
Istana tengah disibukkan soal persiapan pernikahan Putri Shin dengan seorang pemuda bernama Ha Sun, yang akan segera dilangsungkan. Kepala Menteri Keuangan dan Perpajakan tersenyum lebar saat melangkahkan kaki di istana membawa seluruh keangkuhan itu menyertainya. Sebagai calon besan raja, suatu kebanggaan yang luar biasa baginya mendapatkan posisi itu.
Langkah arogan Kepala Menteri Keuangan dan Perpajakan menimbulkan tatapan kedengkian dari banyak orang. Dari sekian pemuda yang dicalonkan, raja secara sepihak memilih putra tunggal Kepala Menteri Keuangan dan Perpajakan sebagai calon menantunya. Selain mempertimbangkan kualitas menantu, raja juga mempertimbangkan keuntungan politik karenanya. Zaman itu, pernikahan dengan bangsawan murni dengan pangkat terbaik yang mempunyai hubungan darah di istana benar-benar menjadi tolak ukur kesuksesan pemerintahan.
“Hai Anda Pak Kepala!” teriak salah seorang menteri kepada Kepala Menteri Keuangan dan Perpajakan dari kejauhan.
“Anda terlihat luar biasa dan semangat sekali!” tambah mereka. Kepala Menteri Keuangan dan Perpajakan tersenyum bangga, dia tahu orang-orang itu sangat iri kepadanya.
“Sampah-sampah istana, ingin mencari perhatian rupanya,” batinnya. Kepala Menteri Keuangan berjalan di tengah-tengah menteri bersama para menteri lain yang mendukungnya.
“Malam ini, aku mengundang kalian semua untuk datang ke kediamanku. Kita akan merayakan pelepasan lajang putraku,” teriaknya seolah memberi pengumuman bahagia. Perdana Menteri Han yang melihat momen memalukan itu hanya bisa tersenyum tipis.
“Hai Perdana Menteri Han, apa Anda tidak jijik melihat tingkah berlebihannya?” bisik salah seorang menteri kepadanya. Perdana Menteri hanya terus menganggukkan kepala, pelan-pelan mencoba untuk tidak tertawa sama sekali. “Melihat banyak orang yang bergosip tentangnya, tampaknya membuat dia begitu bahagia,” jawab Perdana Menteri Han. Segera setelahnya, perdana menteri keluar dari aula pertemuan itu untuk segera melangkah pergi. Namun, keangkuhan yang ada di dalam ruangan itu menghentikan langkahnya.
“Hei Perdana Menteri Han! Bagaimana rasanya ketika putrimu tidak terpilih menjadi istri Putra Mahkota? Apa itu menyedihkan? Aku tidak tahu rasanya, tetapi aku sangat paham bagaimana perasaanmu saat ini,” teriak Kepala Menteri Keuangan dan Perpajakan seolah meledek.
Perdana Menteri Han yang hampir saja bebas dari sana, langsung saja berbalik memutar tubuhnya kembali. Dengan sedikit senyuman, Perdana Menteri Han menundukkan kepalanya yang mengangguk pelan. Ia menyilangkan kedua tangan di belakang tubuhnya, dan melangkah hati-hati sedikit mendekat.
Saat itu, semua menteri langsung menoleh padanya. Perkataan sombong Kepala Menteri Keuangan dan Perpajakan benar-benar mengejutkan bagi mereka. ”Selamat untuk putramu, Ha Sun,” balas Perdana Menteri Han sambil tersenyum ramah.
Ia maju satu langkah setelahnya. “Sebenarnya saat ini, Anda merasa bahagia atau sebaliknya? Kepala Menteri Keuangan dan Perpajakan yang terhormat, sebegitu dalamkah kesengsaraanmu karena tidak memiliki seorang putri?”
Jawaban Perdana Menteri Han spontan membuat semua orang terbelalak tak percaya. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin saja terjadi, melihat kedua menteri itu saling beradu argumen menciptakan hawa mengerikan di aula pertemuan itu.
