Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Cinta Ini Hanya Akan Membuat Kita Menderita


__ADS_3

Kala itu, Jun duduk lemas di beranda rumahnya. Dia benar-benar kehilangan semangat. Pertikaian dengan kekasihnya yang belum usai membuatnya enggan untuk segera bergerak. Ditambah, kabar bahwa sang kekasih dijemput dengan tandu kerajaan, memorak-porandakan pikirannya yang sudah kacau. Jun hanya terus membolak-balik lembar-lembar buku yang sedang dibukanya. Tak dibaca, hanya terus dipermainkan.  


“Ada apa?” Nyonya Han datang, menepuk pundak putranya.


“Dia dibawa ke istana,” jawab Jun singkat. 


Sang ibu yang melihat wajah murung putranya, segera merangkul pundak putranya itu. 


“Mungkin raja sudah tahu, putri penasehat negara masih hidup. Beliau mungkin ingin memberikan kehidupan yang layak untuk Youra. Sudah bertahun-tahun lamanya, gadis bangsawan yang harusnya bahagia itu, hidup miskin dan menderita”.


Jun akhirnya berdamai dengan pikiran buruknya. Mungkin saja apa yang dikatakan ibunya itu benar. Sedikit bersabar, dan menunggu waktu yang tepat, akan segera mengakhiri kesalahpahaman ini.  


**


(Di istana ratu)


“Tak perlu melakukan yang terbaik, cukup asal-asalan saja. Aku pasti segera didepak dari kandidat istri pria hina itu”. 


Youra tersenyum licik, mencoba melampaui batas kebodohan yang tidak pernah dia miliki. Menjadi bodoh, satu-satunya cara untuk cepat tersingkir. Youra berjalan pelan menuju meja-meja kayu berpahat indah itu dengan harapan yang bergemuruh. Youra meletakkan kertas jawaban ujian yang mungkin lebih mirip kanvas kosong dengan noda-noda tinta. Benar-benar dijawab asal. 


Tangannya mengayun pelan, sangat angkuh, percaya diri akan segera disingkirkan. Namun, saat ia segera meletakkan kertas itu, seorang gadis cantik dengan harapannya sedang berdialog panjang.


“Semoga, aku yang terpilih. Ayolah, kumohon, terpilihlah”. 


Youra menoleh pada suara yang berasal dari gadis cantik itu. Hong Jin-Yi, tatapan penuh harap terpampang nyata saat ia meletakkan kertas ujiannya. Melihatnya, Youra semakin bersemangat. Kali ini harapannya benar-benar akan terwujud. Cepat keluar, dan pergi jauh. Ya, benar sekali. Secepatnya akan ada gadis yang terpilih. 


Setelah seluruh gadis menyelesaikan ujiannya, mereka dipersilakan untuk kembali ke rumah. Mempersiapkan diri untuk pengumuman dan ujian selanjutnya.


Youra yang baru saja tiba di rumah, terdiam kaku melihat Jun yang sedang menunggunya disana. Cepat-cepat ia melangkah masuk ke rumah, agar Jun tak perlu berbincang dengannya. Dia menarik tangan Nana untuk tidak berbicara dengan Jun juga.


“Youra, bisakah kau mendengarkan aku sekali saja?”.


Youra tak peduli, meski wajah Jun tampak sangat menyesal. Namun, lagi-lagi setelah berulang kali bertengkar dengan hatinya, Youra akhirnya luluh. 


“Ada apa?” tanya Youra singkat.


“Aku tidak bermaksud untuk membohongimu soal ayahku. Aku ingin memberitahukanmu sejak awal, tetapi tampaknya kau benar-benar membenci kerabat istana. Aku tidak ingin kau menolakku,” kata Jun dengan wajah seriusnya.

__ADS_1


Youra menatap Jun dengan hatinya. Bagaimanapun juga, dia benar-benar sangat mencintai pria pujaannya itu. 


Youra berjalan melewati Jun yang tertunduk layu patah semangat.


“Aku sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun. Aku harap Kak Jun bisa mengerti,” jawab Youra semakin mematahkan hati Jun yang penuh harap. 


Jun yang menyadari posisinya, dia guru besar di negeri itu, dengan segala ilmu dan kepintaran akademik yang dimilikinya, serta sebagai orang yang sangat menjunjung tinggi norma dan etika, mencoba menahan diri dengan segala cara. Bukan untuk posisinya, tapi demi Youra, calon istrinya. Dia tak ingin gadis pujaanya terkena masalah, jika pelanggaran norma dilakukannya. 


“Baik. Aku pamit dulu. Semoga besok, kita bisa tertawa bersama lagi seperti sebelumnya”.


Maafkan aku, Kak Jun..


**


Di istana, Putri Shin duduk di atas ranjang memainkan sabuk milik Jung Hyun dengan tatapan manja. Sebagai wanita dewasa pada umumnya, dia sangat ingin berbelai mesra dengan pria yang dicintainya itu. Namun, kenyataan meruntuhkan seluruh mimpi yang sudah disusunnya. Perbedaan kasta dan aturan istana, mengharuskannya untuk terus mengalah. 


Tak lama setelah asik membayangkan Jung Hyun di dekatnya, butiran bening jatuh mengalir dari pelupuk matanya.


“Tega sekali dia mengabaikanku,” sambil terisak, Putri Shin memangku wajah di kedua lututnya.


“Putri, anda tidak boleh terus bersedih. Jangan sampai raja mengetahui ini. Bukankah anda sangat mencintainya? Bukankah akan sangat berbahaya jika raja tahu siapa pemuda yang membuat anda menangis seperti ini?”.


