Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Putra Mahkota Hadir 2


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


“Ibu, lihat siapa yang aku bawa?” Jun datang bertemu ibunya membawa Youra bersamanya.


Saat itu, Nyonya Han yang sedang duduk di halaman rumahnya sambil menampi beras, langsung meninggalkan beras-beras itu dan menyambut kedatangan mereka.


“Oh Anakku, cantik sekali dirimu, Nak,” tak perlu berpikir panjang, ibunya Jun langsung memeluk Youra hangat.


“Senang bertemu denganmu, Nyonya,” sapa Youra.


Ibunya Jun mendekat pada putranya.


“Apa ini, gadis yang kau bicarakan itu? Apa gadis ini kekasihmu?” tanya sang ibu.


Jun tersenyum dan pelan-pelan mengangguk. Sang ibu yang sangat bahagia bergegas menarik tangan Youra dan putranya.


“Ayo, ayo masuk. Hari ini, Ibu masak masakan yang lezat”.


Mereka duduk bertiga di dalam rumah Jun menikmati hidangan.


“Terimakasih, Nyonya,” kata Youra.


“Jangan, jangan panggil aku Nyonya. Kau adalah kekasih putraku, panggil saja aku Ibu. Anggap seperti ibumu sendiri, ya?” kata ibunya Jun sambil menggenggam tangannya.


Youra tersenyum dan membalas genggaman Nyonya Han.


“Terimakasih, Ibu,” jawab Youra hampir saja menangis haru.


Jun yang melihat interaksi mereka tampak sangat bahagia. Ibu dan gadis pujaannya tampak sangat akrab.


**


Saat itu, Youra duduk bersama ibunya Jun membantunya menampi beras. Sementara itu, Jun sedang keluar karena ada keperluan sebentar.


“Dulu, sebelum aku berpisah dengan suamiku, Jun tidak pernah sesusah ini,” kata Nyonya Han tertunduk.


Youra terperangah, lantaran sorot mata Nyonya Han tampak sangat bersedih.


“Jun itu anak yang sangat baik. Dia berbakat, dan selalu saja tersenyum. Saat aku berpisah dengan ayahnya, aku sadar sekali hatinya sangat terluka. Tapi, dia terus saja menunjukkan bahwa dia akan baik-baik saja,” tambah Nyonya Han.


Nyonya Han memutar tubuhnya duduk lurus menghadap Youra.


“Dia itu, tidak pernah menceritakan tentang gadis manapun padaku. Tapi, sejak bertemu denganmu, dia terus saja membicarakanmu”.


Youra tersenyum sedikit terkejut.


“Benarkah?” tanyanya penasaran.


“Tentu saja. Awalnya, dia merasa kesal karena menabrak seorang gadis saat hendak ke istana. Namun, putraku jadi begitu senang karena bertemu lagi denganmu di biro pendidikan. Aku tahu semua itu, karena dia selalu menceritakanmu,” terang Nyonya Han.


Youra merasa tak percaya. Jun tampak biasa saja padanya, tak menunjukkan perasaan apa-apa selain harapan yang hampa. Namun, perkataan Nyonya Han, malah membuatnya tersipu bahagia.


Nyonya Han menggapai tangan Youra.


“Aku berharap, kau benar-benar akan jadi menantuku,” tambah Nyonya Han.


Pertemuan hari itu berakhir dengan sangat baik dan indah. Jun pun tiba, tak lama ia pun mengantar Youra pulang ke rumahnya.


Di perjalanan mereka berbincang sebentar.


“Boleh aku bertanya?” tanya Youra gugup.


“Tentu saja,” jawab Jun.


“Malam itu, kenapa Kak Jun tidak bisa datang?”.


Pertanyaan Youra membuat Jun hampir saja tersedak ludahnya sendiri. Ia bingung harus menjawab apa.


”Aku, aku dipanggil ke istana oleh raja,” jawabnya terbata-bata.

__ADS_1


Aku ingin percaya.


“Aku tidak bisa menolak panggilan Yang Mulia,” jelas Jun kembali.


Tapi tetap saja, semuanya terasa palsu bagiku. Sebenarnya, apa yang sedang dia sembunyikan? Jika cinta, apa dia harus menutupi alasan yang membuatku malah terluka?


**


Di hari yang sama, istana putra mahkota menjadi heboh dan panik.


