Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Bagaimana Wajah Putra Mahkota?


__ADS_3

Mendengar Youra meminta waktu, sang pemilik kedai tersenyum hina. 


“Beri waktu katamu?! Gadis miskin sepertimu ini, apa yang bisa kau lakukan jika aku memberikanmu waktu hanya seminggu untuk mengganti seluruh kendi itu?”.


Youra terdiam di tempat. Mengepal seluruh kemarahan dan kesabaran menjadi satu di ujung kepalanya. Bertindaklah sedikit sopan, setidaknya akan terhindar dari masalah.


Sang pemilik kedai menatap Youra lekat. Tatapan itu terus saja berlabuh, menjelajahi tubuh Youra yang basah.


“Cukup cantik. Budak seusiamu bahkan belum menikah sampai sekarang. Bukankah itu artinya kau masih perawan? Bagaimana, jika kau menjualnya? Aku akan menganggap semuanya lunas. Oh, atau kau ingin menjualnya pada para pemuda bangsawan? Kau pasti dibayar mahal,” tawar sang pemilik kedai sambil tertawa.


Youra mengepal erat tangannya, dan seluruh perkataan itu, dua simpan dalam hatinya, membuatnya yang lemah menjadi bersemangat untuk berdiri, membangkitkannya. Nana yang tahu Youra sedang dalam tekanan, berusaha menarik tangannya agar Youra dapat menahan emosinya. 


“Ternyata gembel di jalanan lebih terhormat daripada seorang bren*sek seperti dirimu,” ketus Youra yang sakit hati pada pemilik kedai.


Mendengar itu, sang pemilik kedai spontan memukul keras pipi Youra. Tangan yang mendarat itu menciptakan pukulan yang amat sangat keras. Saking kerasnya, pukulan itu membuat tubuhnya terlempar sedikit jauh. Untungnya, ia berlabuh di dada Jun yang saat itu datang tepat waktu.


Melihat pemilik kedai mengusik gadis yang dia cintai, Jun yang emosi membalas pukulan itu berkali-kali lebih keras di wajah sang pemilik kedai tanpa ampun.


Sang pemilik kedai hanya diam saja, lantaran segan pada Jun, yang dia tahu adalah putra seorang bangsawan kelas atas. 


“Beraninya kau menyentuh wanitaku!”.


Jun mengeluarkan sekantung uang yang melebihi harga kendi-kendi itu dan melemparkannya tepat di wajah sang pemilik kedai. Situasi hari itu, menjadi tontonan banyak orang. Jun yang terkenal lembut dan penyabar, benar-benar sangat marah saat itu. Dia menarik tangan Youra untuk segera menyingkir dari sana .


Nana yang menyaksikan itu, yang tadinya putus asa, berubah bahagia, melihat pertemuan kedua insan itu.


**


Saat itu, Jun membawa Youra duduk di kebun tak jauh dari pasar. Youra duduk di atas sebuah batu, sementara Jun berjongkok di hadapannya.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Jun yang sangat khawatir melihat wajah kanan Youra yang mulai membiru. 


Youra menyentuh wajahnya sambil tertawa keras. Namun, di balik tawa itu, ada luka yang sangat dalam. Jun yang mengerti situasi, menjadi lebih khawatir.


“Youra, jangan seperti ini,” bujuk Jun lembut padanya. 


“Hiks, hiks,” tangis Youra pecah. Ia menutup wajahnya dengan tangan. 


Youra menangis tersedu-sedu. Ia mengangkat kakinya, dan kini menangis diantara kedua lututnya. Jun hanya bisa diam sambil menunggu Youra tenang. 


**


Sementara itu, Putra Mahkota dan Jung Hyun berhasil kembali ke istana menghindari para pengawal kerajaan.


“Yang Mulia Putra Mahkota, apa Anda baik-baik saja?” tanya Jung Hyun pada Putra Mahkota di depan istana.


