Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Lee Young, Kakak Youra


__ADS_3

Seorang wanita pincang satu kaki, menyeret langkahnya sembari membawa beberapa wadah berisi sayuran di atas kepala.


"Satu mangkuk bubur ayam tanpa telur!" Setiap hari akan selalu ada pelanggan, bahkan hingga menjelang sore karena memang masakannya sangat lezat.


Tidak hanya pincang, gadis itu punya bekas luka di wajah kirinya hingga tak sedikit orang-orang menghinanya.


Suatu hari, kedai kecilnya menjadi sepi lantaran sebuah toko makanan mewah dengan harga murah telah dibuka tak jauh dari kiosnya. Namun, orang-orang yang tahu kelezatan masakannya tetap terus akan datang.


"Satu mangkuk sup ayam dengan sedikit jeruk nipis!"


"Baik, Tuan."


Wanita itu akan bersemangat tiap kali ada pelanggan yang datang. Dengan kaki pincangnya dia meletakkan sup itu di hadapan seorang pelanggan yang datang terlalu sore.


"Ehem!"


"Masakanmu memang selalu lezat." Suara berat seorang pria membuatnya terperanjat.


"T-Tuan Muda Young?" lirihnya. Cepat-cepat gadis itu menghindar, tetapi cepat pula Young menarik tangannya. "Nana," panggil Young.


Gadis itu terkunci di tempat. Sesuatu mengguncang kepala dan hatinya yang sudah lama terluka. "Maaf Tuan, sepertinya Anda salah orang." Nana melepaskan genggaman Young dari lengannya.


Sekali lagi Young menarik tangan Nana dan memojokkan gadis itu di dinding. "Kenapa tidak pernah memberikan kabar kalau kau masih hidup?" tanya Young lembut. Nana terperanjat dan ingin berteriak melihat wajah sang pujaan yang sangat rupawan sedang menatapnya lekat.


Nana akhirnya mengalah, dia menyembunyikan wajahnya yang rusak. Sangat malu rasanya untuk bertemu kembali dengan Young setelah berani mengungkapkan perasaannya kepada pemuda terkenal berwajah sangat tampan seperti raja itu. Apalagi Young adalah majikannya, pasti sangat malu baginya untuk menghadap sang tuan setelah pengakuan tidak pantasnya.


Nana lantas mendorong Young keluar dari kiosnya, setelah membungkuk berkali-kali. "Maaf Tuan, toko ini sudah tutup. Anda sepertinya salah orang, maaf." Nana langsung menutup pintu kiosnya hingga Young keheranan.


***


Setelah sekian lama menenangkan diri sendirian di dalam kios, Nana akhirnya pulang ke kediamannya dan paman. Namun, dia semakin melemah tatkala matanya langsung menumpu pada Young yang sedang duduk bersama paman menikmati teh hangat di depan rumah.


"Nana, kau sudah pulang?" panggil paman mengejutkan Nana.


Young langsung menoleh dan mendekat pada Nana.


Nana lantas bersujud di kaki Young. "Maafkan aku, Tuan Muda. Bukan maksudku untuk lari dari tanggung jawab sebagai pelayan. Hanya saja ... aku tidak lagi memiliki keberanian atas apa yang sudah aku katakan waktu itu. Mohon ampuni aku. Anggap saja semuanya itu tidak benar."


Melihatnya, Young lantas memegangi kedua lengan Nana dan membawanya berdiri. "Ayo tenanglah. Mari duduk dulu." Young memapah Nana duduk di sebuah kursi kayu yang sama dengan paman. Dia memperhatikan kaki Nana yang terlihat sudah lama pincang dengan wajah rusaknya. Itu semua akibat pengorbanan Nana yang sudah membantunya.


Nana terus saja menutupi wajah rusak itu dengan selendang.


"Nana, aku lupa di mana aku meletakkan kertas putih milik Ayah saat kita masih berada dalam satu kediaman. Apa kau mengingatnya?" tanya Young.


"Masih, Tuan. Kertas itu, Anda letakkan di dalam jubah Anda," jawab Nana.


"Lalu, apa kau masih ingat di mana terakhir kali aku makan ubi rebus?" tanya Young.


Nana memandangi pamannya karena heran. "Anda ... Anda memakannya sepengetahuanku terakhir kali saat berada di dalam misi pencarian informasi," jawab Nana.

__ADS_1


Young lantas menarik tubuh Nana, dengan kekuatannya sehingga gadis itu tergeser dekat dengannya. "Lalu, kenapa kau melupakan aku?"


DEG


DEG


DEG


Entah apa maksud Young, yang jelas Nana merasa sangat bersalah.


"Tuan, aku ... ."


"Aku sudah melepaskanmu. Mulai sekarang, tidak perlu bekerja untukku lagi. Aku juga akan segera menikah. Apa ada yang ingin kau katakan?" tanya Young.


Nana berusaha keras menyembunyikan air matanya. Tentu saja, Young akan segera menikah. Bahkan ini sudah sangat terlambat baginya untuk segera menikah. Apalagi, sekarang Young telah raja angkat sebagai Kepala Menteri Perang yang telah dia jalani selama hampir dua tahun. Sayang sekali, kalau dia belum menikah juga.


Nana meremas erat gaunnya. "Terimakasih, Tuan Muda. Terimakasih," balasnya.


"Itu saja?" tanya Young.


"Eh?" Nana menatap Young malu-malu.


