Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Tidak Apa


__ADS_3

Pernahkah kau berpikir, keluarga, sahabat, dan teman yang kau miliki adalah mereka yang setia? Yang tidak akan menyakiti apalagi meninggalkanmu. Tapi, pada kenyataannya, mereka semua berdusta. Mereka tertawa di depanmu, menggandeng tanganmu, tersenyum, bersumpah akan selalu bersama. Tapi nyatanya,


Mereka semua menipumu.


***


Semua mata tertuju pada Young, saat Young mengantar adiknya ke biro pendidikan wanita. 


“Waaaahhh, tampan sekali,” mereka berbondong-bondong berkumpul hanya untuk melihat Young.


Young tidak tahu dan tidak peduli. Tapi, ada yang aneh.


Young yang sikapnya dingin, untuk pertama kalinya, memanggil adiknya kembali.


“Hei kau! Kembali sebentar,” kata Young pada sang adik yang sudah melangkah pergi.


Youra kembali berbalik.


“Apa? Aku risih orang-orang melihat kita,” keluh Youra pada kakaknya.


“Mendekatlah kemari,” kata sang kakak.


Youra kebingungan, tetapi, ia patuhi saja perintah kakaknya.


“Ada apa?” tanya Youra.


Young sedikit melangkah, saat ini berdiri tepat di hadapan adiknya. Dua menundukkan sedikit tubuhnya, lalu mengelus kepala sang adik.


Pertama kalinya, kakakku yang dingin, mengelus rambutku lembut.


“Aku tidak tahu apa ada orang yang menyakitimu, tetapi, jika ada yang berbuat jahat padamu, katakanlah padaku. Aku yang akan melindungimu," ucap Young santai sambil menatap wajah adiknya.


Seharusnya aku senang.


Youra terdiam di tempat.


“Tentu saja tidak ada. Semua orang takut padaku karena kakakku seorang pendekar pedang yang hebat,” cetus sang adik.


Tetapi mengapa, hatiku malah terluka.


“Kalau begitu, baguslah. Aku pergi dulu”.


Young merapikan tas adiknya yang kedodoran, kembali berdiri lalu bergegas pergi meninggalkan sang adik.


Entah kenapa rasanya, aku ingin memanggilnya kembali, mengajaknya pulang.


**


Youra menunggu Ara di depan kelasnya. Biasanya, Ara selalu datang lebih awal dan menunggunya. Tapi kali ini Ara belum juga datang.


Aku menunggunya.


“Apa kalian melihat Ara?" tanya Youra pada salah seorang temannya.


Aku terus menunggunya.


“Ara? Kau kan temannya. Kami tidak tahu,” jawab mereka.


Akhirnya Youra masuk saja sendirian ke dalam kelasnya. Sampai kelas selesai, Ara tidak muncul sama sekali.


Aku masih menunggunya.


“Aku tahu! Dia pasti ditempat itu,” gumam Youra pada dirinya.


Youra berlari menuju sebuah jembatan dekat dari biro pendidikan. Tempat itu, adalah tempat yang biasa dia kunjungi saat bermain bersama Ara. Dan benar, Ara ada disana. Sedang berdiri di bawah sebuah pohon, menundukkan wajahnya.


“Ara!" teriak Youra dari kejauhan memanggil sahabatnya.


Youra datang, mendekatkan ia pada sang sahabat.


“Ternyata aku benar. Apa kau menungguku dari tadi?" Youra tampak kelelahan habis berlari.


Ia yang hampir kehabisan napas itu, berjongkok di bawah pohon rimbun dekat dengan Ara. 


“Oh iya, kenapa kau bolos? Bagaimana kalau inspektur tahu? Aku tahu, kau tidak suka menyulam, tetapi bagaimanapun juga kau harus mengikuti pembelajaran ini, karena kit…”.

__ADS_1


“Youra,” Ara menghentikan ocehan Youra.


Ara maju sedikit, di depan Youra dia berhenti.


Aku melihat matanya,


Youra yang terkejut, bangkit berdiri dari jongkoknya.


“Ara, kau? Kau habis menangis?” tanya Youra.


Dia menangis.


Ara yang ditanya tidak merespon sama sekali.


“Apa kau baik-baik saja? Apa ada seseorang yang mengganggumu?” tanya Youra.


Youra yang kebingungan berusaha menyentuh pipi sang sahabat.


Dia…


“Youra, mulai sekarang, mari berhenti berteman".  


Youra yang mendengar kalimat sang sahabat yang dikira hanya sebuah canda, tertawa terbahak-bahak.


“Hahahaha! Kau ini lucu sekali,” jawab Youra.


“Aku tidak bisa lagi menjadi temanmu,” tambah Ara dengan wajah seriusnya.


Dia berusaha menyakitiku.


“Bercandamu semakin tidak lucu,” bantah Youra perlahan mengubah raut wajahnya.


Temanku,


“Aku tidak bercanda". 


Sahabatku,


“Apa maksudmu?" tanya Youra.


“Dari awal, kita bukanlah teman,” tegas Ara.


Kumohon, 


Ara yang tadinya memakai gelang rajut buatan Youra, memotong gelang itu dengan liontinnya, tepat di depan Youra.


“Ara, ada apa ini? Bukankah kau bilang, kau ingin menikah dengan kakakku? Hei, aku bercanda soal aku tidak setuju. Tentu saja aku setuju kau menjadi kakak iparku. Kenapa kau ja..".


