
"Sayangku, jangan menangis di hadapanku. Aku merasa sangat bersalah jika melihatmu menangis seperti ini. Oh iya, bukankah tadi kau mengajakku untuk menangkap ikan?" Putra Mahkota mencoba mengalihkan suasana, meski sebenarnya luka itu kembali terasa.
Youra mematung, merasa bersalah. Padahal, menangkap ikan adalah siasatnya agar sang suami lelah dan tidak meminta hadiahnya. "Tidak usah, kita tidak usah menangkap ikannya hari ini."
Putra Mahkota merapikan rambut wanitanya, sebelum menggendongnya menuju sungai. "Kenapa permaisuriku ini kecil sekali?" ledek Putra Mahkota sambil tersenyum. Youra merengut, melotot tajam padanya. "Oh begitu ya? Jadi Anda mau wanita yang tinggi dan punya badan bagus seperti Han Ji-Eun? Atau yang parasnya cantik seperti Hong Jin-Yi?"
Jawaban Youra mengukir tawa di wajah Putra Mahkota. Suara tawanya sampai membuat Youra terpesona. Dia memang jarang sekali tertawa. "Apa kau cemburu pada mereka?" tanya Putra Mahkota.
"Tentu saja aku cemburu. Wanita genit itu rasanya ingin kubunuh. Berani-beraninya dia memberi Suamiku obat perangsang, bahkan memasang jimat agar Suamiku tergila-gila padanya. Pokoknya aku tidak mau tahu ... aku adalah yang satu-satunya wanita Anda. Anda mengerti?" Youra menekan sang suami yang sedang gembira. "Aku mengerti, permaisuriku."
Putra Mahkota tiba-tiba saja merunduk, meletakkan Youra di atas air yang mengairi anak sungai. "Yang Mulia!" Youra terkejut kala tubuhnya dipercikkan air oleh suaminya. Mereka berlarian menyisir anak sungai itu sambil tertawa.
Tubuhnya basah semua, Putra Mahkota sepertinya ingin mengajaknya bercanda. Youra gesit sekali hingga berlari cukup jauh.
"Aw!" Putra Mahkota tiba-tiba menyentuh perutnya yang luka. Youra langsung mengejar suaminya. "Suamiku, Anda baik-baik saja?"
Putra Mahkota menggenggam lukanya, tampak sangat kesakitan. Dia bahkan membawanya duduk di atas bebatuan. Youra sangat khawatir hingga dia menangis. "Suamiku, tunggulah disini, jangan banyak bergerak. Aku akan mengambilkan obatnya. Tahanlah sebentar."
Suara tangis Youra menggambarkan betapa risaunya dia. Belum lagi Youra melangkah pergi Putra Mahkota lantas menarik tangannya. Membawanya mendekat pada hasratnya yang telah dia pendam sejak tadi. Dia mengecup bibir indah istrinya sangat lama. "Istriku, kau kena tipu." Bisikan Putra Mahkota sangat menggoda, menghembus di leher jenjangnya.
"Huh!" Youra memukul dada suaminya. "Tolong jangan bermain-main dengan ini. Aku tidak suka!"
__ADS_1
Putra Mahkota memeluk wanita imut yang sedang menangis itu karena gemas.
***
Jung Hyun mengolah hati dan pikirannya. Menatanya untuk berlabuh pada tempat yang tepat. "Apa itu anak suaminya?" batinnya ragu setelah mendengar kabar kehamilan Putri Shin.
Dia terjebak di istana cukup lama. Dia tidak tahu ditangkap atas tudingan apa. Namun sosok pada kurungan di depannya, berhasil mencuri perhatian. "Kasim Cho?" panggil Jung Hyun setelah dua orang opsir memasukkan lelaki paruh baya yang sedang merintih kesakitan.
"Kasim Cho!" panggil Jung Hyun membangunkan. Mereka berdua ada di dalam ruang yang sama. Namun, dengan kurungan yang berbeda. Kasim Cho yang tak sadarkan diri, sayup-sayup mendengar panggilan itu. Dia mulai bangun dari tempatnya pingsan. "Jung Hyun?" lirihnya pelan.
"Benar. Benar, ini aku Jung Hyun. Mengapa Anda ada disini?" tanya Jung Hyun dibalut takut. Kasim Cho menggeleng, menandakan ketidaktahuannya terhadap apa yang telah terjadi saat itu.
"Pasti ada orang yang menjebak kita agar kita bersuara. Anda tidak boleh kalah dari mereka. Tidak adil mereka menjatuhkan hukuman tanpa pertimbangan dan pembahasan seperti ini. Mereka pasti membaca hal yang mencurigakan. Kasim Cho, ikuti semua permainan ini dengan baik." Jung Hyun memacu sang pelayan pribadi Putra Mahkota untuk segera bangkit dan bersemangat. Mereka menjaga sikap dan percakapan mereka agar tak didengar orang.
