
Hari ini para rakyat dikejutkan dengan sebuah titah yang tertempel dimana-mana. Sebuah surat yang memberikan peluang bagi mereka yang ingin memperoleh hidup lebih layak.
...PENGUMUMAN RESMI RATU KIM...
...RATU LEE ADALAH PENGKHIANAT YANG TELAH MEMBUNUH SUAMINYA SENDIRI, YANG MULIA PUTRA MAHKOTA-PANGERAN BAEK HYEON....
...Siapapun yang berhasil menemukan Ratu Lee, akan diberikan satu tandu penuh berisi batangan emas, pemberian status bangsawan, dan pelepasan status keluarga yang menjadi budak. Siapapun yang berhasil menemukan petunjuk tentang keberadaan Ratu Lee, akan diberikan hak kenaikan kasta, dibebaskan dari status budak, dan memperoleh pesokan beras gratis selama 2 tahun berturut-turut....
...Dan barang siapa yang ketahuan berbohong dan memberikan info palsu, akan dijatuhkan hukuman mati kepada seluruh keluarga yang bersangkutan. Apabila saat penyelidikan ternyata Ratu Lee berhasil melarikan diri kembali, pelapor akan dijatuhkan hukuman mati. ...
......................
Para rakyat saling bertukar pikiran, menggeleng tak percaya hingga kehebohan tercipta riuh.
"Kasihan sekali Putra Mahkota. Selama ini kita telah membencinya, padahal beliau yang sudah memberikan kehidupan yang lebih layak dari sebelumnya."
"Benar. Aku bahkan sampai menangis, berharap langit dapat menyelamatkannya. Aku begitu menyesal. Terkutuklah kita. Ternyata, permaisurinya sendiri ikut membencinya."
Orang-orang sibuk berbincang soal masalah serius ini hingga mereka menitikkan air mata. Mereka tak tahu kebenaran, dan hanya percaya pada semua yang terlihat di depan mata.
"Apa-apaan ini?!"
Jun yang hendak menuju istana tak sengaja melihat rakyat yang sibuk berkerumun. Jun terpaku sangat lama setelah membaca isi pengumuman itu. Karena geram, Jun menarik semua pengumuman yang tertempel di hadapan para rakyat. "Lupakan! Lupakan semuanya! Kembalilah kalian ke rumah!" Jun berteriak, mengusir seluruh rakyat untuk beranjak.
Jun meremuk kertas itu, membawa kemarahan itu menuju istana.
BRAK!
Suara pintu yang ditendang mengejutkan seluruh menteri yang sedang berkumpul. "Tuan Muda Jun?" Jun tak peduli, dia lantas menghempaskan kertas-kertas itu di hadapan ayahnya.
"Apa ini semua ulahmu?!" Bentak Jun pada sang ayah, mencuri perhatian seluruh menteri. "Jawab!"
__ADS_1
Perdana Menteri Han tersenyum tipis. Dia duduk santai saja menikmati beberapa kudapan yang terhidang di mejanya. "Aku sangat terharu, pagi sekali putraku sudah datang menemui ayahnya."
Jun menarik kerah ayahnya dengan emosi luar biasa. "Orang tua sinting sepertimu, memang tidak pantas untuk dihargai." Jun menggenggam kerah itu dengan kemarahan. Perdana Menteri Han tertawa cekikikan. Sedang menteri yang lain mengerut takut melihat interaksi keduanya.
"Jika kau marah padaku karena pengumuman itu, lebih baik kau tanyakan langsung kepada ratu. Aku tidak ikut campur."
Jun melepaskan genggamannya, lantas mendekatkan mulutnya pada telinga sang ayah. "Jika terjadi sesuatu yang buruk dengannya, aku tidak akan segan-segan membongkar kedok busukmu."
Para menteri bergidik takut. Saat ini, ayah dan anak itu sedang saling melotot tajam. "Katakan saja. Bukan hanya aku yang akan mati setelah itu, kau dan Ibumu juga akan mati." Perdana Menteri Han menyeringai tipis.
Jun menarik diri untuk keluar dari sana, tetapi Perdana Menteri Han menahan pundaknya. "Apa kau lupa? Wanita yang sangat kau cintai itu lebih memilih lelaki lain, dan mengkhianati cintamu." Perdana Menteri Han membisikkan kalimat menohok pada Jun. "Jika kau mengetahui keberadaannya, aku bisa membantumu untuk membebaskan dia dari hukuman. Aku akan membantunya kabur dari istana, dan kau bisa membawanya lari sejauh mungkin. Memangnya kau yakin Putra Mahkota sudah tewas? Bagaimana kalau saat ini, wanita yang kau cintai itu ternyata sedang bersama suaminya?"
***
Lee Young terperangkap dalam ketakutan. Dia sangat terkejut melihat pengumuman Ratu Kim yang tertempel dimana-mana. "S*al! Para rakyat pasti sedang berlomba-lomba menemukan Youra. Gawat!" Young memutar langkahnya kembali ke kediaman Nana dan pamannya.
***
"Paman ... aku sangat bahagia, mengetahui kenyataan Tuan Muda masih hidup. Aku juga akan sangat bahagia, jika beliau segera menikah. Aku hanya sedih, karena tidak bisa lagi bekerja sebagai pelayan untuk keluarganya. Aku belum bisa membalas jasa mereka yang sudah memberikan tempat agar aku hidup lebih layak."
