Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Malam Pertama


__ADS_3

**


Jantung Youra berdegup kencang. Debaran itu tiada henti bahkan hampir saja membuatnya pingsan. Dia selalu saja berusaha bersikap tenang, agar tak terlalu mencurigakan. 


Apa yang harus aku lakukan?


Pikiran kotor yang tidak-tidak seluruhnya tertampung dalam segenggam otaknya. Keringat dingin itu terus saja bercucuran tak karuan. Youra menggoyang-goyangkan tubuhnya, untuk menahan diri. Pelayan Nari datang mendekat, menyentuh dahi Youra untuk menyapu keringatnya dengan sapu tangan. Dayang Nari terus saja menatap wajah Youra yang pucat. Segera dia mengambil kembali riasan wajah.


“Yang Mulia, tampillah cantik dan anggun di depan suami Anda.” Dayang Nari memoleskan kembali pemerah itu di bibir Youra yang berisi. Setelahnya, ia meraih tangan Youra.


“Yang Mulia, Anda pucat sekali. Hamba tahu ini sangat mendebarkan, tetapi Yang Mulia Putra Mahkota adalah suami Anda saat ini. Tenanglah, semua akan berjalan baik-baik saja.” Dayang Nari mencoba menenangkan Youra. Dia tahu, Youra pucat ketakutan, malam pertama bagi seorang wanita dengan dendam bukanlah situasi yang baik.


“Yang Mulai, kumohon, bersikap baiklah pada Putra Mahkota, ini demi kebaikan Anda,” gumam sang pelayan.


“Yang Mulai Putra Mahkota akan segera tiba. Mohon untuk bersiap-siap.” Suara teriakan seorang opsir bagaikan sambaran petir di siang bolong bagi Youra. Sangat mengejutkan, sangat menakutkan.  Dayang Nari bergegas keluar dari bilik itu, membawa segala hormatnya meninggalkan Youra bersama ketakutannya.


Jantung Youra semakin berdetak sangat kencang. Dia meremuk gaun malam itu dengan sekuat tenaga. Ditatapnya wajahnya yang ada di cermin, terbelalak setelah menyadari pakaian yang sangat terbuka, membuatnya sangat frustasi.


Tiba-tiba,


“Selamat datang Yang Mulia Putra Mahkota.” Segera para pelayan melangkah menjauh untuk menjaga privasi Putra Mahkota. Pintu bilik kediaman Youra, telah dibuka dengan hormat.

__ADS_1


Cepat-cepat Youra meraih belati milik sang kakak yang pernah dia bawa. Disematkannya belati itu di dalam lengan bajunya. Kembali dia duduk di atas ranjangnya, berusaha keras agar tubuhnya tak tersingkap, mengatur posisi duduknya.


Putra Mahkota masuk ke dalam kamar sang istri. Segera seluruh pintu bilik itu ditutup rapat. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah sang istri yang duduk di atas ranjang dengan pakaian malam yang menggoda. Pelan-pelan Putra Mahkota melangkah mendekat ke atas ranjang itu. Kini dia duduk tepat di sebelah Youra.


Putra Mahkota menggeser tubuhnya untuk semakin mendekat. Tangannya kini meraih rambut Youra. Mengelusnya dengan lembut dan merapikannya. Perlakuan sang suami membuat napas Youra sesak, ingin sekali berteriak dan menendangnya keluar. 


Kini tangan itu terus saja menjelajahi wajahnya. Tanpa perlu bicara, punggung tangan indah itu meraba pipi kenyal Youra yang lembut. Untuk pertama kalinya, Putra Mahkota membuka penutup wajahnya di hadapan seorang wanita. Memperlihatkan seluruh sisi wajah itu dengan cuma-cuma. Namun, Youra segera membuang pandangannya. Menundukkan wajahnya cepat-cepat, agar ia tak dapat melihat wajah suaminya. Perlahan-lahan Putra Mahkota mengarahkan tangannya ke bawah dagu Youra, memiringkan sedikit wajahnya. Segera mendekatkannya di bibir Youra. Namun,


“Kasihan sekali.” Perkataan Youra menghentikan langkah Putra Mahkota. Imajinasi itu tiba-tiba saja melayang. Dengan tangan yang masih berada di bawah dagunya, Youra tertawa dengan bercucuran air mata membuat Putra Mahkota kebingungan.


