
Hari dimana Young pulang terlalu malam adalah hari yang sama saat Putra Mahkota dan Youra bersenda gurau di anak sungai.
Saat itu hari sudah semakin menginjak malam. Langit mulai menggelap lantaran senja mulai beranjak.
"Suamiku!" teriak Youra tertawa geli karena Putra Mahkota terus saja mencumbuinya.
"Kita kemari mau cari ikan. Bagaimana ikannya bisa muncul kalau kita terus saja bergelut dan bermesraan di atas air? Nanti ikannya takut." Youra menarik tangan suaminya untuk beranjak dari sungai agak menjauh. Putra Mahkota patuh-patuh saja saat sang istri menariknya pergi.
"Duduk disini dulu. Kita perhatikan ikan yang lewat." Youra kembali menarik tangan suaminya untuk duduk. Mereka duduk di atas sebuah batu besar yang tidak menganggu aliran air.
"Sa-sayang ... yang diperhatikan itu sungainya, bukan aku." Youra tersipu malu karena Putra Mahkota malah sibuk memandanginya.
"Sungai itu tidak menarik. Permaisuriku lebih menarik." Jawaban polos Putra Mahkota tanpa ekspresi itu semakin membuat jantung Youra berdetak kencang. Youra mendorong manja wajah suaminya untuk tak terus memperhatikan.
Putra Mahkota mulai lagi dengan hasratnya. Dia mendekatkan wajahnya untuk kembali mencumbui sang permaisuri. Namun, belum lagi bibir itu sampai di leher sang istri, Youra malah beranjak dari tempatnya duduk.
"Itu ada ikannya!" teriak Youra berlari mengendap-endap ke sisi sungai.
Putra Mahkota ikut berdiri, tapi bukannya ikan itu yang dia perhatikan, malah Youra yang terus dipandanginya. Wajah cantik Youra yang ceria membuatnya senyum-senyum sendiri. Youra tidak sadar sang suami sedang memperhatikan dia dari kepala sampai ujung kaki.
"Hap!" Youra menerjunkan tubuhnya ke dalam sungai itu. Menyergap ikan yang sudah lepas dari tangannya. "Yaaah .... " Youra kecewa lantaran tidak bisa menangkapnya. Sekali lagi Putra Mahkota tersenyum melihat tingkah konyol istrinya.
__ADS_1
"Ini semua karena ada batu. Coba batu itu tidak ada, aku pasti sudah bisa menangkapnya. Dulu aku dan Nana sering menangkap ikan untuk kami masak. Anda pasti akan takjub melihat kehebatan istri Anda ini dalam menangkap ikan." Youra sangat percaya diri mengatakan itu. Putra Mahkota berjongkok di sebelahnya, hanya terus mendengarkan ocehan Youra.
Putra Mahkota merapikan rambut Youra yang berantakan. "Apa batu itu menghalangimu?" tanya Putra Mahkota terus tersenyum memandangi Youra yang tidak sadar.
Youra menyandarkan tubuhnya pada dua tangan yang menumpu ke belakang. "Iya, ini semua karena batu. Pokoknya kita tidak pulang sebelum dapat ikan. Aku tidak ingin suamiku makan sayuran terus. Di istana Anda makan daging, ikan, ayam. Masa dengan permaisuri Anda hanya makan sayuran. Aku sangat pandai memasak lauk-lauk seperti ini. Masakanku sangat lezat. Aku ingin Anda mencobanya." Youra ingin terlihat memukau di depan suaminya.
Tiba-tiba Putra Mahkota berdiri, mengangkat batu itu dan menyingkirkannya. Youra terbelalak. "Ba-bagaimana? Bagaimana Anda bisa mengangkatnya?" Youra tercengang melihat bagaimana sang suami dengan mudahnya menyingkirkan batu itu.
Youra berdiri, mencoba mengangkat salah satu batu yang ada disana. Sayang sekali, "Ah!" Youra hampir terjatuh karena tidak kuat mengangkat batu yang cukup besar itu. Putra Mahkota menahan tubuh basah sang permaisuri dengan tangan kanannya yang kekar. Dia lantas menarik tangan Youra dan menciumnya. "Jangan melukai tanganmu. Ini tangan yang akan terus membelaiku. Paham?" Putra Mahkota menatapnya serius.
Wah, sensual sekali Suamiku ini ...
