Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Hilang


__ADS_3

Pangeran Hon berlari cepat menuju desa. Dia berusaha bersikap biasa saja agar tak ada yang mencurigainya. Sebab, selama ini orang-orang tahu bahwa dia adalah pangeran yang selalu netral dan tak berpihak pada siapapun. Pangeran Hon mempercepat langkahnya, kala perasaan berkecamuk mulai menggerayangi pikiran buruknya. Tiba-tiba seseorang menarik cepat tangan Pangeran Hon.



"Yang Mulia Pangeranku, di sebelah sana!" Kasim pribadi Pangeran Hon tiba-tiba saja datang menarik tangan sang pangeran berlari ke arah berlawanan.


Sambil berlari, Pangeran Hon tertegun heran. "Kasim San, apa yang terjadi? Kumohon jangan tergesa-gesa. Aku tidak mengerti."


Napas yang tersenggal-senggal membuat pelayan pribadi Pangeran Hon berhenti di depan bangunan kosong untuk melanjutkan pembicaraan genting mereka.



"Ayo cepat katakan apa yang terjadi?" tanya Pangeran Hon memaksa pelayannya berhenti.


Setelah menarik napas panjang, sang pelayan akhirnya melanjutkan pembicaraan. "Kita tidak bisa menyusul Tuan Muda Young, Yang Mulia. Para pengawal istana sedang menuju ke sana. Namun, aku menemukan sesuatu yang aneh di arah kaki gunung. Orang-orang berpakaian hitam itu memutar langkah mereka menuju ke sana. Sepertinya mereka akan menangkap seseorang, karena ada tandu kosong yang mereka bawa."


Perkataan sang pelayan membuat otak cerdas Pangeran Hon menyimpulkan sesuatu yang menakutkan. "Apa?! Cepat perintahkan para pengawal bergegas ke tempat Young! Aku curiga mereka akan menangkapnya. Setelah itu, kau temui aku. Kita akan berangkat menuju gunung."


"Baik, Yang Mulia." Secepatnya sang pelayan melesat. Meluncurkan strategi mereka untuk segera mendapatkan bukti nyata.


***


Masih dengan kegalauannya, Pangeran Yul berpikir keras soal tahta yang kini berada di dalam genggaman. Dia sampai sakit kepala menghadapi kenyataan yang membuatnya kebingungan. Dia menginginkan tahta itu, tapi di sisi lain sang istri tidak menginginkan apapun tentang istana. Belum lagi kenyataan pahit yang mulai menyadarkan dirinya. Tentang rasa ikhlas dan ketamakan, semuanya sekarang mengobrak-abrik jiwanya yang penuh keraguan.



"Suamiku? Apa Anda sedang tidak sehat?" tanya Ara khawatir setelah tak sengaja melihat sang suami menyentuh kepalanya sendiri.


"Ah, tidak Istriku. Aku hanya sedang sedikit pusing. Mungkin karena aku terlalu banyak berpikir."


"Suamiku, jika ada sesuatu yang membuat Anda tidak nyaman, berceritalah kepadaku. Aku akan jadi pendengar yang baik." Ara berdiri di belakang tubuh suaminya, memijat bahu itu dengan cinta. Perlakuan manis Ara membuat Pangeran Yul semakin tak berdaya. Hatinya semakin menolak untuk menaiki tahta yang sedang kosong.


***


"Tidak, Anda mandi sendiri saja. Kalau kita mandi berdua, kita tidak akan jadi mandi." Youra mendorong tubuh suaminya masuk ke kamar mandi sempit itu.


"Youra, kau membantah perintahku lagi?" sanggah Putra Mahkota tidak terima. Dia menahan pintu kamar mandi itu agar tak segera dibuka Youra. Lantas langsung menarik gaun Youra hingga gaun itu hampir saja terlepas.

__ADS_1


Youra tersenyum genit. Dia melangkah menuju suaminya. Menarik kerah sang suami, membawanya sangat dekat dengan wajahnya. "Anda mau mandi bersamaku, Pangeranku yang tampan?" suara Youra sedikit mendesah. Putra Mahkota diam saja menatap wajah istrinya serius.


Youra merayapi dada suaminya, dengan dua jari yang melangkah manja. Tangan itu terus saja berjalan hingga ke atas. Kini bersenandung manja di bibir indah suaminya. "Anda sangat tampan dan menggoda. Aku tidak menemukan satu kecacatanpun pada diri Anda, selain sikap menyebalkan Anda yang suka memaksa ini, Sayangku." Ini pertama kalinya Youra menggerayangi tubuh suaminya dengan sentuhan-sentuhan sensitif yang membangkitkan jiwa buas Putra Mahkota.


Putra Mahkota melemah dan sangat pasrah pada Youra. Sang istri menjinjit cukup tinggi, mengecup pipi sang suami. Kiri, kanan, lalu berakhir di bibir. "Aku sangat mencintai Anda."


SET!


Youra menarik lepas bawahan Putra Mahkota, hingga ia tertawa berlari keluar meninggalkan suaminya. "Sayang, kau licik sekali," batin Putra Mahkota tersenyum malu, karena telah tertipu oleh rayuan maut sang istri.


***


"Suamiku," panggil Youra setelah membuka pintu gubuk mereka sedikit. "Hm?" jawab Putra Mahkota cemberut sembari memasang bajunya. Youra yang gemas, akhirnya memutuskan masuk ke dalam.


"Sayang, Anda marah padaku?" Peluk Youra dari belakang. Putra Mahkota diam saja. "Jangan marah padaku, ya?" bujuk Youra menggelantung manja.