Kepala Menteri Keuangan dan Perpajakan memperbaiki posisinya berdiri, menyipitkan matanya, menatap lekat Perdana Menteri Han yang saat itu berdiri cukup jauh darinya. “Apa maksudmu?” tanya Kepala Menteri Keuangan.
“Aku sangat paham betapa kecewanya Anda karena Anda tidak memilki seorang putri untuk bisa dicalonkan menjadi istri Putra Mahkota. Aku punya satu orang putra, yang langsung diangkat raja menjadi guru di istana ini. Aku punya seorang putri, yang sedikit informasi, putriku Han Ji-Eun masuk dalam kandidat tiga besar. Meski tidak terpilih, bukankah itu sangat membanggakan?” Perdana Menteri Han menoleh ke segala sisi, menatap para menteri yang sedang memandangnya. Melihatnya, senyuman Perdana Menteri menjadi lebih lebar dari biasanya.
“Aku turut prihatin pada kalian semua. Saking sibuknya untuk melihatku jatuh, kalian sampai tidak tahu, bahwa putri mendiang penasehat negara yang kalian bencilah yang terpilih menjadi calon ratu di negeri ini. Bukankah itu sangat mengejutkan?” jawaban santai Perdana Menteri Han menciptakan kesuraman panjang di antara mereka. Pasar ribut itu berubah sepi dan sunyi, mereka hanya bisa terdiam dengan hati yang mengutuk tak henti.
“Kalau begitu, sampai bertemu kembali di kediaman Kepala Menteri Keuangan dan Perpajakan.” Perdana Menteri Han segera bergegas dari ruangan gelap yang penuh kebencian itu, meninggalkan orang-orang yang tamak akan kekuasaan dan popularitas.
Sekretaris negara ada disana, terdiam kaku mencoba menelaah segala hal yang telah didengarnya. Istana ini tidak seperti yang orang-orang pikirkan. Di istana, para penghuninya hanya orang-orang yang yang rakus dan berlomba-lomba menciptakan penderitaan baru. Tidak seindah negeri dongeng, pada kenyataannya, yang terkuat dan terliciklah yang akan menjadi pemenangnya.
**
Ara duduk di dalam biliknya dengan mata sedikit cekung. Ia bangun di tengah malam tak lagi bisa tidur hingga pagi. Menyandarkan tubuhnya di sisi meja, sambil membuka halaman demi halaman seonggok buku yang ada di atasnya. Tak ada yang menarik, selain rasa kesepian yang sudah lama dirasakannya. Ia menoleh ke jendela, melihat cahaya mentari mulai mencuri sela-sela rangkanya. “Sudah mulai siang.” Ujarnya sambil mendorong daun jendela.
“Ara, pergilah mandi. Pakai ini setelahnya.” Sang ibu meletakkan sebuah gaun indah berwarna merah muda di atas ranjangnya. “Kenapa?” tanya Ara kebingungan. Sambil merapikan tempat tidur Ara, sang ibu menekuk dahinya karena tak habis pikir. Dia meletakkan kedua tangannya di pinggang, “Apa kau lupa?” tanya sang ibu. Ara seolah tak peduli, ia mengangkat kedua bahunya, kembali menyandarkan pipi bulat itu di atas meja.
Sang ibu mendekat, menarik tangan Ara dan mendorongnya duduk ke atas ranjang. “Sudah bertahun-tahun lamanya kau hanya mengurung diri di kamar, apa kau mau jadi perawan tua?” dengan nada penuh penekanan, sang ibu bertolak pinggang di hadapan putrinya. Ara memelas, kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
__ADS_1
“Sampai kapan, kau terus memikirkan pemuda yang sudah meninggal itu? Hidup terus akan berlanjut. Jika dia masih hidup, ayahmu juga tidak akan mengizinkanmu menikah dengannya,” oceh sang ibu menampar jiwa putrinya.
Dengan wajah datarnya, Ara kembali duduk, “Aku hanya tidak ingin keluar. Lagipula, aku sudah mengikhlaskannya,” jawab Ara sedikit santai membelakangi ibunya.