"Aku akan tangkapkan ikannya." Putra Mahkota berjalan ke sisi sungai. "Memangnya, Anda bisa?" tanya Youra tidak yakin. Putra Mahkota selalu duduk santai di istana dan menerima beres semuanya. Dia tidak mungkin bisa menangkap ikan dengan tangan kosong, begitu pikirnya.
Namun, belum lama pikiran itu melayang dalam otaknya, Putra Mahkota keluar dari bawah sungai semakin menambah pesonanya. Dia mengangkat dua ekor ikan di tangannya. Tertawa bangga di hadapan Youra.
Kenapa ... dia tampan sekali ...
Youra terpaku sangat lama. Bukan karena ikan yang dengan mudah Putra Mahkota dapatkan, tetapi karena wajah tampan dan tubuh gagah sang suami yang sedang basah-basahan di tengah sungai. Youra tidak dapat berkedip, bahkan tidak dapat bergerak.
Putra Mahkota berjalan menuju sang permaisuri, membawa dua ekor ikan di tangannya dengan bangga. "Sayang, sekarang kita bisa pulang. Sudah cukupkan ikannya?"
__ADS_1
Youra masih terus memandangi suaminya tak sadarkan diri oleh pesona itu. "Ya, ikannya besar sekali." Jawaban Youra terdengar sedikit aneh tanpa ia sadari. Jawaban itu membuat Putra Mahkota kembali memandangi dua ekor ikan yang ukurannya terbilang kecil.
Tiba-tiba, Putra Mahkota menyeringai tipis. "Sayang ... kau mau ikan yang mana?" Putra Mahkota berbisik menggoda di telinga kanan sang istri. Pertanyaan itu berhasil menyadarkan Youra dari lamunannya.
"Ahahah ... Suamiku, tentu saja aku akan memakan kedua ikan ini bersama Anda." Youra mengelak dari pikiran kotornya. Putra Mahkota menyipitkan mata, menundukkannya pada wajah sang istri. "Jangan lupa dengan hukumanmu. Jangan membuatku marah lagi." Wajah serius itu selalu saja terlihat tampan. Youra tak bisa mengelak. Kenyataannya memang begitu, percuma membuat siasat agar Putra Mahkota lelah, dia tetap akan bersemangat menuntut haknya.
Youra menarik kedua ekor ikan itu dari tangan suaminya. Membawanya naik ke daratan. Ia berjalan di depan Putra Mahkota dengan cepat. Namun, saat kembali menoleh ke belakang, pemandangan indah itu kembali menghantuinya. Putra Mahkota berjalan lamban dengan tubuh dan rambut basahnya, tersenyum tipis memandangi Youra. Mematikan. Youra sampai sesak napas melihatnya.
***
Di senja hari yang menakutkan, Putra Mahkota dan Youra masuk ke dalam bilik mereka untuk membersihkan diri. "Bukakan seluruh pakaianku." Lagi-lagi suaminya memerintahkan hal yang semakin membuatnya sesak napas.
Youra pura-pura tidak mendengar. Dia melangkah cepat keluar dari bilik mereka. Langkah itu terhenti saat sang suami berdiri tepat di hadapannya dengan pesona luar biasa itu. Dia menatap tajam Youra, tersenyum tipis memandangi tubuh sang permaisuri. "Bukakan, seluruh pakaianku." Sekali lagi Putra Mahkota memerintah.
Youra membantu suaminya membuka bajunya, tetapi setelah itu dia tergesa-gesa keluar untuk menghindari tantangan terakhir itu. "Sayang ... jangan membuatku marah. Aku bilang, buka seluruh pakaianku. Itu artinya, buka juga celanaku."
Youra tidak tahan lagi, lantas menarik tangan sang suami untuk segera ke kamar mandi. "Anda bisa mandi dan membuka celana Anda sendiri, Suamiku Sayang. Jangan menggodaku lagi untuk sesuatu yang tidak bisa aku tahan. Aku harus memasak, mencuci dan menjemur pakaian kita. Nanti malam saja." Youra cepat-cepat menutup pintu kamar mandi itu, menghela napas panjang setelahnya. Luar biasa, Putra Mahkota benar-benar luar biasa menggoda.
Putra Mahkota tersenyum hingga giginya terlihat. Untung saja, Youra sudah beranjak. Jika dia melihat itu sekali lagi, mungkin dia akan menyerang lebih dulu.
***
__ADS_1