"Maaf, Tuan." Lee Young menghampiri biksu itu. Biksu itu tampak seperti orang yang tertangkap basah. Tiba-tiba saja dia berlari, padahal Lee Young tak melakukan apa-apa.
"Tuan!" Young berhasil menyergapnya. "Tuan, tenangkan diri Anda." Young memelankan suaranya, mengatur napas sang biksu untuk tetap di tempat.
"Ampuni aku, Tuan. Ampuni aku. Tolong jangan bunuh aku. " Tiba-tiba lelaki berpakaian biksu itu bersujud kepadanya. Young menoleh ke seluruh sisi kastil. Dia menarik lengan sang biksu masuk ke dalam sebuah bangunan, karena merasa sedang dimata-matai.
"Tenanglah, Tuan. Aku tidak akan melukai Anda. Tampaknya, Anda bukan seorang biksu. Mengapa Anda ada disini dengan pakaian seperti ini?" tanya Lee Young berhasil membaca situasi.
__ADS_1
Lelaki berpakaian biksu itu mendekat kepadanya. Meraba-raba wajah Young yang punya bekas luka di dahinya. "Nak, kau ... kau Tuan Muda Lee Young? Putra sulung Tuan Lee?" tanya orang itu mendadak. Young mengernyitkan dahi, mencoba melirik ke segala sudut ruangan. "Anda mengenalku?"
Lelaki berpakaian biksu itu mengangguk cepat. "Kau masih hidup, Nak?" Lelaki itu tiba-tiba menggenggam tangan Young sangat erat.
"Mereka ... mereka mencariku, mereka tahu kau masih hidup." Lelaki berpakaian biksu itu sangat histeris, Young tersentak. "Tenanglah, Tuan. Apa yang terjadi? Jelaskan padaku pelan-pelan." Young memegang pundak lelaki itu.
"Aku adalah salah satu dari orang bayaran yang ditugaskan untuk membunuhmu. Mereka membunuh semua yang diperkerjakan. Aku berhasil melarikan diri, tetapi aku tidak bisa pulang ke rumah karena istriku sedang mengandung waktu itu. Aku hanya bisa berpura-pura menjadi biksu di kastil ini selama bertahun-tahun, tapi aku tidak bisa pergi dari kastil ini karena mereka mencariku. Aku ... aku akan membantumu membalaskan ketidakadilan. Tapi aku mohon, tolong selamatkan anak dan istriku. Aku mohon ... " Lelaki berpakaian biksu itu menatap yakin Young dengan raut wajahnya yang memohon.
Young memperhatikan wajah itu. Dan benar, dia salah satu dari orang yang menyeret tubuhnya waktu itu. "Tuan, Anda masih ingat wajah orang yang sudah memerintahkan kalian?" tanya Young.
Lelaki itu mengangguk. "Aku mengingat wajah mereka. Wajah orang-orang yang sudah menipu kami," jawabnya.
"Apa maksud Anda?" tanya Young sekali lagi menaruh heran.
"Mereka mempekerjakan rakyat yang tidak tahu apa-apa seperti kami untuk membunuh banyak orang. Mereka menugaskan banyak orang untuk membunuh Tuan Lee dan keturunannya. Mereka mengatakan bahwa keluarga Tuan Lee adalah kelompok pengkhianat yang akan membuat rakyat hidup susah. Mereka tidak hanya mengincar Tuan Lee, mereka mengincar target lain. Aku benar-benar tidak tahu apa-apa, Tuan. Aku datang terlambat karena istriku melahirkan, saat itu ... saat itu aku melihat mereka tidak membayar. Mereka membunuh semuanya agar tak meninggalkan saksi atas kejahatan mereka. Mereka membunuh teman-temanku yang malang. Itu sebabnya aku melarikan diri. Tuan, Ampuni aku. Ampuni aku ... "
"Lalu kenapa Anda ada disini padahal kastil ini sudah dikosongkan? Bukankah ini tempat pertemuan Putra Mahkota? Apa jangan-jangan ... kematian orang tuaku ada hubungannya dengan jebakan untuk Putra Mahkota?" Young mencoba menggali lebih dalam.
Lelaki itu berhati-hati berjalan mendekat pada Young. Dia memelankan suaranya yang parau. "Aku kesini, karena aku hanya aman bersembunyi disini. Ada dua orang pelayan istana yang disekap disini beberapa waktu yang lalu. Aku rasa, mereka bisa membantu. Tuan Muda Young, mereka sedang mencari jasad Anda dan Putra Mahkota. Mereka tahu Anda masih hidup." Lelaki itu melotot, mengeluarkan air mata ketakutan.
"Anda ikutlah bersamaku. Aku membutuhkan Anda untuk mengungkap kebenaran."
__ADS_1
***