerat dengan kekayaan yang berlimpah berkat usahanya dalam mencetak buku dan kertas. Sang putri, Jin-Yi, adalah gadis yang sangat cantik dan rupawan. Sejak kecil, ia tidak diizinkan oleh ayahnya keluar dari rumah barang sedikitpun karena kecantikan dan kepolosannya. Tidak hanya cantik, Jin-Yi sangat pintar dan berbakat. Ia tidak punya teman dan tidak pula mengikuti pendidikan pada biro pendidikan istana. Jin-Yi hanya belajar di rumah bersama guru panggilan yang dibayar mahal oleh ayahnya.
Hong Jin-Yi sangat rupawan, dengan sikapnya yang ceria dan lemah lembut.
“Hei! Siapa kau?” teriak Jin-Yi terkejut pada seorang pemuda yang tampak mencurigakan sedang mengendap-endap di balik tembok istana.
Pemuda itu langsung menarik tangan Jin-Yi dan membekap mulut sang gadis dengan tangannya. Jin-Yi berusaha melawan dan menggigit tangan pemuda itu, tetapi pemuda itu malah menariknya sedikit jauh dari tempat itu.
Karena merasa curiga, Jin-Yi tanpa berpikir panjang, langsung menarik kain yang menutupi wajah sang pemuda, hingga tampaklah sedikit mata sang pemuda itu.
__ADS_1
Di usianya yang masih 10 tahun,
Jin-Yi terdiam terpana. Mata pemuda itu sangat mempesona hingga ia lemas dan tidak tahu harus berbuat apa. Pandangannya hanya terus kepada wajah pemuda itu. Dunia ini penuh bintang, rasanya seperti itu.
Dia jatuh cinta, untuk pertama kalinya.
Namun, sang pemuda tidak mengetahuinya. Pemuda itu hanya sibuk memperhatikan sekitar tanpa memandang wajahnya.
Meski pemuda itu tak pernah tahu.
Tak lama, pemuda itu pergi begitu saja meninggalkan jejak indah di hati Jin-Yi. Di tempat itu tanpa mengatakan apapun, Jin-Yi terjatuh tak percaya terhadap apa yang baru saja dia lihat. Sangat indah, itu saja yang terus dipikirkannya. Dia ingin sekali berteriak, melompat melewati batas ambang impian indahnya. Dia hanya terus menyentuh pipinya yang tadi dibekap dengan tangan pemuda itu.
“Apa aku bodoh? Kenapa matanya saja membuatku hampir terbunuh,” gumamnya.
“Itu Putra Mahkota! Aku baru saja melihatnya berlari kesana!” teriak seorang pengawal yang kemudian dikejar oleh pengawal lainnya.
Jin-Yi yang mendengar itu spontan bersembunyi di balik tiang.
“Pu-putra Mahkota? Anak itu, benar-benar Putra Mahkota?” gumamnya di balik tiang terkejut.
Sejak itu, dia tak pernah berhenti berharap menjadi wanita yang dicintai oleh Putra Mahkota. Meski harus terluka, ia tetap tidak berhenti, sekalipun.
...****************...
Beberapa hari kemudian.
“Suamiku, kita tidak bisa membiarkan Young masuk ke istana. Bagaimanapun juga aku tidak ingin putraku terluka lagi".
“Aku akan menjaganya. Untuk sementara ini, kupikir itu hanya sebuah kecelakaan saat pertunjukan,” jelas sang suami.
“Tidak. Luka di tangan putraku itu adalah racun. Mereka sengaja melukai putraku,” bantah Nyonya Eri.
Youra yang mendengar percakapan itu kemudian masuk ke rumahnya, menghentikan perdebatan kedua orang tuanya.
“Ayah, Ibu, ini tanaman herbal untuk luka kakak,” kata Youra.
Ayah dan ibunya pun terdiam. Dengan buru-buru sang ibu masuk ke kamar Young dan membangunkan Young yang tertidur. Sang ibu mendekat pada Young, duduk di sebelahnya, menarik selimut sang anak. Pelan-pelan dia membuka perban luka Young.
“Sini, Ibu pasangkan obat untukmu,” kata sang ibu.
Youra yang melihat tingkah sang ibu yang sangat aneh terheran. Sang ibu tampak sangat panik dan depresi.
“Ibu aku baik-baik saja,” kata Young.
Nyonya Eri tetap mencoba memasangkan obat itu tergesa-gesa.
“Ibu,” kata Young.
Kali ini tampak sangat putus asa, dan heboh seketika.
__ADS_1
“Tidak, kau pasti sangat sakit,” kata sang ibu panik membersihkan luka Young.
“Ibu, aku akan baik-baik saja,” kata Young sekali lagi.
Youra khawatir pada sang ibu dan mendekatinya.
“Ibu, ada apa?" tanya Youra pelan.
Melihat wajah polos putrinya, mengembalikan kesadaran Nyonya Eri yang mulai hilang. Diapun menangis tersedu-seru di tempat itu.
“Mereka berusaha membunuh kakakmu,” kata sang ibu lirih dengan cetakan air mata.
“Tidak. Kakak baik-baik saja. Ibu, aku baik-baik saja. Ini hanya luka biasa seperti kalah habis berlatih pedang,” jelas Young menenangkan ibu dan adiknya.
Sang ibu menatapnya lekat, berusaha mengembalikan rasa percaya itu pelan-pelan. Ia menatap wajah putranya lekat, penuh kasih. Barulah ia berhenti menangis saat mulai menyadari situasi yang sesungguhnya.
“Tabib istana sudah memberikan aku obat yang sangat ampuh. Ini hanya luka ringan".
Sang ibu kemudian tampak tenang. Ia menarik tangan Youra keluar dari kamar Young dan membawa seluruh obat-obatan itu.
Diantara luka dan air mata,
Tiba-tiba seorang gadis tak asing datang dan mengambil seluruh obat-obatan itu dari tangan ibu Youra. Youra yang tertegun langsung menyapanya,
“Tunggu, kau?".
“Ah iya. Ibu melihat gadis ini berdiri diam di halaman rumah kita. Dia bilang, dia ingin sekali melayanimu,” jelas sang ibu, lalu tergesa-gesa kembali ke kamar Young.
“Nona, izinkan aku bekerja untukmu”.
Aku bertemu tawa yang membuatku bahagia.
“Kau, yang saat itu bersamaku ke gerbang istana?".
Gadis itu mengangguk pelan. Sambil menundukkan kepala, dia tersenyum lembut pada tuannya.
“Apa kau punya nama? Siapa namamu?" tanya Youra.
Gadis itu terdiam. Dia mengangkat sedikit wajahnya, mencoba tenang karena sangat bahagia.
“Aku, namaku, namaku Nana, Nona,” jawab sang gadis gugup diiringi senyum setelahnya.
Senyum yang akan selalu kuingat, sepanjang hidupku.
"Nana? Nama yang indah," jawab Youra membalas senyum manis itu.
"Bagaimana tidak indah, Nona? Pemuda tertampan di negeri ini, Lee Young, kakak laki-laki Anda yang baik hati, adalah orang yang telah memberikan nama indah itu untukku. Dia mungkin tidak mengingat ini, karena aku bukanlah apa-apa baginya. Hanya saja, aku telah berjanji pada diriku, aku akan melayani Anda dan keluarga Anda, sepenuh hatiku".
Nana menatap Youra, melihatnya tersenyum sudah sangat berarti untuknya.
__ADS_1