"Tidak ingin mengatakan yang lain?" tanya Young sekali lagi. Nana berusaha tegar dengan menggeleng pelan.


Paman menyenggol lengan ponakannya untuk bersuara, tetapi Nana yang ingin menangis berusaha keras tak bersuara.


Tiba-tiba,


"Tuan Muda, mana mungkin ... mana mungkin itu terjadi. Mana mungkin aku berani." Nana merasa Young hanya sekedar bertanya karena dia memang tidak pernah jatuh cinta.


"Kau menolakku?" tanya Young tak percaya. Sang paman malah cekikikan sendiri.


"Apa aku sedang bermimpi, Tuan Muda?" tanya Nana malah menangis.


"Aku tidak menikah selama ini. Aku menunggumu kembali," jawab Young dengan wajah seriusnya.


DEG


DEG


DEG


DEG


"Tidak, ini pasti mimpi," batin Nana.


"Nana, kenapa kau selalu mengikutiku diam-diam?" Pertanyaan Lee Young mengulang kembali masa lalu.


Dulu, dia selalu mengikuti Young kemanapun Young pergi. Namun, bagaimana bisa Young mengetahui itu?

__ADS_1


"Kau juga orang yang sudah merobek gaunmu satu-satunya untuk membalut lukaku, aku tahu semuanya," tambah Young.


Nana semakin malu karena itu. Dia gelagapan dan tidak tahu harus berbuat apa lagi. Tiba-tiba Young bersimpuh di kaki Nana, di depan paman dengan wajah tampannya.


"Bagaimana kalau aku katakan, mau menjadi istriku?" tanya Young sekali lagi.


Paman Nana hanya bisa termangu, menatap keduanya datar. Young si pria yang dulunya sangat dingin itu memang tidak romantis sama sekali. Bagaimana bisa Nana percaya dia sudah jatuh cinta jika sikapnya seperti biasa saja?


Karena tidak ada jawaban sama sekali, Young akhirnya kembali duduk.


Young sangat canggung menatap Nana yang masih membungkam mulutnya karena tidak percaya. Lambat laun dia mendengar ada banyak suara orang yang memperhatikan kehadirannya. Memang susah, jadi orang tampan.


"Tuan Muda Young!!!!!" teriakan para gadis yang ingin menyerbu membuat Young segera menarik tangan Nana dan paman masuk ke dalam kediaman Nana.


Dia bersandar di belakang pintu kediaman agar mereka tak menerobos. Young melepas tangan paman, tetapi masih menggenggam tangan Nana. "Gadis-gadis itu membuatku ketakutan," gerutunya sembari menghela napas.


Ia menatap Nana yang sedang terpukau pada tangan gagah sangat jantan milik Young yang menggenggam tangan dinginnya. Young lantas melepaskan pegangan itu, menggarut kepalanya karena canggung.


"Aku ingin kita menikah bukan hanya karena aku mencintaimu. Aku juga ingin kita menikah dan punya anak. Lalu kita bisa kembali ke desa Timur membawa anak-anak kita bertemu ibu pemilik kios menjahit terkenal itu. Dan aku bisa membawamu bertemu kembali dengan Youra, karena anak itu sekarang sering marah-marah pada suaminya, raja sampai curhat. Dia selalu tertawa bersamamu, pasti dia akan senang melihatmu."


Nana menatap Young berbinar. Young lantas menoleh padanya. "Tadi ... Tuan Muda bilang apa?" tanya Nana menaruh harap Young kembali mengulang perkataannya.


Young memutar mata. "Youra sekarang tumbuh menjadi istri yang galak."


"Bukan, bukan yang itu," jawab Nana lembut.


"Aku bilang, raja ... raja sampai curhat," jawab Young terbata.


Nana menundukkan kepalanya. "Oh begitu," sedihnya.


Young melihat wajah kecewa itu dengan rasa canggung. Di depan paman, Young membuka selendang Nana yang dari tadi dia gunakan untuk menutupi wajahnya yang rusak.


"Nana ...," panggil Young.


"Aku jatuh cinta padamu. Jadilah istriku, aku akan jadi suami yang baik untukmu." Sangat berani dan jantan Young akhirnya bersuara.


Nana hampir saja pingsan, tetapi dengan cekatan Young menahan tubuh Nana, hingga gadis itu berada dalam dekapannya.


"Tuan, aku sangat jelek dan miskin. Aku cacat dan sangat jauh dari apa yang seharusnya Anda dapatkan," tangis Nana pecah.


Young tersenyum padanya, ragu-ragu menyentuh wajah Nana yang rusak. "Aku mencintai Nana. Seperti apapun, bagiku Nana tetap cantik." Young membuka selendang itu lebih luas lagi hingga seluruh kepala Nana terlihat.


"Tidak mau memelukku?" tanya Young.


Nana sangat malu, harus memeluk pria yang dulunya adalah majikan yang digilainya. Namun, Young tak lagi sabar. Dia akhirnya memeluk Nana lebih dahulu. "Nana, aku rasa kau sudah menerimaku."


Nana akhirnya mengangguk cepat sembari mengencangkan pelukannya.


"Aku tidak menyangka, pada akhirnya bintang yang jauh itu .... memberikan sinarnya."

__ADS_1


***


Terkadang mimpi terlihat begitu lucu dan aneh. Terkadang pula, terlihat sakit dan terlalu tinggi, tapi ... mimpi tidak pernah salah. Karena tanpa mimpi, tidak akan ada usaha, apalagi sebuah kemungkinan.


__ADS_2