
"Selamat, Nyonya. Anda melahirkan seorang putri yang sangat cantik dan sehat." Seorang tabib meletakkan putri mungil berparas rupawan di dekapan ibunya. Ara yang masih lemah, tersenyum bahagia. Pelan-pelan dia mengeluarkan suara. "Apa Suamiku sudah pulang?" tanyanya tak sabar. Sayang sekali, tak ada seorangpun yang memberikan jawaban. Wajah pucat Ara menampakkan kekhawatiran. Sangat aneh rasanya, pagi itu sebelum dia melahirkan, Pangeran Yul bersikap aneh hingga membuatnya takut. Suami tercintanya itu memanjakannya dengan cara yang berbeda.
"Ara ... aku mencintaimu." Kalimat itu yang terakhir kali dia dengar dari mulut suaminya pagi ini. "Nyonya, seorang pria mengantarkan surat ini. Beliau memintaku untuk menyampaikannya kepada Anda." Cepat-cepat Ara menarik kertas itu dari tangan pelayannya.
Buliran air mata yang bening lagi berkilau melabuhkan diri di atas kertas yang sedang Ara baca. Seluruh pelayan yang hadir disana bertukar lirik. "Anda baik-baik saja?"
Tak ada jawaban dari Ara. Tiba-tiba saja dia terisak. Melemahlah tangan itu hingga dia tak sanggup lagi membacanya. Dia melirik putri kecilnya yang terlelap di sebelahnya.
"Suamiku ..."
***
Dunia gelap dan membisu. Pagi itu, tak lagi sama. Angin berhembus cukup kencang ditemani awan gelap yang tampak berbeda. Tak ada burung yang berkicauan di bawah kilatan cahaya langit yang saling menyambar. Meski ketakutan, para rakyat tetap bergegas menuju istana. Mereka yang ingin melihat para penghuni istana untuk pertama kalinya dalam sejarah, hari itu diizinkan oleh raja untuk menghadiri rapat terbuka yang akan segera dilangsungkan di halaman istana utama yang gerbangnya terbuka lebar.
Saat itu semua opsir dikerahkan untuk mengawali jalannya rapat dan persidangan. Mereka berjejer rapi di luar dan di dalam istana. Sudah siap dengan seluruh perlengkapan. Takut, rapat terbuka yang dengan berani raja lakukan akan membawa malapetaka. Kemungkinan seperti ada orang yang melepaskan anak panahnya pada raja dan penghuni istana yang sedang berdiri di lapangan adalah sesuatu yang mereka takutkan terjadi.
Para pelayan sedang sibuk menyiapkan seluruh keperluan. Wajah mereka penuh titik-titik kekalutan. Sambil berkeringat para pelayan itu terisak mengerjakan semua pekerjaan.
Hari itu, Dayang Nari yang tengah memakaikan pakaian mewah khas ratu kepada Youra memberikan senyuman terbaik yang tak pernah ia tunjukkan selama ini. Sebelum Youra beranjak keluar dari biliknya, dia berdiri berhadapan dengan sang dayang yang terlihat aneh. "Dayangku, aku berhutang jasa padamu yang telah setia mendampingiku. Kau mengajarkan dan mengingatkan aku banyak hal yang hampir saja aku lupakan." Youra menyentuh pipi pelayan setianya itu. "Jika ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman, tolong katakan padaku. Mulai sekarang, aku akan selalu mendengarkan," tambah Youra sembari tersenyum.
__ADS_1
"Yang Mulia, mendampingi ratu sehebat Anda adalah kehormatan dan kebahagiaan terbesar dalam hidupku." Dayang Nari meraih tangan dingin Youra, mendekapnya kuat dalam genggaman. "Janganlah takut atau gentar. Apapun yang akan terjadi ... tetaplah jadi wanita hebat yang selama ini aku kenal." Menetes air mata sang dayang yang belakangan ini terlihat aneh di hadapannya. Youra mengarungi tatapan penuh arti Dayang Nari yang terlihat sangat berbeda. "Dayangku, apa yang ... "
"Yang Mulia, Yang Mulia Raja sudah menunggu Anda." Seorang pelayan dari istana raja telah datang untuk menjemput Youra. Youra masih menatap Dayang Nari yang saat itu membungkukkan tubuhnya sangat lama. Di atas lantai sudah menumpuk air mata yang tiada terkira.