Putra Mahkota mengangguk, kemudian ia berjalan masuk ke kediamannya. Sementara itu, Jung Hyun berlari ke istana raja, untuk memenuhi panggilannya.


Jung Hyun masuk ke ruang pertemuan raja. Disana, hanya ada raja dan dirinya saja. Jung Hyun membungkuk hormat padanya.


“Aku mendengar dari istana Putra Mahkota, anak tidak tahu diri itu dengan berani meninggalkan kediamannya dan melakukan penyamaran ke desa, apa itu benar?” tanya raja pada Jung Hyun.

__ADS_1


Jung Hyun terkejut. Ia terdiam untuk beberapa saat.


“Ingat, kau bekerja untukku dan itu artinya kau harus melaporkan seluruh aktivitasnya padaku. Kau tidak melupakan janji dan tugasmu itukan?” tanya raja kembali.


Jung Hyun berkedip beberapa kali karena sangat gugup. Ia menyusun raut wajahnya sendiri, agar terlihat tenang seperti biasanya di hadapan sang raja.


Raja menatap tajam Jung Hyun, mencoba menyeberang lebih dalam.


“Tentu saja, aku akan selalu mengingat tugasku itu, Yang Mulia,” jawab Jung Hyun mantap.


“Baik, katakan padaku, apa yang aku tanyakan tadi itu benar?” tanya raja sekali lagi.


Jung Hyun menarik napasnya. Saat itu, dia terdiam beberapa detik dan berpikir cukup lama.


“Jung Hyun!” teriak raja yang menggoyahkan lamunan Jung Hyun.


Jung Hyun menegakkan kepalanya.


“Tidak, Yang Mulia. Hari ini, aku dan pPutra Mahkota hanya berlatih saja di lapangan belakang,” jawabnya gugup.


“Baiklah, aku mempercayaimu”.


Jung Hyun mengepal erat tangannya karena sudah berbohong. Sebenarnya, ia memang bekerja untuk raja, dan dia ingin sekali melaporkannya pada raja. Namun, entah kenapa, hati dan pikirannya bertolak belakang. Dia merasa, tidak bisa melaporkan hal tadi kepada raja dan memilih tutup mulut. 


“Jika ada hal aneh yang dia lakukan, segera lapor padaku, kau mengerti?”.


“Aku mengerti, Yang Mulia”.


“Kenapa, aku tidak mengatakannya saja pada raja? Jung Hyun ada apa denganmu?” gumamnya bingung pada dirinya sendiri.


** 


Putra Mahkota kembali ke biliknya, Kasim Cho yang sangat khawatir itu menangis bahagia melihat Putra Mahkota tiba. Para kasim dan dayang kemudian sibuk berlarian menyiapkan keperluan Putra Mahkota. 


Saat itu, Putra Mahkota hendak mengganti pakaiannya. Tidak seperti para pangeran dan raja-raja terdahulu, Putra Mahkota sangat tidak mau disentuh apalagi dibukakan pakaiannya oleh para pelayan. Ia hanya mengizinkan mereka memakaikan jubah luarannya saja, itupun tanpa menyentuhnya.


Karena sudah tahu, dengan sigap para pelayan itu berlarian rapi keluar bilik Putra Mahkota, dan meninggalkan Kasim Cho saja di dalam bersamanya.


Kasim Cho menyiapkan pemandian air hangat bertabur wewangian untuk Putra Mahkota. Kemudian Kasim Cho memutar tubuhnya membelakangi Putra Mahkota sesaat sebelum Putra Mahkota membuka penutup wajahnya.


Putra Mahkota, berjalan pelan masuk ke dalam bak pemandian itu dan berendam disana.


“Kau masih tidak ingin melihat wajahku?” tanya Putra Mahkota sambil memainkan bunga-bunga di sekitarnya. 