“Kalau begitu, tak ada lagi alasanmu untuk tidak datang ke festival pacu kuda yang diadakan oleh istana. Apa kau tidak penasaran dengan wajah calon suamimu?” Perkataan sang ibu membuatnya tertegun. Benar, tak lama lagi dia akan segera dijodohkan dengan salah seorang pangeran. Sesuai kesepakatan sang ayah yang sudah melakukan perundingan dengan istana. Dengan terpaksa, akhirnya langkah malas itu diseretnya pergi untuk mandi dan berdandan.
**
“FESTIVAL PACU KUDA”
Papan pengumuman yang sudah tertempel jauh hari sebelumnya, membuat para pemuda tersenyum senang. Hari ini, akhirnya perlombaan itu akan segera dilaksanakan. Pemuda-pemuda bangsawan berbakat itu dikumpulkan dan berbondong-bondong menuju lapangan pacu kuda, tempat dimana biasanya para pemuda-pemudi bertemu dan berkenalan, bahkan mulai menjalin sebuah hubungan.
Bersama kuda-kuda tangguh yang sudah dirawat secara khusus oleh tim ahli, bersiap memasuki lapangan bersama tuan-tuan mereka yang gagah dan berbakat. Para gadis disana melotot tak dapat berkedip, pemandangan yang indah membuat mereka bersorak tak henti. Melihat para pemuda bagi mereka seolah mendapatkan hadiah mahal dan mewah. Apalagi kali ini ada kabar bahwa para pangeran akan ikut serta, menambah ramainya lapangan pacu kuda itu.
Pintu gerbang berderit cukup nyaring, langkah gagah kuda-kuda itu berderap, menghentikan ocehan para penonton. “Waah..” tak ada kata lain yang dapat menggambarkan kekaguman itu.
Ara sudah ada disana, duduk diantara para gadis bersama sang ibu yang sudah memaksanya pergi.
“Aku tidak sabar melihat para pangeran.”
“Bukankah mereka masih lajang?”
Suara gosip atau semacamnya, terngiang-ngiang di telinga Ara yang ingin segera beranjak dari sana. Kilas balik menghantuinya, mengingat kembali saat dulu ia dan Youra datang ke istana untuk mengintip para pemuda, mengembalikan rasa sakit yang sebenarnya sudah hampir terkubur bersama kenangan. Dia sudah bahagia di istana, pikirnya mencoba tenang.
“Pangeran Yul adalah yang terbaik dalam pacu kuda.”
Perkataan seseorang yang datangnya entah darimana, membuatnya segera menoleh. Nama itu, adalah nama lelaki yang akan segera dijodohkan dengannya. Dengan wajah dan kepala yang tertutup selendang sutra, memaksanya untuk terus bersembunyi di baliknya. Sebagai gadis bangsawan terhormat dari seorang ayah yang memilik pangkat dan kekuasaan, Ara memang harus menutupi wajahnya untuk tak dapat dilihat oleh sembarangan orang. Ia menggeser duduknya sedikit mendekat pada sang ibu karena sangat terganggu oleh suara-suara bising itu.
Tak lama kemudian, tampak dari jauh beberapa pengawal istana berdatangan, beriringan dengan dua ekor kuda yang sudah ditunggangi oleh dua pemuda tampan. Tak begitu jelas, wajah-wajah itu terlalu jauh untuk dijangkau oleh mata. Ara tak antusias, meski tahu salah satu dari mereka adalah pria yang akan menjadi suaminya.
Sang ibu, menarik tangan Ara. Menggenggamnya karena terlalu bahagia. “Lihatlah, calon menantuku ada disana. Apa kau melihat calon suamimu itu?” tanya sang ibu dengan senyum bahagianya. Ara tak berkutik, tak peduli seperti apa rupa mereka, yang jelas dia ingin segera pergi dari sana.
Selang beberapa waktu kemudian, tampak beberapa ekor kuda berjejer rapi di landasan berpacu. Para gadis sibuk berlarian ke lawan arah untuk menyaksikan wajah-wajah para pemuda itu. salah seorang pangeran turun dari kuda, diiring masuk menuju singgasana yang telah disiapkan.
Beberapa tandu mewah di bawa masuk ke seberang sana. Para penghuninya diantar naik ke singgasana.
“Apa raja dan Putra Mahkota datang?”
