Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Putri Shin dan Pangeran Yul


__ADS_3

Hari yang sama, jauh di kota seberang.


"Raja telah menebusmu. Sekarang, kau bisa kembali ke tempat asalmu." Wanita baik hati itu memasangkan selendang sutra di kepala Putri Shin yang telah dibebaskan dari status budak. Untung saja, selama menjadi seorang budak, wanita itu berlaku baik pada Putri Shin meski dia tidak tahu bahwa Putri Shin adalah seorang anak raja yang telah diusir dari istana.


Putri Shin menitikkan air mata. "Terima kasih, Bu." Dia membungkukkan tubuhnya pada wanita itu, sebelum akhirnya pergi dari sana.


**


"Jung Hwa kemarilah, Nak!" Putri Shin berjongkok segera memeluk putra kecilnya yang berlari mendekat sehabis bermain pasir di depan gubuknya.


"1 ... 2 ... 3!" Dia lantas menggendong putranya itu. "Wah ... sudah besar anak Ibu." Dia membersihkan tubuh putranya yang kotor karena pasir. Tak sengaja, dia melihat beberapa permen coklat di kantung baju putranya.


"Jung Hwa, kau dapat darimana permen ini?" tanya Putri Shin heran. Itu permen mahal, yang tidak mungkin bisa dia belikan.


Putra kecilnya tersenyum sembari menggigit permen yang sudah dimakannya. Dia menunjuk ke sisi gubuk dengan telunjuknya. "Ayah," jawabnya tiba-tiba.


"Ayah yang memberikan?" tanya Putri Shin kebingungan. Anak itu mengangguk. "Jung Hwa jangan bicara sembarangan. Kau belum pernah bertemu dengan ayahmu sama sekali. Ayahmu tidak ada di sini, Ayah ada di ... ."


"Ayah!" teriak putra kecil itu, memberontak turun dari gendongan ibunya. Putri Shin membalikkan badan. Dia lantas menurunkan putranya.


"Jung Hyun?" lirihnya.

__ADS_1


Jung Hwa berlari dan membentangkan tangannya minta digendong Jung Hyun. Jung Hyun menggendong putranya, hingga anak yang telah lama hidup malang itu tertawa senang.


"Enak permennya?" tanya Jung Hyun. "Enak!" jawab Jung Hwa semangat.


Jung Hyun kembali menurunkan putranya. "Duduk di sini dulu ya? Ayah mau bicara sama Ibu." Dia mengusap kepala putranya.


Putri Shin segera beranjak pergi, tak ingin melihat Jung Hyun sama sekali. Namun, Jung Hyun cekatan menarik tangan Putri Shin dan lantas memeluknya. Putri Shin memberontak, mendorong tubuh Jung Hyun untuk melepaskannya. Jung Hyun menahan tubuh itu berada dalam pelukannya. Sudah lama dia ingin melepaskan kerinduan itu pada Putri Shin. Putri Shin yang tak lagi kuat melawan akhirnya menangis tersedu-sedu, dia membalas pelukan Jung Hyun lebih erat.


"Sekarang aku bukan lagi putri raja. Apakah, kau juga akan meninggalkan aku lagi?" tanya Putri Shin terisak. Jung Hyun ikut terisak karena merasa sangat bersalah. "Maafkan aku, maafkan aku. Aku tidak akan meninggalkan Anda lagi." Dia lantas bersimpuh di atas tanah, memegang tangan Putri Shin dengan mata berkaca-kaca.


"Aku ingin kita menikah, apa Anda bersedia menerimaku kembali?" tanya Jung Hyun menaruh harap Putri Shin masih memberikan hatinya.


Putri Shin menatap putranya. "Apa kau sudah tahu bahwa Jung Hwa ... ."


"Jung Hyun, apa aku masih pantas dicintai?" tanya Putri Shin. Jung Hyun kembali memeluknya. "Aku mohon, mari kita menikah dan membangun keluarga yang indah bersama anak kita. Karena Anda bukan lagi putri raja, itu artinya aku sudah bisa memiliki Anda. Maafkan aku, karena sering mengabaikan Anda. Dulu, aku hanya tidak ingin Anda berada dalam keadaan yang membahayakan karena jatuh cinta pada pengawal rendahan sepertiku. Tolong berikan aku kesempatan untuk menebus semua masa yang Anda lewati tanpa aku. Aku akan jadi suami yang baik untuk Anda. Aku berjanji tidak akan menyakiti perasaan Anda lagi." Jung Hyun menatap lekat Putri Shin sembari memegang kedua tangannya.


Putri Shin mengangguk sembari tersenyum. "Ya, aku menerimamu." Jung Hyun tersenyum senang menyeka air mata Putri Shin, langsung mengangkat tubuh Putri Shin karena gembira.


Akhirnya, Jung Hyun menggendong putranya dan membawa mereka kembali ke tempat kelahiran untuk mempersiapkan pernikahan sederhana.


***

__ADS_1


"Apa adikku akan segera lahir?" tanya Ran, putri Ara dan Pangeran Yul saat melihat perut ibunya yang mulai membesar.


"Ran!" panggil Pangeran Yul yang baru saja tiba di rumah.


"Cepat buka pintunya, Sayang. Ayahmu sudah pulang."


Putri kecil itu berlari cepat membawa perasaan senangnya. Dia membuka pintu dan langsung melonjak bahagia saat melihat ayahnya pulang membawakan makanan.


"Yeee! Bu, Ayah bawa makanan kesukaan Ibu!" Pangeran Yul meletakkan telur ikan kesukaan Ara dan Ran di atas meja. Pangeran Yul menggendong putri kecilnya. "Coba tebak, Ayah bawa apa lagi." Pangeran Yul mengeluarkan sebuah benda dari kantung, menguncinya rapat dalam genggaman.


"Apa itu permen, Ayah?" tanya Ran.


"Tada!!" Pangeran Yul memaparkan sebuah gelang kepada putrinya. "Ini untuk Ran, Ayah?" tanya gadis cantik itu. Pangeran Yul mengangguk. "Terimakasih, Ayah."


"Cium Ayah dulu." Pangeran Yul menunjuk pipinya. "Mmmmuah! Terimakasih, Ayah." Gadis kecil itu turun dari gendongan Pangeran Yul, lalu cepat-cepat membawa gelang itu ke kamar. Tak sabar ingin melihat dirinya sendiri melalui cermin.


Ara yang sedang mengandung anak kedua, keluar dari bilik untuk menyambut kedatangan suaminya. Pangeran Yul langsung mendekat pada sang istri.


Dia mencium dahi istrinya dengan mesra. "Sayangku, aku baru saja mendapat banyak upah dari hasil kerja kerasku. Maaf, karena harus membuatmu hidup susah," ucap Pangeran Yul. Ara tersenyum padanya. "Suamiku, aku lebih bahagia hidup seperti ini asal terus bersama Anda dan anak-anak kita. Bukankah hidup seperti ini membuat kehidupan kita lebih baik lagi?"


Pangeran Yul memeluk istrinya. "Terimakasih. Terimakasih sudah bersedia menemaniku sejauh ini."

__ADS_1


"Akulah yang berterimakasih, karena Anda telah menjadi suami serta Ayah yang baik dan bertanggung jawab untuk keluarga kecil kita. Sini, aku bantu buka pakaiannya." Ara kembali pada aktivitasnya, membantu Pangeran Yul melepaskan pakaiannya dan menyiapkan air mandi suaminya.


***


__ADS_2