“Mana mungkin hamba berani, Yang Mulia Putra Mahkota,” jawab Kasim Cho sambil terus membelakangi Putra Mahkota.


“Kenapa tidak berani? Kau melayaniku selama bertahun-tahun, apa kau tidak penasaran?” tanya Putra Mahkota.


“Tidak ada seorang pun yang diperkenankan untuk melihat wajah Anda oleh Baginda Raja. Hamba tidak boleh penasaran,” jawab Kasim Cho.


Putra Mahkota tertawa, tapi tiba-tiba terdiam. Karena tidak ada respon, Kasim Cho menjadi khawatir.

__ADS_1


“Yang Mulia, apa anda sudah selesai?” tanyanya.


Putra mahkota tidak menjawab, ia sedang termenung panjang tampak sedang memikirkan sesuatu.


“Yang Mulia?” panggil Kasim Cho kembali.


“Ah, Belum,” jawab Putra Mahkota sedikit terlambat.


“Apa ada yang mengganggu pikiran Anda?” tanya Kasim Cho yang masih membelakangi Putra Mahkota.


Putra Mahkota terdiam beberapa detik.


“Tidak, tidak ada,” jawab Putra Mahkota sambil memasukkan seluruh tubuh hingga kepalanya ke dalam air.


Karena cukup lama, Kasim Cho merasa khawatir. Ia mencoba berbalik mengintip sang Putra Mahkota.


“Yang Mulia Putra Mahkota? Anda baik-baik saja kan?” tanya sang kasim.


Putra Mahkota tidak memberikan respon apapun, sehingga sang kasim yang khawatir berbalik ke bak pemandian itu. Namun, tiba-tiba Putra Mahkota keluar dari air itu membuat Kasim Cho terkejut dan spontan kembali membalikkan tubuhnya.


Putra Mahkota tertawa.


“Hahaha, jika kau ingin melihat wajahku, maka lihatlah. Aku mengizinkanmu kapanpun kau ingin melihatnya,” kata Putra Mahkota sambil kembali menyelupkan kepalanya.


Kasim Cho yang mendengar itu merasa sangat bahagia.


“Terimakasih, terimakasih atas keistimewaan yang Anda berikan, Tuanku, Putra Mahkota,” jawabnya semangat sambil tersenyum senang.    


**


Sesaat kemudian, Putra Mahkota keluar dari bak pemandiannya. Saat itulah, untuk pertama kalinya Kasim Cho melihat Putra Mahkota bertelanjang dada tanpa menggunakan penutup wajah.


Kasim Cho yang melihat itu semua, terdiam tak dapat berkedip. Dengan sigap ia kembali membalikkan dirinya, untuk berhenti menatap Putra Mahkota.


"Menurutmu, apa wajahku begitu menyeramkan, sehingga ayah membuat peraturan seperti itu? Peraturan untuk tidak melihat wajah Putra Mahkota, dan peraturan untuk terus menutup wajahku," tanya Putra Mahkota.


Kasim Cho menelan air ludahnya. Ia bahkan tidak sanggup berkata-kata.


Ia berbalik kembali menghadap wajah Putra Mahkota dan bersimpuh di kaki sang tuan.


"Yang Mulia, adalah suatu kehormatan bagi kasim rendahan sepertiku, menjadi salah satu dari beberapa orang hebat yang dapat melihat wajah Anda. Aku sangat terharu," jawab Kasim Cho gugup menitikkan air mata. 


Putra Mahkota kemudian berjalan mengambil handuknya dan segera menutup tubuhnya yang basah.


Melihat sang kasim yang benar-benar tak kuasa melihat wajahnya, membuat sang Putra Mahkota tersenyum sambil berjalan keluar dari kamar mandinya. 


"Ayo kemarilah," ajak Putra Mahkota.


"Bb-ba, baik, baik Tuanku," sang kasim ikut berjalan di belakang tuannya.


**

__ADS_1


  


__ADS_2