Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Sekali Saja


__ADS_3

Youra membatu di atas pangkuan hangat sang suami dengan keringat dingin yang menyucur deras. Sesekali dia menelan ludahnya sendiri saat sorot mata setajam elang itu mengarungi mata bulatnya.


"Temani aku, malam ini."


Youra terperanjat mendengar sebuah kalimat yang keluar dari mulut Putra Mahkota, hingga tak mampu lagi untuk menghindar, bahkan untuk sekedar mengedipkan matanya. Pria hina yang sudah menjadi suaminya itu, dikenal punya wajah yang buruk rupa. Namun, Youra tak dapat berbohong, soal betapa indahnya mata sang suami. Napasnya naik turun, berpacu dengan seluruh pikiran aneh yang mulai mengusik kebenciannya. Di pangkuan lelaki dengan wajah berbalut kain itu, entah kenapa tubuh Youra terasa cukup dan pas sekali untuk berlabuh.


Tangan Putra Mahkota sangat dingin, penuh luka, dengan sedikit sobekan yang belum kering terasa sedang menyentuh ujung kakinya. Entah kenapa, Youra masih saja diam di tempat, terpesona oleh tatapan tajam yang mematikan itu. Hingga dia tersentak, saat menyadari kini tangan indah suaminya sedang berjalan manja di bawah gaunnya.


"Yy-yang Mulia," panggil Youra canggung, saat menyadari situasi yang aneh itu.


Putra Mahkota tak memberikan respon, dia hanya terus menatap tajam mata bulat Youra, dengan tangan yang terus saja menerobos masuk. Hingga akhirnya, mata indah suaminya berpaling arah ke gaun Youra. Putra Mahkota mengangkat ujung gaun Youra, sehingga kaki indah itu kini terlihat dengan mudah.


"Apa itu masih sakit?" tanya Putra Mahkota, menyentuh halus luka di betis Youra.


Youra memalingkan wajahnya cepat untuk mengelabui perasaannya sendiri. "Bukan urusan Anda," jawabnya sedikit menekan.


Putra Mahkota tak peduli meski Youra berkali-kali menyakiti hatinya dengan perkataan yang kasar dan menyinggung. Dia hanya terus memperhatikan luka di betis Youra, membuat gadis itu merasa malu. Youra meraih gaunnya dan segera menurunkan gaun itu untuk menutupi kakinya.


Kembali Putra Mahkota menatapnya, entah kenapa kali ini tatapan itu terasa seperti singa yang ingin segera menerkam.


Youra menyadari, ini situasi yang baik untuk segera melesatkan belati yang selalu dia bawa di balik gaunnya, ke tenggorokan suaminya. Atau, menambahkan racun ke dalam minuman suaminya. Sayang sekali, entah kenapa dia tidak bisa melakukannya.


Setelah asik berduel dengan keinginannya untuk membunuh sang suami, Youra dibuat kaget saat tangan dingin itu mulai mengangkat tubuhnya, memindahkannya naik ke atas ranjang.


Putra Mahkota meletakkan tubuh mungil sang istri bersandar pada sisi ranjang. Youra duduk terdiam saat Putra Mahkota melakukannya. Tiba-tiba Putra Mahkota ikut naik ke atas ranjang itu, segera melabuhkan kepalanya di pangkuan Youra. Sebenci apapun dia pada suaminya, entah kenapa kebencian itu seolah membuatnya lupa tentang rencananya untuk segera membunuh.


"Sudah lama, aku ingin sekali mati di pangkuanmu."


Youra yang digerogoti kebencian hanya bisa diam saja, saat kalimat menyedihkan itu keluar dari mulut suaminya. Di pangkuan Youra, tangan Putra Mahkota meraih pipi indah istrinya itu, merabanya dengan halus.


"Betapa cantiknya, permaisuriku ini."


Melihat bagaimana tangan itu terus menyentuh wajahnya, Youra semakin tidak terima. Ia meraih belati di balik gaunnya, menahan cukup lama. Pikirnya, jika suaminya terus menyentuhnya, dia tidak akan memberi ampun lagi untuk menghunuskan belati itu.

__ADS_1


Namun, tangan Putra Mahkota kini pergi dari wajahnya. Dan alangkah terkejutnya Youra, sang suami membuka penutup wajahnya. Youra cepat-cepat berpaling muka, tak mau melihat wajah suami yang sangat dibencinya itu. Dia hanya takut terpengaruh.


"Apa kau tidak mau melihat wajah suamimu?" tanya Putra Mahkota sambil terus menatap wajah Youra yang tak ingin menoleh padanya.


"Tindakan Anda ini benar-benar memalukan. Setelah aku menolak di malam pertama kita, Anda masih saja dengan tidak tahu malunya melakukan hal memalukan ini," jawab Youra.


Pernyataan Youra tak digubris sama sekali oleh Putra Mahkota. Bahkan dengan lancangnya Putra Mahkota yang masih berada di pangkuan Youra itu, meraih tangan Youra dan mencium tangan sang istri dengan bibirnya. Youra yang merasakan ada sentuhan basah sedikit kenyal di punggung tangannya lekas menarik cepat tangannya itu.


"Apa yang Anda lakukan?!" bentak Youra tanpa menatap wajah suaminya.


"Aku hanya ingin memberikan diriku seutuhnya padamu, tubuh dan hatiku."


"Aku tidak menginginkannya," jawab Youra cepat.


Putra Mahkota kembali meraih tangan Youra, membawa tangan itu ke dadanya yang bidang. "Kenapa kau tidak membunuhku saja? Akan lebih baik mati di tangan permaisuriku daripada harus mati karena menderita seperti ini."


