
Ratu menabrak pintu bilik Youra karena emosi yang berlebih. Tak menyangka, gadis sebatang kara seperti Youra bisa menantangnya. Padahal, selama ini hampir seluruh penghuni istana dan pejabat menghormatinya.
Ratu berjalan cepat dengan piyama tidur yang melekat pada tubuhnya. Wajahnya masih sembab karena baru saja terjaga. Para pelayan dan dayang istana berjalan cepat mengikuti langkah arogannya. Seluruh pelayan istana yang bertugas bisa melihat dengan jelas langkah kemarahan yang mengantar ratu menuju kediaman raja.
"Yang Mulia..." Ratu datang menjatuhkan tubuhnya di tepi ranjang sang suami. "Apa yang harus aku lakukan sebagai istri yang mengabdi kepadamu dan negeri ini?" tanyanya berpura-pura bersedih. Raja terkejut, hingga seluruh pelayan yang ada di dalam bilik raja akhirnya keluar meninggalkan mereka berdua.
"Apa maksudmu, Ratu?" tanya raja yang saat itu masih terbaring sakit di ranjang. Ratu menggeser tubuhnya mendekat pada raja, meraih tangan raja dan mendekap tangan itu. "Sekali saja, tolong dengar aku sebagai ibu negara di negeri ini," pintanya memelas.
"Dayangku, bawa masuk laporannya." Perintah ratu diikuti oleh seorang dayang yang datang membawakan beberapa laporan dari rakyat, yang sudah ditulis oleh para cendekiawan.
Raja berupaya duduk. Ratu membantu sang suami bersandar di ranjang dengan hati-hati. "Laporan ini lagi?" tanya raja. Ratu mengangguk, sesekali menghapus air matanya. "Apa yang harus aku lakukan sebagai pemimpin istana wanita, jika memiliki menantu tidak berbakti seperti permaisuri Lee?" tanya ratu terisak.
"Apa lagi yang dia lakukan?" tanya raja dengan suara paraunya. "Dia tidak menghadiri pemeriksaan umum kesehatannya. Mungkin karena dia takut, orang akan tahu kenyataan bahwa dia belum melayani suaminya." Ratu mengatakan fakta, tetapi berkilah lebih buruk setelahnya, "Putra Mahkota tidak tidur dengan istrinya," tambah ratu.
"Apa? Tidak mungkin. Dia yang menginginkan gadis itu menjadi istrinya," bantah raja tak percaya. "Kalau begitu, itu artinya Permaisuri Lee tidak bisa mengandung." Ratu Kim tak mau kalah, terus saja berupaya untuk menunjukkan bukti-bukti buruk itu.
"Jika rakyat tahu tentang semua ini, mereka akan semakin percaya pada rumor dan malapetaka yang dibawa Putra Mahkota adalah benar adanya," tambah ratu menggebu-gebu.
"Langit belum menitipkan anugerah di dalam perut permaisuri, kita harus menunggu dulu. Bagaimana bisa seorang ratu sepertimu bisa lancang mengatakan hal sehina itu?" Raja mengolah pikiran buruknya untuk tak terpengaruh.
"Yang Mulia, sampai kapan Anda terus mempertahankan kondisi buruk ini dan menutup diri dari kenyataan? Putra Mahkota sangat sehat dan bugar, itu sudah dipastikan oleh para tabib yang bertugas. Dia jelas akan menghasilkan keturunan, tetapi Permaisuri Lee tidak pernah hadir dalam pemeriksaan. Bukankah itu sangat aneh? Itu pasti karena beliau tidak bisa mengandung. Yang Mulia, saat ini menantu Anda Ara sedang mengandung anak Pangeran Yul."
Kalimat terakhir yang ratu katakan, bagaikan petir yang menyambar untuk raja. Berita yang seharusnya disambut kebahagiaan itu akan berdampak buruk untuk sistem pemerintahan. Saat ini, rakyat terpecah menjadi beberapa kubu. Salah satunya adalah para pendukung Pangeran Yul. Kabar tentang hamilnya istri Pangeran Yul akan membuat rakyat semakin menghina dan menertawakan Putra Mahkota. Hal ini akan melemahkan posisi Putra Mahkota. Mereka akan semakin percaya Putra Mahkota adalah pembawa sial dan malapetaka untuk negeri.
__ADS_1
Sebenarnya, raja juga ingin Pangeran Yul yang bertahta, tetapi janji dan sumpahnya pada mendiang Ratu Kim asli membuatnya terus berupaya untuk mempertahankan posisi Putra Mahkota.