“Yang Mulia, Yang Mulia hilang!” teriak para kasim berlari berhamburan meninggalkan Kasim Cho yang terdiam cemas.


Jung Hyun yang mendengar kabar itu segera berlari menuju bilik Putra Mahkota, dan mendapati Kasim Cho terduduk lemas disana.


“Apa yang terjadi? Dimana Yang Mulia Putra Mahkota?” tanya Jung Hyun.


Sambil menitikkan air mata, Kasim Cho tampak putus asa di balkon bilik Putra Mahkota.


“Dia pergi, melakukan penyamaran lagi, bukankah sudah kuperingatkan agar..”.


Belum lagi Kasim Cho selesai, Jung Hyun bergegas lari membawa paniknya. Tanpa pikir panjang Jung Hyun terus berlari menuju desa, berharap bertemu tuannya disana.


Sementara itu, Putra Mahkota yang sedang mereka cari, sedang tersenyum lega melewati pasar yang ramai dengan tetap menutupi wajahnya menggunakan kain.


Saat itu, Putra Mahkota berjalan tanpa pengawalan dari Jung Hyun. Ia terus berkelana hingga melewati gerombolan orang-orang yang sedang berkerumun. Saat dia mendekat, sesuatu yang merusak suasana hatinya, menggerakkan emosinya.


“Putra Mahkota adalah keturunan iblis. Dia lahir di pertengahan tahun yang dikutuk. Kelahirannya terjadi pada bulan badai yang menghabisi hampir setengah penduduk negeri. Setelah kelahirannya, banyak orang yang mati kelaparan. Dia tidak bisa melakukan apapun. Dia hanya sibuk bermain wanita. Dia bahkan menghukum siapa saja. Sudah hampir seluruh pelayan yang dihukum olehnya. Putra Mahkota, punya wajah yang buruk rupa. Tidak hanya itu..”


Seseorang itu berhenti dan mendekatkan wajahnya pada kerumunan orang-orang disana.


“Saking buruk dan menyeramkannya dia, raja sampai membenci putranya sendiri”.


Mendengar perkataan seseorang itu, Putra Mahkota yang geram menerobos kerumunan dan menarik kerah orang itu.


“Dasar rakyat rendahan yang bodoh!”  teriaknya mengejutkan warga yang tidak tahu siapa dia.


“Siapa kau? Pejabat istana? Keluarga kerajaan? Pendukung Putra Mahkota?” tanya orang itu, tak takut.


“Oh apa kau Putra Mahkota yang hina itu? Tidak mungkinkan?”.


Putra Mahkota yang geram, langsung melayangkan pukulannya tepat di wajah orang itu. Pukulan yang amat sangat keras itu, membuat darah bercucuran dari hidung dan bibir orang itu.


Orang itu sama sekali tak jera. Dia bahkan tertawa meledek pukulan Putra Mahkota.


“Hahah! Kau kerabat kerajaan? Kau tidak terima? Bukankah semuanya adalah kebenaran? Raja takut pada putranya sendiri. Kenapa? Karena dia adalah iblis,” tambah orang itu tertawa gila.


Putra Mahkota yang sudah berapi-api, mengangkat kerah orang itu kembali.


Tiba-tiba..


“HENTIKAN!” teriak Youra.


Mereka jadi pusat perhatian.


Youra meletakkan kendinya di atas sebuah meja. Ia melangkah dan mencoba melepas paksa tangan Putra Mahkota dari kerah orang itu. Namun, genggaman Putra Mahkota yang kuat tidak dapat ia tandingi. Akhirnya Putra Mahkota melepaskan tangannya dari kerah orang itu dan mencampakkannya ke tanah.


Youra membungkuk hormat padanya.


“Apa Anda tidak malu dengan pakaian Anda? Tampaknya Anda seorang bangsawan berpangkat tinggi. Berani-beraninya Anda hanya melawan rakyat kecil? Bapak ini hanya menyampaikan apa yang benar-benar terjadi. Kenapa Anda marah? Semua orang sudah tahu tentang itu. Jangan mentang-mentang Anda pejabat istana, Anda membela yang salah,” teriak Youra mendongak di hadapan Putra Mahkota yang bertubuh tinggi.


Putra Mahkota tak menjawab apapun. Matanya terus saja memandangi Youra, tak berkedip sekalipun. Sementara itu, Youra membantu seseorang yang hampir kembali di pukul Putra Mahkota itu berdiri.