DEG


Jantung Youra semakin berdegup kencang, kalimat suaminya tampak telah membaca pikirannya. Dia memang ingin membunuh suaminya itu, tapi bukankah seharusnya Putra Mahkota melindungi dirinya sendiri. Di istana ini, ada banyak pengkhianat yang ingin melenyapkannya, termasuk istrinya sendiri. Namun kenapa, Putra Mahkota tak melakukan perlawanan.


"Apa jika aku mati, kau akan merindukanku?" tanya Putra Mahkota sekali lagi.


"Yang Mulia! Betapa menyedihkannya Anda. Sangat pengecut dan memalukan! Aku ingin segera keluar dari sini!" teriak Youra berusaha mendorong tubuh suaminya itu dari pangkuannya.


Saat itu, aku pikir dia hanya bercanda.


"Jika tidak bisa mencintaiku, bisakah sedikit saja kau mengasihani aku?" tanya Putra Mahkota menahan tangan Youra di dadanya.


"Cinta? Apa yang Anda tahu soal cinta? Pria bodoh dan memalukan seperti Anda, memang pantas dibenci oleh banyak orang."


Jawaban Youra membuat Putra Mahkota terdiam, hingga akhirnya ia duduk dari pangkuan Youra.


"Peluklah aku," lirih Putra Mahkota setelahnya. Youra segera beranjak dari ranjang untuk meninggalkan Putra Mahkota, tapi sekali lagi tangan dingin itu meraih tangannya.

__ADS_1


"Peluklah aku, sekali saja," kata Putra Mahkota sekali lagi. Youra tak memperdulikan kalimat itu, dan melangkah pergi hendak keluar. Namun, langkah itu terasa berat, saat mendengar suara erangan kecil yang tampak sedang kesakitan.


Youra dengan angkuh melangkah keluar dari kamar itu, tetapi langkah beratnya terhenti tepat di depan bilik sang suami.


"Yang Mulia!!!"


Suara teriakan Kasim Cho membuat Youra terpaku.


"Cepat panggil tabib!!"


Segera Youra menoleh, menyaksikan darah segar yang keluar dari mulut suaminya. Terpaku lama di tempat, menyadari apa yang baru saja terjadi, seolah membuat jantungnya berhenti berdetak.


Orang bilang, dia buruk rupa karena penyakit kulit yang sempat ia derita. Namun, jika ada yang bertanya, adakah yang lebih tampan dari kakakku, maka akan kujawab "ada". Bahkan, dengan wajah berlumuran darah, ketampanan itu tak sedikitpun sirna.


Para pelayan berlarian bersama para tabib yang berdatangan. Wajah panik mereka menampar hebat Youra yang ketakutan.


Namun, entah seberapa besar kebencian dan dendam yang ada pada diri Youra, masih dengan ego tingginya, Youra pergi dari kediaman suaminya, bahkan tidak kembali hanya untuk sekedar bertanya. Sambil menitikkan air mata, Youra melangkah angkuh hendak meninggalkan kediaman suaminya.


Melihatnya, Kasim Cho berlari padanya, berdiri tepat di depan Youra.


"Yang Mulia Permaisuri, tidak bisakah Anda berlama-lama disini, menunggu Putra Mahkota? Tidakkah Anda kasihan padanya untuk sekali saja? Anda bahkan tidak bertanya sama sekali apa yang terjadi padanya, padahal Anda baru saja menemuinya." Wajah panik Kasim Cho sangat menyedihkan. Bahkan dengan air mata yang bercucuran, Kasim Cho sama sekali tak gentar untuk menghalangi Youra pergi dari sana.


"Apapun yang terjadi padanya, itu bukan urusanku," jawab Youra sambil menarik napas panjang, membusungkan dadanya. Benar-benar menunjukkan ketidakpedulian.


Isak tangis Kasim Cho terhenti saat mendengar jawaban kasar dari mulut Youra. Ia mengangkat wajahnya dengan berani. "Jika Putra Mahkota adalah benar pria yang kejam dan jahat, dia pasti sudah meniduri Anda tanpa merasa bersalah. Tapi dia sama sekali tidak melakukannya dan menunggu kesiapan Anda. Padahal dia kesepian dan sangat sengasara. Hamba tidak tahu, hukuman dari langit seperti apa yang akan Anda terima, yang jelas Hamba hanya ingin memberitahukan satu hal. Putra Mahkota meneguk racun yang seharusnya ada di gelas Anda tadi."


Setelah menyampaikan kenyataan itu, Kasim Cho pergi meninggalkan Youra. Ego tinggi itu terus saja dibawa Youra bergegas meninggalkan istana suaminya. Namun, hatinya sakit dan terluka. Dia yang bingung tentang perasaannya terus saja menitikkan air mata. Ditambah saat menyaksikan, ada lebih dari 10 tabib terbaik yang berlarian datang terburu-buru memasuki istana suaminya, memperlihatkan betapa mengkhawatirkannya keadaan Putra Mahkota.


Dia ingin sekali berbalik untuk kembali, tapi dendam dan kebencian yang sudah ditanamkannya, membuatnya tetap melangkah pergi.


Saat itu, saat yang bersamaan, seluruh istana mendapatkan kabar mengerikan itu. Hingga mereka berduyun-duyun mendekati istana Putra Mahkota.


Youra terus saja berjalan menjauh, diantara keributan dan keramaian orang yang mendekati istana suaminya, bersama para pelayannya.

__ADS_1


"Yang Mulia Permaisuri, kenapa kebencian Anda sedalam ini, tidakkah Anda akan menyesal?" gumam Dayang Nari.


**


__ADS_2