DEG
Young terhenti di depan pintu kediaman, saat tak sengaja mendengar sesuatu yang mengejutkan itu. Wajah terkejut itu segera ia hapus dan membawa senyuman saat memberanikan masuk.
Tok! Tok!
Lee Young masuk, menapaki lantai kayu itu hati-hati. "Apa aku mengganggu?" tanya Young.
"Tuan Muda? Sejak kapan Anda tiba?" tanya Pamannya Nana gelagapan. "Oh, aku baru saja datang. Bagaimana keadaan Nana?" balas Young beramah tamah.
Nana gugup sekali, takut pembicaraannya dan paman didengar Young. Dia segera bangun dari tempatnya berbaring dan langsung bersujud di kaki Young. "Ampuni aku Tuan Muda, aku tidak bermaksud merusak makan siang Anda. Ampuni aku." Nana merasa sangat bersalah karena sudah tersedak hingga Young berhenti makan.
__ADS_1
"Jangan seperti ini. Berdirilah." Young memegang sisi pundak Nana dengan kedua tangannya. "Aku sama sekali tidak terganggu. Batuk saat makan itu sudah biasa. Youra juga sering seperti itu." Young tersenyum menghiburnya.
Tidak bisa. Bagi Nana, melihat Young tersenyum adalah sesuatu yang tidak bisa dia lakukan. Karena itu semakin meyakinkan dirinya, bahwa lelaki itu tidak akan pernah dia dapatkan.
***
Di hutan yang gelap, Youra masih bermesraan dalam pangkuan suaminya. Youra merasa ingin berteriak, tiap kali pemuda tampan itu berbicara kepadanya. Semua perkataan dan kelakuan Putra Mahkota sangat manis dan menyenangkan. Rasanya, seperti mimpi bisa memiliki suami seperti itu.
"Yang Mulia Suamiku, apakah Anda begitu suka kue beras? Kue beras di istana, tidak sama dengan kue beras yang ada disini. Kalau kita tinggal di desa, Anda tidak akan bisa makan kue beras istana lagi."
"Aku suka Lee Youra. 1000 kali lebih lezat dari kue beras istana." Putra Mahkota mengecup pundak istrinya.
"Aku bukan makanan, Sayang. Tapi aku bisa membuatkan Anda kue beras yang jauh lebih lezat dari buatan koki istana. Dulu aku sering masak untuk kakakku. Kak Young itu banyak sekali makannya. Dia jarang tersenyum, benar-benar menyebalkan seperti Anda." Youra menyandarkan tubuhnya pada bidang hangat itu.
"Jangan menceritakan hal yang membuatku iri. Aku mau dibuatkan kue beras juga." Putra Mahkota kembali merengut.
"Tentu saja. Aku pasti akan membuatkannya." Youra merasa sangat sedih. Bahkan dia tak pernah tahu apa makanan kesukaan Putra Mahkota, apa yang dibenci dan apa yang sangat disenanginya. "Aku ingin tahu, apa yang Anda sukai dan apa yang tidak Anda sukai. Aku ingin tahu lebih banyak tentang Anda." Saat ini Youra sedang merasa sangat sedih.
"Sebelum aku mengenal Youra, aku hanya menyukai kue beras. Aku tidak suka belajar, aku tidak suka membaca puisi, aku juga tidak suka sendirian. Aku suka berkuda dan memanah, tapi aku tidak suka berpedang. Tapi setelah mengenal Youra, aku hanya terus memikirkannya. Aku jadi giat belajar, aku jadi menyukai segalanya karena ingin mencuri perhatian. Saat aku tahu, kakakmu adalah sarjana bela diri yang sangat ahli berpedang, aku jadi ingin sehebat dirinya." Putra Mahkota mengencangkan pelukannya. Dia meletakkan dagunya di pundak sang istri sebelum kembali melanjutkan.
"Di usiaku yang ke-17 tahun, itu pertama kalinya istana membawakan seorang gadis untuk bermalam denganku karena mengira aku tidak normal. Dia berani sekali membuka pakaiannya, tapi aku tidak ingin memandangnya. Pikiran kotorku hanya terus membayangkan dirimu. Aku menolak untuk menikah sejak usiaku 15 tahun. Tapi saat aku melihatmu, aku ingin sekali memilikimu. Aku mulai membayangkan cinta. Aku mulai mengenal cinta. Kau tertawa bersama istri Pangeran Yul dan seorang gadis lain di depan gerbang istana. Itu pertama kalinya, aku terikat oleh senyum manis dari seorang wanita. Aku tidak bisa tidur dan terus memikirkannya."
"Aku tak sengaja menabrak dirimu saat di desa, hingga seluruh kendi itu jatuh. Aku tak bisa berkata-kata saat itu, aku merasa pernah melihatmu sebelumnya. Ternyata aku benar, gadis yang kutabrak itu adalah cinta pertamaku saat remaja."
Youra sampai menitikkan air mata mendengar semua pengakuan itu. "Lalu, sejak kapan Anda tahu aku dan Guru Jun memiliki hubungan?" tanya Youra menahan tangisnya.
"Aku melihatnya. Melihat cinta kalian berdua dengan mataku."
Youra tak tahan lagi, hingga akhirnya tangisnya pecah. Dia memeluk sang suami sambil terisak.
***
__ADS_1