“Dari awal aku menipumu,” bantah Ara cepat.


Ku mohon, berhentilah...


Youra terdiam.


“Aku tidak pernah tulus berteman denganmu. Aku sama seperti yang lain. Aku berteman denganmu, karena kau anak penasehat negara. Kau punya kakak laki-laki yang tampan, dan aku menyukainya. Tapi setelah kupikir-pikir, aku rasa, kita tidak akan bisa menjadi teman,” jelas Ara padanya.


Kenapa dengan kerasnya,


Youra menitikkan air mata.


“Tidak. Aku mengenalmu. Kau berbeda dari mereka,” tegas Youra.


“Aku tidak pernah menganggapmu teman. Bagiku, kau hanya duri dalam hidup yang bergantung padaku agar kau punya teman,” jawab Ara


Aku tetap tidak percaya.


“Ara, kau..”.


“Youra, aku tidak akan lagi berteman denganmu. Kenapa? Karena aku sangat membencimu!" Ara berteriak pada Youra.


Aku tahu, dia berbohong.


Youra yang masih tidak percaya berusaha keras untuk mengusik rasa sedihnya. berpikir positif dan mencari langkah. Mungkin saja, ini hanya sebuah kesalahpahaman yang belum terselesaikan. Dia mencoba mendekati sahabatnya, tetapi, Ara malah mendorongnya hingga terjatuh.


“Youra! Aku peringatkan padamu kita bukanlah teman! Biar kujelaskan padamu agar kau mengerti. Kakakku Won Bin, adalah orang yang melukai kakakmu! Kakakku berusaha membunuh kakakmu! Apa kau tidak mengerti? Hah! Aku adalah musuh yang selama ini berpura-pura manis untuk menghancurkan kalian! Aku tidak bodoh seperti gadis lain yang mencintai kakakmu, tidak! Aku orang yang ingin menghancurkanmu. Apa sampai disini kau mengerti?” Ara berteriak, dia yang menangis di hadapan Youra hanya terus mencoba menyudutkan Youra. 

__ADS_1


Dia berkali-kali melukai hatiku,


“Kupikir dengan berteman denganmu, aku bisa menikah dengan kakakmu. Namun nyatanya, sepertinya itu tidak akan terjadi. Bagaimanapun juga, kita tidak akan pernah menjadi teman".


Saat itu bagiku, selagi aku masih bisa melihatnya, semuanya tidak masalah.


“Mulai detik ini, jangan pernah menyebut namaku. Ini terakhir kalinya kita berbicara, jadi lupakan aku. Jangan pernah berpikir kita pernah berteman. Itu tidak pernah terjadi".


Seperti apapun dia menyakitiku.. 


Ara meninggalkan Youra yang menangis terisak di bawah pohon begitu saja.


Bagiku, selamanya dia adalah temanku.


Youra yang menangis berteriak histeris sendirian. 


Tidak apa-apa.


Jika memang kau benar-benar membenciku, tidak apa.


Bagiku, kau masih temanku. Begitu selamanya.


**


Youra yang masih polos dan lugu berlari menangis berniat menemui kakaknya. Ia berlari sekuat tenaga menabrak seseorang dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan maaf. 


Pikirku, aku akan mengadu pada kakak karena seseorang telah menyakitiku.


Youra terus berlari menuju lapangan mencari kakaknya.


“Apa kalian melihat kakakku?” tanya Youra sambil menangis.


Seharusnya aku tahu, dia tidak pernah ada.


Para pemuda kebingungan. 


Youra memutuskan untuk menunggu kakaknya di depan biro pendidikan.


Aku yang bodoh terus menunggu.


Malam pun tiba, tetapi Young belum juga kembali. Youra akhirnya memutuskan untuk merapikan buku-buku dan alat-alat sang kakak yang tertinggal. Dia membawa seluruh peralatan sang kakak, dan menunggu sambil duduk di depan kelas kakaknya.


Saat itu, Jung Hyun yang baru saja keluar melihat Youra.


“Nona Youra, kenapa kau belum pulang?” tanya Jung Hyun.


“Dimana kakakku?” tanya Youra cepat.


“Dia dipanggil ke istana,” jawab Jung Hyun.


Youra menghapus air matanya.


“Kak Jung Hyun, apa aku boleh bertanya?” tanya Youra yang masih terisak.


“Te-tentu saja,” Jung Hyun kebingungan.


“Apa kakakku baik-baik saja? Apa benar seseorang berusaha membunuhnya? Kenapa dia dipanggil ke istana?” tanya Youra.


Jung Hyun tampak gelisah. Pertanyaan itu merusak pikirannya. Rasa khawatir berusaha disimpannya erat. Tentang segala yang diketahuinya, hanya Young yang tahu. Dia mendekat pada Youra, berjongkok lalu tersenyum padanya. 


“Tentu saja. Siapa yang bisa mengalahkan kakakmu? Tidak ada yang bisa. Young dipanggil ke istana, karena dia terpilih menjadi pengawal Putra Mahkota. Jadi, dia harus berlatih di istana juga,” jelas Jung Hyun.


Pada kenyataan dan luka,


“Benarkah?” tanya Youra.


“Tentu saja". 


Youra kembali menghapus air mata itu, dengan semangat dia berdiri membawa barang-barang sang kakak.


“Kalau begitu aku pulang dulu".


Semua sama pedihnya.


**

__ADS_1


__ADS_2