“Wah, apa itu ratu?” tanya mereka penasaran.
“Apa jangan-jangan itu permaisuri Putra Mahkota? Katanya, permaisuri Putra Mahkota adalah putri mendiang penasehat negara yang dikabarkan meninggal, apa itu benar?”
__ADS_1
Pertanyaan-pertanyaan para gadis menggentayangi seluruh isi pikiran Ara. Dia mencoba menelusuri lebih dalam tatapan di sebelah sana. Tampaknya raja atau Putra Mahkota tak akan datang, itu tidak mungkin mengingat raja memiliki urusan negara, dan Putra Mahkota yang sudah pasti tidak akan mau datang. Hanya tampak seorang pemuda yang duduk di sebelah ratu, di balik tirai tipis itu.
“Pangeran Hon tidak mengikuti pacu kuda ini. Tampaknya dia tidak terlalu sehat,” perkataan sang ibu seolah menjawab pertanyaan yang mulai tersusun di kepala Ara.
Bunyi gong mengantar para pemuda bersama kuda-kuda itu sedikit maju hingga ke garis start.
“Waah….” Orang-orang menjadi lebih heboh saat seseorang bersama kudanya masuk di antara jejeran itu.
Tak lama setelah itu,
“Bersiap-siap!”
“1!”
“2!”
“3!”
“Mulai!”
Seluruh kuda itu segera beranjak dari sana, berlari cukup kencang membawa para penumpang gagah dan tampan itu pergi menjauh. Ara masih disana memperhatikan mereka, tapi dengan pikiran yang entah kemana. Semua orang berteriak, heboh, bersorak gembira, sedang masih di tempat itu, Ara bersama pikirannya tetap berwajah murung. Ia menoleh kemana-mana, memperhatikan para gadis, hingga tatapan itu berlabuh ke sisi lain lapangan, mengarah ke istana.
“Youra?” gumamnya, saat melihat jauh dari istana seorang wanita tampak mengendap-endap keluar bersama beberapa orang pelayan. Ara menggelengkan kepalanya, mencoba menghapus seluruh pemikiran konyol itu. Itu tidak mungkin, pikirnya. Seorang wanita yang sudah masuk ke istana, bukanlah hal yang mudah baginya untuk kembali keluar bahkan untuk mengunjungi keluarganya sendiri.
Namun, saat pikiran itu berusaha disingkirkan, Ara kembali menoleh, melihat tak lagi ada siapapun di depan sana.
“Waaaahhhhhh!”
Sorakan orang-orang membuyarkan pemikiran itu, segera ia menoleh pada sumber kehebohan. Dari landasan berpacu tampak seorang pemuda bersama kudanya datang mendekat, sebagai pemenang. Di garis finish, pemuda itu berbalik menghadap para penonton. Ya, kini dapat dilihat Ara dengan mudah.
“Itu dia, itu. Itu Pangeran Yul, calon suamimu. Dia pemenangnya.” Sang ibu bersorak senang.
Ara diam saja, tertegun dalam indahnya khayal. Jauh disana, dia melihat wajah itu dengan jelas. Pangeran Yul tersenyum kepada para pemuda yang sedang bersorak merayakan kemenangannya. Senyum manis itu, menyentak hati Ara yang sudah lama beku dan kosong. Ia bahkan tak mampu berkedip, terus saja melotot kagum pada calon suaminya.
Keringat yang membasahi rambut dan dahi Pangeran Yul menambah pesona kegagahannya. Para gadis berteriak, histeris melihatnya dari dekat. Sang ibu menoleh pada Ara, menyadari putrinya sedang terperanjat oleh kekaguman.
“Sudah kukatakan padamu, kau akan menyukai calon suamimu. Tidak ada gunanya lagi memikirkan pria yang sudah meninggal, cobalah untuk melihat masa depan.”
Tak peduli ibunya sedang berkata apa, garis senyum sudah mulai mencuat dari sudut bibirnya. Senyum itu, membuatnya meneteskan air mata.
“Apa aku benar-benar akan bisa melupakan Tuan Muda Lee Young karena Anda, Pangeran Yul?”
__ADS_1