“Anda menggunakan kekuasaan Anda sebagai Putra Mahkota untuk menikah. Bukankah itu sangat menyedihkan?” seringai Youra menusuk hingga ke jantung Putra Mahkota, sangat menyakitkan. Gadis itu kini berusaha menghina suaminya sendiri. Membuat Putra Mahkota menarik kembali tangannya dari dagu Youra, lalu meletakkan tangan itu ke dadanya sendiri. Sangat menyakitkan.


“Apa maksudmu?” tanya Putra Mahkota mencoba tenang.


Karena hatinya sangat terluka, Putra Mahkota mendorong tubuh mungil itu ke atas ranjang dengan paksa. Kini Youra terjebak di dalamnya. Di bawah tubuh  wangi dan hangat yang sedang menatapnya tajam. Youra cepat-cepat menutup matanya, berusaha untuk tidak melihat wajah suaminya itu. 


Dengan sekuat tenaga, napas sesaknya menunjukkan kekhawatiran. Belati yang ada di balik lengan bajunya, ia simpan rapat-rapat agar tak ketahuan. Pikirnya, mungkin saja dia bisa menancapkan belati itu di leher sang suami.


“Buka matamu!” Putra Mahkota berteriak, memaksa Youra untuk menatap matanya. Namun, Youra enggan melakukannya.


“Aku perintahkan kau membuka matamu!” kembali sang Putra Mahkota berteriak, tetapi Youra sama sekali tak mengindahkan perintah itu. Dia sama sekali tak punya niat untuk menatap wajah sang suami. Sudah jauh di dalam khayal Youra berniat untuk menghunuskan belati itu di leher sang suami, tetapi terlintas di benaknya wajah sang kakak, membuatnya berupaya keras menahan segala kebencian itu dalam genggamannya. Pikirnya, Putra Mahkota tak boleh mati dengan mudah. Dia harus merasakan penderitaan yang lebih dalam dari deritanya.

__ADS_1


Melihat tubuh mungil yang kini tak bisa bergerak, Putra Mahkota menurunkan pandangannya. Kini mata itu berusaha berjelajah liar meneliti lebih dalam apa yang ada di balik kain sutra tipis itu dengan rasa penasaran. 


“Kau tahu, aku berhak melakukan apa saja padamu,” kata Putra Mahkota merendahkan suaranya. Saat mata itu menjelajahi tubuh istrinya, sesuatu meredam rasa penasaran itu. 


“Bukankah sudah aku katakan, aku tidak ingin menikah dengan Anda?” jawab Youra tersenyum menghina. Putra Mahkota merasa tertohok, kalimat yang benar-benar menyakitkan untuknya. Kemarahan itu semakin membara, membuat Putra Mahkota hampir saja gelap mata. Tiba-tiba, dia melihat tangan mungil Youra bergetar ketakutan. Membuatnya berusaha menahan diri lalu kembali menarik napas. 


Putra Mahkota beranjak dari ranjang itu dengan kasar. Melangkah cepat meninggalkan sang istri, sebelum akhirnya membanting pintu bilik sang istri dengan keras. 


“Kau pikir kau bisa menentangku, manusia bodoh,” gumam Youra tertawa licik melihat sang suami pergi terburu-buru.


“Pastikan wanita kurang ajar itu tidak keluar dari kamarnya!” dengan seluruh amarah itu, Putra Mahkota melangkah pergi diikuti oleh seluruh pelayannya. Pelayan yang melihat Putra Mahkota keluar dengan emosi yang luar biasa berapi-api, bergidik ketakutan. 


Sementara itu, Youra tertawa lepas di atas ranjang dengan deraian air mata. Segera ia memperbaiki bajunya yang hampir saja terbuka itu. Dia menata kembali rambutnya agar terlihat baik-baik saja.


Pelayannya kebingungan, lantaran waktu yang Youra dan Putra Mahkota lewati sangat sebentar itu, membuat mereka bergegas masuk ke kamar Youra. Dayang Nari mendapati Youra yang sedang tertawa puas berlinangan air mata. Mereka semua saling berpandangan. Itu adalah kebencian, semuanya terlihat sangat jelas.


Dayang Nari datang mendekat. Dia merapikan gaun Youra yang sangat berantakan. Mengarahkan tangannya, menghapus air mata itu.


“Yang Mulia, apa yang sudah Anda lakukan? Mengapa menyakiti diri demi sebuah bayang semu?” gumam sang pelayan. 


“Bawakan aku air,” perintah Youra dengan napas sesak yang masih tersisa. 

__ADS_1


Bagi Youra, malam itu berlalu menyakitkan, atau bahkan menjadi lebih menyedihkan.


__ADS_2