Tiba-tiba, napas naik turun raja memacu lebih cepat dari pikirannya. "Tunjuklah salah seorang dari dua kandidat terakhir yang gagal menjadi selir untuk Putra Mahkota. Putra Mahkota harus memiliki keturunan lebih cepat. Jangan pikirkan dia setuju atau tidak. Aku akan mengutus Sekretaris Negara untuk membahas ini dengan para menteri." Tertatih-tatih kalimat itu raja katakan. Pertimbangan yang sebenarnya sudah dibahas sejak lama itu akhirnya disetujui olehnya.
"Kau akan tersingkirkan secepatnya Lee Youra." Ratu tersenyum senang menandakan kemenangan sementaranya.
"Baik Yang Mulia."
***
Di kediamannya, Ara menyentuh perutnya hati-hati. Dia sangat senang, tetapi perasaannya tidak bisa selalu berbohong. Dia menangis sendirian duduk di tepi beranda rumahnya. Tangan itu mengepal keras perutnya, bersamaan dengan air mata yang terus saja keluar. Meratapi betapa malang nasibnya sebagai istri dari pria yang tidak mencintainya, hampir saja membuatnya ingin membunuh bayi yang ada di dalam perutnya. Tak lama setelah asik bermain dengan kesedihannya, Pangeran Yul tiba di rumah.
Ara cepat-cepat menghapus air matanya, merapikan gaun indahnya untuk menyambut sang suami. "Selamat datang, Pangeranku," sapa Ara membawa senyum setiap kali bertemu suaminya. "Hm," jawab Pangeran Yul melewatinya begitu saja.
"Mengapa Anda tidak pernah menganggap aku ada, Suamiku?"
Ara yang tertinggal hanya bisa semakin bersedih. Dia menangis di tempat saat sang suami jalan begitu saja melewatinay tanpa basa-basi. Ara menggenggam jubah itu dan memeluknya. Sangat sadar, tak pernah baginya merasakan kasih sayang atau sekedar dihargai oleh suaminya.
"Ara." Pangeran Yul memanggil Ara dari pustaka pribadinya. Ara kembali menghapus air mata itu, melirik sedikit ke cermin untuk melihat tampilannya. Segera setelahnya dia datang dengan penuh hormat. "Ya, Pangeran?" tanya Ara dari pintu pustaka itu.
"Mendekatlah."
Ara masuk dan kembali menutup pintu pustaka itu. Dia duduk di depan suaminya, tetap memperlihatkan wajah yang tersenyum. "Bagaimana dengan yang kau katakan waktu itu? Apa yang akan kau lakukan untuk membantuku merebut tahta?"
__ADS_1
Ara terbelalak. Benar, dia pernah memohon kepada suaminya agar tidak menceraikannya dengan syarat yang menyedihkan itu. "Kau tidak lupakan?" kembali Pangeran Yul mengingatkan.
"Maaf Pangeranku, mohon izinkan aku untuk kembali memikirkan cara yang tepat." Ara mencoba bernegosisasi dengan suaminya sendiri.
"Tidak perlu. Aku sudah menemukan cara, tentang apa yang harus kau lakukan." Pangeran Yul membisikkan sesuatu ke telinga sang istri.
Ara terpaku beberapa waktu, sebelum akhirnya berusaha keras untuk tetap terkendali.
"Pangeran, bisakah ... Anda mengurungkan semua itu? Saat ini, aku sedang mengandung bayi Anda. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk dengan bayi kita." Dengan napas yang sesak, Ara terus saja mempertahankan raut senyumnya.
"Apa?" Pangeran Yul terkejut. "Kau hamil?" tambahnya tak percaya. Ara mengangguk, lekas menatap suaminya. "Kenapa kau tidak mengatakannya kepadaku sejak awal?" tanya Pangeran Yul.
Ara terperanjat, melintasi bayangan semu yang semakin meracuni pikirannya. Berharap, berita ini akan membawa perubahan pada suaminya. "Anda tidak pernah mau mendengarkan aku, bagaimana aku bisa mengatakannya?"
Pangeran Yul tersenyum, "Bagus," jawabnya lugas. Pangeran Yul meraih porselin yang terhidang di atas mejanya, meneguk beberapa kali. "Dengan begini, rakyat akan semakin menyukaiku," tambahnya percaya diri.
"Pastikan bahwa bayi yang kau kandung adalah seorang putra. Jika bukan, itu tidak akan ada gunanya untuk kita."
Entah kenapa, pernyataan sang suami menanamkan kembali luka yang lebih dalam dari itu. Perasaan Ara lebih takut dari sebelumnya. Kemungkinan melahirkan seorang putri bukan sesuatu yang kecil, tetapi semuanya dapat terjadi. Ara takut, jika ternyata nanti dia melahirkan seorang putri, Pangeran Yul malah akan semakin berupaya untuk menceraikannya.
"Tidak boleh. Apapun yang terjadi, aku harus punya seorang putra," batinnya.
***
__ADS_1