Youra yang masih kebingungan menoleh pada seluruh pelayan yang saat itu tersedu-sedu, membuatnya ikut menangis. Dia akhirnya keluar dari biliknya, menuju istana sang suami.
Dayang Nari tak bisa bangkit dari rasa hormatnya. Suara tangisnya menghancurkan hati para pelayan yang saat itu sudah ketakutan.
Yang Mulia ... sudah saatnya, Anda mendengar soal kenyataan menyedihkan yang akan melukai banyak orang.
Mengapa rasanya ... mengapa rasanya sangat sakit? Kumohon langit turunkan lah hujan, hatiku tak sanggup untuk menemui takdir.
***
Youra mendekat, melihat wajah gugup suaminya yang pasti sangat tertekan. Dia duduk bersimpuh di hadapan sang suami, meraih wajah raja dengan kedua telapak tangannya. "Apa Anda gugup?" tanya Youra tersenyum, mengusap-usap wajah tampan itu.
"Aku sangat gugup. Aku takut tidak bisa melakukan yang terbaik. Aku takut tidak bisa memberikan yang terbaik untuk rakyatku."
"Apapun yang telah Anda lakukan, semuanya adalah yang terbaik Suamiku. Melakukan rapat di hadapan publik seperti ini adalah yang pertama kali dalam sejarah. Anda bisa mengungkapkan kebenaran dengan baik," jawab Youra bangga.
__ADS_1
"Maaf karena sampai saat ini, aku belum bisa membalaskan ketidakadilan yang kau terima."
"Tidak apa-apa. Kita akan mengungkap ini bersama-sama nanti. Untuk saat ini, lakukan saja apa yang sudah tertera jelas." Sekali lagi Youra menenangkan kekalutan suaminya.
Raja berjongkok di hadapan Youra. Meraih tangan istrinya, menciumnya sangat lama. Matanya berlabuh pada perut Youra yang membesar. Dia menyandarkan kepalanya di perut Youra sembari melingkarkan tangan gagahnya di pinggul sang istri erat sekali.
"Anakku, doakan Ayah dan Ibumu, ya?" Raja mengecup perut itu dengan cintanya. Dia mendongak menatap Youra. "Semakin lama, aku semakin mencintaimu. Aku tidak tahu batas hingga perasaan ini meluap-luap. Aku tidak bisa lagi tidur sendirian di kamar kesepian ini. Rasanya sangat menyeramkan tanpamu. Tidak peduli pada aturan dan larangan ... malam ini juga kau harus tidur bersamaku. Sayangi dan manjakan aku seperti saat kita di gubuk kecil itu." Sikap romantis raja membuat wajah Youra yang tadinya bersedih, memerah malu.
Setelah sekian lama tak berjumpa, rasanya malah seperti pengantin baru. Jantungnya kian lama kian berdetak tak beraturan. Rasa bahagia yang tak tertanding memang membuatnya lupa pada takdir selanjutnya yang mungkin saja akan membuatnya menangis.
"Yang Mulia, sebenarnya aku sangat cemburu pada Hong Jin-Yi. Aku bahkan tidak bisa tidur belakangan ini karena takut Anda akan memikirkannya setelah apa yang dia lakukan untuk Anda. Aku tidak tahu apa yang kalian jalani tanpa sepengetahuanku. Gadis cantik itu berkali-kali melakukan hal istimewa untuk Anda. Sementara aku, aku hanya bisa meninggalkan luka di hati Anda," ucap Youra sangat jujur.
Raja tertawa hingga giginya kelihatan. Wajahnya tampak lebih bersinar karena itu. Dia duduk di sebelah Youra, menarik kepala wanitanya berlabuh di dada hangatnya. "Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah mengkhianati janjiku. Aku dan cintaku adalah milikmu. Aku mencintaimu lebih dari 15 tahun lamanya. Dan sekarang aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk selalu mencintaimu."
Youra mengatur posisinya berbaring dengan nyaman di pelukan sang suami. Mereka menikmati momen singkat itu sebelum masuk ke aura gelap penuh dendam yang akan mereka hadapi.
***
#Maaf atas keterlambatan dan lamanya update. Nanti bakalan up sekali banyak kok, tenang. Mohon dinanti ya 💞💞💜💜 Kesabaran dan kebaikan kakak semua yang sudah mendukung author sangat membantu author menamatkan novel ini.
__ADS_1
Terimakasih 💜