Sementara itu, Jung Hyun duduk bersandarkan tembok istana, menekuk lutut kanannya. Tangan kanan yang sedang menggenggam pedang, dia letakkan di atas lututnya itu. Tersenyum begitu lama menyentuh dadanya. Gigi gingsul milik Jung Hyun benar-benar mempermanis wajahnya yang sudah sangat manis itu. Dia terus saja menawan dirinya dalam khayal. Menikahi putri raja, bukanlah impiannya. Namun, jika itu Putri Shin, dia menjadi sangat bermimpi. Kenyataan yang ada diantara mereka, perbedaan status dan sumpahnya pada raja, mengharuskannya untuk melupakan cinta pertamanya itu.


“Putri Shin, aku harus bagaimana…”. 


Dia yang daritadi terus menyentuh dadanya karena begitu bahagia, akhirnya meremuknya dengan sekuat tenaga. Mencoba membohongi perasaan adalah jalan satu-satunya untuk mereka berdua. Tak akan ada harapan untuk menikah, membuat Jung Hyun meneteskan air mata karena seorang wanita.


“Cinta ini akan membuat kita berdua menderita”.


Pria hebat manapun, ksatria hebat apapun, mereka masih punya hati untuk merasakan cinta dan patah.  Sudah pasti, Jung Hyun sangat terluka. Dia memejamkan matanya sesaat setelah menyadari kenyataan yang berusaha dibohonginya. Dia terus menenggelamkan diri dalam harapan hampa itu.


Tiba-tiba, kehampaan itu berubah menjadi lebih menyedikan. Saat ini, dia melamun panjang. Mencoba menyusun lebih banyak tentang cinta atau kebencian. Bekerja untuk raja, memata-matai Putra Mahkota mengapa sangat menyakitkan untuknya. Sampai kapan, dia harus berbohong soal perasaan. Begitu pikirnya.


“Jung Hyun,” panggil Kasim Cho menggoyahkan lamunannya.


Jung Hyun menoleh pada wajah ceria itu.

__ADS_1


“Hm?” balasnya.


“Yang Mulia Raja, menyetujui permintaan Putra Mahkota. Akhirnya, Putra Mahkota akan segera menikah,” jelas Kasim Cho dengan wajah gembiranya.


Jung Hyun yang mendapati kabar ini, tersenyum riang. Namun, kilas balik dari apa yang sebenarnya terjadi, membuatnya enggan untuk kembali tersenyum. Jika raja menyetujui hal itu, itu artinya Youra akan segera dipinang oleh Putra Mahkota yang terkenal hina itu. Jung Hyun harusnya tak senang karena melibatkan wanita yang sudah menjadi korban kejamnya pemerintahan. 


“Baguslah,” jawabnya singkat namun penuh makna.  


**


Sementara itu, ribut teriak wanita yang parau sudah suaranya, terdengar jelas dari istana ratu. 


“BODOH!”.


Ratu berteriak penuh amarah dalam kediamannya. Hidangan makan malam yang tertata rapi di depannya, hancur berantakan setelahnya. Gaun sutra malam indah yang melekat pada tubuhnya, diremuk erat olehnya. 


“Kenapa raja menyetujui rencana busuknya?!”.


Setelah kembali berteriak, ratu tampak sangat sesak. Kali ini bukan lagi menghancurkan hidangan makan malam, ia juga menendang meja-meja yang berjejeran di depannya. Para pelayan yang khawatir hanya bisa diam di tempat, menunggunya segera sadar.


“Anak kurang ajar itu berusaha mencuci otak ayahnya, aku tidak bisa membiarkan semua ini. Dia harus menikah dengan wanita yang berasal dari keluarga kerajaan. Wanita yang aku pilihkan”.


Ratu mengangkat gaunnya tinggi-tinggi, segera melangkah keluar dari biliknya untuk menjumpai sang suami. 


“Yang Mulia Ratu, hamba mohon bersabarlah sedikit. Hamba tidak ingin raja murka dengan sikap anda yang seperti ini,” bujuk sang pelayan ketakutan.


Ratu Kim mencoba melepaskan seluruh emosinya malam itu juga, tapi posisinya adalah hal yang akan menjadi taruhannya. Dengan sekuat tenaga dia berusaha menahan diri untuk tidak bertindak diluar kendali.   


Tiba-tiba seorang pelayannya yang lain datang dan mendekat, membawa berita baik. Tampak begitu jelas dari wajahnya.


“Yang Mulia Ratu, hamba rasa menyetujui keinginan Putra Mahkota bukanlah sebuah masalah. Sampai saat ini, hamba belum mendapatkan info lebih dalam tentang keluarga gadis itu. Namun, menurut salah seorang pengantar tandu, gadis itu tidak pernah mengikuti pembelajaran di biro pendidikan, dia sudah lama tinggal di kaki gunung. Membiarkan Putra Mahkota menikahi wanita seperti itu, bukankah akan lebih baik? Menurutku, pernikahan ini tidak akan menyelesaikan masalah. Malah akan lebih bagus lagi, rakyat akan semakin tidak percaya,” kata seorang pelayan yang tampak memprovokasi lebih. 


Ratu melotot tajam pada pelayannya itu, seolah segera menerkamnya. Ia mendekat dan menyentuh dagu pelayannya itu. Tak lama setelah itu, sang ratu tertawa.


“Kau benar-benar suka sekali mengotori hatiku. Cepat pergi dari sini!”.


Sesaat setelah sang pelayan pergi, ratu duduk di atas ranjangnya. Wajah murungnya pelan-pelan berubah damai bersama hembusan kasar napasnya. 

__ADS_1


“Semua akan baik-baik saja,” pikirnya.


__ADS_2