Putra Mahkota menarik dalam napasnya.


“Jika tidak tahu apa pun tentang kerajaan, rakyat bodoh seperti kalian harusnya diam saja,” kata Putra Mahkota dengan angkuh meninggalkan mereka.


Saat itu, Jung Hyun baru saja tiba. Ia melihat Putra Mahkota berjalan dengan wajah yang muram.


“Yang Mulia, apa yang Anda lakukan disini? Jika Anda ingin bepergian, panggil saja aku, aku akan selalu menemani Anda,”  tunduk Jung Hyun hormat.

__ADS_1


“Aku ingin segera kembali”.


Putra Mahkota melangkah begitu saja.


**


Jung Hyun mengawal Putra Mahkota pulang ke istana. Namun, di tengah perjalanan, sang Putra Mahkota berhenti di depan sebuah toko kerajinan keramik.


“Ada apa, Yang Mulia Putra Mahkota?” tanya Jung Hyun.


Putra Mahkota tak menjawab. Ia melangkah ke toko itu dan mulai melihat-lihat. Putra Mahkota menyentuh beberapa keramik.


“Yang mana, yang bisa digunakan untuk menampung air?” tanya Putra Mahkota.


Jung Hyun kebingungan.


“Jika Anda memerlukannya, Anda bisa meminta yang terbaik di istana,” bisik Jung Hyun padanya.


Tiba-tiba,


“Yang ini,” jawab seorang gadis yang menutup wajahnya dengan selendang.


Gadis itu, berdiri sambil memilah beberapa keramik.


Putra Mahkota dan Jung Hyun spontan menatap gadis itu, lalu kembali membuang pandangannya.


“Jika ingin memilih keramik yang indah, dan berguna untuk menampung air, yang ini sangat baik. Namun, karena aku seorang wanita, aku akan mengambil yang ini,” tambah sang gadis, sambil mengambil sebuah keramik cantik.


Putra Mahkota mengabaikannya.


“Sangat aneh, seorang pemuda mencari keramik bermotif bunga untuk menampung air. Apa itu untuk kekasih Anda?” tanya sang gadis.


Putra Mahkota yang merasa tidak nyaman, menjadi muak lalu pergi diikuti Jung Hyun.


Sang gadis tersenyum tipis.


“Apa aku benar?...”.


Sang gadis memutar pandangannya ke arah Putra Mahkota yang sudah melangkah bersama Jung Hyun.


“Putra Mahkota?”sambungnya.


Panggil sang gadis membuat Putra Mahkota menghentikan langkahnya. Sementara, Jung Hyun dengan sigap mendekati sang gadis hendak mengeluarkan pedangnya, tetapi Putra Mahkota menghentikannya.


Ia kembali beberapa langkah hingga berada dekat dengan sang gadis.


“Jangan berbicara sembarangan,” bisik Putra Mahkota.


Sang gadis tersenyum, dan membungkuk hormat.


“Senang bertemu dengan Anda, Yang Mulia,” sapanya.


“Jangan membungkuk begitu padaku disini. Darimana kau yakin, aku Putra Mahkota?” tanya putra mahkota berbisik.


“Kita pernah bertemu sebelumnya,” jawab sang gadis tersenyum.


Putra Mahkota diam saja. Sang gadis kembali berdiri tegak dan membuka penutup wajahnya.


“Hong Jin-Yi, aku gadis yang pernah Anda tarik, saat bersembunyi dari pengawal istana,” jawabnya.


Wajah cantik Hong Jin-Yi terpampang nyata di hadapan Putra Mahkota dan Jung Hyun.


Jung Hyun akhirnya membungkuk hormat padanya.


“Senang bertemu dengan Anda, putri sekretaris negara,” sapa Jung Hyun.


Putra Mahkota diam saja, tak memberikan reaksi apapun. Dia hanya mengangguk pelan dan berbalik badan bersama Jung Hyun dan pergi meninggalkan Jin-Yi yang tersenyum bahagia.


“Putra Mahkota, kuharap kita akan bertemu lagi di lain waktu,” gumamnya bahagia terus memandang Putra Mahkota yang sudah melangkah jauh.

__ADS_1


Jin-Yi menutup kembali wajahnya dan juga pergi dari sana membawa harapan besar di hatinya.


**


__ADS_2