Putra Mahkota masih diam saja. Youra tidak terima diabaikan, dia lantas berdiri di depan suaminya. "Suamiku!" panggil Youra sedikit berteriak. Putra Mahkota menatapnya. "Hm?"


"Ham hem ham hem, biasanya Anda tidak seperti itu," rengek Youra seperti anak kecil memeluk suaminya. "Aku sedang marah pada Permaisuriku yang kejam."


"Maafkan aku ya, Suamiku Sayang? Aku tidak akan kejam lagi." Youra tersenyum manja pada Putra Mahkota. Merapatkan pelukannya dengan senyuman manis yang sangat tulus.


"Jika aku kesayanganmu, lantas ada orang lain yang kau sayangi, tetapi bukan kesayangmu?" tanya Putra Mahkota menyipitkan mata.


Youra tak menyangka wajah serius itu sekali lagi bertanya hal yang tidak-tidak. "Aku tidak punya orang lain di dunia ini selain Anda yang sangat aku cintai." Youra sangat percaya diri menyandarkan tubuhnya. "Bagaimana dengan Kakakmu?" tanya Putra Mahkota.


"Dia jelek dan menyebalkan," jawab Youra meledek kakaknya sendiri. "Kalau memang begitu, kenapa kau ingin membunuhku karena salah paham waktu itu?"


Pertanyaan Putra Mahkota menyentak hebat perasaan Youra. Dia teringat betapa kejamnya dia sampai-sampai menyimpan belati di balik gaunnya. Youra memejamkan mata itu, meresapi lebih dalam pelukan hangatnya. "Sayangku, janganlah mengingat itu lagi. Aku sangat menyesal."


"Aku tidak menyesal," sanggah cepat Putra Mahkota. "Karena jika bukan begitu, kau tidak akan mencintaiku seperti ini," sambungnya sembari membalas pelukan Youra.


Tak lama, setelah asik bercumbu mesra di dalam gubuk tua itu, Youra meminta izin pada suaminya untuk keluar sebentar mengambil sarapan pagi yang telah dia masak tadi. "Suamiku, aku keluar sebentar mengambil makanan dan herbal tumbuk yang sudah aku buatkan. Tunggulah disini, jangan banyak bergerak. Aku akan kembali secepatnya."


"Aku ikut," bantah Putra Mahkota. "Sebentar saja. Daunnya juga tidak jauh. Akan sangat aman karena berada di belakang batu besar belakang gubuk kita. Anda tunggulah disini, ya?"


Youra berjalan mundur sembari melihat Putra Mahkota agar Putra Mahkota tak mengikutinya. Youra sangat senang dan bahagia melihat senyum manis sang suami yang mengangguk mengizinkan. "Kembalilah dengan cepat, jangan membuatku marah lagi."

__ADS_1


"Tentu saja, Suamiku yang tampan."


***


Keindahan dan kebahagiaan yang mereka pikir akan berlangsung lama, nyatanya lenyap dalam beberapa menit. Sesuatu terjadi begitu cepat. Ssesuatu yang mematahkan seluruh perasaan dan tulang-tulang di tubuh Youra. Sesuatu yang hampir saja melayangkan nyawa yang mengikat di tubuhnya.


Youra berlari cepat menuju gubuk kembali. Jaraknya tidak jauh, bahkan terbilang dekat. Dia hanya mengambil beberapa lembar dedaunan. Saking semangatnya kembali cepat, Youra bahkan tidak memakai alas kaki. Tidak sabar untuk kembali bermesraan dengan sang suami. Dia kembali ke belakang gubuk untuk mengangkat meja kecil berisi penuh hidangan dan obat untuk Putra Mahkota. Namun,


Brak!


Meja dan seluruh yang ada di atasnya terjatuh begitu saja, kala mata bulatnya mengarah ke pintu gubuk yang telah tanggal.


"Suamiku?!" teriak Youra berlari masuk ke dalam gubuk. Tak ada siapa-siapa di dalam. Gubuk itu kosong dan sunyi.


Youra mencoba mengatur napas, mungkin saja Putra Mahkota sedang menjahilinya. Menipunya karena masih sedang merajuk. "Suamiku?" panik Youra memeriksa semua tempat.


"Yang Mulia, kumohon jangan bercanda seperti ini!" Youra berlari mulai panik saat menyadari betapa kosongnya tempat itu. Dia terhenyak saat kembali di dalam gubuk, matanya membeliak seperti ingin keluar, lengkap dengan air mata yang langsung tumpah. Tak ada yang terlihat, selain darah yang berceceran sangat banyak di lantai gubuk tua mereka yang baru saja disadari Youra.


Youra meraih darah itu, menapakinya dengan kedua telapak tangan. "Tidak, tidak!"


Youra kembali berlari keluar, tak ingin putus asa. Tepat saat dia keluar dari gubuk itu, jauh di atas sana tampak gerombolan orang berpakaian hitam sangat banyak berlari cepat. Sangat jelas Youra melihat mereka membawa tubuh tak bergerak. "Suamiku?"


Youra berlari tanpa alas kaki mengejar tubuh itu. "Suamiku!"


Teriakan Youra berhasil membangunkan para pemanah yang bersiap-siap untuk melepaskan anak panah mereka menembus dada Youra.


Panah itu bersamaan ditarik ke belakang oleh mereka.


Pangeran Hon baru saja tiba di tempat. Dia melihat anak panah yang segera mendarat pada Youra yang sedang berlari mengejar sesuatu yang tidak dia ketahui.


"Ratu Lee?"


Satu!


Dua!


Tiga!

__ADS_1



SET!


__ADS_2